SAMPEASANG, AGUSTINUS KARURUKAN
Universitas Kristen Indonesia Toraja

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Gereja Pilgrimasi: Menggagas Bentuk Keanggotaan Persekutuan Misional Diaspora dalam Pelayanan Gereja Toraja Johana Ruadjanna Tangirerung; Dan Mangoki'; Agustinus Karurukan Sampeasang; Yonathan Mangolo
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 7, No 2 (2023): April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v7i2.1040

Abstract

Abstract. The church’s mission in a fluid world requires new spaces of service. If the church is not responsive and critical of its reality, it is difficult for the church to be present to answer the needs of the people. One interesting reality is the existence of the diaspora. The extent to which the church's mission reaches the diaspora as a missional space is a challenge. This paper aimed to propose a form of diaspora missional fellowship membership in the ministry of the Toraja Church. The method used was a qualitative method with observation survey technique through two congregations in Tana Toraja and North Toraja and interviews with purposive sampling technique to some specifically determined people. Through this research, it was concluded that pilgrimage churches confront the church with a way of doing church based on the spirit of pilgrimage, which crosses the boundaries of geography, territory and church walls.Abstrak. Misi gereja di dunia yang cair membutuh ruang-ruang pelayanan baru. Jika gereja tidak responsif dan kritis terhadap realitasnya, sulit bagi gereja hadir menjawab kebutuhan umat. Salah satu realitas menarik adalah keberadaan diaspora. Sejauh mana misi gereja menjangkau diaspora sebagai ruang missional menjadi sebuah tantangan. Tulisan ini bertujuan untuk mengusulkan bentuk keanggotaan persekutuan misional diaspora dalam pelayanan Gereja Toraja. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik survey observasi melalui dua jemaat di Tana Toraja dan Toraja Utara dan wawancara dengan teknik purposive sampling terhadap beberapa orang yang ditentukan secara khusus. Melalui penelitian ini disimpulkan bahwa gereja pilgirimasi memperhadapkan gereja pada cara bergereja yang dilandasi oleh semangat peziarahan, yang melewati batas geografi, teritorial dan tembok-tembok gereja.
Tana’ dalam Kehidupan Gereja antar Iman Kristen dan Strata Sosial Serlyanti Seru Sanglayanti; Agustinus K Sampeasang
KINAA: Jurnal Teologi Vol 5 No 2 (2020): KINAA: Jurnal Teologi
Publisher : Publikasi dan UKI Press UKI Toraja.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tana’ merupakan suatu sistem pemilahan masyarakat Toraja dalam tingkat- tingkatan sosial berdasarkan kuasa, keturunan dan kekayaan, tana’ juga menenukan pergaulan masyarakat dan menjadi standar penilaian yang menentukan dalam melakukan sesuatu. Di era modern sekarang ini dimana orang Toraja sudah mayoritas menganut agama Kristen yang dalam ajarannya menegaskan bahwa semua manusia sama di hadapan Allah menjadi fenomena bahwa tana’ masih tetap berpengaruh dalam kehidupan orang Toraja yang beragama Kristen. Tana’ masih akan tetap berpengaruh dan mempunyai dampak bagi kehidupan kekristenan sehingga gereja mesti memiliki daya tangkal secara kritis. Tulisan ini akan mengkaji bagaimana sikap gereja dalam menghadapi dampak tana? dalam kehidupan kekristenan.
Suatu Kajian Teologis tentang Makna Untanda Allo dalam Membangun Rumah dan Implikasinya bagi Anggota Jemaat Lempo Berurung Agustinus Karurukan Sampeasang; Pista Nanna'; Hans Lura
KINAA: Jurnal Teologi Vol 6 No 1 (2021): KINAA: Jurnal Teologi
Publisher : Publikasi dan UKI Press UKI Toraja.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budaya Toraja merupakan kekayaan yang dimiliki oleh orang Toraja secara khusus bagi Gereja Toraja, Banyak kebudayaan yang masih terus dilaksanakan oleh orang Toraja sampai saat ini, untuk dapat menikmati kekristenan dalam budaya Toraja maka sangat perlu memaknai kebiasaan atau budaya kemudian mengaplikasikan makna tersebut dalam kehidupan sebagai orang Kristen. Salah satu budaya yang masih dilakukan di Jemaat Lempo Berurung adalah untanda allo. Dalam melaksanakan suatu kegiatan terutama membangun rumah, masyarakat Toraja berpatokan atau melihat hari karena mereka percaya bahwa dengan melihat hari, mereka dapat menentukan hari yang baik untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Masyarakat Toraja menyakini bahwa ada hari yang menurut mereka tidak baik untuk melaksanakan kegiatan dan mereka percaya bahwa ketika untanda allo dalam membangun rumah maka kesejahteraan, kesehatan, kemakmuran dan dijauhkan dari malapetaka. Hal inilah yang membuat penulis tertarik untuk menggali lebih dalam mengenai makna untanda allo dalam membangun rumah dan implikasinya bagi anggota jemaat Lempo Berurung. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian studi pustaka dan penelitian lapangan. Untanda allo tidak hanya sekedar kebiasaan yang dilakukan dengan pemaknaan bahwa akan mendatangkan berkat tapi juga dari sisi lain bersifat positif karena kebiasaan tersebut juga masih mengikat kekerabatan bagi anggota keluarga untuk sepaham dalam melaksanakan suatu kegiatan.
RITUAL MA’TA’DA: Makna Ritual Ma’ta’da Dalam KehidupanMasyarakat Dan Implikasinya Bagi Orang Kristen Di Jemaat Agustinus Karurukan Sampeasang
KINAA: Jurnal Teologi Vol 6 No 2 (2021): KINAA: Jurnal Teologi
Publisher : Publikasi dan UKI Press UKI Toraja.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.0302/kinaa.v6i2.1984

Abstract

Masyarakat Lembang Tumbang Datu yang mayoritas Kristen menghadapi kebudayaan ritual ma’ta’da sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari aluk todolo. Aluk todolo meyakini bahwah ritual ma’ta’da ditujukan kepada leluhur agar leluhur mencurahkan berkat. Dari pemahaman aluk todolo sekaitan dengan ritual ma’ta’da menjadi titik permasalahan karena bertentangan dengan iman Kristen. Melalui fenomena ini, sehingga penulis memiliki ketertarikan untuk melakukan penelitian mendalam terhadap makna ritual ma’ta’da dan implikasinya bagi masyarakat Kristen. Dalam penulisan ini, menggunakan metode penulisan kualitatif melalui studi pustaka, studi lapangan dengan observasi, wawancara, serta analisis. Penelitian ini menemukan bahwa dalam ritual ma’ta’da di Tumbang Datu yang dipahami oleh aluk todolo tidak sejalan dengan Iman Kristen. Dari hasil penelitian penulis mengetahui bahwa masyarakat krtisten di Lembang Tumbang Datu meyakini bahwa melalui ritual ma’tada dilakukan sebagai wadah untuk mengenang dan menghormati leluhur, walaupun masi ada yang meyakini bahwa leluhur sebagai penolong dan pemberi berkat dalam hidup mereka. Ada juga masyarakat Kristen yang ikut dalam ritual ma’ta’da hanya ikut untuk membantu atau mereka ikut karena pengkarangan hal ini mereka nyatakan sebagai makhluk sosial.
TUGAS PENATUA DAN DIAKEN: Kajian Teologis Praktis Tentang Pemahaman dan Implementasi Tugas Penatua dan Diaken di Jemaat Simbuang Agustinus Karurukan Sampeasang
KINAA: Jurnal Teologi Vol 7 No 1 (2022): KINAA: Jurnal Teologi
Publisher : Publikasi dan UKI Press UKI Toraja.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.0302/kinaa.v7i1.1993

Abstract

Penelitian ini dilakukan karena kesadaran akan pentingnya pemahaman terhadap tugas seorang pelayan yang dapat mempengaruhi efektivitas pembinaan pada tahap persiapan dan pelaksanaan pelayanan. Selain itu, penatua dan diaken tidak sepenuhnya berdedikasi dan berusaha untuk meningkatkan pelayanan dengan sungguh-sungguh agar sesuai dengan kebutuhan saat ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan wawancara dan observasi untuk menganalisis bagaimana para penatua dan diaken memahami dan menjalankan tugas panggilannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para penatua dan diaken masih memiliki kekurangan dalam pemahaman tugas panggilannya sehingga pelaksanaan tugas tidak optimal. Mereka juga belum sepenuhnya mampu menjalankan tugas panggilannya sesuai dengan standar yang diatur dalam Tata Gereja Toraja dan Alkitab.