This study examines how a surplus food rescue programme is classified and narrated within the sustainability report of a modern retailer listed on the Indonesia Stock Exchange. Research on corporate social responsibility communication has largely addressed companies that talk beyond their practice, while filtering that operates through the selection of disclosure categories has received comparatively little attention. Using a qualitative approach, this study conducts a discourse analysis of the sustainability chapter of the 2025 annual and sustainability report, drawing on two content maps produced by the company itself: the GRI Standards 2021 content index and the disclosure list under Indonesian Financial Services Authority Regulation 51/POJK.03/2017. Three findings emerge. First, a double classification occurs: the report describes the programme in the language of food waste reduction, yet places it under community impact disclosure rather than within the waste disclosure series, even though waste management is one of the company's own declared material topics. Second, the disclosure literally titled waste diverted from disposal contains no quantitative data, while the programme's achievement is presented in a narrative register. Third, the filtering mechanism can be read as a structural consequence, since the non-profit organisations implementing the programme do not appear in the stakeholder map underpinning materiality determination. The study offers a reading of gatekeeping at the level of categorisation, in which filtering operates not by removing content but by relocating the register in which it is presented. Keywords: gatekeeping, sustainability communication, sustainability report, disclosure category, food donation Abstrak Penelitian ini menganalisis bagaimana sebuah program penyelamatan pangan surplus diklasifikasikan dan dinarasikan di dalam laporan keberlanjutan sebuah peritel modern yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Kajian komunikasi tanggung jawab sosial perusahaan umumnya menyoroti perusahaan yang berbicara melampaui praktiknya, sementara penyaringan yang berlangsung melalui pemilihan kategori pengungkapan relatif jarang ditelaah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis wacana atas bab keberlanjutan laporan tahunan dan keberlanjutan tahun buku 2025, dengan memanfaatkan dua peta isi yang disusun perusahaan sendiri, yaitu indeks silang GRI Standards 2021 dan daftar pengungkapan sesuai POJK No. 51/POJK.03/2017. Hasil penelitian menunjukkan tiga hal. Pertama, terjadi klasifikasi ganda: laporan mendeskripsikan program dengan bahasa pengurangan limbah pangan, namun menempatkannya di bawah pengungkapan dampak terhadap komunitas, bukan di bawah rangkaian pengungkapan limbah, padahal pengelolaan limbah merupakan salah satu topik material yang ditetapkan perusahaan sendiri. Kedua, pengungkapan yang secara harfiah berjudul limbah yang dialihkan dari pembuangan akhir tidak memuat data kuantitatif apa pun, sementara capaian program disajikan dalam register naratif. Ketiga, mekanisme penyaringan dapat dibaca sebagai konsekuensi struktur, karena organisasi nirlaba pelaksana program tidak tercantum dalam peta pemangku kepentingan yang menjadi dasar penentuan materialitas. Penelitian ini menawarkan pembacaan gatekeeping pada tataran kategorisasi, yakni penyaringan yang bekerja bukan dengan meniadakan isi melainkan dengan memindahkan register penyajiannya. Kata Kunci: gatekeeping, komunikasi keberlanjutan, laporan keberlanjutan, kategori pengungkapan, donasi pangan.