Ade Irwandi
Universitas Andalas

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

MUKOP SAGAI: MENAKAR KADAULATAN PANGAN ORANG SAREREIKET DI SIBERUT SELATAN, KEPULAUAN MENTAWAI Erwin Erwin; Ade Irwandi; Robi Mitra
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol 11, No 2 (2022): Empati Edisi Desember 2022
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v11i2.29282

Abstract

Abstract. The problem of food is indeed a very complicated problem to discuss and is a fundamental matter for humans. Because it involves survival and survival and is related to other problems. As a result of the Covid-19 pandemic, the government is again planning to re-utilize sago as a staple food that needs to be developed through the Nusantara Sago Week 2020. Sago contributes to the fulfillment of food in Indonesia, not only rice and can provide economic opportunities. In the Mentawai Islands, is an area that has a lot of land and sago plants. However, this has not been ignored for a long time because many programs from the government are contradictory and have resulted in sago land and the Sarereiket community being pressured. So that their access to food, which is mainly sago, has begun to be disrupted. This study uses an ethnographic approach with interpretation analysis. So that they can question and answer doubts about the phenomenon of food problems in South Siberut, especially for the Sarereiket people. Government intervention through policies and programs that lead to food causes harm and duality to the Sarereiket people. So they are in a dilemma and trapped in the simalakama trap of "eating or not eating sago" which is still being felt. Therefore, food sovereignty in South Siberut needs to be reviewed and measured according to the current situation in South Siberut.Keywords: Food Sovereignty, Food security, Mentawai, Sarereiket. Abstrak. Masalah pangan memang menjadi masalah yang sangat pelik untuk dibahas dan merupakan perkara yang fundamental bagi manusia. Karena menyangkut hanyat hidup dan keberlangsungan hidup serta terkait dengan masalah lainnya. Akibat pandemi Covid-19, pemerintah kembali menggadangkan untuk kembali mendayagunakan sagu sebagai pangan pokok yang perlu dikembangkan melalui Pekan Sagu Nusantara tahun 2020. Sagu turut andil dalam pemenuhan pangan di Indonesia bukan hanya beras dan dapat memberikan peluang ekonomi. Di Kepualauan Mentawai, merupakan wilayah yang banyak memiliki lahan dan tanaman sagu. Namun hal ini sudah lama tidak diabaikan karena banyak program-program dari pemeirntah yang bertentangan dan mengakibatkan lahan sagu dan masyarakat Sarereiket terdesak. Sehingga akses pangan mereka yang utama sagu mulai terganggu. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi dengan analisis interpretasi. Sehingga dapat mempertanyakan dan menjawab keraguan terhadap fenomena masalah pangan di Siberut Selatan khususnya bagi orang Sarereiket. Intervensi pemerintah melalaui kebijakan dan program yang bermuara pada pangan menyebabkan kerugian dan dualitas bagi orang Sarereiket. Sehingga mereka berada dalam sebuah dilema dan terjebak dalam perangkap simalakama “memakan atau tidak memakan sagu” yang hingga saat ini masih dirasakan. Oleh sebab itu, kedaulatan pangan di Siberut Selatan perlu ditinjau ulang dan ditakar sesuai keadaan yang terjadi di Siberut Selatan saat ini.Kata kunci: Kedaulatan Pangan, Ketahanan Pangan, Mentawai, Sarereiket.
Kejayaan Rempah Dari Pulau Kei Raha: Pandangan Etnohistori Hafis Rafi Insani; Ade Irwandi
Balale' : Jurnal Antropologi Vol 3, No 1 (2022): Mei 2022
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (975.973 KB) | DOI: 10.26418/balale.v3i1.52946

Abstract

Dalam penelitian ini membahas kehidupan masyarakat lokal yang terikat dengan memori sejarah kekayaan hayati di Kepulauan Maluku. Ketergantungan dunia terhadap komoditi rempah sejak zaman pra kolonial telah menciptakan banyak peristiwa. Tidak sedikit juga konflik dan mobilitas budaya yang terjadi saat rempah itu berada di puncak kejayaannya. Kekayaan rempah di Maluku telah membuka mata dunia tentang aspek-aspek lain yang ada di Indonesia seperti sosial, budaya, politik dan hasil-hasil alam lainnya.Desa Mareku yang terletak di Pulau Tidore adalah salah satu wilayah yang terlibat sangat besar dalam catatan sejarah kedatangan Bangsa Eropa ke Kepualauan Maluku untuk mencari rempah-rempah. Tulisan ini akan menampilkan ide dan gagasan tentang masa lalu masyarakat di Desa Mareku yang telah di rekonstrusi menjadi budaya melalui ingatan (memory) tentang nilai-nilai sejarah sejarah mereka. Dalam hal konseptual yang lebih detail disebut dengan istilah etnohistory. Sikap-sikap solidaritas, toleransi, nasionalisme, nilai adat kesultanan, dan beragama Islam yang taat tampilkan saat ini tidak terlepas dari nilai-nilai sejarah rempah yang terjadi di tanah mereka. Sebab apapun peristiwa sejarah yang pernah terjadi di wilayah mereka sangat kuat kaitannya dengan keberadaan komoditi rempah yang melimpah. Melalui peninggalan-peninggalan sejarah yang masih terjaga saat ini masyarakat Mareku telah mayakini hal tersebut sebagai landasan sikap dan prilaku mereka saat ini.
Rural Tourism Development: Rumah Gadang As A Homestay In Traditional Village Of Nagari Sijunjung A Commodification Ermayanti Ermayanti; Edi Indrizal; Ade Irwandi
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya Vol 25, No 1 (2023): (June)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jantro.v25.n1.p34-49.2023

Abstract

The purpose of this paper is show that the commodification process that occurs in the Sijunjung Traditional Village to support the development of rural tourism. The process of commodification can be seen in the utilization of the Rumah Gadang as a place to stay (homestay) for visitors. Rumah Gadang for the Minangkabau people is not just a place to live but a cultural space and symbol. So that if it is made into a homestay it will create a dilemma, on the one hand, the Rumah Gadang needs to be maintained as a distinctive Minangkabau cultural monument and on the other hand, the tourism aspect can have an economic impact on the Sijunjung community. It is this dualism of Rumah Gadang as a cultural product and a tourism product that results in commodification to develop tourism in rural areas. The method used is a thorough observation of the Rumah Gadang and interviewing the residents and Ninik Mamak (traditional ruler) as members of the tribe that owns the Rumah gadang. A total of 15 Rumah Gadang have become homestays under the auspices of BCA bank CSR and are managed by the Nagari Sijunjung Traditional Village Management Agency (BP). Apart from that, Rumah Gadang still functions as a place and space for the social and cultural activities of the Sijunjung people. So that the values and norms that exist in the Rumah Gadang as a symbol of Minangkabau culture continue to run and through homestays, the Sijunjung community can get additional economic benefits from the tourism sector.
Lorong Waktu Budaya Minangkabau: Sinergi Budaya dan Pariwisata di Perkampungan Adat Nagari Sijunjung Ade Irwandi; Ermayanti Ermayanti
Kaganga:Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora Vol 6 No 1 (2023): Kaganga:Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/kaganga.v6i1.4817

Abstract

The purpose of this study was to determine the synergy of culture and tourism in the Nagari Sijunjung traditional village. This research is an ethnographic study with observational data collection techniques, in-depth interviews, and literature studies. The results of this study indicate that cultural values such as traditional bakaua, batobo kongsi, mambatai adat and cultural manifestations in the form of gadang houses, artefacts are commodified as images and attractions for the tourism industry. Traditional bakaua cultural activities and batobo kongsi are packaged in the form of festivals. Likewise, Rumah Gadang is used as a homestay for guests who come to visit. So that creates a dilemma, between exalting cultural values as a traditional Minangkabau life tradition and the concept of Traditional Villages which are living monuments that are increasingly being eroded by the new culture of the tourism industry. The conclusion of this study is that Minang Kabau adat in Nagari is still upheld in everyday life. Minang Kabau identity can still be seen in the village of Nagari. Along with the times, the tourism industry began to grow rapidly up to the village of Nagari and efforts emerged to modify the village as a heritage tourism sector. Keywords: Commodification, Cultural Tourism, Nagari Sijunjung Traditional Village.
Musik Orkes Taman Bunga: Pandangan Antropologi Musik Rizqa Gumilang; Sri Setyawati; Syahrizal Syahrizal; Ade Irwandi
Kaganga:Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora Vol. 8 No. 1 (2025): Kaganga: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/kaganga.v8i1.13155

Abstract

This study aims to explain the sustainability of Minang Orchestra music today, especially the Taman Bunga Orchestra group in West Sumatra Province. This research method uses a qualitative descriptive approach. Analysis from the perspective of Music Anthropology explains holistically about the sustainability of this group. Counter Hegemony as an analytical tool, what is the background to the selection of the Minang orchestra music genre and the sustainability of this group in facing the music industry. The results of the study show that there is a struggle between the ideology of this group and the market, especially the power of hegemony in the music industry market in Indonesia. The tenacity of its musical ideology is able to survive without disturbing or changing the form of its music. The principle of kinship is the main capital for the sustainability of this music group. The conclusion of this study is that the Taman Bunga Orchestra, also known as the Minang Orchestra, is a group of musicians who use traditional Minang music as the foundation of their music which is influenced by various elements such as rhythm, vocal techniques, and activities related to the event. Keyword: Counter Hegemony, Minang Orchestra Music, Musical Anthropology, Survival.
Menelisik Hutan Desa (Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat) Fajri Rahman; Ade Irwandi
Kaganga:Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora Vol. 7 No. 1 (2024): Kaganga: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/kaganga.v7i1.8961

Abstract

Tujuan penelitian ini menjelaskan pengelolaan hutan desa yang dibentuk dalam kawasan Hutan Lindung Gambut (HLG) Sungai Buluh di Provinsi Jambi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi kritis. Hasilnya menunjukkan bahwa keberadaan hutan desa memperkuat legitimasi perlindungan hutan gambut atas desakan hutan produksi yang mengelilinginya. Sehingga, masyarakat melalui hutan desa secara tidak langsung mempertahankan keberadaan hutan lindung gambut. Selain itu, fungsi hutan lindung gambut juga dibuka akses (ruang kelola) kepada masyarakat melalui perhutanan sosial. Sehingga, bukan hanya tujuan untuk melindungai hutan tapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Simpulan penelitian bahwa konsep sosial muncul pada tahun 1978 sebagai "hutan untuk masyarakat" (forestry for people). Pada tahun 1990-an, gagasan Pengelolaan Hutan Berbasis Komunitas (PHBM) muncul, yang mengarah pada era reformasi saat ini. Konsep sosial bertujuan untuk meningkatkan partisipasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam pengelolaan hutan di Indonesia. Namun, ia menghadapi tantangan seperti kurangnya keterlibatan masyarakat dan fokus pada aspek produk dan lingkungan. Kata Kunci: Hutan Desa, Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat, Perhutanan Sosial