Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Physical Properties Test of Antiseptic Soap Combination of Honey Pineapple Peel Extract and Squeezed Orange Peel Inur Tivani Tivani; kusnadi kusnadi kusnadi
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 11, No 2 (2022): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/pjif.v11i2.3572

Abstract

The pandemic era has an impact on the increase in hand washing soap for the implementation of health protocols. The process of making soap with chemicals for some people who have sensitivity to these ingredients results in dry, rough and itchy skin. The breakthrough that needs to be done is by making soap made from natural ingredients that are safe for the skin and environmentally friendly. Honey pineapple peel and squeezed orange peel contain antibacterial compounds such as flavonoids, tannins and saponins. The purpose of this research is to find out which formula for antiseptic soap combination of these two natural ingredients is the best in terms of physical properties. This research was carried out at the Microbiology Laboratory of the Harapan Bersama Polytechnic. Honey pineapple peel and squeezed orange peel were extracted by maceration method and then 3 formulas were made with 3 replications. The physical properties tested were organoleptic test, pH test, specific gravity test, viscosity test, and preference test. Values that meet the standards of the test are considered antiseptic soaps that meet the physical test standards. The results of this study showed that all antiseptic soap formulas were good from the physical properties test. When viewed from the preference test, antiseptic soap combination of honey pineapple peel extract and squeezed orange peel with a ratio of (3:1) is the best.
UJI IDENTIFIKASI BAKTERI Esherichia coli PADA JAMU GENDONG KUNYIT ASEM DI KABUPATEN TEGAL Inur Tivani; Wilda Amananti; Ahmad Sunardi
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 8, No 1 (2019): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/pjif.v8i1.1297

Abstract

Based on the results of previous studies conducted by researchers in January 2018 showed that the Total Plate Count (ALT) of Jamu Gendong in several villages in Talang sub-district did not meet the quality safety standards (ALT value of more than 104). The high ALT value indicates the presence of bacteria contained in the tamarind tamarind herbal medicine. One of the bacteria that often contaminates food and beverages or drugs is Escherichia coli. E. coli bacteria is a characteristic bacterium contaminated with food or drug samples. The purpose of this study is to test for the presence or absence of E coli bacteria in gedong kunyit asem herbal medicine in Tegal district.The identification test of E. coli bacteria was carried out through two techniques, namely staining and bacterial culture techniques. For coloring techniques, gram coloring tests will be carried out, while bacterial cultures include blood agar plates, and Macconkey agar media.The results showed that gram staining, as well as culture in the media of Blood Agar Plate and Macconkey Agar showed the presence of E. coli bacteria in samples of tamarind ancient tamarind in several villages in Tegal RegencyKeywords: identification test, Escherichia coli bacteria, Jamu genndong, Kunyit asem.
FORMULASI GUMMY CANDY DARI EKSTRAK ETANOL KULIT NANAS MADU(Ananas comosus L. Merr) TERHADAP BAKTERI Streptococcus mutans Muladi Putra Mahardika; Inur Tivani
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 12, No 2 (2023): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/pjif.v12i2.5201

Abstract

Bau mulut merupakan keadaan tidak sedap dalam mulut, nafas yang tidak enak, dan tidak menyenangkan  serta menusuk hidung(Husna dan Abral, 2014). Streptococcus mutans merupakan bakteri anaerob dan  asidogenik yang dapat menghasilkan senyawa asam pada gigi, sehingga dapat menyebabkan deklasifikasi (kehilangan kalsium) dan terkikisnya permukaan gigi yang akan mengakibatkan terjadinya karies gigi(Putri M.H, 2010). Salah satu tanaman yang digunakan sebagai pembunuh bakteri yaitu nanas. Bagian nanas seperti daging dan kulitnya mempunyai kandungan klor, iodium, fenol dan enzim bromealin dalam kulit buah nanas (Ananas comosus   L. Merr). Permen jelli disebut juga dengan permen lunak merupakan jenis makanan selingan berbentuk padat, dibuat dari gula atau campuran gula dengan pemanis (Mufida et al., 2020). Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh peningkatan konsentrasi ekstrak kulit nanas madu terhadap mutu fisik, efektivitas dan keamanan sediaan permen jelli. Konsentrasi yang digunakan adalah 5%, 7.5% dan 10%. Berdasarkan hasil penelitian pembuatan permen jelly kulit buah nanas (Ananas comosus   L.Merr)  dengan variasi konsentrasi didapatkan hasil untuk sifat kimia pada uji kadar air untuk semua perlakuan dengan nilai diatas SNI 3547-2-1008 untuk permen jelly yang maksimal 20%. Pada uji kadar abu memiliki nilai diatas SNI 3547-2-1008 untuk permen jelly yang maksimal 3% untuk kadar abu. Sementara untuk uji organoleptik yang dihasilkan, perbedaan konsentrasi ekstrak berpengaruh terhadap warna permen jelly kulit buah nanas. Uji sukrosa memenuhi syarat SNI yaitu min 27%. Uji aktivitas antibakteri permen jelly kulit nanas masuk dalam kategori rendah.
UJI ANGKA LEMPENG TOTAL (ALT) PADA JAMU GENDONG TEMU IRENG DI DESA TANJUNG KABUPATEN BREBES Inur Tivani
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 7, No 1 (2018): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/pjif.v7i1.751

Abstract

Jamu merupakan obat tradisonal yang dibuat oleh masyarakat secara turun menurun.Jamu gendongtidak memerlukan ijin usaha industry tetapi tetap harus aman, sehingga perlu adanya parameterkeamanan. Parameter keamanan meliputi uji cemar anmikrobia seperti uji mikro biapatogen,uji angkakapang/khamir,ujiangka lempeng total, ujinilaidugaterdekatcoliformdan uji aflatoksin serta uji cemaranlogam berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Angka Lempeng Total (ALT) jamu gendongtemu ireng di Desa Tanjung Kabupaten Brebes. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimentaldeskriptif. Tahapan dari penelitian ini meliputi pemilihan dan pengambilan sampel, persiapan sampel,pembuatan media, sterilisasi alat, bahan dan ruangan serta pengitungan angka lempeng total (ALT).Salah satu parameter dari PerKBPOM Nomor 12 Tahun 2014 menyatakan bahwa untuk AngkaLempeng Total (ALT) tidak lebih dari 104. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa nilai AngkaLempeng Total yang didapatkan adalah 2,9x103 hingga 1,4x107koloni/mL
ANALISA KADAR VITAMIN DAN MINERAL BUAH KARIKA DIENG (CARICA PUBESCENS LENNE) DENGAN MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS DAN AAS Kusnadi Kusnadi; Inur Tivani; Wilda Amananti
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 5, No 2 (2016): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/pjif.v5i2.384

Abstract

Buah-buahan sangat penting untuk dikonsumsi sebagai tambahan nutrisi makanan. Manfaat buah-buahan dan sayuran sebagai sumber mineral utama, beberapa jenis buah-buahan dan sayuran juga mengandung mineral Fe, Ca dan P. Salah satu buah yang dapat dibuat untuk manisan adalah buah carica dari Dieng. Proses pembuatan manisan diprediksi kemungkinan dapat merusak struktur vitamin dan mineral dalam buah Carica. Penelitian menunjukkan bahwa adanya perbedaan antara konsentrasi vitamin A, vitamin C, mineral, P, Fe pada 5 merk produk manisan buah karica segar. Konsentrasi vitamin C menunjukan adanya penurunan konsentrasi karena vitamin C mudah rusak oleh air, suhu, dan pH. Sedangkan, vitamin A menunjukan penurunan konsentrasi  karena vitamin A mudah rusak ketika pengolahannya dengan pemanasan disertai oksigen dan suhu tinggi dan direbus dengan air yang mendidih. Buah segar karika mengandung vitamin C sebesar 65,12 mg / 100g, vitamin A sebesar 1771,1 mg / 100 g, Ca sebesar 24 ppm, Fe 1,2 ppm, P 0,0254%. Pada 5 merek produk manisan carica yang berbeda mengandung vitamin C sekitar 24-30mg / 100g, vitamin A sekitar 300-500 mg / 100 g, mineral Ca sekitar 5-9 ppm, mineral Fe sekitar 0,58-0,8ppm, dan mineral P sekitar 0,003-0,008%. Waktu lamanya proses mendidih pada proses pembuatan manisan carica dapat mempengaruhi konsentrasi vitamin C. Waktu optimal proses mendidih dengan konsentrasi tinggi vitamin C adalah 10 menit. Kata Kunci : vitamine, mineral, karika dieng,
Uji Antibakteri Sabun Nanopartikel Dengan Ag Ekstrak Daun Turi (Sesbania Grandiflora) Dengan Metode Dilusi Rosyada, Ikvina; Tivani, Inur; Amananti, Wilda
Justek : Jurnal Sains dan Teknologi Vol 6, No 4 (2023): Desember
Publisher : Unversitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/justek.v6i4.20131

Abstract

Abstract:  Particles that have a nanometer size of approximately 1-100 nm are called nanoparticles. Due to their stable quality silver nanoparticles have various uses such as antibacterial agents. Turi leaves have active substances such as flavonoid compounds and saponins which can be used as a liquid soap preparation because they kill microorganisms. This study aims to determine the antibacterial activity of turi leaf extract in the formulation of ag nanoparticle liquid soap against Staphylococcus aureus bacteria using the dilution method. The research method used in this research was the infusion method and the KHM and KBM tests of turi leaf extract soap ware carried out using the liquid dilution method. The extract concentrations used were 1%, 3%, dan 5%. The KHM was determined based on the turbidity or clarity of the test solution, while the KHM was determined by streaking each extract concentration/test solution on agar media. Data analysis was carried out descriptively in the form of the lowest concentration of extract that was able to inhibit and kill Staphylococcus aureus. The results of the research showed that turi leaf extract soap had a KHM value of 3% and a KBM value of 2% in inhibiting the growth of Staphylococcus aureus. Based on research, turi leaf extract soap is able to inhibit the growth of Staphylococcus aureus bacteria starting from a concentration of 2% and can kill Staphylococcus aureus bacteria at a concentration of 3%.Abstrak: Partikel yang memiliki ukuran nanometer kira – kira 1-100 nm disebut sebagai nanopartikel. Karena kualitasnya yang stabil nanopartikel perak memiliki berbagai kegunaan seperti agen antibakteri. Daun turi mempunyai zat aktif seperti senyawa flavonoid dan saponin yang dapat digunakan sebagai sediaan sabun cair karena membunuh mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun turi dalam formulasi sabun cair nanopartikel ag terhadap bakteri staphylococcus aureus dengan metode dilusi. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode infusa dan uji KHM dan KBM dari sabun ekstrak daun turi dilakukan dengan menggunakan dilusi cair. Konsentrasi ekstrak yang digunakan adalah 1%, 3%, dan 5% KHM ditentukan berdasarkan kekeruhan atau kejernihan larutan uji, sedangkan kekeruhan atau kejernihan larutan uji, sedangkan KBM ditentukan dengan menggoreskan masing – masing konsentrasi ekstrak/larutan uji pada media agar. Analisis data dilakukan secara deskriptif berupa konsentrasi terendah dari ekstrak yang mampu menghambat dan membunuh Staphylococcus aureus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sabun ekstrak daun turi memiliki nilai KHM sebesar 3% dan memiliki nilai KBM sebesar 2% dalam menghambat pertumbuhan staphylococcus aureus. Berdasarkan penelitian menunjukkan sabun ekstrak daun turi sudah mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus mulai dari konsentrasi 2% dan bisa membunuh bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi 3%.
Pengaruh Lama Fermentasi Bahan Organik Pada Eco-Enzyme Terhadap Daya Hambat Bakteri Staphylococcus aureus Febrianti, Mutiara Nur Suci; Tivani, Inur; Susiyarti, Susiyarti
Justek : Jurnal Sains dan Teknologi Vol 7, No 1 (2024): Maret
Publisher : Unversitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/justek.v7i1.21896

Abstract

Abstract:  Skin diseases are one of the most common most common health problems in Indonesia. One of the bacteria causing skin disease is Staphylococcus aureus. Eco-enzyme is an organic liquid resulting from the fermentation of organic waste, water and molasses sugar. This study aims to determine the effect of the length of fermentation of eco-enzyme organic material on the inhibitory activity activity and to find out the best fermentation time of eco-enzyme in inhibiting Staph bacteria. best in inhibiting Staphylococcus aureus bacteria. Research This research was conducted with a laboratory experimental approach using the simple random sampling method. Samples of eco-enzyme fermented for 3 months, 4 months and 5 months were tested for antibacterial activity against the growth of Staphylococcus aureus bacteria by the well diffusion method with aquadest as negative control. The results of the research data were analyzed statistically analyzed using One Way Anova test. Antibacterial test results of eco-enzyme that has been fermented for 3 months, 4 months, and 5 months inhibits the the growth of Staphylococcus aureus bacteria with an average inhibition zone of 13.73 mm, 17.73 mm, and 5 mm, respectively. 13.73 mm, 17.73 mm, and 21.4 mm, respectively. Based on this study, eco-enzyme fermentation time is proven to inhibit Staphylococcus aureus bacteria. aureus. Eco-enzyme that had the best bacterial inhibition was the eco-enzyme fermented with is eco-enzyme fermented for 5 months with an average inhibition zone of 21.4 mm. inhibition zone of 21.4 mm.Abstrak: Penyakit kulit menjadi salah satu dari berbagai masalah kesehatan yang paling banyak dijumpai di Indonesia. Salah satu bakteri penyebab penyakit kulit adalah bakteri Staphylococcus aureus. Eco-enzyme merupakan cairan organik hasil fermentasi limbah organik, air dan gula molase. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama fermentasi bahan organik eco-enzyme terhadap aktivitas daya hambat yang dihasilkannya serta mengetahui waktu fermentasi eco-enzyme yang paling baik dalam menghambat bekteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan eksperimen laboratorium menggunakan metode simple random sampling. Sampel eco-enzyme yang di fermentasi selama 3 bulan, 4 bulan dan 5 bulan diuji aktivitas antibakterinya terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dengan metode difusi sumuran dengan aquadest setril sebagai kontrol negatif. Hasil data penelitian dianalisis secara statistik menggunakan uji One Way Anova. Hasil uji antibakteri eco-enzyme yang telah difermentasi selama 3 bulan, 4 bulan, dan 5 bulan menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dengan rata-rata zona hambat masing-masing 13,73 mm, 17,73 mm, dan 21,4 mm. Berdasarkan penelitian ini, waktu fermentasi eco-enzyme terbukti dapat menghambat bakteri Staphylococcus aureus. Eco-enzyme yang memiliki daya hambat bakteri paling baik yaitu eco-enzyme yang difermentasi selama 5 bulan dengan rata-rata zona hambat sebesar 21,4 mm.
PENINGKATAN PENGETAHUAN MASYARAKAT DESA PACUL TENTANG PEMBUATAN PRODUK FOOTSANITIZER SPRAY KOMBINASI EKSTRAK BIJI KOPI DAN RIMPANG JAHE Amananti, Wilda; Tivani, Inur; Perwita Sari, Meliyana; Kusnadi, Kusnadi
Qardhul Hasan: Media Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 8 No. 3 (2022): DESEMBER
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/qh.v8i3.7278

Abstract

Sebagian besar dari penduduk desa pacul adalah pegawai perkantoran yang dalam sehari-harinya. Mereka menggunakan sepatu selama bekerja. Penggunaan sepatu yang tertutup dalam waktu yang lama, akan menimbulkan bau kaki. Bau kaki sering dialami oleh setiap orang. footsanitizer merupakan sebuah inovasi baru untuk menghilakan bau kaki. Foot sanitizer perlu dilakukan penambahan bahan aktif mengingat penggunaan berlebih alkohol sebagai bahan utamanya akan menimbulkan efek iritan. Bahan aktif yang dapat digunakan berupa rempah-rempah salahsatunya yaitu ektrak biji kopi dan rimbang jahe. Bentuk kegiatan untuk meningkatkan meningkatkan pengetahauan, pemahaman dan pelatihan mengenai produk footsanitizer spray kombinasi ekstrak biji kopi dan rimpang jahe. meliputi Memberi materi tentang pentingnya kebersihan kaki, Memberikan materi tentang pemanfaatan biji kopi dan rimpang jahe, Penyuluhan tentang manfaat penggunaan footsanitizer spray, Memberi pelatatihan pembuatan footsanitizer spray dari ekstrak kombinasi ekstrak biji kopi dan rimpang jahe bagi masyarakat Desa Pacul, khususnya ibu-ibu PKK Desa Pacul sesuai dengan tingkat ilmu yang mudah dipahami oleh masyarakat dengan jumlah peserta sebanyak 52 peserta dan melibatkan mahasiswa DIII Farmasi Politeknik Harapan Bersama. Memberikan kuesioner untuk diisi oleh peserta untuk mengetahui peningkatan pengetahuan masyarakat desa pacul tentang pembuatan footsanitizer spray dari ekstrak kombinasi ekstrak biji kopi dan rimpang jahe Dari hasil kegiatan pengabdian ini dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat desa pacul meningkat. Berdasarkan hasil kuesioner menunjukan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat desa Pacul tentang pembuatan footsanitizer spray. Dari hasil kuesioner pengetahuan masyarakat meningkat dari 84.33 yaitu nilai pre test dan 85.33 yaitu nilai post test. Walaupuin Hasil peningkatan tidak meningkat signifikan
Pengaruh Jenis Bahan Organik pada Pembuatan Eco-Enzyme terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphyloccocus aureus Haliza, Siti Nur; Tivani, Inur
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 6 No 1 (2024): Bioeksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2024.6.1.11368

Abstract

Sampah organik di Indonesia semakin meningkat akibat pertumbuhan jumlah penduduk. Dalam upaya menangani masalah ini, pemanfaatan sampah organik menjadi eco-enzyme adalah solusi yang mudah. Eco-enzyme merupakan hasil dari fermentasi sampah organik seperti kulit buah dan sayuran, gula molase dan air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan kemampuan eco-enzyme dari campuran jenis bahan organik yang berbeda dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Campuran bahan organik pada eco-enzyme yang digunakan dibagi kedalam 3 wadah. Eco-enzyme 1 berisi kulit lemon, gula, air. Eco-enzyme 2 terdiri dari kulit lemon, kulit nanas, gula, air. Eco-enzyme 3 berisi kulit lemon, kulit nanas, sayur kangkung, gula, air. Serta dilakukan uji aktivitas antibakteri dengan metode difusi. Metode analisis data yang digunakan yaitu uji statistik dengan metode One Way Analysis of Varience (ANOVA satu arah), dan menguji homogenitas serta uji post-hoc bonferroni. Berdasarkan hasil penelitian uji aktivitas antibakteri eco-enzyme terhadap S. aureus menunjukkan bahwa kombinasi bahan organik tertentu memiliki efektivitas yang berbeda. Kombinasi komponen organik yang paling signifikan untuk membunuh bakteri S. aureus adalah eko-enzim 3, dengan diameter zona hambat 11,39 mm. Hasil analisis data menunjukkan perbedaan signifikan dalam diameter hambat antara bahan organik dan campuran enzim. Uji homogenitas menujukkan bahwa antar kelompok eco-enzyme sama atau homogen dengan nilai signifikan 0.98. Hasil uji post-hoc bonfenni diperoleh eco-enzyme tiga yang paling berpengaruh dalam menghambat bakteri S. aureus. Kesimpulan dari penelitin yang dilakukan yaitu banyaknya campuran jenis bahan organik yang digunakan pada eco-enzyme, maka semakin kuat kemampuanya dalam menghambat bakteri S. aureus.
Increasing knowledge and skills in processing orange peel waste into eco enzymes for senior high school students Amananti, Wilda; Riyanta, Aldi Budi; Tivani, Inur; Susiyarti, S.
Journal of Community Service and Empowerment Vol. 5 No. 2 (2024): August
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jcse.v5i2.32633

Abstract

Environmental education and awareness of sustainability are becoming a major focus in educational curricula around the world. This article discusses an innovative approach to environmental learning for high school students through the creation of ecoenzymes. Ecoenzym, is a mixture of fermented organic materials that has the ability to clean and recycle organic waste, as well as improve soil and water quality. The results of ecoenzyme training activities for high school students based on the pretest and posttest results are that the training has a positive impact on students' understanding of ecoenzymes and their ability to apply them in practice. The posttest results showed a significant increase in students' knowledge and skills after participating in the training, compared to the pretest results. In this training, students are given a deeper understanding of ecoenzymes. Students get the opportunity to participate in practical activities involving the use of ecoenzymes, which can increase their understanding of the concept. In conclusion, ecoenzyme training is an effective strategy in increasing the knowledge and skills of high school students in this regard. This suggests that practical, hands-on approaches such as this training can be an effective method in educating students about complex scientific concepts such as ecoenzymes.