Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Revitalisasi Tempat Pembuangan Akhir(TPA) Menjadi Objek Wisata Edukasi Sebagai Upaya Meningkatkan Taraf Ekonomi Masyarakat: Studi Kasus di TPA Pakusari, Kabupaten Jember Hasbi Ash Shiddiqi; Wildan Miftahussurur; M. Rofiullah Ash-Shudiq; M.Ikomuddin; Adjie Tara Syaputra; Moch Azhaim Ibrahim; M. Zainul Fata; Moh. Jakfar Assodiq; M. Musleh; Mahfid Baitullah; Muhammad Latif
JURNAL HUKUM, POLITIK DAN ILMU SOSIAL Vol. 2 No. 2 (2023): Juni: JURNAL HUKUM, POLITIK DAN ILMU SOSIAL
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jhpis.v2i2.3645

Abstract

Waste is a very important problem of concern today. The amount of waste is increasing day by day, causing harm to health and the environment. For this reason, managing a waste landfill into a tourist attraction with an educational nuance is very interesting to research. This research wants to describe whether this tourist attraction can provide benefits to the surrounding community, for example as a place to earn a living such as selling food or drinks around the landfill. Visitors are very happy and really agree with the existence of this tourist attraction. Because, this tourist attraction has benefits for visitors who come, for example visitors can learn how to process waste by making recycled waste and fertilizer from waste. Visitors also enjoy coming to this tourist spot because the place is beautiful and comfortable to use to relax and relieve fatigue after work. Educational tourism objects are also presented, such as how to process waste, make fertilizer from waste materials (compost), learn about methane gas and look closely at how to learn how to recycle waste materials. TPA can be a place for education/learning about how to process waste, differentiate between organic and inorganic waste, make compost, make crafts from recycled waste.
Implikasi Kesepakatan Pembagian Harta Bersama Pasca Perceraian Terhadap Putusan Hakim Pengadilan Agama Kabupaten Jember (Studi Putusan Nomor 4175/Pdt.G/2024/Pa.Jr.) Hasbi Ash Shiddiqi; Siti Nur Fadila; R.A. Harum Sukmo Ningratna; Siti Atika; Zelumniatul Aisyah; Fitrotul Hasanah; Gita Aninda Putri; Rizma Nur wulandari; Karima Karima; Nuri Nafisatul Kamaliyah; Irmawatul Islamiyah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.180

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implikasi kesepakatan pembagian harta bersama yang dilakukan oleh para pihak pasca perceraian terhadap putusan Pengadilan Agama, dengan fokus pada studi kasus Putusan PA Jember Nomor 4175/Pdt.G/2024/PA.Jr. Dalam praktik peradilan agama, pembagian harta bersama umumnya mengikuti ketentuan hukum positif, khususnya Kompilasi Hukum Islam (KHI). Namun, dalam perkara ini, hakim tidak menetapkan pembagian berdasarkan prinsip tersebut, melainkan memutuskan berdasarkan kesepakatan yang telah dibuat oleh para pihak. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan studi kasus, melalui analisis putusan pengadilan, dokumen kesepakatan, serta wawancara dengan pihak-pihak terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hakim menjadikan kesepakatan para pihak sebagai dasar utama dalam menjatuhkan putusan, tanpa melakukan penilaian ulang terhadap proporsionalitas pembagian menurut hukum positif. Hal ini menunjukkan bahwa dalam perkara perdata Islam, khususnya pembagian harta bersama, hakim dapat bersifat pasif dan lebih berperan sebagai pengesah atas kesepakatan yang telah dicapai secara sukarela. Pendekatan ini mencerminkan penghormatan terhadap asas kebebasan berkontrak sebagaimana diatur dalam Pasal 1338 KUH Perdata. Kesimpulannya, kesepakatan para pihak memiliki kekuatan hukum yang cukup untuk menjadi dasar putusan pengadilan, selama dibuat secara sah dan tanpa paksaan. Praktik ini berimplikasi positif terhadap fleksibilitas penyelesaian sengketa, namun tetap memerlukan kewaspadaan agar tidak mengabaikan prinsip keadilan substantif.
Pendampingan Penulisan Karya Ilmiah bagi Mahasiswa sebagai Upaya Menumbuhkan Kesadaran Literasi di Era Artificial Intelligence Miftakhul Huda; Hasbi Ash Shiddiqi; Awaliya Safithri
ALKHIDMAH: Jurnal Pengabdian dan Kemitraan Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian dan Kemitraan Masyarakat (ALKHIDMAH)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nurul Qarnain Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59246/alkhidmah.v3i1.1342

Abstract

This community service activity aims to improve students' ability to write scientific papers systematically and critically, as well as foster literacy awareness in the era of Artificial Intelligence (AI) which is full of technological conveniences. Today's students tend to take advantage of technology instantly without understanding the correct academic rules. Therefore, this mentoring is designed to equip students with basic understanding and skills in writing scientific papers that are in accordance with academic standards. The method used in this activity is participatory training through lectures, discussions, and hands-on practice. The activity was carried out in several sessions, starting from the introduction of academic literacy, the structure of scientific papers, to the practice of writing and revising writing. The results of this activity showed that participants experienced an increased understanding of the structure of scientific writing and were more confident in compiling scientific papers independently. In addition, students are also becoming more critical in using AI-based technologies, such as ChatGPT, ethically and responsibly in the writing process. The suggestion from this activity is the need for the sustainability of mentoring programs with a more intensive mentoring model, as well as the integration of academic literacy in the higher education curriculum so that students not only master technology, but also have critical thinking and strong literacy skills.
Resolusi Kiai Dalam Menyikapi Carok (Studi Analisis Dekonstruksi Dakwah Bil Hikmah dalam Penyelesaian Carok) Ahmad, Ahmad; Shiddiqi, Hasbi Ash
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Carok adalah budaya kekerasan Madura yang masih melekat hingga kini. Para Blater, selaku pemegang otoritas kekuasaan social budaya Madura yang sering mempromosikan identitas carok dengan celuritnya. Sementara Kiai merupakan otoritas kekuasaan dengan artikulasi penguasa Musholla dan Masjid. konstruk solusi dakwah bil hikmah yang ditawarkan Kiai selama ini berkutat pada dakwah lemah lembut dan tidak langsung melalui jejaring Pesantren, Madrasah, Majelis taklim, pengajian ataupun kegiatan ritual keagamaan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan normatif. Sumber data primer penelitian ini data kualitatif dengan makna Dakhwah bil Hikmah, baik sumber tafsir, hadits ataupun jurnal yang membahas tentang dakwah bil hikmah. Analisa Data dalam penelitian ini akan menggunakan analisis deskriptif. Analisis yang digunakan adalah dekonstruksi Jacques Derrida. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Pemaknaan konstruktif dakwah bil hikmah ini perlu didekonstruksi. Pemaknaan dekonstruksi dakwah bil hikmah Kiai dalam penyelesaian carok berupa pendalaman tawhid cinta kematian dengan mempertaruhkan nyawa; menyiapkan mental siap bertarung dengan menempa diri jago silat, jago tarung dan jago main celurit. Sementara rekonstruksi pemaknaan dakwah bil hikmah penyelesaian carok di lakukan dengan kemampuan melakukan keseimbangan antara menjadi penjaga Masjid plus penghunus celurit, siap mati melakukan nahiy munkar. Inilah profil yang dicontohkan dan diuswahkan oleh Nabi Muhammad. Inilah Resolusi Kiai dalam penyelesaian Carok. Penelitian ini berkontribusi dalam pemaknaan dakwah bil hikmah yang lebih kontekstual terhadap kepedulian dalam penyelesaian Carok. Dakwah bil hikmah selama ini justeru menjadi payung apologi kalangan Kiai untuk tidak terlibat langsung dalam penyelesaian carok. Penelitian memiliki keterbatasan belum menggali secara fenomenologis pemaknaan dakwah bil hikmah yang telah dilakukakn oleh Kiai serta praktik dan implementasinya dalam penyelesaian carok. Carok adalah budaya kekerasan Madura yang masih melekat hingga kini. Para Blater, selaku pemegang otoritas kekuasaan social budaya Madura yang sering mempromosikan identitas carok dengan celuritnya. Sementara Kiai merupakan otoritas kekuasaan dengan artikulasi penguasa Musholla dan Masjid. konstruk solusi dakwah bil hikmah yang ditawarkan Kiai selama ini berkutat pada dakwah lemah lembut dan tidak langsung melalui jejaring Pesantren, Madrasah, Majelis taklim, pengajian ataupun kegiatan ritual keagamaan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan normatif. Sumber data primer penelitian ini data kualitatif dengan makna Dakhwah bil Hikmah, baik sumber tafsir, hadits ataupun jurnal yang membahas tentang dakwah bil hikmah. Analisa Data dalam penelitian ini akan menggunakan analisis deskriptif. Analisis yang digunakan adalah dekonstruksi Jacques Derrida. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Pemaknaan konstruktif dakwah bil hikmah ini perlu didekonstruksi. Pemaknaan dekonstruksi dakwah bil hikmah Kiai dalam penyelesaian carok berupa pendalaman tawhid cinta kematian dengan mempertaruhkan nyawa; menyiapkan mental siap bertarung dengan menempa diri jago silat, jago tarung dan jago main celurit. Sementara rekonstruksi pemaknaan dakwah bil hikmah penyelesaian carok di lakukan dengan kemampuan melakukan keseimbangan antara menjadi penjaga Masjid plus penghunus celurit, siap mati melakukan nahiy munkar. Inilah profil yang dicontohkan dan diuswahkan oleh Nabi Muhammad. Inilah Resolusi Kiai dalam penyelesaian Carok. Penelitian ini berkontribusi dalam pemaknaan dakwah bil hikmah yang lebih kontekstual terhadap kepedulian dalam penyelesaian Carok. Dakwah bil hikmah selama ini justeru menjadi payung apologi kalangan Kiai untuk tidak terlibat langsung dalam penyelesaian carok. Penelitian memiliki keterbatasan belum menggali secara fenomenologis pemaknaan dakwah bil hikmah yang telah dilakukakn oleh Kiai serta praktik dan implementasinya dalam penyelesaian carok.
PROBLEMATIKA PENERAPAN UNDANG-UNDANG NOMOR 16 TAHUN 2019 TENTANG PEMBATASAN USIA PERNIKAHAN: STUDI KASUS PERNIKAHAN ANAK DI KUA KECAMATAN TAMANAN Anam, M. Sayyid Aqil Khoirul; Shiddiqi, Hasbi Ash
Legal Studies Journal Vol 5, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Nurul Jadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33650/lsj.v5i2.12967

Abstract

The phenomenon of child marriage continues to occur frequently despite Law Number 16 of 2019, which sets the minimum age for marriage at 19 for both men and women. This study aims to identify the factors contributing to the persistence of child marriage and to analyze the problematic implementation of this law at the KUA (Office of Religious Affairs) in Tamanan District , Bondowoso Regency. This study used a qualitative approach with a case study method. Data were collected through interviews, observation, and documentation with the Head of the KUA, religious instructors, and P3N officers in each village. Data analysis was conducted using field techniques. research to find patterns and themes from the interview results. The results show that child marriage in the Tamanan District Office of Religious Affairs (KUA) is still caused by economic factors, culture, low education, premarital pregnancy, and the practice of engagement at school age. In its implementation, Law Number 16 of 2019 has been running quite well, but is still faced with low public legal awareness and the influence of permissive religious leaders. The Tamanan KUA has attempted to address this through socialization, marriage guidance ( Bimwin ), and collaboration with the village. This study concludes that the problems The implementation of the law is highly dependent on synergy between the government, religious leaders, and the community. It is hoped that the results of this study can be used as a reference by religious institutions and the government in strengthening outreach and oversight of the implementation of the marriage age restriction. 
RELIGIOSITY, LOVE, AND HUMANITY AS PILLARS OF HOUSEHOLD INTEGRITY Safithri, Awaliya; Ash Shiddiqi, Hasbi
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 21 No. 02 (2025)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.v21i02.6842

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis Rancangan Undang-Undang Ketahanan Keluarga (RUU KK) melalui pendekatan maqasid al-syariah, dengan fokus pada tiga pilar utama dalam membangun rumah tangga yang harmonis, yaitu cinta kasih (mahabbah), religiusitas (taqwa), dan kemanusiaan (karāmah insāniyyah). Penelitian ini menggunakan metode normatif-kualitatif dengan pendekatan analisis isi terhadap teks RUU KK, dokumen akademik pendukung, dan sumber literatur Islam klasik dan kontemporer. Analisis dilakukan dengan menafsirkan ketentuan-ketentuan dalam RUU tersebut sesuai dengan lima prinsip utama maqasid al-syariah: hifz al-din, hifz al-nafs, hifz al-'aql, hifz al-nasl, dan hifz al-mal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun RUU KK memiliki semangat awal untuk memperkuat institusi keluarga, banyak ketentuan di dalamnya yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip maqasid. Pembagian peran yang kaku dan normatif antara suami dan istri masih memperkuat struktur patriarki dan mengabaikan dinamika hubungan timbal balik dalam rumah tangga. Perlindungan terhadap perempuan dan anak belum sepenuhnya mencerminkan keadilan distributif, dan nilai kasih sayang sebagai landasan spiritual dalam keluarga kurang mendapat tempat. Selain itu, pendekatan legalistik-represif dalam beberapa pasal berpotensi mengabaikan aspek rehabilitatif dan afeksi sebagai ciri utama maqasid dalam konteks hukum keluarga Islam. Penelitian ini penting sebagai kontribusi akademis bagi pengembangan regulasi keluarga yang lebih humanis, inklusif, dan sesuai dengan nilai-nilai Islam yang substantif. Dengan demikian, legislasi keluarga ke depan diharapkan mampu menghadirkan keadilan berbasis kasih sayang, religiusitas yang memerdekakan, dan penghormatan terhadap martabat seluruh anggota keluarga. Kata Kunci: Maqasid al-Syariah, Ketahanan Keluarga, Kasih Sayang, Religiusitas, Kemanusiaan.   This article aims to analyze the Family Resilience Bill (RUU KK) through the maqasid al-syariah approach, focusing on the three main pillars in building a harmonious household, namely love (mahabbah), religiosity (taqwa), and humanity (karāmah insāniyyah). This research uses a normative-qualitative method with a content analysis approach to the text of the KK Bill, supporting academic documents, and sources of classical and contemporary Islamic literature. The analysis is carried out by interpreting the provisions in the Bill in accordance with the five main principles of maqasid al-shariah: hifz al-din, hifz al-nafs, hifz al-'aql, hifz al-nasl, and hifz al-mal. The results of the study show that although the KK Bill has the initial spirit to strengthen the family institution, many of the provisions in it are not in line with the principles of maqasid. The rigid and normative division of roles between husband and wife still strengthens the patriarchal structure and ignores the dynamics of reciprocal relations in the household. The protection of women and children does not fully reflect distributive justice, and the value of love as a spiritual basis in the family has little space. In addition, the legalistic-repressive approach in several articles has the potential to ignore the rehabilitative and affectionate aspects as the main characteristics of maqasid in the context of Islamic family law. This research is important as an academic contribution to the development of family regulations that are more humane, inclusive, and in accordance with substantive Islamic values. Thus, future family legislation is expected to be able to bring love-based justice, liberating religiosity, and respect for the dignity of all family members. Keywords: Maqasid al-Shariah, Family Resilience, Love, Religiosity, Humanity.
Transforming Indonesia's Zakat in the Digital Era: Opportunities and Challenges Halili, Halili; Ash Shiddiqi, Hasbi
Al Barakat Vol 4 No 02 (2024): Al Barakat: Jurnal Kajian Hukum Ekonomi Syariah
Publisher : Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59270/jab.v4i02.202

Abstract

In the ever-changing digital age, the transition of zakat is becoming more important and urgent. Zakat institutions may boost community involvement in the practice of blessing sharing and achieve increased efficiency in the zakat collection, management, and distribution processes by making prudent use of digital technology. But in order for it to realize its full potential, everyone involved must work together to overcome the obstacles that come with utilizing technology in social and religious contexts. His research employs a qualitative descriptive technique in conjunction with document analysis. The goal of this qualitative descriptive method is to provide an explanation for the events and facts that were noted throughout the Zakat research.Transformation in the Digital Age. Possibilities and Difficulties. The findings of this study indicate that the digital transformation of zakat represents a substantial shift in how zakat is handled and distributed through the use of information and communication technologies. It is important for zakat institutions to be ready for the five opportunities and four obstacles of the digital era's zakat transition. This will ensure that the shift in zakat will benefit both zakat institutions and society at large.
THE BETEL NUT TRADITION IN THE ENGAGEMENT CEREMONY PROCESSION IN SUMBERDANTI VILLAGE FROM THE PERSPECTIVE OF 'URF Sodiq, Ubaidillah; Ash Shiddiqi, Hasbi; Hasyim, Yanto
International Journal of Multidisciplinary Reseach Vol. 1 No. 4 (2025): Oktober
Publisher : International Journal of Multidisciplinary Reseach

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The betel nut tradition in the engagement ceremony in Sumberdanti Village is a cultural heritage that remains preserved by the local community amidst the tide of modernization. This tradition not only serves as a symbol in the proposal procession but also serves as a means of respect, social communication, and affirmation of a man's seriousness in proposing to his future wife. This study aims to understand the meaning and position of the betel nut tradition from an Islamic legal perspective, specifically through the concept of 'urf'. The study used a qualitative method with a field approach, through interviews, observation, and documentation of the community members who practice the tradition. The results indicate that the betel nut practice has strong social and historical value, but from an Islamic legal perspective, it is classified as 'urf fasid', meaning a custom without an explicit basis in sharia law. Nevertheless, this tradition is still recognized as a form of local wisdom as long as it does not conflict with sharia principles. Therefore, the preservation of the betel nut tradition needs to be accompanied by a reinterpretation to align it with Islamic values and maintain its cultural identity in Sumberdanti Village.
Pendampingan Revitalisasi Yayasan Nurul Hikmah Arrozy untuk Menumbuhkan Kesadaran Pendidikan Keislaman di  Desa Gunung Malang, Sumberjambe,  Jember Shiddiqi, Hasbi Ash; Safithri, Awaliya
Ta'awun Jurnal Pengabdian Vol. 3 No. 2 (2024): November
Publisher : LPPM Institut Agama Islam Uluwiyah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47759/mxqykb41

Abstract

Pendampingan kegiatan belajar mengajar di Yayasan Nurul Hikmah Arrozy bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan serta efektivitas proses pembelajaran bagi para santri. Program ini dilakukan sebagai upaya pemberdayaan tenaga pendidik dan santri dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih interaktif, inovatif, dan sesuai dengan perkembangan zaman. Fokus utama pendampingan adalah optimalisasi pembelajaran yang terkendala oleh minimnya kesadaran dari generasi penerus untuk tetap menghidupkan lembaga kesilaman ini sehingga berdampak pada minimnya santri dan tidak optimalnya kegiatan belajar mengajar baik di TPQ Maupun di Madrasah diniyah.  Metode yang digunakan dalam pendampingan ini adalah Participatory Action Research (PAR), yang melibatkan tenaga pendidik, santri, dan pengelola yayasan secara aktif dalam proses perencanaan, pelaksanaan, refleksi, dan evaluasi program. Melalui pendekatan ini, pendampingan tidak hanya bersifat instruktif, tetapi juga memberdayakan komunitas pendidikan di yayasan agar dapat menemukan solusi terbaik bagi tantangan yang mereka hadapi. Beberapa strategi yang diterapkan dalam program ini meliputi resceduling jadawal mengajar paagi para asatidz, rapat rutin bulanan,  serta penguatan nilai-nilai keagamaan dalam proses belajar mengajar. Hasil dari pendampingan menunjukkan peningkatan dalam keaktifan  mengajar para guru, peningkatan minat belajar santri, serta suasana belajar yang lebih kondusif dan dinamis. Guru lebih kreatif dalam mengembangkan metode pembelajaran, sementara santri menjadi lebih aktif dalam memahami materi. Dengan demikian, pendampingan ini berkontribusi dalam meningkatkan mutu pendidikan di Yayasan Nurul Hikmah Arrozy, sekaligus memperkuat peran lembaga pendidikan Islam dalam membangun generasi yang cerdas dan berakhlak.