Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Implikasi Kesepakatan Pembagian Harta Bersama Pasca Perceraian Terhadap Putusan Hakim Pengadilan Agama Kabupaten Jember (Studi Putusan Nomor 4175/Pdt.G/2024/Pa.Jr.) Hasbi Ash Shiddiqi; Siti Nur Fadila; R.A. Harum Sukmo Ningratna; Siti Atika; Zelumniatul Aisyah; Fitrotul Hasanah; Gita Aninda Putri; Rizma Nur wulandari; Karima Karima; Nuri Nafisatul Kamaliyah; Irmawatul Islamiyah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.180

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implikasi kesepakatan pembagian harta bersama yang dilakukan oleh para pihak pasca perceraian terhadap putusan Pengadilan Agama, dengan fokus pada studi kasus Putusan PA Jember Nomor 4175/Pdt.G/2024/PA.Jr. Dalam praktik peradilan agama, pembagian harta bersama umumnya mengikuti ketentuan hukum positif, khususnya Kompilasi Hukum Islam (KHI). Namun, dalam perkara ini, hakim tidak menetapkan pembagian berdasarkan prinsip tersebut, melainkan memutuskan berdasarkan kesepakatan yang telah dibuat oleh para pihak. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan studi kasus, melalui analisis putusan pengadilan, dokumen kesepakatan, serta wawancara dengan pihak-pihak terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hakim menjadikan kesepakatan para pihak sebagai dasar utama dalam menjatuhkan putusan, tanpa melakukan penilaian ulang terhadap proporsionalitas pembagian menurut hukum positif. Hal ini menunjukkan bahwa dalam perkara perdata Islam, khususnya pembagian harta bersama, hakim dapat bersifat pasif dan lebih berperan sebagai pengesah atas kesepakatan yang telah dicapai secara sukarela. Pendekatan ini mencerminkan penghormatan terhadap asas kebebasan berkontrak sebagaimana diatur dalam Pasal 1338 KUH Perdata. Kesimpulannya, kesepakatan para pihak memiliki kekuatan hukum yang cukup untuk menjadi dasar putusan pengadilan, selama dibuat secara sah dan tanpa paksaan. Praktik ini berimplikasi positif terhadap fleksibilitas penyelesaian sengketa, namun tetap memerlukan kewaspadaan agar tidak mengabaikan prinsip keadilan substantif.
Nahdlatul Ulama's Perspective on Religious Moderation for Global Peace and Justice Umam, M. Syafiqil; Ash-Shiddiqi, Hasbi
Journal of Pesantren and Diniyah Studies Vol. 2 No. 1 (2025): Journal of Pesantren and Diniyah Studies
Publisher : Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63245/jpds.v2i1.45

Abstract

Nahdlatul Ulama (NU), the largest socio-religious organization in Indonesia, has a significant task in conveying Islamic teachings. The distinctive Islamic teachings brought by NU have four basic sublimations: tawasut, tawazun, tasamuh, and ta'adul. The value of tawasut (moderation) brought by NU as a way of thinking is urgent in society, both related to religion, social, politics, and even the domestic sphere. With this value of moderation, NU's presence can provide a legal umbrella for the values of Islamic teachings that have been misinterpreted by some groups, such as radicals who misunderstand the verses of jihad with inhumane offensive actions reinterpreted into a methodological argument for self-defense by applying the meaning of tolerance. This study found that NU's idea of moderation (tawasut) is reflected in three main areas: interfaith relations, gender relations, and contemporary legal ijtihad. NU emphasizes the importance of tolerance based on respect for existence, not theological truth, in the interreligious realm. In gender relations, NU rejects patriarchal domination and offers a reconstruction of women's jurisprudence based on maqasid al-sharia and hermeneutics. In modern legal istinbat, NU relies on scientific approaches such as tahqiqul manath, assessing legal validity based on the current illat and benefits, as in the case of the halal status of four types of crab, previously considered questionable.
RELIGIOSITY AS PILLARS OF HOUSEHOLD INTEGRITY Safithri, Awaliya; Ash Shiddiqi, Hasbi
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 21 No. 02 (2025)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.v21i02.6842

Abstract

This article aims to analyze the Family Resilience Bill (RUU KK) through the maqasid al-syariah approach, focusing on the three main pillars in building a harmonious household, namely love (mahabbah), religiosity (taqwa), and humanity (karāmah insāniyyah). This research uses a normative-qualitative method with a content analysis approach to the text of the KK Bill, supporting academic documents, and sources of classical and contemporary Islamic literature. The analysis is carried out by interpreting the provisions in the Bill in accordance with the five main principles of maqasid al-shariah: hifz al-din, hifz al-nafs, hifz al-'aql, hifz al-nasl, and hifz al-mal. The results of the study show that although the KK Bill has the initial spirit to strengthen the family institution, many of the provisions in it are not in line with the principles of maqasid. The rigid and normative division of roles between husband and wife still strengthens the patriarchal structure and ignores the dynamics of reciprocal relations in the household. The protection of women and children does not fully reflect distributive justice, and the value of love as a spiritual basis in the family has little space. In addition, the legalistic-repressive approach in several articles has the potential to ignore the rehabilitative and affectionate aspects as the main characteristics of maqasid in the context of Islamic family law. This research is important as an academic contribution to the development of family regulations that are more humane, inclusive, and in accordance with substantive Islamic values. Thus, future family legislation is expected to be able to bring love-based justice, liberating religiosity, and respect for the dignity of all family members. Keywords: Maqasid al-Shariah, Family Resilience, Love, Religiosity, Humanity. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis Rancangan Undang-Undang Ketahanan Keluarga (RUU KK) melalui pendekatan maqasid al-syariah, dengan fokus pada tiga pilar utama dalam membangun rumah tangga yang harmonis, yaitu cinta kasih (mahabbah), religiusitas (taqwa), dan kemanusiaan (karāmah insāniyyah). Penelitian ini menggunakan metode normatif-kualitatif dengan pendekatan analisis isi terhadap teks RUU KK, dokumen akademik pendukung, dan sumber literatur Islam klasik dan kontemporer. Analisis dilakukan dengan menafsirkan ketentuan-ketentuan dalam RUU tersebut sesuai dengan lima prinsip utama maqasid al-syariah: hifz al-din, hifz al-nafs, hifz al-'aql, hifz al-nasl, dan hifz al-mal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun RUU KK memiliki semangat awal untuk memperkuat institusi keluarga, banyak ketentuan di dalamnya yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip maqasid. Pembagian peran yang kaku dan normatif antara suami dan istri masih memperkuat struktur patriarki dan mengabaikan dinamika hubungan timbal balik dalam rumah tangga. Perlindungan terhadap perempuan dan anak belum sepenuhnya mencerminkan keadilan distributif, dan nilai kasih sayang sebagai landasan spiritual dalam keluarga kurang mendapat tempat. Selain itu, pendekatan legalistik-represif dalam beberapa pasal berpotensi mengabaikan aspek rehabilitatif dan afeksi sebagai ciri utama maqasid dalam konteks hukum keluarga Islam. Penelitian ini penting sebagai kontribusi akademis bagi pengembangan regulasi keluarga yang lebih humanis, inklusif, dan sesuai dengan nilai-nilai Islam yang substantif. Dengan demikian, legislasi keluarga ke depan diharapkan mampu menghadirkan keadilan berbasis kasih sayang, religiusitas yang memerdekakan, dan penghormatan terhadap martabat seluruh anggota keluarga. Kata Kunci: Maqasid al-Syariah, Ketahanan Keluarga, Kasih Sayang, Religiusitas, Kemanusiaan.    
Transforming Indonesia's Zakat in the Digital Era: Opportunities and Challenges Halili, Halili; Ash Shiddiqi, Hasbi
Al Barakat Vol 4 No 02 (2024): Al Barakat: Jurnal Kajian Hukum Ekonomi Syariah
Publisher : Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59270/jab.v4i02.202

Abstract

In the ever-changing digital age, the transition of zakat is becoming more important and urgent. Zakat institutions may boost community involvement in the practice of blessing sharing and achieve increased efficiency in the zakat collection, management, and distribution processes by making prudent use of digital technology. But in order for it to realize its full potential, everyone involved must work together to overcome the obstacles that come with utilizing technology in social and religious contexts. His research employs a qualitative descriptive technique in conjunction with document analysis. The goal of this qualitative descriptive method is to provide an explanation for the events and facts that were noted throughout the Zakat research.Transformation in the Digital Age. Possibilities and Difficulties. The findings of this study indicate that the digital transformation of zakat represents a substantial shift in how zakat is handled and distributed through the use of information and communication technologies. It is important for zakat institutions to be ready for the five opportunities and four obstacles of the digital era's zakat transition. This will ensure that the shift in zakat will benefit both zakat institutions and society at large.
THE BETEL NUT TRADITION IN THE ENGAGEMENT CEREMONY PROCESSION IN SUMBERDANTI VILLAGE FROM THE PERSPECTIVE OF 'URF Sodiq, Ubaidillah; Ash Shiddiqi, Hasbi; Hasyim, Yanto
International Journal of Multidisciplinary Reseach Vol. 1 No. 4 (2025): Oktober
Publisher : International Journal of Multidisciplinary Reseach

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The betel nut tradition in the engagement ceremony in Sumberdanti Village is a cultural heritage that remains preserved by the local community amidst the tide of modernization. This tradition not only serves as a symbol in the proposal procession but also serves as a means of respect, social communication, and affirmation of a man's seriousness in proposing to his future wife. This study aims to understand the meaning and position of the betel nut tradition from an Islamic legal perspective, specifically through the concept of 'urf'. The study used a qualitative method with a field approach, through interviews, observation, and documentation of the community members who practice the tradition. The results indicate that the betel nut practice has strong social and historical value, but from an Islamic legal perspective, it is classified as 'urf fasid', meaning a custom without an explicit basis in sharia law. Nevertheless, this tradition is still recognized as a form of local wisdom as long as it does not conflict with sharia principles. Therefore, the preservation of the betel nut tradition needs to be accompanied by a reinterpretation to align it with Islamic values and maintain its cultural identity in Sumberdanti Village.
Analisis Tindak Pidana Cukai Rokok: Perspektif Hukum Pidana Ekonomi dan Kriminologi Ahmad Yunus; Moh. Jeweherul Kalamiah; Hasbi Ash Shiddiqi
Politika Progresif : Jurnal Hukum, Politik dan Humaniora Vol. 2 No. 3 (2025): : Politika Progresif : Jurnal Hukum, Politik dan Humaniora
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/progres.v2i3.2571

Abstract

Cigarette excise crimes are a form of economic crime that significantly impact state revenues, national economic stability, and the market balance of the tobacco industry. This phenomenon not only causes material losses to the state but also has implications for social justice and the economic order of society. This study aims to analyze in depth the characteristics, causes, and implications of cigarette excise crimes from the perspective of economic criminal law and criminology. The research method used is a juridical-normative approach combined with criminological analysis to identify the relationship between social, economic, and legal factors in cigarette excise violations. The results indicate that these crimes are driven by economic motives, regulatory imbalances, weak law enforcement, and low public awareness of excise obligations. Through this analysis, the study emphasizes the need for synergy between criminal law policy, economic oversight, and a criminological approach to create an effective and equitable excise control system in Indonesia.
Pendampingan Pengurusan NIB dan Sertifikasi Halal Pelaku Usaha Di Desa Gunung Malang Kecamatan Sumberjambe Kabupaten Jember Hasbi Ash Shiddiqi; Endang Susilawati; Saini; Ilyatul Afifah; Elok Rizkiyah; Yuni Lutfian Sari; Laila Kamali
Ta'awun Jurnal Pengabdian Vol. 4 No. 2 (2025): November
Publisher : LPPM Institut Agama Islam Uluwiyah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47759/1kppzd94

Abstract

Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menjelaskan dan menceritakan pendampingan yang dilakukan oleh tim pengabdian untuk Pengurusan NIB dan Sertifikasi Halal Pelaku Usaha Di Desa Gunung Malang, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember serta menganalisis progres pengurusan NIB Dan Sertifikasi Halal Pelaku Usaha UMKM Terutama di bidang kuliner dalam perspektif hukum islam. Metode yang di gunakan dalam pendampingan ini yaitu Asset Based Communities Development (ABCD). Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang sering kali lebih mudah diberdayakan dengan menggali potensi internal yang mereka miliki, daripada terus-menerus menyoroti kekurangan atau masalah yang dihadapi. Melalui ABCD, proses pendampingan menjadi lebih partisipatif, berorientasi pada kekuatan lokal, dan mampu mendorong perubahan yang lebih berkelanjutan. Pendampingan ini berhasil mendampingi tujuh pelaku usaha hingga memperoleh legalitas usahanya. Meski jumlah pelaku usaha yang berhasil didampingi tidak terlalu banyak, capaian ini mencerminkan komitmen yang kuat, baik dari tim pendamping maupun para pelaku usaha, untuk membuka ruang kesadaran hukum tentang pentingnya legalitas dalam menjalankan aktivitas ekonomi. Pendampingan ini juga berhasil membantu sejumlah Pelaku Usaha Industri makanan dan minuman dalam proses produksi halal sejumlah 4 Pelaku usaha. STIS Nurul Qarnain, sebagai salah satu perguruan tinggi Islam di Jember, turut mengemban amanah mulia ini melalui pendirian Lembaga Pemeriksa Produk Halal (LP3H). Kehadiran LP3H bukan hanya sebagai perpanjangan tangan dari kebijakan negara, tetapi juga bagian dari dakwah kampus yang berpijak pada kebutuhan riil umat. Terbukti dengan telah diterbitkannya sertifikat halal pelaku usaha berkat jasa para pendamping yang berada di bawah naungan LP3H STIS Nurul Qarnain.
Femisida Perspektif Kesetaraan Gender dan Hukum Islam Ash Shiddiqi, Hasbi
USRATUNA: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 9 No. 1 (2025): USRATUNA: Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : Prodi  Ahwal al-Syakhsiyah STAI Darussalam Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65356/usratuna.v9i1.930

Abstract

Femicide, or the murder of women due to gender, is a global phenomenon that requires special attention in the context of Islamic family law. This article aims to analyze femicides through a normative and sociological approach, focusing on women's rights as stipulated in Islamic family law. This research uses a qualitative method with a descriptive-analytical approach, utilizing literature studies on primary sources such as the Qur'an, hadith, and fiqh books, and secondary data in the form of contemporary research related to the issue of femicides. The results of the study show that Islamic family law fundamentally emphasizes the protection of women through the principles of justice, protection of life (Hifz al-Nafs), and respect for human rights. However, challenges arise in the implementation of these laws, especially due to patriarchal cultural bias that is still dominant in some Muslim communities. From a sociological point of view, femicides often occur due to gender power imbalances, weak understanding of Islamic legal principles, and lack of fair law enforcement. The significance of this research lies in its efforts to reconstruct the perspective of Islamic family law in preventing and dealing with femicides. This article offers recommendations to improve public understanding of women's rights in Islam, strengthening regulations that are in line with maqasid syariah, and encourage legal reform to bring about gender justice. Thus, this research makes an academic as well as practical contribution in the development of Islamic family law that is responsive to contemporary issues.
Resolusi Kiai Dalam Menyikapi Carok (Studi Analisis Dekonstruksi Dakwah Bil Hikmah dalam Penyelesaian Carok) Ahmad Ahmad; Hasbi Ash Shiddiqi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i1.4236

Abstract

Carok adalah budaya kekerasan Madura yang masih melekat hingga kini. Para Blater, selaku pemegang otoritas kekuasaan social budaya Madura yang sering mempromosikan identitas carok dengan celuritnya. Sementara Kiai merupakan otoritas kekuasaan dengan artikulasi penguasa Musholla dan Masjid. konstruk solusi dakwah bil hikmah yang ditawarkan Kiai selama ini berkutat pada dakwah lemah lembut dan tidak langsung melalui jejaring Pesantren, Madrasah, Majelis taklim, pengajian ataupun kegiatan ritual keagamaan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan normatif. Sumber data primer penelitian ini data kualitatif dengan makna Dakhwah bil Hikmah, baik sumber tafsir, hadits ataupun jurnal yang membahas tentang dakwah bil hikmah. Analisa Data dalam penelitian ini akan menggunakan analisis deskriptif. Analisis yang digunakan adalah dekonstruksi Jacques Derrida. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Pemaknaan konstruktif dakwah bil hikmah ini perlu didekonstruksi. Pemaknaan dekonstruksi dakwah bil hikmah Kiai dalam penyelesaian carok berupa pendalaman tawhid cinta kematian dengan mempertaruhkan nyawa; menyiapkan mental siap bertarung dengan menempa diri jago silat, jago tarung dan jago main celurit. Sementara rekonstruksi pemaknaan dakwah bil hikmah penyelesaian carok di lakukan dengan kemampuan melakukan keseimbangan antara menjadi penjaga Masjid plus penghunus celurit, siap mati melakukan nahiy munkar. Inilah profil yang dicontohkan dan diuswahkan oleh Nabi Muhammad. Inilah Resolusi Kiai dalam penyelesaian Carok. Penelitian ini berkontribusi dalam pemaknaan dakwah bil hikmah yang lebih kontekstual terhadap kepedulian dalam penyelesaian Carok. Dakwah bil hikmah selama ini justeru menjadi payung apologi kalangan Kiai untuk tidak terlibat langsung dalam penyelesaian carok. Penelitian memiliki keterbatasan belum menggali secara fenomenologis pemaknaan dakwah bil hikmah yang telah dilakukakn oleh Kiai serta praktik dan implementasinya dalam penyelesaian carok. Carok adalah budaya kekerasan Madura yang masih melekat hingga kini. Para Blater, selaku pemegang otoritas kekuasaan social budaya Madura yang sering mempromosikan identitas carok dengan celuritnya. Sementara Kiai merupakan otoritas kekuasaan dengan artikulasi penguasa Musholla dan Masjid. konstruk solusi dakwah bil hikmah yang ditawarkan Kiai selama ini berkutat pada dakwah lemah lembut dan tidak langsung melalui jejaring Pesantren, Madrasah, Majelis taklim, pengajian ataupun kegiatan ritual keagamaan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan normatif. Sumber data primer penelitian ini data kualitatif dengan makna Dakhwah bil Hikmah, baik sumber tafsir, hadits ataupun jurnal yang membahas tentang dakwah bil hikmah. Analisa Data dalam penelitian ini akan menggunakan analisis deskriptif. Analisis yang digunakan adalah dekonstruksi Jacques Derrida. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Pemaknaan konstruktif dakwah bil hikmah ini perlu didekonstruksi. Pemaknaan dekonstruksi dakwah bil hikmah Kiai dalam penyelesaian carok berupa pendalaman tawhid cinta kematian dengan mempertaruhkan nyawa; menyiapkan mental siap bertarung dengan menempa diri jago silat, jago tarung dan jago main celurit. Sementara rekonstruksi pemaknaan dakwah bil hikmah penyelesaian carok di lakukan dengan kemampuan melakukan keseimbangan antara menjadi penjaga Masjid plus penghunus celurit, siap mati melakukan nahiy munkar. Inilah profil yang dicontohkan dan diuswahkan oleh Nabi Muhammad. Inilah Resolusi Kiai dalam penyelesaian Carok. Penelitian ini berkontribusi dalam pemaknaan dakwah bil hikmah yang lebih kontekstual terhadap kepedulian dalam penyelesaian Carok. Dakwah bil hikmah selama ini justeru menjadi payung apologi kalangan Kiai untuk tidak terlibat langsung dalam penyelesaian carok. Penelitian memiliki keterbatasan belum menggali secara fenomenologis pemaknaan dakwah bil hikmah yang telah dilakukakn oleh Kiai serta praktik dan implementasinya dalam penyelesaian carok.
ANALISIS KRITIS PEMIKIRAN KHR. AS’AD SYAMSUL ARIFIN TENTANG NEGARA, SISTEM PEMERINTAHAN DAN PENERIMAAN AZAS TUNGGAL PANCASILA Ahmad Ahmad; Hasbi Ash Shiddiqi
Al Yazidiy Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan Vol. 6 No. 2 (2024): Al Yazidiy : Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan
Publisher : LP3M KH Yazid Karimullah Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/ay.v6i2.1248

Abstract

This research will focus on the study of KHR Thought. As'ad Syamsul Arifin on the State System and the System of Government in Islam which is stated in the form of Acceptance of the Single Principle of Pancasila. This study wants to answer First; how does KHR think. As'ad Syamsul Arifin on the State System and the System of Government in Islam. Second; how KHR thinks. As'ad Syamsul Arifin about accepting Pancasila as a Single Principle. Methodology This research uses qualitative research with a conceptual and historical approach. Primary data sources are the book al-ahkam as-Sulthoniyah and the book Biography of KHR. As'ad Syamsul Arifin, MUnas ALim Ulama' Situbondo Document in 1983. The data collection technique in this study is documentation. Meanwhile, the data analysis technique carried out in this study is descriptive-interpretive. The results of this study show that KHR Thinking. As'ad Syamsul Arifin on the State System and the System of Government in Islam which is stated in the form of Acceptance of the Single Principle of Pancasila. KHR's thoughts. As'ad Syamsul Arifin on the State System and the System of Government in Islam was obtained comprehensively and completely from his contact with Hadlrotus Shaykh KH. Hasyim Asy'ari, as well as his real work in defending and contributing to the nation's journey. Standing as a Fighter for the Jihad Resolution, against the Japanese, taking part as a Constituent Member, Fighting against the PKI, and directly involved as a Politician. Meanwhile, KHR's thoughts. As'ad Syamsul Arifin about accepting Pancasila as a Single Principle is the culmination of his thoughts on the State System and the System of Government. According to Kiai As'ad, the first precept of Pancasila is a reflection of the teachings of monotheism in Islam. Not stopping here, Kiai As'ad boldly presented his views and direct criticism to President Soeharto who wanted to make Pancasila a tool to generalize the truth of all religions. This research contributes to strengthening the mapping of the role and contribution of Kiai Pesantren in the concept of the State and the Government system. The research has not reached the aspect of KHR thinking. As'ad Syamsul Arifin which is outlined in works/books/manuscripts.