Reini D. Wirahadikusumah, Reini D.
Staf Pengajar, Program Studi Teknik Sipil, Lab Manajemen dan Rekayasa Konstruksi, FTSL, Institut Teknologi Bandung,

Published : 23 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Tantangan Penerapan Alokasi Anggaran Biaya SMK3 pada Kontrak Konstruksi Proyek Berisiko Tinggi -, Meifrinaldi -; Wirahadikusumah, Reini D; Adhiwira, Felix -; Catri, Putra Ramadhana; Pradoto, Rani Gayatri Kusumawardhani
Jurnal Teknik Sipil Vol 26, No 1 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.21 KB) | DOI: 10.5614/jts.v26i1.10107

Abstract

Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menerbitkan regulasi yang mewajibkan implementasi Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) dalam semua fase pekerjaan konstruksi. Ketentuan tersebut tercantum dalam PermenPUPR 5/2014 yang kemudian diperbarui menjadi PermenPUPR 2/2018 mewajibkan adanya alokasi biaya yang secara spesifik digunakan untuk pengadaan SMK3 dalam Harga Perkiraan Sendiri (HPS). Ketentuan ini dilengkapi dengan adanya pedoman bagi Proyek manager untuk mengestimasi alokasi biaya SMK3. Meskipun begitu, pada praktiknya di lapangan dirasakan masih belum berjalan dengan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menkaji masalah penerapan aturan tersebut yang mencakup perhitungan biaya yang harus dialokasikan oleh kontraktor untuk pengadaan seluruh komponen SMK3, serta menggali pendapat responden mengenai tantangan di lapangan. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan survei terhadap lima belas proyek konstruksi gedung high-rise di wilayah Jakarta dan Bandung. Biaya yang harus dikeluarkan untuk mengimplementasikan kebijakan ini kemudian disimulasikan dan diestimasi berdasarkan hasil wawancara, kuesioner, serta pengumpulan data-data serta dokumen pendukung dari narasumber. Didapatkan bahwa biaya yang harus dialokasikan berkisar antara 1,37% sampai 3,84%. dari total nilai kontrak. Komponen biaya yang paling siginfikan adalah yang berkaitan dengan premi untuk asuransi dan perizinan, serta pembayaran gaji untuk petugas pengawas K3. Sedangkan kendala utama dalam pelaksanaan program SMK3 adalah faktor pekerja, yaitu turnover pekerja yang tinggi sehingga program yang telah disusun menjadi kurang efektif. Responden mendorong Pemerintah untuk mengeluarkan petunjuk teknis yang lebih komprehensif terkait dengan penganggaran SMK3, agar terdapat kesamaan presepsi pada saat pelaksanaan konstruksi di lapangan.
CONSTRUCTION PERFORMANCE ANALYSIS IN THE PROJECT DELIVERY OF TOLL ROAD CONCESSION Milyardi, Roi; Wirahadikusumah, Reini D.; Abduh, Muhammad; Siregar, Budi H.
Jurnal Teknik Sipil Vol 27, No 1 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2020.27.1.5

Abstract

AbstractPPP scheme has stimulate increasing the volume of infrastructure development in Indonesia from the period of 2014 and planned until 2025, where the toll road business is carried out by business entities with a concession period. In the PPP scheme, various variables need to be considered, including project cost, project complexity, strong public support, and performance indicators in each phase of toll road concession. The construction phase in the PPP scheme in Indonesia is the responsibility of the business entity regulated in PP No. 43 of 2013. Determination of project delivery on toll road construction projects is a strategy of the business entity to control the performance of the toll road construction project it manages. In the complexity of the variables in PPP, a variable pattern with project delivery is needed to find an effective strategy in achieving good construction performance. The purpose of this study is to identify patterns of achievement of construction performance on variations in project delivery in the toll road PPP scheme. The analytical approach QCA (Qualitative Comparative Analysis) is taken, with 14 BUJT case studies in 4 toll road networks in Indonesia. From the results of the study, two project deliveries, design-bid-build and design & build, were identified, which identified that project delivery variations did not have a strong influence on the performance of toll road construction projects, where other toll road PPP concession, such as business scheme, project management maturity, construction cost, length of road, corporation relation between business entities and contractor contractor's financial scheme, and land acquisition scheme variables which is more powerful. AbstrakMeningkatnya volume pembangunan infrastruktur di Indonesia pada periode 2014 dan direncanakan hingga tahun 2025 didorong dengan skema KPBU, dimana pengusahaan jalan tol dilakukan badan usaha dengan timbal balik suatu masa konsesi. Dalam skema KPBU, berbagai variabel perlu diperhatikan, diantaranya biaya proyek, kompleksitas proyek, dukungan publik yang kuat, hingga indikator kinerja pada setiap fase pengusahaan jalan tol. Fase konstruksi pada skema KPBU di Indonesia, menjadi tanggung jawab badan usaha yang diatur dalam PP No.43 Tahun 2013. Penentuan project delivery pada proyek konstruksi jalan tol menjadi strategi badan usaha mengendalikan kinerja proyek kosntruksi jalan tol yang dikelolanya. Dengan kompleksitas variabel dalam KPBU, diperlukan pola variabel dengan project delivery agar ditemukan strategi yang efektif dalam mencapai kinerja konstruksi yang baik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi pola capaian kinerja konstruksi pada variasi project delivery di skema KPBU jalan tol. Pendekatan analisis yang dilakukan adalah QCA (Qualitative Comparative Analysis), dengan 14 studi kasus BUJT di 4 jaringan jalan tol di Indonesia. Dari hasil penelitian, diidentifikasi bahwa variasi project delivery tidak berpengaruh secara kuat terhadap capaian kinerja proyek konstruksi jalan tol. Kinerja konstruksi jalan tol lebih kuat dipengaruhi oleh variabel-variabel pengusahaan KPBU jalan tol lainnya, yaitu skema pengusahaan, maturitas manajemen proyek, biaya konstruksi, panjang jalan, skema finansial kontraktor, hubungan korporasi BUJT-korporasi, dan skema pengadaan tanah.
THE DEVELOPMENT OF DAM INFRASTRUCTURE CONDITION AND SAFETY ASSESSMENT Jayadi, Muchammad Sarwono Purwa; Wirahadikusumah, Reini D.; Harlan, Dhemi
Jurnal Teknik Sipil Vol 27, No 1 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2020.27.1.3

Abstract

AbstractThe management and regulation of large inventories of embankment dams requires the use of tools and analytical techniques that can provide a uniform basis for comparison. Index Condition and Risk Assessment were two of those tools. Those two assessment can be combined to make an comprehensive assessment because it?s main data are visual condition of dam. With those similarity, how to develop dam assessment based on dam?s condition and safety are the main goals of this research. On these research, Condition Index with index from 1 to 5 are used for the condition assessment. Meanwhile, ICOLD Modified Method are used as safety evaluation aspect. Those two assessment system were combined using Analytic Hierarchy Process (AHP) to find it?s weight for the assessment model. AHP were used to analyze AHP?s linear scale questionnaire as primary data. These research obtain that the developed model had some limitations, so the assessment aren?t comprehensive enough.AbstrakManajemen dan regulasi dari inventaris bendungan besar membutuhkan alat dan teknik analisis yang dapat memberikan dasar yang seragam untuk perbandingan. Penilaian Kondisi berbasis Indeks Kondisi dan Kajian Keamanan berbasis Indeks Risiko merupakan beberapa contoh dari alat tersebut. Kedua penilaian ini sebenarnya bisa digabungkan untuk mendapatkan penilaian yang komprehensif karena menggunakan kondisi visual sebagai salah satu data utama. Dengan adanya kesamaan tersebut, bagaimana cara mengembangkan penilaian kondisi dan keamanan bendungan merupakan tujuan utama dari penelitian ini. Dalam penelitian ini, Indeks Kondisi dengan indeks nilai 1 sampai 5 digunakan sebagai penilaian dalam aspek penilaian kondisi. Sedangkan dalam aspek kajian keamanan, digunakan Metode ICOLD Modifikasi. Dalam menggabungkan kedua sistem penilaian tersebut, Analytic Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk mendapatkan bobot penilaian bendungan. Berdasarkan hasil analisis, model yang dikembangkan memiliki  beberapa limitasi sehingga penilaian belum cukup komprehensif. 
Analysis of the Cinapel Bridge’s Construction Operations using Simulation Abduh, Muhamad; Halvireski, Siska; Delfani, Catherine; Irfanto, Ryobi; Wirahadikusumah, Reini D.
IPTEK Journal of Proceedings Series No 6 (2017): The 3rd International Conference on Civil Engineering Research (ICCER) 2017
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23546026.y2017i6.3259

Abstract

Simulation has been well known as an effective technique that enables planning and analysis of a construction operation to be performed in advance anticipating problems of efficiencies that would occur in the implementation phase. Therefore, simulation technique could be used to design resources associated with a construction operation to be optimal and to analyze an ongoing operation to be evaluated and refined. This paper discusses the use of simulation to analyze several construction operations, i.e., bored piles, pile caps, piers, and girders, that will be used in building the Cinapel’s Bridge at the Cisumdawu Toll Road Project. The simulation using WebCYCLONE was utilized to determine the most optimal resources needed in each construction operation; resources needed to gain the highest productivity and the lowest wastes. Data of each operation for simulation were gathered from the field, as well as opinions from the practitioners related to the project. The results of the simulation are presented and recommendations are made for the contractor to refine the on-going construction operations as well as to design construction operations before the implementation in the fields.
Model Penilaian Kewajaran Harga Penawaran Kontraktor dengan Sistem Evaluasi Nilai Muhamad Abduh; Reini D Wirahadikusumah
Jurnal Teknik Sipil Vol 12 No 3 (2005)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2005.12.3.6

Abstract

Abstrak. Proses pemilihan rekanan menjadi salah satu kunci kesuksesan pembangunan fasilitas fisik. Kriteria pemilihan harus ditentukan berdasarkan pertimbangan yang objektif dan menguntungkan bagi pemilik tanpa mengabaikan kepentingan pelaksana konstruksinya. Metoda penilaian penawaran calon pelaksana konstruksi dalam suatu pelelangan sering menggunakan kriteria "biaya terendah." Walaupun parameter ini sangat relevan tetapi terkadang dianggap kurang memadai. Sistem evaluasi penawaran menggunakan sistem nilai dapat menjadi alternatif apabila aspek teknis perlu dipertimbangkan sejalan dengan nilai penawaran biayanya. Penggunaan sistem nilai perlu dilakukan secara hati-hati, penentuan kriteria kombinasi aspek teknis dan harga harus bersifat objektif, kuantitatif, dan dapat ipertanggung jawabkan. Dalam makalah ini diajukan suatu model penilaian kewajaran harga penawaran sebagai komponen penilaian aspek harga dalam sistem nilai khususnya untuk kontrak harga tetap (lump sum). Pendekatan yang digunakan dalam pengembangan model penilaian kewajaran harga penawaran tersebut adalah gabungan antara faktor tingkat keyakinan estimasi biaya pemilik (atau Harga Perkiraan Sendiri, HPS) dan faktor variasi penawaran yang diajukan oleh para penawar. Model ini kemudian diuji-cobakan untuk studi kasus pengadaan suatu pembangunan gedung bertingkat. Hasil studi kasus menunjukkan bahwa model yang dikembangkan dapat digunakan sesuai dengan tujuan pihak pemilik, yaitu pemenang adalah peserta yang mengajukan penawaran yang cukup rendah namun wajar. Analisa sensitivitas dilakukan untuk mengetahui pengaruh variasi dari beberapa variabel yaitu: tingkat kepercayaan terhadap HPS; jumlah penawaran rendah; dan jumlah penawaran tinggi. Analisa sensitivitas menjelaskan bahwa untuk studi kasus, keputusan pemenang lelang tidak sensitif terhadap perubahan dalam tiga variabel tersebut. Abstract. Procurement is a significant factor for successful completion of a construction project. The bidding criteria have to be determined objectively and fairly for both the owner and the contractors. "Lowest bidder" is the most commonly used in public project procurement. While it is a valid factor, in some cases it is considered insufficient in projects where technical aspects are important in the evaluation process. An alternative method is the merit system, i.e., the determining factor is the combination of the scores awarded for the cost and the technical proposal with predetermined weights. The set of evaluation criteria (including the weights and the scores) should be objective, quantitative, and verifiable. In this paper, a model focusing on the evaluation of the aptness of a cost proposal is proposed for a tender process using the merit system on a lump sum contract scenario. A cost proposal is compared to both the owner's estimate and its peers. The model basically involves two principals: the level of confidence in the owner's estimate; and the variations of cost proposals. The model has been tested on a tender process of a low-rise building. The case study has been satisfactory, the winner was the contractor proposing low and "fair" cost. Sensitivity analyses have been performed for several factors: the level of confidence in the owner's estimate; the number of proposals with low costs; the number of proposals with high costs. The analyses showed that the decision for the case study was not sensitive to the variations in those factors.
Pola Supply Chain pada Proyek Konstruksi Bangunan Gedung Reini D. Wirahadikusumah; Susilawati Susilawati
Jurnal Teknik Sipil Vol 13 No 3 (2006)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2006.13.3.1

Abstract

Abstrak. Salah satu penyebab rendahnya efisiensi industri konstruksi adalah tingkat fragmentasi yang tinggi. Fragmentasi bukan merupakan suatu fenomena yang harus dicegah, namun perlu dicari solusinya. Salah satu cara adalah melalui penerapan konsep supply chain. Dalam praktek penyelenggaraan konstruksi, persaingan yang terjadi bukan lagi persaingan antar perusahaan secara individu, namun merupakan persaingan antar jaringan supply chain konstruksi. Bahkan disain suatu jaringan supply chain yang buruk dapat meningkatkan biaya pelaksanaan proyek secara signifikan. Di Indonesia, berbagai upaya dalam penerapan konsep supply chain dan pengelolaannya secara efisien perlu didukung oleh suatu pemetaan pola jaringan supply chain konstruksi yang terdapat dalam praktek penyelenggaraan konstruksi. Pemetaan ini dilakukan melalui suatu studi kasus yang meninjau enam proyek yang mencakup tiga perusahaan kontraktor BUMN dan dua lokasi berbeda (Bandung dan Jakarta). Studi kasus dibatasi pada proyek bangunan gedung. Berdasarkan wawancara di lokasi proyek dan di tingkat perusahaan, ditemukan pola umum dan pola khusus jaringan supply chain konstruksi, sebagai refleksi dari jaringan supply chain konstruksi yang terbentuk pada dua kota yang berbeda. Pola umum yang dimaksud adalah pola yang mewakili keenam proyek dalam studi kasus, sedangkan polakhusus adalah pola yang membedakan antara satu proyek dengan proyek-proyek lainnya. Hasil analisis dari kedua kota ini selanjutnya dibandingkan kembali untuk mendapatkan gambaran umum dari enam proyek konstruksi bangunan gedung yang dilakukan oleh tiga kontraktor. Studi ini juga menemukan bahwa peran pengguna jasa dalam pembentukkan jaringan supply chain konstruksi sangat besar.Abstract. The construction industry is highly fragmented, and this has caused inefficiency. Fragmentation in the industry cannot be avoided, rather it should be managed. The application of supply chain concept in construction has significant potentials in dealing with this issue. In the construction industry, the competion among contractors has evolved into competitions among construction supply chains, and an efficient construction supply chain can reduce construction costs. In Indonesia, in order to implement the concept and develop efficient supply chain, the industry first needs to have in-depth descriptions of the various networks depicting construction supply chains. This paper discusses a study investigating a range of patterns of construction supply chains identified in high-rise building projects. A multiple-case study has been performed. The study included six projects involving three experienced contractors in two different cities (Jakarta and Bandung). Based on comprehensive interviews, the study found two different patterns: general patterns (common within the six projects) and specific patterns (distinctive of each project). A comparison analysis was succeeded to identify overall description of the six projects, despite the differences in the locations and in the construction companies. Another finding is the fact that owners play considerable role in structuring the construction supply chains.
Kajian Pengadaan oleh Kontraktor Pelaksana pada Proyek Konstruksi Bangunan Gedung Susilawati Susilawati; Reini D Wirahadikusumah
Jurnal Teknik Sipil Vol 13 No 3 (2006)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2006.13.3.3

Abstract

Abstrak. Salah satu peluang untuk meningkatkan kinerja kontraktor adalah dengan melakukan pengelolaan jaringan rantai pasok (supply chain). Konsep pengelolaan rantai pasok (supply chain management) merupakan konsep yang relatif baru dalam industri konstruksi. Sebagai langkah awal penerapannya, perlu pemahaman mengenai proses pembentukannya dalam penyelenggaraan konstruksi di Indonesia. Pada proyek-proyek bangunan gedung, metoda kontrak yang paling sering digunakan adalah metoda kontrak umum. Dalam hal ini, kontraktor pelaksana menjadi satu-satunya pihak yang memiliki wewenang dalam tahap pembentukan hubungan jaringan rantai pasok, yaitu dalam penyusunan mitra-mitra melalui proses pengadaan (procurement). Makalah ini membahas hasil kajian mengenai kebijakan pengadaan yang terdapat pada perusahaan konstruksi (kontraktor). Kajian dilakukan melalui pendekatan studi kasus terhadap tiga kontraktor berkategori besar, dengan membatasi lingkup kajian pada proyek konstruksi bangunan gedung. Jenis proyek bangunan gedung menjadi fokus penelitian karena pada proyek tersebut memiliki karakteristik bahwa kontraktor adalah pihak yang memiliki peran dominan dalam penyusunan mitra kerjanya selama tahap produksi konstruksi. Pola pengelolaan dan pola pengadaan yang dilakukan oleh ketiga kontraktor berbeda. Keragaman ini tentunya akan mempengaruhi jaringan supply chain konstruksi yang terbentuk. Hal ini merupakan kebijakan perusahaan yang dapat dipandang sebagai keragaman strategi bisnis perusaahaan dalam menghadapi persaingan bisnis konstruksi. Pada makalah ini juga dibahas mengenai implikasi berbagai strategi tersebut terhadap tantangan perubahan perkembangan bisnis konstruksi di masa yang akan datang.Abstract. The management of supply chain may provide an opportunity to improve a contractor's performance. The concept of supply chain management has just been recently recognized in the  construction industry. As a new concept in Indonesia, the basic structure of the construction supply chain has to be comprehended. In highrise building projects, the construction contract is mainly in the form of general contracting, in which the general contractor (GC) is the main actor in the process of developing a construction supply chain. In the procurement of subcontractors and suppliers, the GC develops the structure of the project supply chain by selecting its partners. This paper discusses the procurement of subcontractors and suppliers conducted by a general contractor, including the standard procedure and the company's policy. The analysis is based on a multiple-case study performed on three large contractors with the focus on high-rise building projects. In this type of projects, the GC usually plays the most siginificant role in the process of developing a supply chain during production process (construction). The approach of managing projects by the main office, and the procurement procedures in the three construction companies vary, these have impact on the formation of supply chain. The variations of these aspects can be seen as the different strategies used by companies to be competitive. This paper also explains the implications of the different strategies on the challenging conditions of the construction industry at present and in the future.
Estimasi Konsumsi Energi dan Emisi Gas Rumah Kaca pada Pekerjaan Pengaspalan Jalan Reini D. Wirahadikusumah; Hengki Putra Sahana
Jurnal Teknik Sipil Vol 19 No 1 (2012)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2012.19.1.3

Abstract

Abstrak. Sektor konstruksi adalah salah satu kontributor utama pembangunan ekonomi nasional. Namun di lain pihak, proses konstruksi serta penggunaan fasilitas infrastruktur dan bangunan adalah juga penyumbang emisi gas CO2 dan mengkonsumsi energi yang cukup besar. Inventarisasi dampak lingkungan akibat berbagai aktivitas konstruksi diperlukan agar upaya-upaya perbaikan dapat dilakukan lebih efektif. Salah satu aktivitas konstruksi yang diduga mengkonsumsi energi cukup besar adalah pekerjaan pengasplan jalan, khususnya yang menggunakan campuran aspal panas. Dengan mengumpulkan data mengenai konsumsi bahan bakar yang digunakan pada berbagai tahap pekerjaan pengasplanjalan pada dua studi kasus, dilakukan perhitungan estimasi konsumsi energi dan emisi GRK, yang mengacu pada prosedur IPCC. Kajian dibatasi pada aktivitas yang terkait langsung pada sektor jasa konstruksi, yaitu i). Tahap produksi campuran aspal panas, ii). Tahap transportasi material dan iii). Tahap pelaksanaan pekerjaan pengaspalan. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa proses pengeringan agregat adalah proses yang paling dominan yaitu mengkonsumsi energi sekitar 68%, dan emisinya sekitar 70-75% dari keseluruhan tahapan. Estimasi ini lebih lanjut dapat dilakukan untuk berbagai skenario metoda pekerjaan pengaspalan jalan, sehingga dapat diketahui metoda yang melibatkan proses-prosesyang paling optimal dalam meminimalkan dampak lingkungan. Lebih jauh, perhitungan estimasi yang disajikan dapat memberikan gambaran umum mengenai kebutuhan energi dan emisi gas rumah kaca terkait pekerjaan pengaspalan jalan secara nasional.Abstract. While construction sector contributes to the national economic development, the construction process and building use consume significant energy and create substantial CO2 emissions. The first effort in this context is to understand to quantitative impacts of construction activities to the environment. This study attempts to provide some estimates on this issue, focusing on the road construction projects particularly using hot mix asphalt. The estimates of energy consumptions and CO2 emissions from two case studies were calculated based on IPCC guidelines. These estimates were limited to three phases of HMA road projects, i.e., the process of mixing at the AMP, the transportation to the sites, and the HMA application at project sites.The findings indicate that  aggregate drying process at the AMP is the most contributor to the energy consumptions (68%) and emissions (70-75%) of the overall three phases observed. The presented methodology can be used to calculate the environmental impacts of different scenarios in road construction projects and recommending the optimal application technique (selection of main construction machines and equipment's). Furthermore, with larger data sets and complete variations of cases, similar estimates can be used and compiled to provide national projections of energy consumptions and emissions contributed by HMA road construction projects.
Isu Strategis pada Pengadaan Pengusahaan Jalan Tol dalam Kerjasama Pemerintah dan Swasta Reini D. Wirahadikusumah; Sapitri Sapitri; Betty Susanti; Biemo W Soemardi
Jurnal Teknik Sipil Vol 20 No 3 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2013.20.3.7

Abstract

Abstrak. Studi mengenai permasalahan terkait investasi jalan tol telah banyak dilakukan, namun kajian ini fokus pada tahap pengadaan pengusahaan jalan tol. Berdasarkan studi literatur  teridentifikasi delapan isu pada tahap tersebut yaitu: i) proses pengadaan, ii). penilaian prakualifikasi dan seleksi, iii). metode pemberian konsesi, iv). kontrak konsesi, v). pengadaan tanah, vi). penentuan tarif, vii). permasalahan investasi, dan viii). aspek legal. Selanjutnya, dilakukan wawancara terstruktur dengan para pelaku yaitu dengan BPJT sebagai perwakilan pemerintah, dengantiga BUJT, dan dengan wakil dari Asosiasi Jalan Tol. Pada wawancara didiskusikan dan diperoleh penajaman pemahaman terhadap delapan aspek pengadaan pengusahaan jalan tol. Di samping masalah klasik pembebasan lahan, kajian ini telah mengidentifikasi potensi perbaikan pada tahap pengadaan pengusahaan jalan tol. Waktu lelang dapat dipersingkat dengan memperbaiki proses penyusunan dokumen lelang. Di samping itu, perlu dikaji bobot penilaian aspek finansial/teknis yang dapat meningkatkan keseimbangan antara kepentingan investor dan pemerintah. Penentuan tarif tol diharapkan dapat mencakup pertimbangan risiko utama secara lebih terukur. Terdapat kebutuhan dari investor untuk mendapatkan kepastian ketentuan terkait risiko-risiko utama agar diatur dengan lebih spesifik dan kontrak konsesi. Kajian ini juga mengindikasikan bahwa berbagai upaya pemerintah (diantaranya dalam rangka pembebasan lahan melalui dana bergulir BLU) dianggap oleh para BUJT sebagai suatu kemajuan, namun implementasi penegakan aspek legal masih belum optimal.Abstract. Challenges in toll road investments have been explored in numerous studies; this paper focuses on the issues during procurement stage of investors. Based on initial study, eight issues related to procurement were identified, i.e., i). the process, ii). the evaluation on prequalification and selection stages, iii) the method of concession award, iv). the contract, v). the land acquisition, vi). the calculation of initial tariff, vii). the requirement for investments, and viii). legal/law enforcement. These issues were then confirmed to the relevant parties: the toll road authority (i.e., BPJT), three major investors, and the association of toll road investors (i.e. ATI). In-depth interviews with representatives of these stakeholders were conducted to gain more substantial resolution on the eight issues of procurement. While investors agree that the procurement controlled by the toll road authority has improved, the solution to the classic problem of land acuisitions is still ineffective. The procurement process is taking too long, risking inflating construction costs. The much higher weighting of financial aspect to technical aspect used bid in evaluation is critized. Investors believe that tariff calculation should reflect better risk allocation and the concession contract should be more unbiased in order to attract wider investments much needed for Indonesian toll road sector.
Analisis Konsumsi Energi dan Emisi Gas Rumah Kaca pada Tahap Konstruksi Studi Kasus : Konstruksi Jalan Cisumdawu Agung Mulyana; Reini D. Wirahadikusumah
Jurnal Teknik Sipil Vol 24 No 3 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2017.24.3.10

Abstract

AbstrakPertumbuhan sektor konstruksi akan mampu menarik pertumbuhan sektor pendukung serta mendorong pertumbuhan sektor pembangunan yang lain, namun sektor konstruksi turut berkontribusi dalam konsumsi energi serta menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK), salah satu kegiatan konstruksi yang diperkirakan mengkonsumsi energi dan menghasilkan emisi gas rumah kaca cukup besar adalah konstruksi jalan, dalam hal ini dilaksanakan suatu analisis konsumsi energi dan emisi gas rumah kaca pada pekerjaan konstruksi jalan Cisumdawu dengan perkerasan kaku pada STA 10+700 hingga STA 11+500 meliputi pekerjaan subgrade (galian dan timbunan), pekerjaan lapisan subbase, serta pekerjaan perkerasan kaku dengan menggunakan pendekatan life cycle assessment. Dari hasil analisis diperoleh pekerjaan perkerasan kaku berkontribusi 78.78%, sedangkan pekerjaan subbase berkontribusi 17.04% dan pekerjaan subgrade berkontribusi 4.18%. Sementara itu secara keseluruhan material berkontribusi sebesar 92.80%, kegiatan transportasi berkontribusi 1.97% dan kegiatan Konstruksi berkontribusi 5.23% dari total besaran dampak lingkungan yang dihasilkan dari konstruksi jalan tersebut.AbstractThe growth of the construction sector will be able to attract growth in the supporting sectors and encourage the growth of other development sectors, but the construction sector also contributes to energy consumption and produces greenhouse gas (GHG) emissions, one of the construction activities that are estimated to consume energy and produce greenhouse gas emissions is a road construction, in which case an analysis of energy consumption and greenhouse gas emissions at Cisumdawu road construction with rigid pavements at STA 10 + 700 to STA 11 + 500 includes subgrade (excavation and piling) using life cycle assessment approach. From the analysis results obtained rigid pavement contributed 78.78%, while subbase work contributed 17.04% and subgrade contributed 4.18%. Meanwhile, overall materials contributed 92.80%, while transportation activities contributed 1.97% and Construction activities contributed 5.23% of the total environmental impacts resulting from the road construction.