Ja'far Ja'far
Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe

Published : 22 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

AL JAM’IYATUL WASHLIYAH, AGAMA DAN POLITIK Ja'far Ja'far
Islamijah: Journal of Islamic Social Sciences Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : MIQOT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/islamijah.v3i1.8999

Abstract

Abstrak: Artikel ini membahas relasi Al Washliyah dengan politik di Indonesia kontemporer. Secara khusus, artikel ini mengkaji sejarah dan ideologi Al Washliyah, sikap Al Washliyah terhadap negara Indonesia, dan hubungan Al Washliyah dan politik, khususnya politisasi agama. Studi ini merupakan studi kepustakaan. Data diperoleh dari dokumen organisasi yang kemudian dianalisis dengan metode analisis isi. Studi ini mengajukan temuan bahwa Al Washliyah adalah salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yang berdedikasi bagi umat, bangsa dan negara dalam bidang pendidikan, dakwah dan amal sosial. Al Washliyah merupakan organisasi Islam yang turut merebut, memperjuangkan dan mengisi kemerdekaan Indonesia. Al Washliyah sama sekali tidak abai dalam bidang politik, meskipun tidak pernah menjadi partai politik. Meskipun bukan suatu partai politik, Al Washliyah memiliki ideologi politik tertentu yang menjadi arah perjuangan organisasi. Studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi kajian gerakan Islam di Indonesia kontemporer. Kata Kunci: Al Washliyah, agama, politik, Indonesia Abstract: This article discusses Al Washliyah's relationship with politics in contemporary Indonesia. In particular, this article examines the history and ideology of Al Washliyah, the attitude of Al Washliyah towards the Indonesian state, and the relationship between Al Washliyah and politics, particularly the politicization of religion. This study is a literature study. The data was obtained from organizational documents which were then analyzed using content analysis method. This study proposes the finding that Al Washliyah is one of the largest Islamic organizations in Indonesia which is dedicated to the people, nation and state in the fields of education, da'wah and social charity. Al Washliyah is an Islamic organization that took part in seizing, fighting for and filling Indonesia's independence. Al Washliyah was not at all ignorant in the political field, even though it was never a political party. Although not a political party, Al Washliyah has a certain political ideology that is the direction of the organization's struggle. This study is expected to contribute to the study of the Islamic movement in contemporary Indonesia. Keywords: Al Washliyah, religion, politics, Indonesia
MERANTAU DEMI REPUBLIK: Kehidupan dan Perjuangan Ismail Banda (1909-1951) Ja'far Ja'far
Islamijah: Journal of Islamic Social Sciences Vol 1, No 2 (2020)
Publisher : MIQOT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.584 KB) | DOI: 10.30821/islamijah.v1i2.7181

Abstract

Abstrak: Studi ini bertujuan untuk mengkaji kehidupan dan perjuangan Ismail Banda dalam rangka merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Studi ini dilatari oleh sedikitnya informasi tentang perjuangan Ismail Banda sehingga membuatnya kurang dikenal secara menyeluruh bahkan oleh penerusnya di lingkungan Al Washliyah sendiri. Studi ini merupakan studi biografis di mana data diperoleh melalui studi kepustakaan. Data berupa dokumen dianalisis dengan metode analisis isi. Studi ini mengajukan temuan bahwa Ismail Banda adalah ulama Mandailing yang terpelajar sekaligus pejuang dimana selama di luar negeri ia belajar di pusat intelektual tradisi Sunni di awal abad ke-20: Madrasah Shaulatiyah dan Universitas al-Azhar, kemudian memanfaatkan segala peluang untuk memimpin perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia di Mesir melalui Perhimpunan Pemuda Indonesia dan Malaya (Perpindom). Studi ini menyajikan elaborasi lebih luas terhadap biografi Ismail Banda berdasarkan sumber-sumber baru dan terpercaya.Kata Kunci: Ismail Banda, Al Washliyah, politik, kolonialisme, Timur Tengah, IndonesiaAbstract: Migration for the Sake of the Republic: The Life and Struggle of Ismail Banda (1909-1951). This study aims to examine the life and struggle of Ismail Banda in order to seize and defend the independence of the Republic of Indonesia. Amid the achievement of Ismail Banda, he was out of the attention of researchers that make him less well known overall even by his successors in Al Washliyah's own environment. This study is a bio-biographical study in which data is obtained through literature and library study. Data in the form of documents were analyzed by content analysis method. The study finds that Ismail Banda was a well-educated Mandailing scholar and fighter who during his overseas studies at the intellectual center of the Sunni tradition in the early 20th century: Madrasah Shaulatiyah and al-Azhar Universitytook advantage of all opportunities to lead the Republic's struggle for Indonesian independence in Egypt through the Indonesian Youth Association and Malaya (Perpindom). This study presents a broader elaboration of Ismail Banda's biography based on new and trusted sources.Keywords: Ismail Banda, Al Washliyah, politics, colonialism, Middle East, Indonesia
Peran M. Arsjad Th. Lubis dalam Pengembangan Ilmu-Ilmu Keislaman Ja'far Ja'far
Dialogia Vol 18, No 2 (2020): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/dialogia.v18i2.2216

Abstract

Abstract: This study aims to analyze the role of M. Arsjad Th. Lubis in the development of Islamic sciences. This article is the result of a library research using a historical approach, to be precise intellectual history. This study has succeeded in showing that Tuan Arsjad is a scholar who has helped develop Islamic sciences in Indonesia, especially in North Sumatra. His works cover the extents of the Qur’an, hadith, theology, comparative religion, Islamic law and history. All of his works before and after independence were responses to the problems of the people and nation that occurred during his lifetime. His pre-independence works focused on comparative studies of religions, and his works in this field were his response to Christianization activities in North Sumatra. After independence, Tuan Arsjad became a very productive scholar. His works in the fields of the Qur’an, hadith, theology and Islamic law are used by hundreds of madrassas that managed by Al Washliyah, and his works in the field of comparative religion are read by preachers when preaching in Muslim minority areas in North Sumatra. A number of his books have also been translated into various regional languages and distributed free of charge to converts. His works in the field of fiqh siyasah (politics) are a response to the Old Order's policies towards a number of political upheavals in the regions. All of this shows that Tuan Arsjad’s presence has contributed to social change in Indonesia, particularly North Sumatra.الملخص: هذه الدراسة تهدف إلى تحليل مساهمة السيد محمد أرشد طالب لوبيس في تطوير العلوم الإسلامية. وهذه المقالة هي نتيجة الدراسة المكتبة باستخدام مقاربة التاريخية الفكرية. لقد دلت هذه الدراسة بعد بحثها على أن السيد أرشد عالم ساعد في تطوير العلوم الإسلامية في إندونيسيا عامة و في سومطرة الشمالية خاصة. وتضمنت أعماله في مجالات متعددة فيها علوم القرآن والحديث وعلم الكلام ومقارن الأديان وكذالك في مجال الأحكام الشريعة والتاريخ الإسلامية. كانت جميع أعماله ما قبل الاستقلال وما بعده استجابا لمشاكل الشعب والأمة التي حدثت في حياتهم. وكان دراسته التي تتركزت في مجال مقارنة الأديان استجابة لأنشطة الدعوة المسيحية في سومطرة الشمالية. وكان بعد الاستقلال أصبح السيد أرشد باحثًا منتجًا للغاية. تستخدم أعماله في مجالات القرآن والحديث وعلم الكلام والشريعة الإسلامية حوالى مئات المدارس الدينية الوصلية. وكان كتابه في مجال مقارنة الأديان يقرأ كثير من الدعاة عند دعوتهم في دائرة الأقليات المسلمة في سومطرة  الشمالية. وكان عدد من كتب السيد أرشد وقد تُرجم إلى لغات إقليمية مختلفة ووزعتها مجانًا للمؤلفين. وكذلك كتابه في مجال السياسة هي رد فعل لسياسات النظام القديم التي تتجه عدد من الاضطرابات للسياسية المحلية. وكل هذا يدل على أن السيد أرشاد قد ساهم مساهمة كبيرة في التغيير الاجتماعي في إندونيسيا ، ولا سيما سومطرة الشمالية.Abstrak: Studi ini bertujuan untuk menganalisa peran M. Arsjad Th. Lubis dalam pengembangan ilmu-ilmu keislaman. Artikel ini merupakan hasil sebuah studi kepustakaan dengan menggunakan pendekatan sejarah, tepatnya sejarah intelektual. Studi ini berhasil menunjukkan bahwa Tuan Arsjad merupakan ulama yang turut mengembangkan ilmu-ilmu keislaman di Indonesia, khususnya di Sumatera Utara. Karya-karyanya mencakup bidang Alquran, hadis, teologi, perbandingan agama, hukum dan sejarah. Seluruh karyanya sebelum dan sesudah kemerdekaan merupakan respons terhadap persoalan umat dan bangsa yang terjadi di masa hidupnya. Karya-karyanya sebelum era kemerdekaan terfokus pada kajian perbandingan agama, dan karya-karya dalam bidang ini merupakan responsnya terhadap aktivitas kristenisasi di Sumatera Utara. Pasca kemerdekaan, Tuan Arsjad menjadi ulama yang sangat produktif. Karyanya dalam bidang Alquran, hadis, teologi dan hukum Islam digunakan oleh ratusan madrasah yang dikelola Al Washliyah, dan karya-karyanya dalam bidang perbandingan agama menjadi bacaan para mubalig saat melakukan dakwah di kawasan minoritas Muslim di Sumatera Utara. Sejumlah bukunya juga telah diterjemahkan ke berbagai bahasa daerah dan dibagikan secara gratis untuk para mualaf. Karya-karyanya dalam bidang fikih siyasah (politik) merupakan responsnya terhadap kebijakan Orde Lama terhadap sejumlah pergolakan politik di daerah. Semua ini menunjukkan bahwa kehadiran Tuan Arsjad telah turut memberikan kontribusi dalam perubahan sosial di Indonesia, khususnya Sumatera Utara.
CONTEMPORARY DEVELOPMENT OF QUR’ANIC EXEGESIS IN INDONESIA AND IRAN Muhammad Iqbal; Ja'far Ja'far
Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.682 KB) | DOI: 10.30821/jcims.v3i1.4144

Abstract

Abstrak: Studi ini mengkaji perkembangan terkini karya-karya tafsir di Indonesia dan Iran. Kedua negara ini memiliki perbedaan dari aspek dasar negara dan paham keagamaan penduduknya. Indonesia bukan negara Islam, berasaskan Pancasila, dan mayoritas penduduknya menganut Islam Sunni. Adapun Iran adalah sebuah Republik Islam dan mayoritas penduduknya menganut Islam Syiah. Studi ini merupakan kajian kepustakaan dan data yang diperoleh melalui telaah dokumen akan dianalisis dengan metode analisis isi. Studi ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang perkembangan studi tafsir di dunia Sunni dan Syiah di era kontemporer. Studi ini mengajukan temuan bahwa ulama kedua negara sama-sama mengembangkan kajian tafsir, dan telah menghasilkan sejumlah kitab tafsir. Karya tafsir di Iran bercorak Syiah, sedangkan kitab tafsir di Indonesia bercorak Sunni. Tetapi, dalam konteks kontemporer, ulama Iran telah menghasilkan banyak karya tafsir dimana para marja‘ taqlid memainkan peran penting dalam pengkajian tafsir, sedangkan ulama Indonesia saat ini kurang banyak menulis kitab tafsir.Abstract: Perkembangan Kontemporer Studi Tafsir Alquran di Indonesia dan Iran. This study examines the latest developments in Qur’anic exegesis in Indonesia and Iran. These two countries differ in their forms of state and the affiliation of its people. Indonesia is not an Islamic State—albeit based on Pancasila that stresses monotheism—and the majority of its people adhere to Sunni Islam.  Iran, on the other hand, is a declared Islamic Republic and the majority of its population adheres to Shiite Islam. This study is a literary review and the obtained data was analyzed using content analysis method. This study found that scholars in the two countries have developed interpretation studies, and have produced a number of Qur’anic exegesis. Naturally, Qur’anic exegesis works in Iran are Shiah in style, while those of Indonesia are Sunni in genres. Apparently, in contemporary context, Iranian scholars have been more productive than their Indonesian counterparts. Marja‘ taqlid plays a very important role in this scholarly enterprise.Kata Kunci: Indonesia, Iran, Sunni, Syiah, Alquran, tafsir
Respon Dewan Fatwa Al-Jam'iyatul Washliyah terhadap Isu Akidah dan Syariah di Era Global Ja'far Ja'far
Al-Manahij: Jurnal Kajian Hukum Islam Vol 10 No 1 (2016)
Publisher : Sharia Faculty of State Islamic University of Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6686.461 KB) | DOI: 10.24090/mnh.v10i1.919

Abstract

Berbeda dari organisasi Islam lain, Al Jam'iyatul Washliyah tidak banyak mendapatkan perhatian dari masyarakat akademik. Padahal secara kuantitas dan sebaran wilayah, Al Washliyah menempati posisi sebagai organisasi terbesar ketiga setelah Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Al Washliyah telah memberikan perhatian terhadap bidang pendidikan, dakwah dan amal sosial, sehingga beberapa peneliti memfokuskan riset mereka terhadap ketiga bidang tersebut. Tetapi, peran Al Washliyah dalam bidang hukum Islam belum dikaji secara akademik mengingat kelangkaan literatur mengenai masalah tersebut. Melalui studi kepustakaan, artikel ini mengajukan temuan bahwa Al Washliyah membentuk Dewan Fatwa sebagai dewan syariah organisasi, dan hanya ada pada level Pengurus Besar Al Washliyah. Dewan Fatwa Al Washliyah memiliki hak mengeluarkan fatwa-fatwa atas dasar mazhab Syafi'iyah dalam bidang fikih, dan mazhab Ahlussunnah Waljamaah dalam bidang akidah; dan berhasil memainkan peran sebagai benteng tradisi Sunni di Indonesia. Sejak awal pendirian, Dewan Fatwa Al Washliyah terus merespons segala persoalan global yang sedang dihadapi oleh masyarakat Muslim di level nasional, regional, dan internasional. Lembaga fatwa ini telah banyak menghasilkan beragam produk fatwa dalam bidang hukum dan akidah, meskipun kurang disosialisasikan secara meluas kepada masyarakat Muslim, dan menjadi sebentuk respons terhadap isu-isu global dunia Muslim.
RESPONS AL JAM’IYATUL WASHLIYAH TERHADAP TERORISME Ja'far Ja'far
Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Vol 22 No 1 (2017): Islam, Radicalism, dan Terrorism
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam Negeri Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Al Washliyah merupakan satu di antara banyak organisasi Islam yang menolak paham dan gerakan terorisme di Indonesia. Artikel ini mengkaji respons Al Washliyah terhadap terorisme. Kajian ini menarik dilakukan, sebab organisasi ini memiliki pengikut yang fanatik dan mengelola amal usaha yang banyak, tetapi masih relatif jarang diteliti oleh para peneliti. Kajian ini merupakan studi lapangan (library research) dimana sumber datanya diperoleh dari kegiatan wawancara dan studi dokumen. Data dianalisis dengan menggunakan metode analisis data menurut Miles dan Huberman: reduksi data, pemaparan data, dan penarikan kesimpulan. Didasari dengan teori Matusitz, Pranawati, dan Golose tentang doktrin terorisme dimana gerakan ini ingin mendirikan negara Islam, memaknai jihad sebagai perang, anti terhadap non-Muslim, dan melegalkan bom bunuh diri, kajian ini akan menelaah respons Al Washliyah terhadap empat persoalan tersebut. Kajian ini mengajukan temuan bahwa Al Washliyah menolak paham dan gerakan terorisme yang muncul dan berkembang di Indonesia, dan para ulamanya menilai bahwa kaum teroris telah salah dalam memahami ajaran Islam. Temuan kajian ini dapat berkontribusi bagi pemerintah dalam upaya menanggulangi gerakan terorisme di Indonesia. Al Washliyah is one of Islamic organizations that rejects the concept of terrorism in Indonesia. This article examines Al Washliyah's responses to terrorism. This study is interesting because this organization has fanatic followers and manages many business charities, but rarely investigated by researchers. This research is field studies where the data sources obtained from the interviews activities and document studies. Data were analyzed by using data analysis method according to Miles and Huberman: data reduction, data display, and conclusion. Based on the theory of Matusitz, Pranawati, and Golose about terrorism doctrine in which the program wants to establish an Islamic state, interpret jihad as war, anti to non-Muslims, and legalize suicide bombings, this study will examine the Al Washliyah's responses to those four issues. This study proposes that Al Washliyah rejects the concept of terrorism which appears and develops in Indonesia, and ulama consider that terrorists have misunderstood on Islamic concept. The findings of this study may contribute to the government in combating terrorism movement in Indonesia.
KLASIFIKASI ILMU DALAM TRADISI INTELEKTUAL ISLAM Ja'far Ja'far
Islamijah: Journal of Islamic Social Sciences Vol 3, No 2 (2022)
Publisher : MIQOT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/islamijah.v3i2.12576

Abstract

Abstrak: Studi ini mengkaji konsep ilmuwan Muslim tentang klasifikasi ilmu. Studi ini merupakan studi kepustakaan. Data didasarkan pada sumber-sumber tertulis dan otoritatif. Studi ini didasari oleh fakta bahwa Islam mewajibkan setiap Muslim menuntut ilmu. Alquran maupun hadis memberikan petunjuk bahwa Islam merupakan agama yang memandang penting ilmu. Aktivitas membaca menjadi kegiatan penting menurut Alquran, dan ini bisa dilihat dari fakta bahwa ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi adalah berkaitan dengan kegiatan membaca (iqra’). Nabi dalam berbagai hadisnya juga memberi isyarat tentang kewajiban dan keutamaan menuntut dan mengembangkan ilmu. Studi ini menunjukkan bahwa para pemikir Muslim merinci pandangan Alquran dan hadis tentang ilmu yang wajib dipelajari. Studi ini akan mengungkap pandangan al-Ghazâlî, Quthb al-Dîn al-Syîrâzî, Ibn Khaldûn, Ibn al-Qayyim al-Jauziyah dan Syed Muhammad Naquib al-Attas. Pendapat mereka mengarah pada kesimpulan bahwa Islam mewajibkan kaum Muslim untuk menuntut dan mengembangkan ilmu yang bermanfaat bagi dunia Muslim, baik ilmu syariah maupun ilmu filsafat. Studi ini turut memperkuat gugusan referensi tentang kajian epistemologi Islam di Indonesia. Kata Kunci: ilmu, syariah, filsafat, peradaban Islam  
Discovering the Legacy of Mandailing Ulama: Education, Intellectuals, and Politics in North Sumatra in the Early 20th Century Ja'far Ja'far; Mhd. Syahnan; Asrul Asrul; Zaini Dahlan; Sakti Ritonga
Ulumuna Vol 26 No 2 (2022): December
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/ujis.v26i2.502

Abstract

This study examines the role of Mandailing ulama in education, intellectuals, and politics in the early 20th century. Ulama plays a critical role in safeguarding the morality of Muslim society (umma). Drawing upon the historical approach, it employed Kuntowijoyo model of writing history stages and Anthony Giddens' structuration theory to analyze the problems that this study intends to answer. This study argues that the social structure surrounding the Mandailing ulama enabled them to address religious and other sociocultural issues. This study also unveiled that the Mandaling ulama in the early 20th century mobilized the organizations, such as Al Washliyah (1930), Al-Ittihadiyah (1935), and Nahdlatul Ulama (1918) to promote the education of the indigenous people, fortify the Sunni school of thought from the heretical and influence of Dutch colonial government. It was manifested by supporting only two Islamic political parties: the Masjumi Party and the Nahdlatul Ulama Party. This suggests that Ulama were not only religious scholars who acquired knowledge of Islamic norms and disseminated them through religious and educational institutions, such as madrasa and pesantren, but also active agents in socio-political transformation within the Muslim community.
From Mandailing Land to Haramayn: Mandailing Ulama and the Religious Sciences in the Early 20th Century Ja'far Ja'far
Hikmah Vol. 19 No. 2 (2022): Juli-Dember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Sumatera Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (859.999 KB) | DOI: 10.53802/hikmah.v19i2.169

Abstract

Mecca and Medina, also known as Haramayn, are the two holy cities of Muslims and serve as the intellectual and spiritual centers of the Islamic world. At the beginning of the 20th century, religious students from the archipelago visited these cities to perform the pilgrimage and continued their studies. While researchers have uncovered the role and network of Indonesian ulama, not all ulama groups have been successfully uncovered. This article examines the role of the Mandailing ulama, particularly those with the surname Nasution, in preserving religious sciences in the Tapanuli Residency in the early 20th century. The ulama discussed in this study include Sheikh ‘Abd al-Qadir al-Mandily (Nasution), Sheikh Muhammad Ja’far Nasution, and Sheikh Musthafa Husein Nasution. This is a literature study with a historical approach. Kuntowijoyo’s historical research model serves as a reference in writing this article, and al-Ghazâlî’s opinion about the classification of knowledge is the main theory used to analyze research topics. This article argues that the Mandailing ulama, particularly those with the surname Nasution, actively preserved religious sciences in the Tapanuli Residency after studying at Masjidilharam in Mecca, Saudi Arabia. They later became the primary agents of teaching religious sciences according to the Sunni Islamic tradition in their respective areas. The results of this study have implications for the strengthening of literature and theory on the role and network of Indonesian ulama.
Islam and Democracy In Modern Indonesia: The Role of Al Washliyah in the 1955 Elections Ja'far Ja'far; Mhd. Syahnan; Asrul Asrul
TANFIDZIY Vol 2 No 1 (2023): Tanfidziy: Jurnal Hukum Tata Negara dan Siyasah
Publisher : Constitutional Law and Siyasah Department, Sharia and Law Faculty, IAIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/tanfidziy.v2i1.1885

Abstract

Abstract: This article examines the role of Al Washliyah, an Islamic organization founded in Medan during the early 20th century, in the 1955 Indonesian election. This study is library research with an historical approach, drawing data from primary sources such as organizational documents and secondary sources like expert research findings. The significance of this study lies in its novel exploration of a previously unaddressed topic by researchers. This study argues that during the Old Order era, Al Washliyah accepted the concept and implementation of elections with the aim to advocate Islam as the foundation of the state. Consequently, Al Washliyah strongly supported the Masjumi Party and secured a distinctive membership within this Islamic party. Additionally, Al Washliyah engaged in political education, actively conducting training sessions in preparation for the general elections. The organization's endeavors played a pivotal role in contributing to the Masjumi Party's substantial electoral success in North Sumatra. Notably, some of its prominent figures successfully secured positions in the Constituent Assembly and the House of Representatives in Jakarta. Their involvement facilitated national-level discussions on the foundational underpinnings of the state.