Articles
Perbedaan Tingkat Endurance antara Pria Bertipe Kepribadian A dan Pria Bertipe Kepribadian B
Bastian, Lutfia Putri;
Mahanggoro, Tri Pitara
Jurnal Mutiara Medika Vol 12, No 3 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Endurance atau daya tahan menyatakan keadaan yang menekankan pada kapasitas kerja secara terus menerus. Diartikan sama dengan kebugaran jasmani yaitu kemampuan seseorang menyelesaikan tugas sehari-hari tanpa mengalami kelelahan yang berarti. Daya tahan kardiorespirasi merupakan faktor utama dalam kebugaran jasmani. Pengukuran daya tahan kardiorespirasi untuk kapasitas aerobik dapat dilakukan dengan cara mengukur konsumsi oksigen maksimal (VO2max) . Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat perbedaan tingkat endurance antara pria bertipe kepribadian A dan pria bertipe kepribadian B. Penelitian menggunakan metode Astrand 6 minutes cycle test pada nilai VO2max dengan subyek sebanyak 60 pria yang terdiri dari 30 pria bertipe kepribadian A dan 30 pria bertipe kepribadian B. Data dianalisis menggunakan independent sample t test. Hasil penelitian didapatkan rerata nilai VO2max pada kelompok pria bertipe kepribadian A sebesar 31,8393 ± 2,14534 ml/ kg/ menit dan rerata nilai VO2max pada kelompok pria bertipe kepribadian B sebesar 36,3470 ± 3,15498 ml/ kg/ menit. Didapatkan perbedaan yang bermakna antara pria bertipe kepribadian A dan pria bertipe kepribadian B (p=0,000). Disimpulkan terdapat perbedaan tingkat endurance antara pria bertipe kepribadian A dan pria bertipe kepribadian B. Pria bertipe kepribadian A memiliki tingkat endurance yang lebih rendah dibandingkan pria bertipe kepribadian B. Endurance is a condition that is showed continuous work capacity. Interpreted same as physical fitness is the ability of someone to complete everyday tasks without experiencing significant fatigue. Cardiorespiratory endurance is a main factor in physical fitness. Measurement of cardiorespiratory endurance for aerobic capacity can be done by measuring the maximal oxygen uptake (VO2max). The research aims to see if there are differences of endurance level between personality type A male and personality type B male. Research using the Astrand 6 minutes cycle test on the value of VO2max by as many as 60 male subjects consist of 30 male with personality type A and 30 male with personality type B. Data were analyzed using independent sample t test. Results showed the mean value of VO2max in the group personality type A male is 31.8393 ± 2.14534 ml/ kg/ min and the mean value of VO2max in the group personality type B is 36.3470 ± 3.15498 ml/ kg /min. Found significant differences between personality type A male and personality type B male (p = 0.000). The conclusion there are different levels of endurance between personality type A male and personality type B male. Male with personality type A have lower levels of endurance than male with personality type B.
Perbedaan Tingkat Ketajaman Visus antara Penambang Pasir di Sungai Serayu dan Perenang di Umbang Tirto Yogyakarta
Paryono, -;
Mahanggoro, Tri Pitara
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/mmjkk.v7i2 (s).1664
The decrease of eyes function like blindness can disturb the daily activities, so in the long term it would be decrease work productivity which is appears economic burden whether for personally, society and country. The disease cause by dust who enters to eyes will appear a big disturb. If this problem still happened will appears dangerous disease even blindness. The purpose of this research is to knowing the difference of the acuteness of vision between sand miner and swimmer.. Subject in this research are 60 people which age 15-35 years old, subject are sand miner in Serayu river and swimmer in umbang tirto yogyakarta, the instrument in this research is optotip Snellen . Data was collected and than analysis by chi-Square and t test. Finally, as this research examines shower the influence time of diving for sand miner, the result is p=0.105, this number is bigger than standard number of p, which is p 0.05. And influence timing of swimming the result is p=0.322, this number is bigger than the standard number of p which is p 0.05. the data using t test for knowing the different of acuteness of vision sand miner and swimmer, t test shower p value is smaller than standard value which is p=0.023. Conclusion is there is influence long activity whether diving or swimmer to acuteness of vision but the influence not really meaning full but there is significant different between acuteness of vision for sand miner and swimmer.Turunnya fungsi mata sebagai indra penglihatan sampai pada kebutaan akan mengganggu aktivitas kerja sehari - hari, sehingga akan menurunkan produktivitas kerja yang mengakibatkan bertambahnya beban ekonomi baik bagi individu, masyarakat dan Negara. Trauma yang diakibatkan oleh debu yang masuk ke dalam mata sudah cukup menimbulkan gangguan hebat. Apabila keadaan ini dibiarkan dapat menimbulkan penyakit yang cukup gawat, bahkan kebutaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat ketajaman visus antara penambang pasir dengan perenang. Subyek dalam penelitian ini adalah 60 orang dengan usia 15-35 tahun, subyek penelitian adalah penambang pasir di sungai Serayu dan perenang di umbang tirto Yogyakarta. Instrumen yang dipakai adalah ototip Snellen. Data di yang diperoleh kemudian dilakukan uji analisis dengan menggunakan Chie-Schuare dan uji t. Hasil penelitian menunjukan pengaruh lama aktivitas menyelam pada penambang pasir didapat nilap p=0.105 nilai ini lebih besar dari nilai p standar yaitu p 0.05 dan pengaruh lama berenang didapat nilai p=0.322 nilai ini lebih besar dari nilap p standar yaitu 0.05. Data tersebut kemudian dilakukan uji t untuk mengetahui perbedaan visus penambang pasir dengan perenang, uji t menunjukan nilai p lebih kecil dari standar yaitu p=. Kesimpulannya adalah ada pengaruh lama aktivitas baik menyelam maupun berenang terhadap tingkat ketajaman visus tetapi pengaruh tersebut tidak bermakna tetapi terdapat perbedaan yang signifikan antara visus penambang pasir dan visus perenang.
Perbedaan Tingkat Ketajaman Visus antara Penambang Pasir di Sungai Serayu dan Perenang di Umbang Tirto Yogyakarta
Paryono, -;
Mahanggoro, Tri Pitara
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/mmjkk.v7i2 (s).1664
The decrease of eyes function like blindness can disturb the daily activities, so in the long term it would be decrease work productivity which is appears economic burden whether for personally, society and country. The disease cause by dust who enters to eyes will appear a big disturb. If this problem still happened will appears dangerous disease even blindness. The purpose of this research is to knowing the difference of the acuteness of vision between sand miner and swimmer.. Subject in this research are 60 people which age 15-35 years old, subject are sand miner in Serayu river and swimmer in umbang tirto yogyakarta, the instrument in this research is optotip Snellen . Data was collected and than analysis by chi-Square and t test. Finally, as this research examines shower the influence time of diving for sand miner, the result is p=0.105, this number is bigger than standard number of p, which is p0.05. And influence timing of swimming the result is p=0.322, this number is bigger than the standard number of p which is p0.05. the data using t test for knowing the different of acuteness of vision sand miner and swimmer, t test shower p value is smaller than standard value which is p=0.023. Conclusion is there is influence long activity whether diving or swimmer to acuteness of vision but the influence not really meaning full but there is significant different between acuteness of vision for sand miner and swimmer.Turunnya fungsi mata sebagai indra penglihatan sampai pada kebutaan akan mengganggu aktivitas kerja sehari - hari, sehingga akan menurunkan produktivitas kerja yang mengakibatkan bertambahnya beban ekonomi baik bagi individu, masyarakat dan Negara. Trauma yang diakibatkan oleh debu yang masuk ke dalam mata sudah cukup menimbulkan gangguan hebat. Apabila keadaan ini dibiarkan dapat menimbulkan penyakit yang cukup gawat, bahkan kebutaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat ketajaman visus antara penambang pasir dengan perenang. Subyek dalam penelitian ini adalah 60 orang dengan usia 15-35 tahun, subyek penelitian adalah penambang pasir di sungai Serayu dan perenang di umbang tirto Yogyakarta. Instrumen yang dipakai adalah ototip Snellen. Data di yang diperoleh kemudian dilakukan uji analisis dengan menggunakan Chie-Schuare dan uji t. Hasil penelitian menunjukan pengaruh lama aktivitas menyelam pada penambang pasir didapat nilap p=0.105 nilai ini lebih besar dari nilai p standar yaitu p0.05 dan pengaruh lama berenang didapat nilai p=0.322 nilai ini lebih besar dari nilap p standar yaitu 0.05. Data tersebut kemudian dilakukan uji t untuk mengetahui perbedaan visus penambang pasir dengan perenang, uji t menunjukan nilai p lebih kecil dari standar yaitu p=. Kesimpulannya adalah ada pengaruh lama aktivitas baik menyelam maupun berenang terhadap tingkat ketajaman visus tetapi pengaruh tersebut tidak bermakna tetapi terdapat perbedaan yang signifikan antara visus penambang pasir dan visus perenang.
Perbedaan Tingkat Endurance antara Pria Bertipe Kepribadian A dan Pria Bertipe Kepribadian B
Bastian, Lutfia Putri;
Mahanggoro, Tri Pitara
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/mmjkk.v12i3.1048
Endurance atau daya tahan menyatakan keadaan yang menekankan pada kapasitas kerja secara terus menerus. Diartikan sama dengan kebugaran jasmani yaitu kemampuan seseorang menyelesaikan tugas sehari-hari tanpa mengalami kelelahan yang berarti. Daya tahan kardiorespirasi merupakan faktor utama dalam kebugaran jasmani. Pengukuran daya tahan kardiorespirasi untuk kapasitas aerobik dapat dilakukan dengan cara mengukur konsumsi oksigen maksimal (VO2max) . Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat perbedaan tingkat endurance antara pria bertipe kepribadian A dan pria bertipe kepribadian B. Penelitian menggunakan metode Astrand 6 minutes cycle test pada nilai VO2max dengan subyek sebanyak 60 pria yang terdiri dari 30 pria bertipe kepribadian A dan 30 pria bertipe kepribadian B. Data dianalisis menggunakan independent sample t test. Hasil penelitian didapatkan rerata nilai VO2max pada kelompok pria bertipe kepribadian A sebesar 31,8393 ± 2,14534 ml/ kg/ menit dan rerata nilai VO2max pada kelompok pria bertipe kepribadian B sebesar 36,3470 ± 3,15498 ml/ kg/ menit. Didapatkan perbedaan yang bermakna antara pria bertipe kepribadian A dan pria bertipe kepribadian B (p=0,000). Disimpulkan terdapat perbedaan tingkat endurance antara pria bertipe kepribadian A dan pria bertipe kepribadian B. Pria bertipe kepribadian A memiliki tingkat endurance yang lebih rendah dibandingkan pria bertipe kepribadian B. Endurance is a condition that is showed continuous work capacity. Interpreted same as physical fitness is the ability of someone to complete everyday tasks without experiencing significant fatigue. Cardiorespiratory endurance is a main factor in physical fitness. Measurement of cardiorespiratory endurance for aerobic capacity can be done by measuring the maximal oxygen uptake (VO2max). The research aims to see if there are differences of endurance level between personality type A male and personality type B male. Research using the Astrand 6 minutes cycle test on the value of VO2max by as many as 60 male subjects consist of 30 male with personality type A and 30 male with personality type B. Data were analyzed using independent sample t test. Results showed the mean value of VO2max in the group personality type A male is 31.8393 ± 2.14534 ml/ kg/ min and the mean value of VO2max in the group personality type B is 36.3470 ± 3.15498 ml/ kg /min. Found significant differences between personality type A male and personality type B male (p = 0.000). The conclusion there are different levels of endurance between personality type A male and personality type B male. Male with personality type A have lower levels of endurance than male with personality type B.
Motivasi dan kepuasan kerja pegawai puskesmas BLUD dan non-BLUD Kabupaten Semarang
Aswindar Adhi Gumilang;
Tri Pitara Mahanggoro;
Qurrotul Aini
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (684 KB)
|
DOI: 10.32504/hspj.v2i3.45
The public demand for health service professionalism and transparent financial management made some Puskesmas in Semarang regency changed the status of public health center to BLUD. The implementation of Puskesmas BLUD and non-BLUD requires resources that it can work well in order to meet the expectations of the community. The aim of this study is to know the difference of work motivation and job satisfaction of employees in Puskesmas BLUD and non-BLUD. Method of this research is a comparative descriptive with a quantitative approach. The object of this research are work motivation and job satisfaction of employees in Puskesmas BLUD and non-BLUD Semarang regency. This Research showed that Sig value. (P-value) work motivation variable was 0.019 smaller than α value (0.05). It showed that there was a difference of work motivation of employees in Puskemas BLUD and non-BLUD. Sig value (P-value) variable of job satisfaction was 0.020 smaller than α value (0.05). It showed that there was a difference of job satisfaction of BLUD and non-BLUD. The average of non-BLUD employees motivation were 76.59 smaller than the average of BLUD employees were 78.25. The average of job satisfaction of BLUD employees were 129.20 bigger than the average of non-BLUD employee were 124.26. Job satisfaction of employees in Puskesmas BLUD was higher than non-BLUD employees.
PENDAMPINGAN PASIEN COVID-19 PELAKU ISOMAN DI RUMAH DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANGUNTAPAN 1
Tri Wulandari Kesetyaningsih;
Tri Pitara Mahanggoro
Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat 2021: 3. Kesehatan Keluarga dan Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (356.514 KB)
|
DOI: 10.18196/ppm.43.606
Saat ini semakin banyak penderita Covid-19. Wilayah kerja Puskesmas Banguntapan 1 memiliki jumlah kasus tertinggi di Kabupaten Bantul. Beberapa penderita memilih isolasi mandiri di rumah karena berbagai alasan. Kelompok ini membutuhkan pelayanan yang memadai agar tidak menjadi kasus fatal. Karena keterbatasan tenaga kesehatan di Puskesmas, diharapkan pelaku isolasi mandiri dapat melakukan pemantauan dan pertolongan secara mandiri sebelum mendapatkan pertolongan dari petugas kesehatan. Pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pendampingan kepada pasien, penyintas covid-19, dan petugas satgas covid-19. Metode yang dilakukan adalah (1) penyuluhan secara door to door ke rumah pelaku isolasi mandiri; (2) pemberian hibah peralatan pemantauan kesehatan; dan (3) webinar. Kegiatan webinar diikuti 48 peserta, usia 22-61 tahun dari berbagai kalangan. Kesan positif disampaikan peserta diantaranya menyatakan bahwa materi sangat berguna, sangat penting, dan sesuai dengan kondisi/ kebutuhan saat ini, dan berharap agar acara dipertahankan dan akan membagikan pengalaman kepada yang membutuhkan. Hasil evaluasi melalui G-form menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap covid-19 baik (rata-rata 64,04) dan 75% telah mengetahui tentang covid-19 terutama melalui TV (41,47%), media online dan webinar masing-masing 33,33%. Kegiatan PKM berdampak meningkatnya pengetahuan masyarakat mengenai covid-19 dan bagaimana menyikapinya baik secara fisik maupun psikis sehingga mampu mengatasi masalah yang mungkin terjadi saat isolasi mandiri.
PENULISAN BUKU AJAR BAGI GURU DI LINGKUNGAN SEKOLAH MUHAMMADIYAH KOTA YOGYAKARTA
Tri Pitara Mahanggoro
Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat 2021: 2. Kreatifitas Pendidikan dan Pembelajaran di Sekolah dan Perguruan Tinggi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (121.457 KB)
|
DOI: 10.18196/ppm.42.883
Konsekuensi guru sebagai profesi mengharuskan disertifikasi sehingga ada tantangan bagi guru untuk meningkatkan kinerjanya dengan berkarya membuat buku ajar. Bentuk buku ajar yang dihasilkan oleh guru dapat diterbitkan dan dipasarkan. Beberapa faktor penghambat motivasi guru dalam membuat karya tulis buku ajar adalah minimnya pengetahuan guru dalam memahami teknik penulisan buku, keterbatasan ide, dan waktu luang sangat terbatas. Guna mengatasi hal itu, diperlukan pelatihan yang berkaitan dengan teknik penyusunan buku ajar. Pelatihan menulis ini diberikan oleh orang yang sudah terbiasa membuat buku ajar. Program pelatihan penulisan buku ajar dilakukan dalam bentuk beberapa kegiatan, yaitu kiat memiliki motivasi untuk menulis buku ajar, kiat penyusunan kalimat dalam narasi buku, dan kiat penyusunan kutipan dalam referensi/sumber pustaka buku ajar. Kegitan ini dilaksanakan agar para guru SMA di lingkungan Pimpian Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta dapat meningkatkan tingkat pengetahuan tentang cara menulis buku ajar, mampu menulis buku ajar dengan benar, dan memiliki kemampuan membuat karya tulis yang layak dipublikasikan. Karya tulis bukunya bermanfaat bagi anak didik, baik di sekolah di lingkungan Muhammadiyah maupun sekolah negeri atau sekolah swasta lainnya. Kegiatan pengabdian penulisan buku ajar ini telah dilaksanakan di Gedung Amphitheater KG 1 Kampus FKIK UMY, pada tanggal 10 April 2021. Metode penyampaian kegiatan pengabdian dalam bentuk workshop dengan tatap muka langsung dengan mengikuti protokol kesehatan pencegahan penyebaran covid-19. Peserta diikuti oleh 13 guru SMP dan SMA Muhammadiyah di lingkungan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta. Pelatihan pembuatan buku ajar disampaikan oleh Dr. Tri Pitara Mahanggoro, M.Kes. Hasil dari kuesioner dan wawancara dengan peserta menunjukkan bahwa 30% peserta pernah membuat buku ajar. Peserta berharap kegiatan pelatihan seperti ini sering dilakukan oleh pihak dosen UMY agar para guru termotivasi untuk membuat karya ilmiah baik dalam bentuk buku maupun jurnal. Luaran yang diharapkan dalam kegiatan pengabdian ini berupa publikasi di jurnal pengabdian masyarakat, video kegiatan, serta publikasi media massa Yogyakarta. Follow up dari kegiatan ini adalah pendampingan pembuatan buku ajar.
Manajemen Kecerdasan Emosi dan Penerapan Administrasi Skrining Penyakit Tidak Menular bagi Kader Posyandu
Tri Wulandari Wulandari Kesetyaningsih;
Tri Pitara Mahanggoro
Smart Society Empowerment Journal Vol 2, No 2 (2022): Smart Society Empowerment Journal
Publisher : Fakultas Kedokteran UNS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (477.617 KB)
|
DOI: 10.20961/ssej.v2i2.62469
Background : Gamping Kidul hamlet is growing fast as an educational center. This condition brings socio-economic changes and unhealthy lifestyles so that there are concerns about an increase in non-communicable diseases (NCDs). This Community Service (CS) is a continuation of the previous CS which has formed a care group of healthy lifestyles and provides cadres with NCDs screening and prevention. These activities were enhanced by training on emotional intelligence management and screening administration. The activity aims to train management emotions and apply NCDs screening administration so that it can further strengthen the ability of cadres to implement NCDs prevention programs. Methods :The service is carried out with explanation, discussion, and practice. At the end of the training, an assessment of the level of emotional intelligence is carried out. Results : The training was attended by 14 integrated service post cadres (posyandu) as participants. The results of the assessment show that 57% of cadres have high emotional intelligence, 29% are moderate and 14% are low. Emotional intelligence of non-cadres is 84.62% high and 7.69% moderate and low, respectively. The Mann Whitney test proves that the emotional intelligence of cadres is significantly lower than that of non-cadres. Conclusion : It was concluded that most posyandu cadres had high emotional intelligence, some were moderate-low, but lower than non-cadres in average. Posyandu has never done NCDs screening. The training has provided experience in NCDs screening for posyandu cadres.
Pelatihan Meningkatkan Kecerdasan Emosional dan Spiritual Penyintas Covid-19 di Desa Begajah, Sukoharjo
Lilis Suryani;
Tri Pitara Mahanggoro
Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat 2022: 3. Kesehatan Keluarga dan Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/ppm.53.1095
Desa Begajah memiliki penyintas Covid-19 cukup banyak, bahkan ada beberapa warga yang meninggal karena Covid-19. Dalam rangka membantu pemerintah Desa Begajah untuk menanggulangi pandemi Covid-19 dilaksanakan pengabdian masyarakat yang bertujuan meningkatkan kecerdasan emosional dan spiritual para penyintas Covid-19 dan mengaktifkan kembali kader posyandu lansia Desa Begajah. Kegiatan pengabdian dalam bentuk penyuluhan dan pelatihan dilakukan di Balai Pertemuan Desa Begajah, pada tanggal 8 Maret 2022. Peserta yang hadir sejumlah 80 orang, terdiri dari Kepala Desa Begajah, staf Puskesmas, kader posyandu, dan warga masyarakat. Penyuluhan dan pelatihan berisi tentang peranan posyandu selama pandemi Covid-19 dan pelatihan cara menghadapi Covid-19 agar tidak panik, meningkatkan imunitas, dan kapasitas spiritual dalam bentuk tawakal kepada Allah. Penyuluhan diawali dengan pretest, pemaparan materi, diskusi, posttest dan penyerahan hibah peralatan untuk menunjang kegiatan posyandu. Hasil pretest menunjukkan bahwa mayoritas kader memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang penyakit degeratif, cara melakukan pemeriksaan tekanan darah menggunakan tensimeter, dan mampu menyebutkan kegiatan posyandu. Warga juga memiliki tingkat kecerdasan emosional dan spiritual yang cukup tinggi dalam menghadapi pandemi Covid-19. Kepala desa dan kader posyandu menyambut positif kegiatan penyuluhan yang berkesinambungan agar para kader posyandu memiliki pengetahuan yang respresentatif. Kesimpulan penyuluhan dan pelatihan tentang meningkatkan kecerdasan emosional dan spiritual selama pandemi Covid-19 penting dilakukan sebagai upaya tindakan preventif dan promotif penyakit degeneratif dan psikosomatik
Optimalisasi Peran Kader Posyandu dalam Meningkatkan Kesehatan Lanjut Usia
Lilis Suryani;
Tri Pitara Mahanggoro
Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat 2022: 3. Kesehatan Keluarga dan Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/ppm.53.1096
Noyokerten merupakan salah satu dusun di Kelurahan Sendangtirto, Berbah, Sleman. Dusun ini memiliki wisata religi berupa Masjid Sulthoni dan Makam Purbaya. Banyak istri pengurus makam dan takmir yang menjadi kader kesehatan. Selama pandemi Covid-19, kegiatan posyandu lansia berhenti. Tujuan pengabdian ini adalah mengaktifkan kembali kader posyandu lansia dan melatih ibu-ibu PKK Dusun Wotgaleh cara membuat jahe instan melalui sosialisasi peran kader posyandu dalam meningkatkan kesehatan lansia. Kegiatan pengabdian dalam bentuk penyuluhan dan pelatihan dilakukan di rumah Kadus Noyokerten, tanggal 7 Februari 2022. Jumlah peserta yang hadir 30 orang, terdiri dari kader posyandu dan ibu-ibu PKK. Penyuluhan berisi tentang penyakit degeneratif pada lansia dan peranan posyandu selama pandemi Covid-19. Penyuluhan diawali dengan pretest, pemaparan materi, diskusi, posttest, dan penyerahan hibah pengabdian yang berupa peralatan untuk menunjang kegiatan posyandu. Pelatihan pembuatan jahe instan disampaikan oleh mahasiswa KKN yang sebelumnya sudah dilatih. Hasil pretest menunjukkan bahwa mayoritas kader memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang penyakit degeratif, cara melakukan pemeriksaan tekanan darah menggunakan tensimeter, dan mampu menyebutkan kegiatan posyandu. Peserta menginginkan ada penyuluhan yang berkesinambungan agar mereka memiliki pengetahuan yang respresentatif sebagai kader kesehatan tingkat dusun. Kesimpulan penyuluhan tentang kesehatan lansia penting dilakukan sebagai upaya tindakan preventif dan promotif berkaitan dengan penyakit degeneratif