Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PELATIHAN PEMBUATAN TEMPAT SAMPAH DAUR ULANG DALAM PENGELOLAAN SAMPAH Achmad Imam Santoso; Al Hidayani; Dhymas Sulistyono Putro
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 7 (2022): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v5i7.2582-2586

Abstract

Salah satu metode yang dapat digunakan dalam pengelolaan sampah yaitu melakukan pelatihan dalam meningkatkan fasilitas pengelolaan sampah dengan memanfaatkan bahan yang dapat didaur ulang. Fasilitas pengelolaan sampah yang berasal dari bahan yang dapat didaur ulang, diantaranya tempat sampah. Pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan pelatihan pembuatan tempat sampah. Semakin meningkatkan kemampuan masyarakat dalam pembuatan tempat sampah, diharapkan mampu mengaplikasikannya pada lingkungan sekitar. Sehingga pengelolaan sampah pada suatu wilayah akan semakin meningkat. Pengabdian kepada masyarakat ini terbagi atas beberapa tahapan, diantaranya persiapan dan pelaksanaan. Tahap persiapan yaitu mengumpulkan alat dan bahan yang akan digunakan, yaitu ban bekas sebagai bahan baku utama tempat sampah, cat sebagai penambah estetika tempat sampah, seng sebagai penampang tempat sampah, serta alat pemotong untuk memotong bagian ban yang tidak dibutuhkan. Tahap pelaksanaan, yaitu pembuatan tempat sampah.
Edukasi dan Penguatan Kapasitas Remaja dalam Pengendalian dan Pencegahan Dini Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS) di SMA Muhammadiyah 1 Palangka Raya Windya Nazmatur Rahmah; Fera Sartika; Fitria Hariati Ramdhani; Al Hidayani; Rezqi Handayani
Journal of Community Development Vol. 6 No. 1 (2025): August
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/comdev.v6i1.1680

Abstract

Penyakit nfeksi menular seksual (PIMS) merupakan masalah kesehatan global yang terus meningkat, termasuk di Indonesia. Prevalensi PIMS tertinggi terjadi pada kelompok remaja dan dewasa muda akibat perilaku seksual berisiko. Perilaku seksual berisiko seperti berganti-ganti pasangan tanpa proteksi merupakan penyebab utama meningkatnya kasus PIMS di kalangan remaja dan dewasa muda di Indonesia. Upaya pencegahan dan pengendalian melalui peningkatan edukasi dan akses layanan kesehatan reproduksi penting untuk dilakukan guna memutus rantai penularan IMS di kalangan remaja. Metode kegiatan dilakukan dengan memberikan edukasi terkait PIMS dan memberikan pelatihan kepada siswa SMA 1 Muhammadiyah Palangkaraya untuk membuat promosi kesehatan terkait PIMS dengan memanfaatkan platform media social. Pada kegiatan ini juga dilakukan pengukuran tingkat pengetahuan siswa terhadap PIMS dengan melakukan evaluasi melalui pemberian pretest dan postest. Hasil menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan siswa tentang PIMS khususnya pada remaja setelah dilakukannya edukasi. Selain itu kegiatan ini menghasikan produk media sosial sebagai bentuk promosi kesehatan terkait PIMS yaitu platform media sosial TikTok dan Instagram. Kegiatan edukasi dan penguatan kapasitas remaja tentang pengendalian dan pencegahan dini PIMS di SMA Muhammadiyah 1 Palangka Raya telah berhasil dilaksanakan dengan memberikan pemahaman yang lebih baik kepada siswa mengenai risiko, cara penularan, pencegahan, dan dampak PIMS.
FAKTOR RISIKO HIV PADA ANAK DENGAN IBU PENDERITA HIV POSITIF DITINJAU DARI BERBAGAI LITERATUR Al Hidayani; Clariza Florency
Klinikal Sains : Jurnal Analis Kesehatan Vol. 13 No. 1 (2025): Juni
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/klinikalsains.v13i1.6345

Abstract

Abstrak Penularan HIV dari ibu ke anak (transmisi vertikal) masih menjadi tantangan utama dalam pengendalian HIV/AIDS di Indonesia. Berdasarkan data terbaru tahun 2024, mayoritas kasus HIV pada anak disebabkan oleh infeksi yang ditularkan selama kehamilan, persalinan, atau menyusui, dengan estimasi lebih dari 90% berasal dari jalur ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan observasional terhadap data penjaringan pemeriksaan HIV serta tinjauan literatur untuk menganalisis faktor risiko penularan vertikal dan efektivitas media edukasi. Hasil menunjukkan bahwa kurangnya pemahaman ibu hamil dan tidak tersedianya intervensi tepat waktu meningkatkan risiko penularan. Studi juga mengungkap bahwa media leaflet dan audiovisual sama-sama efektif dalam meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang pencegahan HIV, meskipun media audiovisual dinilai lebih menarik dan mudah diakses. Penerapan program Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) melalui strategi 4 pilar terbukti mampu menekan risiko penularan hingga di bawah 5% jika dijalankan secara konsisten. Kesuksesan program ini sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor, edukasi berkelanjutan, serta dukungan sistem skrining HIV yang kuat selama masa kehamilan dan pascapersalinan. Abstract Mother-to-child transmission (MTCT) of HIV remains a major challenge in the control of HIV/AIDS in Indonesia. According to the latest data from 2024, the majority of HIV cases in children are caused by infections transmitted during pregnancy, childbirth, or breastfeeding, with over 90% estimated to result from this transmission route. This study employs an observational approach to data from HIV screening programs and a literature review to analyze the risk factors for vertical transmission and the effectiveness of educational media. The findings indicate that a lack of awareness among pregnant women and the absence of timely interventions increase the risk of transmission. The study also reveals that both leaflet and audiovisual media are effective in enhancing pregnant women's knowledge about HIV prevention, although audiovisual media is considered more engaging and accessible. The implementation of the Prevention of Mother-to-Child Transmission (PMTCT) program through a four-pronged strategy has been proven to reduce the risk of transmission to below 5% when applied consistently. The success of this program largely depends on cross-sector collaboration, continuous education, and strong support from HIV screening systems during pregnancy and the postpartum period.