Wiwin Windupranata, Wiwin
Teknik Geodesi Dan Geomatika, Fakultas Ilmu Dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Indonesia

Published : 31 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Peran Survei Hidrografi dalam Kegiatan Pemantauan Pipa di Dasar Laut Ramadhan Hidayaturrahman; Wiwin Windupranata; Dwi Wisayantono
Indonesian Journal of Geospatial Vol 6 No 2 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Geospatial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Kegiatan inspeksi pada pipa di dasar laut harus dilakukan secara rutin agar kondisi pipa dapat terjaga dengan baik. Salah satu tahapan dalam kegiatan inspeksi pada pipa di dasar laut adalah proses pemantauan dan survei hidrografi sangat berperan dalam melakukan kegiatan pemantauan tersebut. Penelitian ini membahas tentang bagaimana survei hidrografi dapat berperan dalam proses pemantauan pipa di dasar laut. Kegiatan pemantauan ini bertujuan untuk memverifikasi posisi pipa secara aktual, mendeteksi free span, dan mendeteksi pipa yang terkubur di bawah permukaan dasar laut. Verifikasi posisi pipa dilakukan dengan membandingkan posisi pipa yang aktual dengan posisi pipa setelah proses as-laid survey dari pengolahan data Multibeam Echosounder. Deteksi free span pada pipa diperoleh dari pengolahan data Side Scan Sonar dengan menggunakan prinsip backscatter. Dan dalam mendeteksi pipa yang terkubur menggunakan Magnetometer. Hasil verifikasi posisi menunjukkan bahwa posisi pipa yang aktual sama dengan posisi pipa setelah as-laid survey, dari beberapa free span yang terdeteksi, tidak ada free span yang sangat kritikal, dan pipa yang terkubur di bawah permukaan dasar laut yang terdeteksi tidak menjadi masalah yang berarti.
Pemetaan Potensi Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut di Selat Capalulu, Kepulauan Sula, Maluku Utara Muhammad Rafi Respati; Wiwin Windupranata
Indonesian Journal of Geospatial Vol 5 No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Journal of Geospatial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Energi arus laut merupakan potensi sumber listrik di Indonesia yang diduga dapat menyimpan potensi energi listrik hingga 6000MW. Arus pasang-surut terkuat yang tercatat di Indonesia adalah di Selat Capalulu, antara Pulau Taliabu dan Pulau Mangole di Kepulauan Sula, Propinsi Maluku Utara. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan potensi daya listrik yang bersumber dari arus laut tersebut. Terdapat 8 titik Obs yang ditempatkan sepanjang Selat Capalula. Berdasarkan hasil yang diperoleh titik yang berpotensi sebagai lokasi pembangkit listrik tenaga arus yaitu titik Obs 5 dan titik Obs 6.Titik Obs 5 memiliki potensi energi listrik selama satu bulan sebesar 4896.14 kWh pada musim angin barat dan 5721.31 kWh pada musim angin timur. Sedangkan titik Obs 6 memiliki potensi energi listrik selama satu bulan sebesar 4285.29 kWh dan 5268.96 kWh pada musim angin timur.
Seabed Morphology Mapping for Jack-Up Drilling Rig Emplacement Faber William M.; Wiwin Windupranata; Dwi Wisayantono
Indonesian Journal of Geospatial Vol 6 No 2 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Geospatial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Most of the oil and gas potential reserves are located in offshore area. Jack-up drilling rig is one type of many other oil rig type. To locate a jack-up rig, a sea mapping process must be conducted to get information about the seabed surface and what kind of morphology there are. The seabed condition must be clearly identified in order to know if there are any endangering objects or obstructions within the emplacement area, start from the planned maneuver for rig entrance up to the rig's leg penetration.The instruments used are single beam echo sounder, multibeam echo sounder, side scan sonar. Single beam echo sounder have a role to validate the result of the multibeam echo sounder. To know about the existing features, side scan sonar is used to make a high resolution seabed image. Also if the result must be interpreted by a geophysicist. To know about the soil structures, then a soil boring must be conducted to know the site's soil structure. Within the mapping area, there are seven wells are proposed. Single beam and multibeam echo sounder results bathymetric data and side scan sonar results seabed features information. Within the 2kmx2km mapping area there are some area that might be a threat specifically located in the southern and eastern part. Side scan sonar also provides information about the existence of some rock/coral outcrops and high reflectivity seabed that may be an obstruction. Based on the bathymetric, seabed features, and sub-seabed features, the seven proposed wells comply the requirement of jack-up drilling rig emplacement, but based on soil boring data only well four, five, and six comply.
Transformasi Gelombang pada Batimetri Ekstrim dengan Model Numerik SWASH Studi Kasus: Teluk Pelabuhan Ratu, Sukabumi Yessi Nirwana Kurniadi; Wiwin Windupranata
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 3, No 1: Maret 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v3i1.26

Abstract

ABSTRAKSWASH adalah model numerik yang dikembangkan oleh Deltares dan DELFT University of Technology. Model ini telah dikaji dalam kemampuannya memodelkan gelombang di daerah nearshore, gelombang pecah maupun run up gelombang. Namun, belum banyak penelitian yang mengkaji model numerik SWASH pada perairan dengan batimetri yang ekstrim. Kemampuan model numerik SWASH untuk simulasi hidrodinamika di daerah pantai pada kondisi ekstrim dikaji pada penelitian ini. Lokasi studi yang dipilih adalah Teluk Pelabuhan Ratu. Pada lokasi ini profil batimetri beragam terdiri dari teluk, tanjung, pantai curam, dan pada lokasi sekitar 500 m sebelah barat daya, kedalamannya mencapai lebih dari 100 m. Kondisi batimetri yang ekstrim ini sangat baik guna menguji dan mengkaji kemampuan model hidrodinamika SWASH. Hasil analisis selama 40 menit waktu simulasi menunjukkan transformasi gelombang, yaitu refraksi, refleksi, shoaling dan interferensi gelombang. Gelombang ekstrim terjadi dari hasil interferensi gelombang dan model numerik tetap stabil pada kondisi ekstrim ini. Model numerik SWASH terbukti dapat memodelkan kondisi hidrodinamika ekstrim pada batimetri ekstrim dengan baik.Kata kunci: SWASH, model numerik, gelombang, batimetri, ekstrim ABSTRACTSWASH model is numerical model developed by Deltares and DELFT University of Technology. The applicability of this model has been investigated for nearshore waves, breaking waves and also wave run up. However, there are still need to test this model into extreme condition. This numerical model has been tested for bathymetry extreme in this research. Pelabuhan Ratu Bay is choosen for this test due to its bathymetry profiles, where there are steep beach, bay, cape, and also a very deep trough. The result shows that in 40 minutes simulation time, there are wave transformation such as refraction, reflection, shoaling, and wave interference. Extreme wave due to wave interference was simulated during simulation and the numerical model was still stable. It is proofed that SWASH model can do the hydrodynamic simulation on extreme wave and also extreme bathymetry profile.Keywords: SWASH, numerical model, wave, bathymetry, extreme
Analisis Asas dan Tujuan dari Undang-Undang Kelautan, serta Peran Keilmuan Geodesi dan Geomatika dalam Implementasinya di Indonesia Agung P Nugroho; Eka Djunarsjah; Wiwin Windupranata
REKA GEOMATIKA Vol 2016, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKWilayah dan potensi kelautan yang besar di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memerlukan pengelolaan yang sesuai agar dapat terjaga dan termanfaatkan dengan baik. Penyusunan dan pengesahan undang-undang nomor 32 tahun 2014 tentang kelautan adalah suatu bentuk usaha yang dilakukan negara dalam menata dan mengatur ruang lautnya secara terpadu. Undang-undang kelautan di dalamnya mempunyai sebelas asas dan delapan tujuan. Asas dan tujuan tersebut berisi mimpi-mimpi besar di bidang kelautan Indonesia dan harapannya dapat dicapai melalui undangundang ini. Akan tetapi kenyataanya masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengimplementasikannya sehingga mencapai kondisi ideal yang diharapkan. Penelitian ini bertujuan mengetahui sejauh mana undang-undang dapat diimplementasikan melalui uji prasyarat hukum undang-undang. Hasilnya undang-undang kelautan memenuhi syarat sah dan absah, sehingga dapat diimplementasikan dari aspek muatan hukum tersebut. Sedangkan, hasil analisis SWOT dan semantik bahasa menunjukkan bahwa implementasi dari undang-undang kelautan masih jauh dari harapan. Harapan kedepannya dengan dibuatnya aturan-aturan pendukung dan diperbaikinya kinerja pemerintahan, maka implementasinya akan berjalan lebih baik. Peranan bidang geodesi dan geomatika dalam bidang kelautan sudah sampai dalam tahapan membantu berbagai permasalahan di bidang kelautan.Kata kunci: undang-undang, kelautan, asas, tujuan, implementasiABSTRACTLarge marine regions and potential in the Republic of Indonesia require appropriate management and maintainance. Drafting and legitimating of maritme law no. 32 in 2014 are government effort in maintining and organizing of Indonesia sea n integrated manner. Maritime law has eleven principles and eight objectives contained within. The principles and objectives contain big dreams for Indonesian marine. These dreams hope can be achieved with the existence of this law. But in fact is still much work to be done in implementing such a big dream to reach the ideal situation. This research aims to determine in which extent legislation can be implemented and carried out to test the legal prerequisite legislation, and the result is marine legislation qualified from legitimate and legal test so that it can be implemented from the aspect of the legal aspect. While the SWOT and semantic analysis can be seen that the implementation of marine legislation is still far from expectations, expected in the future with the establishment of rules from the and improved performance of the government, the implementation will be better. For the geodesy and geomatics roles are already in the level helpin in the problems of marine field.Keywords: law, principle, objective, implementation
Studi Perubahan Garis Pantai Berdasarkan Interpretasi Citra Satelit Landsat dan Perhitungan Rasio Lahan di Wilayah Pesisir Indramayu Jawa Barat Thonas Indra Maryanto; Wiwin Windupranata; Samsul Bachri
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v1i1.1332

Abstract

ABSTRAKWilayah pesisir sebagai kawasan peralihan yang menghubungkan ekosistem darat dan ekosistem laut, sangat rentan terhadap kerusakan dan perubahan yang diakibatkan oleh berbagai aktifitas manusia di darat maupun di laut. Kabupaten Indramayu merupakan salah satu wilayah di Pesisir Utara Jawa Barat yang mengalami kerusakan paling parah diantara seluruh kabupaten di wilayah pesisir Utara Jawa Barat serta memiliki penggunaan lahan pesisir yang cukup lengkap mulai dari pemukiman, persawahan, tambak, dan industri (PLTU dan MIGAS)..Besarnya perubahan garis pantai yang meliputi abrasi dan sedimentasi diturunkan dari data citra satelit Landsat wilayah pesisir Kabupaten Indramayu tahun 1994-2009 dengan metode komposit RGB 4, 5, 7 dan Metode AGSO kemudian dilakukan proses digitasi.. Luas abrasi di 11 Kecamatan Pesisir Indramayu dari tahun 1994 – 2009 sebesar 3900,41 Ha dengan laju abrasi rata-rata sebesar 23,64 Ha/ tahun dan Luas sedimentasi sebesar 650,29 Ha dengan laju sedimentasi rata-rata sebesar 4,81 Ha/tahun. Hasil perhitungan regresi terhadap rasio lahan penduduk untuk tahun 2015 sebesar 0,07 Ha/ jiwa dan menurun pada tahun 2025 menjadi 0,05 Ha/jiwa .Rasio lahan petani untuk tahun 2015 sebesar 0,66 Ha/petani dan menurun menjadi 0,55 Ha/petani di tahun 2025.Kata Kunci : Pesisir indramayu, citra satelit, abrasi dan sedimentasi, Rasio lahanABSTRACTCoastal areas as a transitional region connecting the land ecosystems and marine ecosystems, are vulnerable to damage and changes caused by various human activities on land and at sea. Indramayu regency is one of the areas in the North Coast of West Java is the most severely damaged among all districts in the northern coast of West Java and has a coastal land use complete enough from residential areas, wet rice fields, ponds, and industrial (power plant and Gas). The number of change in coastal line include erosion and sedimentation derived from Landsat satellite image data coastal areas of Indramayu district in 1994-2009 with the composite method RGB 4, 5, 7 and methods AGSO then do the digitization process. The extent of abrasion in 11 districts of the coastal Indramayu from 1994 - 2009 are 3900.41 hectares with average abrasion rate of 23.64 ha / year and sedimentation area of 650.29 hectares with an average sedimentation rate of 4.81 ha / year. Results of regression calculations to land ratio for the 2015 population of 0.07 ha / life and decreased in 2025 to 0.05 hectares /life .Rasio farmers' fields for 2015 of 0.66 ha / farmer and decreased to 0.55 Ha / farmers in 2025. Keywords: Coastal area of indramayu, satellite imagery, erosion and sedimentation, land Ratio
COASTAL USE CHANGE ANALYSIS, STUDY CASE: JAKARTA RECLAMATION PROJECT Ilham Armi; Wiwin Windupranata; Agung Budi Harto
Ensiklopedia of Journal Vol 2, No 3 (2020): Vol 2 No 3 Edisi 2 April 2020
Publisher : Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1692.672 KB) | DOI: 10.33559/eoj.v2i3.532

Abstract

Jakarta Bay is a very strategic area but with various problems. The reclamation project is expected to address various problems in the area. So, it is necessary to study whether the reclamation project is affecting the bay of Jakarta. One that can be researched is land-use change, in this case coastal use, to know whether there is any change in the land function in Jakarta bay. It can also be examined whether a reclamation project that has been going on so far will have an effect on some aspects of the area, either with its current state or in the future. To know the change of coastal land function, one of possible method is satellite image. Landsat satellite images can be used as data to see and compare whether there are changes in the function of coastal land in the bay area of Jakarta. From the results, it is known there are some changes in the function of land, although still limited to the islands of reclamation. Then by analyzing a number of aspects, it is known that the reclamation project will give some positive influence on the condition of the Jakarta Bay.
PENGAMATAN JANGKA PENDEK PERILAKU ARUS DAN KEKERUHAN RELATIF PADA KANAL ANTAR-TERUMBU PASCA-PASANG PERBANI Studi Kasus: Perairan Pulau Panggang dan Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu: (Short Term Observation of the Behaviour of Current and Relative Turbidity in an Inter-Reef Channel during the Post-Spring Tide, Case Study: Nearshore Waters of Pramuka and Panggang Islands, Seribu Islands) Poerbandono; Eka Djunarsjah; Wiwin Windupranata
Geomatika Vol. 26 No. 2 (2020): JIG Vol. 26 No. 2 Tahun 2020
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini membahas perilaku jangka pendek arus dan kekeruhan relatif. Pembahasan didasarkan pada analisis data dari pengamatan lapangan di satu titik pada kedalaman sekitar 30 m. Titik pengamatan terletak di kanal antar-terumbu sekitar 600 m timur laut Pulau Pramuka ke arah Pulau Panggang. Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP) berfrekuensi 614,4 kHz digunakan dalam pengukuran selama 25 jam dan 50 menit, sekitar dua hari setelah pasang perbani. ADCP mengukur profil arus dan hamburan balik dengan interval 1 m. Analisis dilakukan dengan menghubungkan saat perubahan kecepatan arus dengan pasut. Selain itu, kekeruhan relatif dihitung dari hamburan balik menggunakan persamaan kalibrasi empiris. Dari analisis, diperoleh korelasi positif antara tunggang pasut dengan kecepatan arus. Kecepatan arus tertinggi (yaitu 0,42 meter per detik) berkorelasi dengan saat air tinggi yang lebih rendah (lower high water). Kecepatan arus terdistribusi secara merata di sepanjang kolom air. Dibandingkan dengan di lapisan bawah, kecepatan arus di lapisan atas meningkat lebih cepat. Kekeruhan relatif yang dihitung dari hamburan balik menunjukkan bahwa material padat tersuspensi lebih banyak terkumpul di lapisan bawah. Peningkatan kekeruhan relatif diidentifikasi terjadi saat air rendah setelah air pasang tinggi (higher high water). Arah gerak arus saling berkebalikan dengan jumlah kejadian yang dua kali lebih banyak dan kecepatan arus yang dua kali lebih kuat ke arah ke arah 33o dibandingkan dengan ke arah 226o.
KRITERIA PENENTUAN GARIS BATAS LAUT UNTUK MENDUKUNG PENGELOLAAN SUMBERDAYA KELAUTAN Djunarsjah, Eka; Sulistiyo, Budi; Hendriatiningsih, S.; Wisayantono, Dwi; Windupranata, Wiwin; Setiyadi , Johar
GEOID Vol. 4 No. 2 (2009)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v4i2.1266

Abstract

Dalam pengelolaan wilayah laut di perairan Indonesia dibutuhkan suatu penataan ruang laut yang terkait dengan fungsi-fungsi batas maritim, batas administrasi, dan batas laut. Saat ini, penarikan batas maritim didasarkan pada UNCLOS 1982 dan batas administrasi didasarkan pada UU No. 32 tahun 2004. Selama ini, penarikan garis batas laut dalam kaitannya dengan pemetaan dan pengelolaan sumberdaya laut, belum mempunyai kriteria yang jelas. Penentuan garis batas laut memerlukan kriteria sesuai dengan nama unsur geografi maritim (laut, selat, dan teluk). Kriteria tersebut mencakup tentang penentuan titik awal penarikan garis, penarikan garis batas laut, selat dan teluk, serta penentuan nama bagian-bagian laut. Penentuan garis batas laut ini merupakan bagian dari kegiatan toponimi maritim untuk melengkapi Infrastruktur Data Spasial Nasional (IDSN) kelautan. Tersedianya IDSN kelautan ini, sangat berguna bagi proses pengambilan keputusan dalam pegelolaan sumberdaya laut secara terpadu.
Variasi Spasial Karakteristik Pasang Surut di Laut Jawa Berbasiskan Model Pasut Global TPXO9v5 Windupranata, Wiwin; Nusantara, Candida Aulia De Silva; Nuraghnia, Alqinthara
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 2 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i2.59689

Abstract

Pasang surut (pasut) merupakan fenomena periodik naik turunnya air laut yang berpengaruh besar terhadap seluruh aktifitas manusia di wilayah pesisir dan laut. Tulisan ini menganalisis variasi spasial dari karakteristik pasut yang terjadi di Laut Jawa. Karakteristik pasut tersebut dipetakan dari empat komponen pasut utama (K1, O1, M2 dan S2) dari model pasut global TPXO9v5 dan diverifikasi menggunakan 14 stasiun pasut dari Badan Informasi Geospasial. Hasil verifikasi menunjukkan kesesuaian yang baik antara data model dengan data pengukuran dengan rata-rata nilai RMS 0,8 – 2,2 cm untuk komponen pasut dan 7,6 cm untuk tunggang pasut, sementara tingkat kesesuaian untuk tipe pasut adalah 93%. Nilai amplitudo komponen pasut pada kelompok harian (K1 dan O1) memiliki nilai lebih besar sekitar dua kali lipat dibandingkan dengan kelompok harian ganda (S2 dan M2). Sementara untuk nilai fase, hanya gelombang O1 yang penjalarannya ke arah timur, sementara gelombang lainnya menjalar ke arah barat. Secara spasial, tunggang pasut di Laut Jawa bervariasi dari 0,3 m di bagian tengah pada bujur 108-110° BT dan bertambah tinggi ke arah barat dan timur sampai 1 m. Pengetahuan mengenai variasi spasial karakteristik pasut ini penting dalam mempelajari pola pasut, bidang referensi ketinggian atau kedalaman, atau untuk kerekayasaan seperti manajemen pelabuhan dan instalasi infrastruktur lepas pantai.  Tides are a periodic rising and falling sea level phenomenon that significantly impact all human activities in coastal and maritime regions. This paper discusses the spatial variations of tidal characteristics tides in the Java Sea. The characteristics are mapped from four main tidal components (K1, O1, M2, and S2) extracted from the TPXO9v5 tide model and verified by 14 tidal stations. The verifications show a good agreement between the model data and measurements, with an average root mean square (RMS) of 0.8 - 2.2 cm for tidal components and 7.6 cm for tidal range, and the conformity level for tidal types is 93%. The amplitude of the diurnal tidal components (K1 and O1) is approximately twice that of the semi-diurnal tidal components (S2 and M2). Regarding the phase, only the O1 wave propagates eastward, while the other waves propagate westward. Spatially, the tidal range in the Java Sea varies from 0.3 m in the central part at longitudes 108-110° E, increasing in height as it moves westward and eastward to reach 1 m. Information on the spatial variations in tide characteristics is crucial for studying tidal patterns, tidal datum, and engineering purposes like port management and offshore infrastructure.