Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Gambaran Kadar C-Reactive Protein (CRP) Pada Mencit (Mus Musculus) Yang Diberi Minuman Kemasan Tinggi Gula Meti Rizki Utari; Astari Nurisani; Sugiah; Iwan Wahyudi; Muhammad Hadi Sulhan; Gina Nafsa Mutmaina; Mamay; Lia Mar’atiningsih; N. Ai Erlinawati
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.7118

Abstract

Minuman ringan merupakan minuman olahan nonalkohol yang umumnya mengandung gula sederhana dan diduga berhubungan dengan peningkatan kadar C-Reactive Protein (CRP) sebagai penanda inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar CRP pada mencit (Mus musculus) yang diberi minuman kemasan tinggi gula. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain posttest only control group yang menggunakan 24 ekor mencit berumur 3–4 bulan dengan berat badan 20–30 gram. Hewan uji dibagi ke dalam empat kelompok, terdiri atas satu kelompok kontrol yang diberikan aquadest dan tiga kelompok perlakuan yang masing-masing diberikan minuman kemasan tinggi gula dengan dosis 0,13 ml, 0,26 ml, dan 0,39 ml per hari selama 10 hari. Pada hari ke-11 dilakukan pengambilan serum dan pemeriksaan kadar CRP secara kualitatif menggunakan reagen kit CRP dengan pengamatan adanya atau tidak adanya aglutinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh sampel pada keempat kelompok memiliki kadar CRP dalam batas normal, yang ditandai dengan tidak ditemukannya aglutinasi, sehingga seluruh mencit (100%) dikategorikan normal. Tidak ditemukan perbedaan gambaran kadar CRP antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Disimpulkan bahwa pemberian minuman kemasan tinggi gula dengan dosis 0,13–0,39 ml per hari selama 10 hari pada mencit Mus musculus tidak menyebabkan peningkatan kadar CRP yang dapat terdeteksi secara kualitatif.
Penanganan Nilai Kritis pada Pemeriksaan Ureum Astari Nurisani; Lia Mar’atiningsih; Muuhammad Hadi Sulhan; Gina Nafsa Mutmaina; Sugiah Sugiah; Mamay Mamay; Meti Rizki Utari; Arsylia Intan Zori Ichsani
Jurnal Kesehatan Amanah Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Kesehatan Amanah
Publisher : Universitas Muhammadiyah Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57214/jka.v9i1.808

Abstract

Critical values ​​in an examination indicate a disorder that requires special and rapid action to improve patient safety. Urea examination is one of the laboratory parameters that functions as an indicator in assessing the level of kidney function. Urea levels are considered critical if the results exceed 100 mg/dl. This study aims to understand how to handle critical values ​​in urea examinations. This study describes a case in the field of clinical chemistry related to critical results obtained from urea examinations. The object of the case study used in this study was a serum sample, with data showing a critical urea level of 185 mg/dl. Based on the confirmation results, this figure is in accordance with the condition of patients who have kidney failure and will undergo hemodialysis therapy. The conclusion of this study shows that handling critical values ​​in urea examinations is carried out by identifying patient identity and ensuring good sample quality. In addition, the sample testing process must be carried out carefully and precisely, control results must be optimal, the reagents used must have the appropriate temperature and not expired, and the equipment must be properly maintained and calibrated. Finally, confirmation and reporting of results must be carried out accurately and on time.