Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series: Public Relations

Literasi Digital Lansia: (Studi Fenomenologi Pemanfaatan Aplikasi WhatsApp Pada Lansia Indonesia Ramah Lansia Kota Bandung) Adiva Vanka Tamika; Rini Rinawati
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v3i2.9425

Abstract

Abstract. Cannot be denied that the elderly population is the most vulnerable group when it comes to the use of digital technology. The lack of understanding and education among the elderly makes them highly susceptible to spreading hoaxes or becoming victims of digital scams. Digital literacy is considered crucial in order to prevent these negative impacts. The purpose of this study is to determine the utilization of WhatsApp applications among the elderly who are part of the Elderly-Friendly Indonesia initiative in Bandung City. This research utilizes a qualitative research method through a phenomenological approach and employs a constructivist paradigm. The informants in this study consist of three elderly individuals who are members of the Elderly-Friendly Indonesia initiative in Bandung City. The study incorporates theories of New Media, Social Construction, and Phenomenology. The data for this research is obtained through semi-structured interviews with the three informants. Additionally, data from the research results are also gathered through participant observation. The findings of this study reveal several motives of the elderly in using the WhatsApp application, including recommendations from their children, accidental discovery, keeping up with technological advancements, easy access to information flow, and of course, the motives are aimed at facilitating communication. The study also uncovers the experiences of the elderly in using the WhatsApp application, such as positive experiences, negative experiences, the use of free voice and video calls as the main features, and regular usage frequency. Based on the experiences they have had, the elderly perceive hoaxes as false news and recognize their negative impacts. Furthermore, several factors that hinder the fulfillment of digital literacy among the elderly are identified, including dependence on others, limitations in verification, declining memory capacity, and limited understanding of digital literacy-related issues. Abstrak. Tidak dapat dipungkiri bahwa kelompok masyarakat lansia merupakan khalayak yang paling rentan pada penggunaan teknologi digital. Pemahaman dan edukasi yang kurang terhadap para lansia menyebabkan lansia merupakan rentan usia paling banyak menyebarkan hoaks maupun menjadi korban penipuan digital. Literasi digital dianggap penting sekali dilakukan kepada para lansia untuk mencegah dampak-dampak negatif tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemanfaatan aplikasi WhatsApp pada lansia yang tergabung dalam Indonesia Ramah Lansia Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif melalui pendekatan fenomenologi dan dengan menggunakan paradigma konstruktivis. Informan pada penelitian ini merupakan 3 orang lansia dari standar 3 Indonesia Ramah Lansia Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan Teori Media Baru, Konstruksi Sosial dan Fenomenologi. Data-data dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara semi terstruktur dengan ketiga informan. Selain itu, data hasil penelitian juga diperoleh melalu observasi partisipasi. Hasil dari penelitian ini diperoleh sebuah motif lansia dalam menggunakan aplikasi WhatsApp yaitu rekomendasi anak, fasilitas, mengikuti perkembangan teknologi, kemudahan arus informasi dan tentunya motif-motif tersebut bertujuan untuk kemudahan komunikasi. Ditemukan pula pengalaman lansia dalam menggunakan aplikasi WhatsApp yaitu pengalaman positif, penglaman negatif, penggunaan free call dan video call sebagai fitur utama, dan frekuensi penggunaan rutin. Dari pengalaman yang lansia rasakan kemudian lansia memaknai hoaks sebagai berita tidak benar dan hoaks berdampak negatif. Selanjutnya ditemukan beberapa faktor penghambat pemenuhan literasi digital lansia yaitu ketergantungan terhadap orang lain, keterbatasan verifikasi, kemampuan daya ingat menurun dan keterbatasan pemahaman terkait literasi digital
Pola Komunikasi Antarbudaya Mahasiswa Perantau Asal Pontianak di Kota Bandung Salwa Tsana Shabira; Rini Rinawati
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v3i2.9437

Abstract

Abstrak. Adanya perbedaan budaya yang melatar belakangi seseorang memberikan dampak pada makna atau simbol komunikasi yang berbeda. pemahaman tentang pola komunikasi antarbudaya sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam lingkungan yang multikultural dan global seperti saat ini. Perbedaan budaya dapat mempengaruhi cara seseorang berbicara, menulis, dan bertindak, serta cara mereka memandang dunia dan mengambil keputusan. Perbedaan Bahasa, dialek dan cara bertutur mahasiswa Pontianak dengan mahasiswa lokal ini menyebabkan adanya kesalahpahaman dalam penyampaian pesan dan menimbulkan konflik karena adanya perbedaan makna, terutama dalam situasi komunikasi informal yang dilakukan di lingkungan yang mayoritas berbudaya Sunda. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana perilaku komunikasi yang dilakukan oleh Mahasiswa perantau asal Pontianak di Kota Bandung. Teori yang digunakan pada penelitian ini yaitu Teori Interaksi Simbolik serta Metode peneltian yang digunakan yaitu kualitatif dengan pendekatan studi etnografi komunikasi. Informan dalam penelitian ini yaitu 3 orang mahasiswa asal Pontianak Di Universitas Islam Bandung. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa situasi komunikatif yang dilakukan berupa kegiatan dalam ruang kelas, kerja kelompok, organisasi dan bermain. Peritiwa komunikasi dalam setiap situasi ini memiliki tujuan untuk membangun hubungan dengan mahasiswa lainnya. serta Tindakan komunikasi yang dilakukan menyesuaikan dengan budaya sunda dengan menggunakan Bahasa Indonesia dalam berinteraksi. Terdapat beberapa pola komunikasi dalam setiap situasi komunikatif. Seperti komunikasi dua arah dan multi arah. Abstrak. Adanya perbedaan budaya yang melatar belakangi seseorang memberikan dampak pada makna atau simbol komunikasi yang berbeda. pemahaman tentang pola komunikasi antarbudaya sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam lingkungan yang multikultural dan global seperti saat ini. Perbedaan budaya dapat mempengaruhi cara seseorang berbicara, menulis, dan bertindak, serta cara mereka memandang dunia dan mengambil keputusan. Perbedaan Bahasa, dialek dan cara bertutur mahasiswa Pontianak dengan mahasiswa lokal ini menyebabkan adanya kesalahpahaman dalam penyampaian pesan dan menimbulkan konflik karena adanya perbedaan makna, terutama dalam situasi komunikasi informal yang dilakukan di lingkungan yang mayoritas berbudaya Sunda. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana perilaku komunikasi yang dilakukan oleh Mahasiswa perantau asal Pontianak di Kota Bandung. Teori yang digunakan pada penelitian ini yaitu Teori Interaksi Simbolik serta Metode peneltian yang digunakan yaitu kualitatif dengan pendekatan studi etnografi komunikasi. Informan dalam penelitian ini yaitu 3 orang mahasiswa asal Pontianak Di Universitas Islam Bandung. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa situasi komunikatif yang dilakukan berupa kegiatan dalam ruang kelas, kerja kelompok, organisasi dan bermain. Peritiwa komunikasi dalam setiap situasi ini memiliki tujuan untuk membangun hubungan dengan mahasiswa lainnya. serta Tindakan komunikasi yang dilakukan menyesuaikan dengan budaya sunda dengan menggunakan Bahasa Indonesia dalam berinteraksi. Terdapat beberapa pola komunikasi dalam setiap situasi komunikatif. Seperti komunikasi dua arah dan multi arah.
Komunikasi Lintas Budaya pada Mahasiswa Perantauan di Universitas Islam Bandung Riza Al Ghifari Suseno; Rini Rinawati
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v4i1.10296

Abstract

Abstract. When someone decides to migrate, it means that he will enter a new environment with a new culture in it, not infrequently this difference makes it difficult for someone to survive in his new environment. Adaptation is one of the ways that a person needs to do when deciding to migrate. Adaptation is needed so that the individual can survive during the overseas period. In the process, each individual will have different experiences when trying to adapt. The objectives of this study are: 1) To find out the experience of overseas students from North Maluku in carrying out the adaptation process through cross-cultural communication at the Bandung Islamic University, 2) To find out the overseas students from North Maluku in the Mining Engineering study program in interpreting cross-cultural communication in the adaptation process, 3) To find out the motives of overseas students from North Maluku to do cross-cultural communication. The subjects of this study were students of the Mining Engineering Study Program at the Islamic University of Bandung who came from North Maluku. This research uses the constructivism paradigm, qualitative research method, and phenomenological approach. The theory used is Alferd Schutz's Phenomenology theory. The result of this study is that the adaptation experience carried out by students from North Maluku is divided into four phases, namely: 1) honeymoon phase, 2) frustration phase, 3) readjustment phase, 4) resolution phase. Regarding meaning, students from North Maluku interpret cross-cultural communication as a social norm, liaison, learning process, self-identity and character reflection. Meanwhile, the motive is divided into two parts, namely the cause motive which consists of 1) language differences, 2) daily needs, 3) realizing as foreigners Abstrak. Ketika seseorang memutuskan merantau artinya ia akan memasuki sebuah lingkungan baru dengan kebudayaan baru di dalamnya, tak jarang adanya perbedaan ini membuat seseorang menjadi sulit untuk bertahan berada di lingkungan barunya. Adaptasi merupakan salah satu cara yang perlu dilakukan oleh seseorang ketika memutuskan untuk merantau. Adaptasi dilakukan agar individu teresbut bias bertahan selama masa perantauan. Pada prosesnya, setiap individu akan memiliki pengalman yang berbeda-beda ketika berusaha beradaptasi. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui pengalaman mahasiswa perantauan asal maluku utara dalam melakukan proses adaptasi melalui komunikasi lintas budaya di Universitas Islam Bandung, 2) Untuk mengetahui mahasiswa perantauan asal Maluku Utara program studi Teknik Pertambangan dalam memaknai komunikasi lintas budaya pada proses adaptasi, 3) Untuk mengetahui motif mahasiswa perantauan asal Maluku Utara melakukan komunikasi lintas budaya. Subjek pada penelitian ini adalah Mahasiswa Program Studi Teknik Pertambangan Universitas Islam Bandung yang berasal dari Maluku Utara. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme, metode penelitian kualitatif, dan pendekatan fenomenologi. Teori yang digunakan adalah teori Fenomenologi Alferd Schutz. Hasil dari penelitian ini adalah pengalaman adaptasi yang dilakukan oleh mahasiswa asal Maluku Utara terbagi menjadi empat fase yaitu : 1) honeymoon phase, 2) frustration phase, 3) readjustment phase, 4) resolution phase. Terkait makna, mahasiswa asal Maluku Utara memaknai komunikasi lintas budaya sebagai norma sosial, penghubung, proses belajar, identitas diri dan cerminan karakter. Sedangkan pada motif terbagi menjadi dua bagian yaitu motif sebab yang terdiri dari 1) adanya perbedaan bahasa, 2) kebutuhan sehari-hari, 3) menyadari sebagai pendatang
Pengaruh Electronic Word of Mouth terhadap Minat Beli Produk Wardah Beauty Alisya Sakinah; Rini Rinawati
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v4i2.13021

Abstract

Abstract. This research aims to determine the influence of Electronic Word of Mouth (EWOM) on purchasing interest for Wardah Beauty products. This research was conducted using quantitative methods and a descriptive approach in a positive paradigm. Research participants were those who commented on the last three uploads on Amanda Rawles's Instagram (@amandarawles) in 2023 which were obtained through the use of questionnaires as a data collection technique. Data analysis uses descriptive analysis techniques and Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS). The methodology used is a quantitative research approach, with a sample size of 89 people. This research examines the influence of Electronic Word of Mouth (EWOM) on consumer buying interest. The results of this research show that the role of brand ambassador can strengthen the influence of EWOM in increasing interest in purchasing cosmetic products, with a special focus on Wardah Beauty products. The implications of these findings indicate that cosmetics companies can utilize EWOM more effectively in increasing purchasing interest, especially through social media platforms. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Electronic Word of Mouth (EWOM) terhadap minat beli produk Wardah Beauty. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif dan pendekatan deskriptif dalam paradigma positivistik. Partisipan penelitian adalah yang berkomentar pada tiga unggahan terakhir di Instagram Amanda Rawles (@amandarawles) pada tahun 2023 yang diperoleh melalui penggunaan kuisioner sebagai teknik pengumpulan data. Analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif serta Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS). Metodologi yang digunakan yaitu pendekatan penelitian kuantitatif, dengan jumlah sampel 89 orang. Penelitian ini mengkaji pengaruh Electronic Word of Mouth (EWOM) terhadap minat beli konsumen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran brand ambassador dapat memperkuat pengaruh EWOM dalam meningkatkan minat beli produk kosmetik, dengan fokus khusus pada produk Wardah Beauty. Implikasi dari temuan ini menunjukkan bahwa perusahaan kosmetik dapat memanfaatkan EWOM secara lebih efektif dalam meningkatkan minat beli, khususnya melalui platform media sosial.