Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PENERAPAN KEBIJAKAN RESENTRALISASI PERIZINAN ORGANISASI KEMASYARAKATAN DI KOTA DEPOK PROVINSI JAWA BARAT Mohammad Rifa'i; Kurnia Fitria Pamungky
J-3P (Jurnal Pembangunan Pemberdayaan Pemerintahan) J-3P (Jurnal Pembangunan Pemberdayaan Pemerintahan) Vol. 4, No. 1, Juni 2019
Publisher : ipdn

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.368 KB) | DOI: 10.33701/j-3p.v4i1.845

Abstract

Implementation of the Licensing Policy for Community Licensing in Depok City, West Java Province. This study aims to determine the extent of the application of policies on community organizations in the city of Depok. The Central Government takes a quick step by issuing Perppu Number: 2 of 2017 as a change to Law Number 17 of 2013 concerning Community Organizations. This policy is to anticipate the turmoil in the wider community, including what happened in Depok, so that with all the authority and tools available, the Government will immediately try to implement the Substitution Regulations for the Act. The method used is descriptive qualitative method with an inductive approach. The purpose of the use of the inductive approach is to explore the facts in the field related to the centralization of licensing organizations in the city of Depok and describe them systematically and factually to draw conclusions. In this study the authors used data sources from interviews as primary data. Meanwhile, the source of data from document tracking is secondary data. Thus, the data collection techniques used by the author are techniques: interview and documentation. The results show that the implementation of the Centralization Policy for Licensing Community Organizations in Depok City is not yet optimal. This can be seen from the performance and policy strategies of the Depok National Unity and Politics which still face obstacles related to the socialization, coordination and supervision of the registration of community organizations due to the existence of the decentralization policy. Keywords: policy; decentralization; community organization
PEMBERDAYAAN KELOMPOK NELAYAN MELALUI PROGRAM SENTRA KELAUTAN DAN PERIKANAN TERPADU DI DESA DALUM KECAMATAN SALIBABU KABUPATEN KEPULAUAN TALAUD Juliati Prihatini; Preisy Celin Elungan; M. Rifai
J-3P (Jurnal Pembangunan Pemberdayaan Pemerintahan) J3P (Jurnal Pembangunan Pemberdayaan Pemerintahan) Vol. 7, No. 1, Juni 2022
Publisher : ipdn

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33701/j-3p.v7i1.2489

Abstract

Dalum Village is one of the villages in the Talaud Islands Regency with its residents mostly living as fishermen, however, fishermen in Dalum Village are fishermen who are not fully empowered or have not been developed even though the government through the Fisheries Service of the Talaud Islands Regency has empowered fishermen groups in Dalum Village through the Integrated Marine and Fisheries Center Program. This study aims to describe and analyze the empowerment of fishermen groups through the Integrated Marine and Fisheries Center Program, inhibiting factors and supporting factors for the implementation of empowerment and efforts made in overcoming inhibiting factors. The design of this study is descriptive qualitative with an inductive approach. Data collection techniques are carried out through interviews, observations and documentation. Data analysis techniques are carried out by data reduction, data presentation and drawing conclusions. The results showed that the Empowerment of Fishermen Groups through the Integrated Marine and Fisheries Center Program in Dalum Village, Salibabu District, Talaud Islands Regency, Fishermen Group Study at the Teluk Lawasan Indah Cooperative conducted by the Fisheries Service of the Talaud Islands Regency was carried out with four indicators, namely human development, business development, environmental development and institutional development. Through these four indicators, the empowerment process has been running, but there are still many shortcomings that are obstacles in the implementation of empowerment such as: the low level of education of fishermen groups related to the technology used, the facilities and infrastructure used by fishermen groups are still simple, the dependence of fishermen groups on assistance provided by the government, and the lack of sufficient availability of electricity in the Island Regency area Talaud. Keywords: Fishing Group, Empowerment, Integrated Marine and Fisheries Center Program
PEMBERDAYAAN KELOMPOK BUDIDAYA IKAN PATIN OLEH DINAS PERIKANAN DI DESA BAPEANG KECAMATAN MENTAWABARU KETAPANG KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR PROVINSI KALIMANTAN TENGAH Juliati Prihatini; Ahmat Bukori; M. Rifai
J-3P (Jurnal Pembangunan Pemberdayaan Pemerintahan) J3P (Jurnal Pembangunan Pemberdayaan Pemerintahan) Vol. 7, No. 2, November 2022
Publisher : ipdn

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33701/j-3p.v7i2.2813

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis pemberdayaan kelompok budidaya ikan patin, untuk mengetahui faktor pendukung dan faktor penghambat, serta upaya yang dilakukan untuk mengatasi faktor penghambat tersebut. Desa Bapeang merupakan pusat kawasan pengembangan budidaya ikan patin yang ada di Kabupaten Kotawaringin Timur. Banyaknya kolam-kolam tanah yang ada dari hasil penggalian tanah untuk pembuatan batu bata, memiliki potensi untuk dikembangkan dan dimanfaatkan dalam bidang perikanan guna meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Tetapi potensi perikanan yang dimiliki belum dimanfaatkan secara maksimal. Desain penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan induktif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Kemudian teknik analisis data dilakukan melalui mereduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa upaya yang dilakukan oleh Dinas Perikanan Kabupaten Kotawaringin dilaksanakan dengan empat indikator yaitu bina manusia, bina usaha, bina lingkungan dan bina kelembagaan. Namun dalam pelaksanaan terkait pemberdayaan belum berjalan secara maksimal, hal ini karena terdapat faktor penghambat dalam pelaksanaan pemberdayaan antara lain kurangnya partisipasi aktif anggota kelompok, kurangnya keahlian tentang budidaya ikan patin, masalah curah hujan yang tinggi, banyaknya hama dan penyakit, ketergantungan dengan pakan pabrik, serta kurangnya permodalan. Kata kunci : Pemberdayaan, Budidaya ikan patin, Komunitas
Model Inovasi Pelayanan Publik di Kabupaten Sragen Provinsi Jawa Tengah Khasan Efendi; Tumija Tumija; Nur Handayani; Mohammad Rifai
Jurnal Media Birokrasi Jurnal Media Birokrasi, Vol. 4 No. 1, April 2022
Publisher : PRODI ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DAERAH FAKULTAS MANAJEMEN PEMERINTAHAN IPDN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33701/jmb.v4i1.2327

Abstract

Tujuan penelitian ini mengetahui jenis inovasi pelayanan publik melalui model inovasi pelayanan publik dalam bentuk Mal Pelayanan Publik (MPP) dan peran Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Sragen. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi (pengamatan), interview (wawancara), dan dokumentasi dengan jumlah informan enam orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis inovasi pelayanan publik melelui model inovasi pelayanan dalam bentuk Mal Pelayanan Publik (MPP) yaitu Inovasi produk layanan, inovasi proses layanan, inovasi system layanan, inovasi kebijakan dan metode pelayanan yang diperoleh masyarakat dari pemerintah, BUMN, BUMD dan swasta dapat diperoleh dalam satu pintu untuk semua jenis pelayanan publik, baik melalui OSS (49 jenis pelayanan) maupun melalui Si Pioner (44 jenis pelayanan). Peran Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) untuk mewujudkan Mall Pelayanan Publik di Kabupaten Sragen cukup baik. Namun masih terkendala pada kebijakan refocusing anggaran akibat wabah pandemi covid-19, sehingga harus merescedule kembali pembangunanya dan menyesuaikan kemampuan keuangan daerah yang berakibat pada target waktu yang ditetapkan sebelumnya tidak tercapai.Kata Kunci: model, inovasi, pelayanan publik
Penguatan Fungsi dan Peran Pengawasan oleh Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) di Kecamatan Jatiwangi Majalengka Sholihah, Lilis; Sinaga, Jona Bungaran Basuki; Rifa’i, Muhamad; Ginting, Arwanto Harimas
Civitas Consecratio: Journal of Community Service and Empowerment Vol 4 No 2 (2024)
Publisher : Lembaga Pengabdian Masyarakat Institut Pemerintahan Dalam Negeri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33701/cc.v4i2.3843

Abstract

The Village Consultative Body, as a community representative institution, has an important role and strategic function in fighting for public interests. This is done through supervision of the village government as well as providing input and criticism to produce quality village policies, encourage equitable development, and ensure effective government management. However, in carrying out supervision, some BPD members do not fully understand the mechanisms and techniques for implementing supervision through social accountability. The aim of this activity is to provide knowledge about the duties and functions of BPD as well as the concept of social accountability associated with these duties and functions. The location of the activity is in Jatiwangi District, Majalengka Regency. The activity was carried out by presenting the duties and functions of BPD based on theoretical, normative and empirical reviews by the PkM Lecturer Team and Praja Pratama. Next, there was a discussion and question and answer session between the PkM Lecturer Team and the audience. It can be concluded that the BPD has carried out its functions and duties, such as exploring, collecting and channeling community aspirations, holding deliberations, monitoring the performance of the village head and collaborating with the village government. However, it is not yet optimal in terms of structured administration and bookkeeping. This has the impact of not conveying findings of abuse of authority to higher government authorities. The BPD in Jatiwangi District should begin to administer and record their activities, either through formal instruments in accordance with applicable regulations, or through informal records and collaborating in the administration of village government.
PENERAPAN SYARIAT ISLAM TENTANG KHALWAT MELALUI PARTISIPASI MASYARAKAT DI KOTA LHOKSEUMAWE PROVINSI ACEH Mohammad Rifa’i; Syafrian; Jojo Juhaeni
VISIONER : Jurnal Pemerintahan Daerah di Indonesia Vol 16 No 2 (2024): Visioner: Jurnal Pemerintahan Daerah di Indonesia
Publisher : Alqaprint Jatinangor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jv.v16i2.1051

Abstract

Penulisan artikel ini untuk menggambarkan penerapan hukum khalwat melalui partisipasi masyarakat dalam penerapan hukum Islam tentang khalwat di Kota Lhokseumawe dan mengetahui kendala dalam penerapan hukum khalwat oleh Dinas Syariat Islam. Metode penelitian yang digunakan Pendekatan penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif, yang merupakan pendekatan proses penelitian dengan beriorientasi pada fenomena atau gejala yang bersifat alami, dan dilakukan langsung turun lapangan. Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui Observasi, Wawancara dan Dokumentasi. Hasil penelitian menggambarkan bahwa penerapan Syariat Islam tentang khalwat sudah berjalan namun belum optimal terkait pelaksanaan tugas dan fungsi Dinas Syariat Islam dan Wilayatul Hisbah dan kurangnya kesadaran dari masyarakat di Kota Lhokseumawe mentaati aturan yang ada di dalam Qanun. Masih tingginya tingkat pelanggaran menunjukkan kurangnya kesadaran masyarakat terhadap aturan hukum khalwat sebagaimana masih belum ada penurunan dari tahun 2021 sampai tahun 2022. Banyaknya kendala dalam penerapan hukum khalwat juga dipengaruhi kurangnya dukungan dari para pejabat, kurangnya sarana dan prasarana, anggaran, dan kompetensi sumber daya manusia juga menjadi kendala dalam penerapan hukum Islam tentang khalwat.
Dampak Pelaksanaan E-Government Terhadap Pelayanan Publik: Studi Kualitatif di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya Santoso, Rengga Yudha; Haromin, Haromin; Rifai, Mohammad; Helwani, Helwani; Amin, Al
Indonesian Research Journal on Education Vol. 5 No. 6 (2025): Irje 2025
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v5i6.3539

Abstract

Transformasi digital pemerintahan melalui e-government telah menjadi strategi utama dalam reformasi birokrasi Indonesia untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas pelayanan publik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak pelaksanaan e-government terhadap kualitas pelayanan publik di Indonesia dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi dari tiga lokasi utama penerapan sistem digital pemerintahan: DKI Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya. Analisis data dilakukan dengan metode analisis tematik berbantuan perangkat lunak NVivo 14. Hasil penelitian menunjukkan bahwa e-government berkontribusi nyata dalam mempercepat proses pelayanan, meningkatkan transparansi informasi, serta memperkuat akuntabilitas aparatur publik. Namun, temuan juga mengungkapkan adanya kesenjangan digital antar wilayah, resistensi birokrasi, dan keterbatasan kapasitas sumber daya manusia yang masih menjadi hambatan utama dalam penerapan sistem digital secara merata. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan e-government tidak hanya ditentukan oleh aspek teknologi, tetapi juga oleh kesiapan sosial, budaya organisasi, dan partisipasi masyarakat. Rekomendasi kebijakan diarahkan pada penguatan kapasitas SDM, peningkatan keamanan data, integrasi sistem antar instansi, serta perluasan inklusivitas digital menuju pelayanan publik yang efektif, adaptif, dan berkelanjutan. Penelitian ini memberikan bukti empiris komparatif dari tiga kota besar di Indonesia dengan tingkat kematangan e-government berbeda, sehingga menghadirkan pemahaman kontekstual tentang dinamika peningkatan pelayanan publik digital di negara berkembang.
Dampak Pengurangan Anggaran Politik terhadap Pengembangan Program Pendidikan Politikal Bikah Kusti Noviani; Arfin, Samsul; Rifa'i, Mohammad
Jurnal Ilmiah Edukatif Vol. 11 No. 1 (2025): Juni
Publisher : FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM SULTAN MUHAMMAD SYAFIUDDIN SAMBAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jie.v11i1.3730

Abstract

Pengurangan anggaran politik berdampak signifikan pada pengembangan program pendidikan politik. Dampak langsungnya termasuk berkurangnya jumlah dan kualitas pelatihan serta materi edukasi politik yang tersedia, yang mengakibatkan penurunan kualitas program tersebut. Selain itu, kekurangan anggaran juga mempengaruhi partisipasi politik masyarakat, terutama generasi muda, yang menjadi kurang terinformasi dan terlibat dalam proses politik. Lebih jauh lagi, pengurangan ini dapat menghambat terbentuknya pemimpin politik masa depan yang kompeten dan berpengalaman, sehingga berpotensi merugikan kehidupan politik negara dalam jangka panjang. Oleh karena itu, penting bagi pengambil kebijakan untuk mencari solusi agar pendidikan politik tetap dapat berjalan optimal meski anggaran terbatas.