Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Community Empowerment Journal

Penggunaan elemen fonologi terhadap kemampuan membaca teks dongeng berbahasa Inggris bagi warga belajar PKBM Widiyati, Elok; Mega Mulianing Maharani
Community Empowerment Journal Vol. 3 No. 2 (2025)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v3i2.186

Abstract

Hasil karya warga belajar PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Omah Dongeng berupa dongeng, film pendek, teater, dan puisi yang menorehkan prestasi bergengsi masih menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa Inggris hanya digunakan pada karya lagu dan cerpen. Dengan adanya potensi para warga belajar, penggunaan bahasa Inggris menunjang eksistensi karya di media sosial yang dapat dinikmati kalangan internasional. Pengabdian ini bertujuan untuk mengenalkan elemen fonologi bagi warga belajar Omah Dongeng Marwah Kabupaten Kudus sehingga saat menampilkan karya dapat menggunakan bahasa Inggris secara berterima. Metode kegiatan pengabdian ini adalah membaca teks dongeng berbahasa Inggris yang membantu pengucapan warga belajar secara tepat. Terdapat 11 warga belajar dalam dengan rentang usia 12-18 tahun dan jenjang pendidikan mulai  kelas 7 sampai kelas 11. Tahapan kegiatan antara lain mempresentasikan materi, memberi kesempatan warga belajar menirukan bunyi  sesuai elemen fonologi, kemudian warga belajar berkelompok mempersiapkan penampilan membaca dongeng berbahasa Inggris. Stimulasi berbahasa Inggris melalui teks dongeng mengasah kemampuan mendengar dan membaca warga belajar. Lima warga belajar termasuk ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) dengan tiga diantaranya adalah slow learners mendapat pengalaman yang mengasyikkan dengan membaca teks dongeng dan mempraktekkan fonologi lebih percaya diri dengan membaca nyaring dan artikulasi lebih jelas sesuai instruksi kegiatan. The students’ works of Community Learning Activity Center (PKBM) Omah Dongeng through fairy tales, short films, theater, and poems that had succeeded achieving prestigious achievements used Indonesian. Reflecting the students’ potential, the use of English greatly supported the existence of the works on social media that could be enjoyed by international community. This was proven by the use of English as the language in their songs. This service activity aimed to introduce the phonological elements to the students of Omah Dongeng Marwah Kabupaten Kudus so that while they would be presenting their works they could use English communicatively. The method provided in this activity was reading fairy tale texts which was expected to help the students’ correct pronounciation. There were 11 students participating through the sequences of activity with their age ranged12-18 years with the levels ranged from grade 7 to grade 11. The stages of this service activity were presenting the materials, giving the students opportunity to imitate sounds according to phonological elements, then they prepared a performance to read English fairy tales in groups. English stimulation through fairy tale texts developed the students' listening and reading skills. There were five students with special needs and three of them were slow learners. They had an exciting experience in reading fairy tale texts and practicing phonology. During the service activity they were more confident in reading aloud and had clearer articulation according to the instructions.
Pemberdayaan desa melalui pendidikan berbasis sekolah dan masyarakat Widiyati, Elok; Nani Hidayati
Community Empowerment Journal Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : CV. Yudhistt Fateeh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61251/cej.v4i1.363

Abstract

Pendidikan nonformal menopang keberhasilan pemberdayaan desa. Perangkat desa dan guru sangat berperan terhadap potensi desa tetapi belum berpartisipasi secara proporsional. Pengabdian ini bertujuan memetakan permasalahan, menggali potensi, serta menyusun program di Desa Ngrawan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Metode dalam kegiatan ini adalah sosialisasi dan pendampingan. Terdapat 20 peserta pengabdian dari pihak perangkat desa dan guru setempat. Tiga masalah yang ditemukan yaitu: pembelajaran keagamaan yang kurang, rendahnya motivasi untuk melanjutkan pendidikan, serta pernikahan dini. Program yang dipetakan yakni keagamaan dan pendidikan. Program pembinaan keagamaan berupa: tilawah, tahfidul Quran, bimbingan sholat, siroh, dan kultum yang membangun Islamic character building. Program pembinaan pendidikan meliputi: kursus bahasa Inggris, literasi digital, kunjungan edukatif, dan tamu praktisi. Pada permasalahan ketiga, tokoh masyarakat dengan tim pengabdian melaksanakan sosialisasi pencegahan pernikahan dini. Dengan langkah tersebut kegiatan pengabdian memberi dampak nyata bagi warga desa khususnya 80% remaja usia produktif sebesar berpartisipasi dalam program keagamaan dan pendidikan.   Non-formal education supported the success of village empowerment. Village staffs and teachers played a significant role for village potential but they did not participate actively. This community service program aims to group the problems, to explore the potential, and to develop the programs in Ngrawan, Getasan, Semarang Regency. The methods used in this activity were socialization and mentoring. There were 20 participants in this activity consisted of village staffs and teachers. Three problems were identified: inadequate religious education, low motivation in continuing education, and early marriage. The programs generated were religious and educational settings. Religious development programs included: recitation of the Koran, Quran memorization, prayer guidance, siroh, and sermons that foster Islamic character building. Educational development programs provided: English courses, digital literacy, educational visit, and practitioner visit. Regarding to the third problem, community leaders and the community service team conducted activities to prevent early marriage. With these sequential steps, the community service activities had a real impact on villagers, especially for 80% productive-age youth took part in religious and educational programs.