Kadek Agus Heryana Putra, Kadek Agus
Bagian/SMF Ilmu Anestesi Dan Terapi Intensif RSUP Sanglah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

CASE REPORT : A NON MUSCLE RELAXANT TECHNIQUE FOR A MYASTHENIA GRAVIS PATIENT UNDERGOING VIDEO-ASSISTED THORACOSCOPIC SURGERY Ratumasa, Marilaeta Cindryani Ra ,; Putra, Kadek Agus Heryana; Arisadika, Putu Bagus
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.45656

Abstract

Miastenia gravis (MG) adalah kelainan autoimun kronis langka yang mengganggu transmisi neuromuskular dan ditandai dengan kelemahan otot rangka yang berfluktuasi. Penatalaksanaan anestesi pada pasien dengan MG menghadirkan tantangan yang signifikan, terutama karena sensitivitas mereka yang berubah terhadap agen anestesi dan peningkatan risiko komplikasi pernapasan pascaoperasi. Seorang pria berusia 54 tahun yang didiagnosis dengan MG dijadwalkan menjalani operasi torakoskopi berbantuan video (VATS) untuk membuat jendela perikardial dan mendapatkan biopsi, yang dipicu oleh adanya efusi perikardial melingkar sedang hingga berat. Riwayat medisnya meliputi kesulitan pernapasan dan penyakit paru restriktif, yang memerlukan pendekatan anestesi yang cermat yang menghindari penggunaan agen penghambat neuromuskular untuk mencegah risiko kelumpuhan yang berkepanjangan. Anestesi dipertahankan dengan aman menggunakan kombinasi remifentanil dan propofol, dan isolasi paru-paru dicapai secara efektif dengan pemasangan tabung endotrakeal lumen ganda. Pendekatan ini memungkinkan upaya pernapasan spontan dan kondisi intraoperatif yang stabil. Kasus ini menggambarkan pentingnya perencanaan anestesi individual pada pasien MG, dengan menekankan perlunya menghindari relaksan otot dan mempertahankan fungsi pernapasan, terutama dalam prosedur bedah toraks. Dengan menyesuaikan strategi anestesi dengan pertimbangan patofisiologi spesifik MG, hasil perioperatif yang optimal dapat dicapai pada populasi berisiko tinggi ini.
Successful One-Lung Ventilation with Fogarty Balloon for Thoracotomy Lobectomy in A 5-Year-Old Girl Kurniyanta, I Putu; Putra, Kadek Agus Heryana; Burhan; Sidemen, I Gusti Putu Sukrama
Indonesian Journal of Anesthesiology and Reanimation Vol. 7 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Anesthesiology and Reanimation (IJAR)
Publisher : Faculty of Medicine-Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/ijar.V7I22025.132-139

Abstract

Introduction: Pediatric thoracic surgery, particularly lung resection, has special difficulties due to anatomical and physiological differences compared to adults. One-lung ventilation (OLV) is often necessary to optimize surgical exposure while minimizing lung injury. Traditional methods, like double-lumen endotracheal tubes, can be difficult to use in children due to their smaller airways and the risk of trauma. Thus, alternative approaches, such as bronchial blockers like Fogarty occlusion catheters, have gained prominence. Objective: This case report aims to highlight the use of the Fogarty balloon in a pediatric patient undergoing lobectomy for organized pleural effusion linked to pneumonia. Case Report: A 5-year-old girl with recurrent pneumonia presented with persistent cough, intermittent fever, and respiratory distress. Physical examination revealed decreased breath sounds and mild cyanosis. Imaging confirmed a large organized pleural effusion, suspected to be empyema. The surgical team chose a right thoracotomy lobectomy to remove the affected lung tissue. Preoperative consultations included pediatric surgery, anesthesiology, and respiratory therapy to ensure comprehensive care. A multi-modal pain management strategy, emphasizing regional anesthesia through epidural blocks, was implemented. For OLV, the anesthetic team selected a Fogarty balloon catheter to minimize airway trauma. After intubating with a single-lumen endotracheal tube, the balloon was inserted into the right main bronchus and inflated to occlude it, allowing ventilation of the left lung. Discussion: The Fogarty balloon effectively provided lung isolation while preserving airway integrity, facilitating optimal surgical exposure and stable oxygenation. Continuous monitoring of oxygenation during OLV was crucial for patient safety. Conclusion: The use of a Fogarty balloon for bronchial blockade and epidural anesthesia was successful in this pediatric lobectomy case. These techniques enhanced surgical safety, efficacy, and postoperative recovery, suggesting that there must be ongoing research to establish standardized protocols for pediatric thoracic procedures.
PREOPERATIVE STABILIZATION OF INFANTS BORN WITH CONGENITAL DIAPHRAGMATIC HERNIA : A CASE REPORT Putra, Putu Enggi Pradana; Pradhana, Adinda Putra; Putra, Kadek Agus Heryana
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.49457

Abstract

Hernia diafragma kongenital adalah kelainan bawaan langka, di mana organ perut masuk ke rongga toraks akibat defek pada diafragma. Pada praktik kedokteran saat ini, penundaan operasi hingga stabilisasi kardiorespiratori tercapai terlebih dahulu mulai dipopulerkan. Pasien merupakan neonatus aterm (37–38 minggu) dengan distress napas 10 menit setelah lahir. Skor Apgar 7 dan 6 pada menit ke-1 dan ke-5, tangisan tidak teratur, tubuh kemerahan, dan ekstremitas sianosis. Bunyi peristaltik terdengar di hemitoraks kiri, dan foto toraks menunjukkan hernia diafragma kongenital kiri dengan pergeseran mediastinum. Pasien mendapat ventilasi dengan mode volume control/assist control (VC/AC): fraksi oksigen (FiO₂) 35%, laju napas 40, positive end-expiratory pressure (PEEP) 6, mempertahankan saturasi oksigen perifer (SpO₂) 91–99%. Setelah pasien stabil, dilakukan laparotomi dengan anestesi umum. Premedikasi berupa atropin dan fentanil, induksi dan pemeliharaan menggunakan oksigen, sevofluran, dan udara terkompresi. Analgesia pascaoperasi diberikan fentanil dan parasetamol. Evaluasi pascaoperasi menunjukkan suara napas kiri membaik dan bunyi peristaltik menghilang. Pasien dirawat di NICU selama tiga hari, kemudian lima hari di ruang rawat biasa sebelum pulang. Penundaan operasi memberikan waktu adaptasi terhadap hipoplasia paru dan kontrol hipertensi pulmonal. Mekanisme proteksi paru yang meliputi volume tidal rendah dan hiperkapnia yang ditoleransi penting untuk mengurangi komplikasi. Kasus ini menegaskan pentingnya penundaan operasi hingga setelah stabilisasi pada hernia diafragma kongenital.  
THE COMPARISON OF ATRACURIUM DOSES IN PRODUCING INTUBATION QUALITY, ONSET, DURATION OF MUSCLE RELAXATION IN SURGERIES WITH GENERAL ANESTHESIA Suastika, I Gede Juli; Jeanne, Bianca; Sidemen, IGP Sukrana; Hartawan, IGAG Utara; Senapathi, Tjokorda Gde Agung; Widnyana, I Made Gede; Suarjaya, I Putu Pramana; Dewi, I Dewa Ayu Mas Shintya; Putra, Kadek Agus Heryana; Aryasa EM, Tjahya
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.50077

Abstract

Relaksan otot secara rutin digunakan selama anestesi umum untuk memfasilitasi intubasi endotrakeal dan mempertahankan kondisi kerja bedah yang optimal. Atracurium merupakan alternatif yang banyak digunakan dibandingkan rokuronium dan paling sering digunakan dalam anestesi umum untuk memfasilitasi intubasi endotrakeal serta memberikan relaksasi otot rangka selama ventilasi atau ventilasi mekanis. Pemberian atracurium dalam dosis tinggi yaitu 1 mg/kgBB (4ED95) dibandingkan dengan dosis umum 0,5 mg/kgBB (2ED95) dapat memberikan waktu onset intubasi yang lebih cepat, durasi kerja obat yang lebih lama, kualitas intubasi yang lebih baik, serta kondisi hemodinamik yang cukup stabil. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni yang dilakukan di ruang operasi Bedah Sentral sebuah rumah sakit pendidikan, dimulai pada Juli 2024 hingga jumlah sampel penelitian terpenuhi. Populasi penelitian adalah pasien berusia 18–65 tahun yang akan menjalani operasi elektif dengan anestesi umum menggunakan laringoskopi intubasi endotrakeal. Analisis data dilakukan dengan bantuan SPSS versi 26, termasuk uji normalitas Shapiro-Wilk, uji Chi-square, dan uji berpasangan. Jumlah total subjek dalam penelitian ini adalah 38 pasien ASA I dan ASA II yang menjalani intubasi endotrakeal. Rerata waktu onset obat pada kelompok perlakuan adalah 133,21 ± 7,86 detik dan pada kelompok kontrol adalah 230,05 ± 33,45 detik. Rerata durasi kerja obat pada kelompok kasus adalah 72,95 ± 8,50 menit, sedangkan pada kelompok kontrol adalah 34,00 ± 5,42 menit. Tidak terdapat perbedaan signifikan pada stabilitas hemodinamik dan denyut nadi selama proses intubasi yang baik pada kedua kelompok. Kualitas intubasi sangat baik ditemukan pada 19 pasien (100%) di kelompok perlakuan dibandingkan dengan 4 pasien (21,1%) di kelompok kontrol.
THE EFFECTIVENESS OF GREATER AURICULAR NERVE (GAN) BLOCK USING ISOBARIC ROPIVACAINE AS AN ANALGESIC ADJUVANT AS COMPARED TO INTRAVENOUS OPIOID AS ANALGESIA FOR MIDDLE EAR SURGERY Tirta, Ian; Widnyana, I Made Gede; Sinardja, Cynthia Dewi; Putra, Kadek Agus Heryana; Parami, Pontisomaya; Suarjaya, I Putu Pramana; Wiryana, Made; Senapathi, Tjokorda Gde Agung
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.27255

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas Blok Saraf Aurikular Besar menggunakan ropivakain isobarik terhadap jumlah penggunaan opioid selama dan setelah operasi, penilaian hemodinamik, intensitas nyeri, dan penilaian respons mual dan muntah post-operatif. Jenis penelitian ini adalah eksperimental murni (eksperimental sejati). Desain penelitian yang digunakan adalah uji acak terkontrol buta tunggal (RCT). Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 48 pasien berusia di atas 18 tahun hingga 65 tahun yang menjalani operasi telinga bagian tengah-bagian dalam di Rumah Sakit Prof IGNG Ngoerah, Denpasar. Analisis data dilakukan menggunakan SPSS versi 26 untuk uji t-tidak tergantung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fentanyl P1 adalah 77,08 ± 32,90 mg dan P0 adalah 97,92 ± 37,53 mg, p = 0,003. Kebutuhan morfin ditemukan dalam 3 jam, P1 adalah 0,58 ± 0,77 mg dan P0 ditemukan menjadi 1,04 ± 0,69 mg, p < 0,001. Kebutuhan morfin 6 P1 adalah 0,79 ± 0,72 mg dan P0 ditemukan menjadi 2,63 ± 1,27 mg, p < 0,001. Kebutuhan morfin selama 24 jam P1 adalah 1,50 ± 1,14 mg dan P0 ditemukan menjadi 3,92 ± 1,66 mg, p < 0,001. Intensitas nyeri ditemukan lebih rendah pada 3, 6, 12, 18, dan 24 jam pada P1 (p <0,05). Perbaikan hemodinamik > 20% pada P0 ditemukan pada 15, 30, 60, dan 120 menit, sedangkan kelompok P1 ditemukan stabil (p <0,001). Skor mual dan muntah selama 24 jam P1 adalah 1,92 ± 1,01 dan P0 adalah 2,75 ± 1,03, p = 0,007.
COMPARISON OF SEVOFLURANE WITH PROPOFOL ON THE INCIDENCE OF EMERGENCE AGITATION AFTER GENERAL ANAESTHESIA IN PAEDIATRIC PATIENTS UNDERGOING LAPARATOMY SURGERY AT RSUP PROF. DR. I. G. N. G. NGOERAH Giovanni, Malvin; Suarjaya, I Putu Pramana; Kurniyanta, I Putu; Wiryana, Made; Senapathi, Tjokorda Gde Agung; Suranadi , I Wayan; Widyana, I Made Gede; Putra, Kadek Agus Heryana
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.27269

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa perbandingan antara penggunaan sevofluran dan propofol sebagai obat pemeliharaan anestesi dapat mengurangi insiden AK pada pasien pediatrik yang menjalani operasi laparotomi di RS PROF. Dr. I.G.N.G. Ngoerah. Penelitian ini adalah studi kohort prospektif yang dilakukan pada 84 pasien berusia 3-12 tahun dengan ASA I-II yang menjalani operasi laparotomi. Semua pasien dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang menerima pemeliharaan anestesi dengan sevofluran dan kelompok yang menerima pemeliharaan anestesi dengan propofol. Setelah anestesi dari awal ekstubasi hingga 1 jam di ruang pemulihan, pasien diperiksa dan dicatat apakah terjadi AK menggunakan Pediatric Anesthesia Emergence Delirium (PAED) dan tingkat keparahannya. Jika skornya > 12, pasien diindikasikan mengalami AK. Hasil penelitian menunjukan bahwa perbandingan penggunaan obat pemeliharaan anestesi menggunakan propofol dan sevofluran terhadap insiden AK dan ditemukan bahwa 21,4% dari kelompok yang menggunakan propofol mengalami AK, dan 59,5% dari kelompok yang menggunakan sevofluran mengalami AK, nilai p <0,001 dengan OR 5,392; 95% CI [2.06 - 14.09]. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa semakin muda usia meningkatkan risiko insiden AK dibandingkan dengan anak-anak yang lebih tua. Propofol secara signifikan mengurangi insiden Agitasi Kebangkitan (AK) dibandingkan dengan sevofluran pada pasien pediatrik yang menjalani operasi laparotomi di RS PROF. Dr. I. G. N. G. Ngoerah.
Optimizing Anesthesia for a Pediatric Patient with Cyanotic Heart Disease: Pulmonary Atresia with MAPCAs Putra, Kadek Agus Heryana; Kurniyanta, I Putu; Subagiartha, I Made; Akbar, Lalu Reza Aldira
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i2.57739

Abstract

Pulmonary atresia with major aortopulmonary collateral arteries (MAPCAs) is a rare and complex congenital heart anomaly marked by the absence of a direct connection between the right ventricle and the pulmonary arteries. The pulmonary blood supply originates via collateral arteries that arise from the aorta. Pulmonary atresia with major aortopulmonary collateral arteries (MAPCAs) poses considerable difficulties in perioperative management, especially during general anesthesia for dental procedures in pediatric patients. This case report details the anesthetic management of a 5-year-old male with pulmonary atresia and MAPCAs undergoing dental extractions under general anesthesia. The anesthetic plan prioritized maintaining systemic blood pressure to ensure pulmonary perfusion, avoiding increases in pulmonary vascular resistance, and preventing myocardial depression. Anesthesia was induced with ketamine and fentanyl, while maintenance was achieved using sevoflurane and dexmedetomidine, with pressure-controlled ventilation to optimize hemodynamics. Postoperative recovery was uneventful, with the patient monitored in the pediatric intensive care unit. The management of patients with pulmonary atresia and MAPCAs requires careful planning and a multidisciplinary approach. A tailored anesthetic strategy emphasizing hemodynamic stability and oxygenation is critical. This report underscores the importance of understanding the pathophysiology of MAPCAs to optimize perioperative outcomes.