Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Jurnal Studi Islam

HAID DALAM PERSPEKTIF ISLAM DAN SAINS: Studi tentang Haid Tidak Teratur Pengguna Kontrasepsi Muttaqin, Khairul
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v6i2.2415

Abstract

Nowadays, there are several contraceptives, such as oral contraceptive pill, contraceptive injection, implants, spiral or IUD (intra uterine device), and IUS (intra uterine system). Some of those have side effects on the irregularity of menstrual period, such as swift menstruation, shorter menstrual period, and longer menstrual period. This issue confuses the concept of Islamic jurisprudence that the maximum menstrual period is fifteen days, whereas it can be more than fifteen days when using contraceptives. This article used library research to analyze menstrual period irregularity as a consequence of contraseptives use based on Islamic and medical literature. This study succesfully revealed that al-Qur’an, hadith, and medical books do not determine the longest menstrual period. Thus, the blood status of women who get menstruation more than fifteen days due to contraceptives use is still menstruation category.[Saat ini, terdapat beberapa alat penunda kehamilan, seperti KB pil, KB suntik, susuk atau implan, spiral atau IUD (intra uterine device), dan IUS (intra uterine system). Sebagian alat ini berefek samping terhadap ketidakteraturan masa haid perempuan; haid bisa keluar secara deras, masa haid lebih singkat, haid bisa keluar lebih lama dari kebiasaan. Problem ini mengacaukan konsep fikih bahwa masa haid perempuan paling lama adalah 15 hari, padahal masa haid bisa lebih dari 15 hari bila menggunakan alat penunda kehamilan. Dengan kajian pustaka, artikel ini menganalisis masa haid yang tidak teratur akibat penggunaan alat penunda kehamilan berdasarkan teks-teks dasar Islam dan medis. Artikel ini berhasil mengungkap bahwa al-Qur’an, hadis, dan medis tidak menentukan masa haid terlama, sehingga status darah yang keluar dari perempuan yang haid lebih dari 15 hari akibat penggunaan alat kontrasepsi adalah haid]
HAID DALAM PERSPEKTIF ISLAM DAN SAINS: Studi tentang Haid Tidak Teratur Pengguna Kontrasepsi Khairul Muttaqin
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 6 No. 2 (2019)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v6i2.2415

Abstract

Nowadays, there are several contraceptives, such as oral contraceptive pill, contraceptive injection, implants, spiral or IUD (intra uterine device), and IUS (intra uterine system). Some of those have side effects on the irregularity of menstrual period, such as swift menstruation, shorter menstrual period, and longer menstrual period. This issue confuses the concept of Islamic jurisprudence that the maximum menstrual period is fifteen days, whereas it can be more than fifteen days when using contraceptives. This article used library research to analyze menstrual period irregularity as a consequence of contraseptives use based on Islamic and medical literature. This study succesfully revealed that al-Qur’an, hadith, and medical books do not determine the longest menstrual period. Thus, the blood status of women who get menstruation more than fifteen days due to contraceptives use is still menstruation category.[Saat ini, terdapat beberapa alat penunda kehamilan, seperti KB pil, KB suntik, susuk atau implan, spiral atau IUD (intra uterine device), dan IUS (intra uterine system). Sebagian alat ini berefek samping terhadap ketidakteraturan masa haid perempuan; haid bisa keluar secara deras, masa haid lebih singkat, haid bisa keluar lebih lama dari kebiasaan. Problem ini mengacaukan konsep fikih bahwa masa haid perempuan paling lama adalah 15 hari, padahal masa haid bisa lebih dari 15 hari bila menggunakan alat penunda kehamilan. Dengan kajian pustaka, artikel ini menganalisis masa haid yang tidak teratur akibat penggunaan alat penunda kehamilan berdasarkan teks-teks dasar Islam dan medis. Artikel ini berhasil mengungkap bahwa al-Qur’an, hadis, dan medis tidak menentukan masa haid terlama, sehingga status darah yang keluar dari perempuan yang haid lebih dari 15 hari akibat penggunaan alat kontrasepsi adalah haid]
MA‘NĀ TAQLĪD "AL-SAKBAH" (TER-ATER) FĪ SYAHR RAMADLĀN BĪ SAMPANG MADURA Arif Wahyudi; Khairul Muttaqin.ilunks@gmail.com
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 8 No. 2 (2021)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v8i2.3701

Abstract

ملخص البحث التقليد في الدراسة الإسلامية يسمى بالعرف، وهو أمر مألوف لبعض الناس لأنه أصبح عادة تتكامل مع حياتهم أقوالا كانت وأفعالا. فالتقليد الذي لا يزال تتطور في مجتمع سامبانج هي عادة “السكبة” (تير أتير-ter-ater)، وهي عادة بسكب (إعطاء) صحن من الطعم والتبادل للجيران والأقارب والأشخاص الأكابر في الأسرة بصورة خاصة. فكل الشهر القمرية، مارس الناس هذه العادة المحلية بأطعمة مختلفة. وفي هذا البحث، ركز الباحثون على بحث الثقافة في منطقة سامبانج (Sampang) لأن هذه المنطقة معروفة بتعصبها في الامور الدينية والتقاليد. كما تم تحديد إجراء هذا البحث في شهر رمضان، لأن في ذلك الشهر لا تزال هذه العادة كثيفًا للغاية من قبل غالبية المجتمع. عند مقدمة البحث، فقد تم تنفيذ هذا التقليد لأجيالهم. هم لا يعرفون متى وجود هذه العادة بالضبط وهذا الذي يدعم الباحثون في بعث هذه العادة. ومن خلال الدراسة الميدانية، تحلل هذه الورقة تطبيق ومعنى عادة السكبة (ter-ater) في منطقة سامبانج. نتجت هذه الورقة، أن اختيار الطعام في عادة السكبة (ter-ater) وفقًا للمجتمع على القدرة الاقتصادية وليس له معنى محدود. أما تحديد الشهر والتاريخ عند بعض الناس للحث على الحصول وبركات رمضان وليلة القدر لأن النبي يتحرى على ليلة القدر في ليالي الوتر من العشر الأواخر من رمضان. ABSTRAK Dalam kajian keislaman, tradisi disebut `urf yaitu sesuatu yang tidak asing bagi masyarakat tertentu karena telah menjadi kebiasaan yang menyatu dengan kehidupan mereka baik berupa perkataan maupun perbuatan. Tradisi yang hingga kini masih berkembang di masyarakat Sampang adalah tradisi ter-ater, yakni tradisi saling hantar makanan ke tetangga, saudara, dan orang-orang yang dituakan dalam keluarga. Bahkan masyarakat melakukan tradisi ini dengan makanan yang berbeda-beda setiap bulan Kamariah. Artikel ini fokus pada budaya ter-ater di Kabupaten Sampang Madura pada bulan Ramadan, karena masyarakatnya fanatik terhadap agama dan tradisi dan pada bulan tersebut tradisi ini masih sering dilakukan. Tradisi ini telah dilakukan turun-temurun yang tidak diketahui awal mula serta alasan di baliknya. Dengan kajian lapangan, artikel ini fokus pada tiga hal yakni: pertama, praktik dan makna ater-ater di bulan Ramadan. Kedua, praktik masyarakat Sampang dalam memburu lailatulkadar. Artikel ini berhasil mengungkap bahwa pemilihan makanan pada tradisi ter-ater menurut masyarakat disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masing-masing dan tidak memilki makna tertentu. Terkait penetuan bulan dan tanggal menurut sebagian masyarakat karena termotivasi keinginan untuk mendapatkan berkah Ramadan serta lailatul kadar karena Nabi menyerukan agar mencari lailatulkadar pada malam-malam ganjil di sepuluh akhir Ramadan.