Anak Ayu Sri Wahyuni, Anak Ayu Sri
Bagian/SMF Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Denpasar

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

English THE CORRELATION BETWEEN MARRIAGE AND DEMENTIA IN ELDERLY AT THE WREDA SEJAHTERA ASSOCIATION (PWS) IN DENPASAR CITY Suryananda, Amanda Raissa; Diniari, Ni Ketut Sri; Wahyuni, Anak Ayu Sri; Lesmana, Cokorda Bagus Jaya
E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 07 (2024): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2024.V13.i07.P14

Abstract

ABSTRACT Elderly individuals are considered more vulnerable to experiencing dementia due to the various changes they undergo in life, one of which is marriage. Certain marriage status may have a higher likelihood and risk of being associated with dementia. This research aims to provide a description of characteristics and identify the relationship between marriage and dementia among elderly at the Wreda Sejahtera Association (PWS) in Denpasar. This study employed a cross-sectional analytic design. Data were collected through face-to-face interviews and with MoCA-INA to evaluate characteristics and incidence of dementia among 88 elderly. Data were then analyzed using univariate and bivariate, and multivariate analysis. Of the 88 elderly, 9.1% had dementia where the majority were not with a partner (widow/widower). There was an association between dementia with marital status (p=0.000) and education (p=0.034). The risk of elderly with dementia is three times higher in widows/widowers than those who are still with their spouses. Odd ratio (OR) of elderly widow/widower was 30.608 (95%CI= 2.451-38.264). Marital status and age are risk factors contributing to the occurrence of dementia. Being unmarried or widowed/divorced can increase the likelihood of experiencing dementia, with this likelihood increasing as age advances. Preventive measures of dementia should be done as early as possible for divorced or unmarried people. Keywords : Dementia, Elderly, Marriage
HUBUNGAN ANTARA GANGGUAN STRES PASKA TRAUMA DENGAN KUALITAS HIDUP PADA TENAGA KESEHATAN PENYINTAS COVID-19 DI RSUP PROF. DR. I G.N.G. NGOERAH DAMARNEGARA, ANAK AGUNG NGURAH ANDIKA; ARIANI, NI KETUT PUTRI; LESMANA, COKORDA BAGUS JAYA; PUTRA, I WAYAN GEDE ARTAWAN EKA; ARYANI, LUH NYOMAN ALIT; WAHYUNI, ANAK AYU SRI; KURNIAWAN, LELY SETYAWATI
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4391

Abstract

The COVID-19 pandemic has had a significant impact on the mental health of health workers, including Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), which negatively affects their quality of life. This study aims to determine the prevalence of PTSD, quality of life, and the relationship between PTSD and quality of life in health workers who are COVID-19 survivors at Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah General Hospital. This analytical observational study used a cross-sectional design with the PCL-5 and WHOQOL-BREF questionnaires in 188 health workers from July to October 2022. The results showed a prevalence of PTSD of 10.1%. The overall quality of life was mostly in the good category (62.8%), but there were respondents with very poor (0.5%) and poor (3.2%) quality of life. In the physical health domain, the quality of life was mostly in the moderate category (61.7%), while the psychological, social relationships, and environmental domains showed variations in moderate to good quality of life with several respondents in the very poor category (0.5%). Analysis showed a trend towards worse overall quality of life in subjects with GSPT compared to those without (P<0.002). In conclusion, there is a significant relationship between GSPT and overall quality of life, although it does not apply to each domain of quality of life specifically. GSPT can reduce the overall quality of life of COVID-19 survivor health workers. ABSTRAKPandemi COVID-19 memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan mental tenaga kesehatan, termasuk Gangguan Stres Pasca Trauma (GSPT), yang memengaruhi kualitas hidup mereka secara negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi GSPT, kualitas hidup, serta hubungan antara GSPT dan kualitas hidup pada tenaga kesehatan penyintas COVID-19 di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah. Penelitian observasional analitik ini menggunakan desain potong lintang dengan kuesioner PCL-5 dan WHOQOL-BREF pada 188 tenaga kesehatan dalam periode Juli hingga Oktober 2022. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi GSPT sebesar 10,1%. Kualitas hidup keseluruhan terbanyak berada pada kategori baik (62,8%), tetapi terdapat responden dengan kualitas hidup sangat buruk (0,5%) dan buruk (3,2%). Dalam domain kesehatan fisik, kualitas hidup terbanyak berada pada kategori sedang (61,7%), sedangkan domain psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan menunjukkan variasi kualitas hidup sedang hingga baik dengan beberapa responden pada kategori sangat buruk (0,5%). Analisis menunjukkan kecenderungan kualitas hidup keseluruhan yang lebih buruk pada subjek dengan GSPT dibandingkan yang tidak (P<0,002). Kesimpulan, terdapat hubungan signifikan antara GSPT dan kualitas hidup keseluruhan, meskipun tidak berlaku pada masing-masing domain kualitas hidup secara spesifik. GSPT dapat menurunkan kualitas hidup tenaga kesehatan penyintas COVID-19 secara keseluruhan.
WAHAM SOMATIK : SEBUAH TINJAUAN PUSTAKA WIGUNA, I GUSTI RAI PUTRA; WAHYUNI, ANAK AYU SRI; ADITYA, MIKAEL
Jurnal Hasil Penelitian dan Pengembangan (JHPP) Vol. 1 No. 3 (2023): Juli
Publisher : Perkumpulan Cendekia Muda Kreatif Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61116/jhpp.v1i3.156

Abstract

Waham merupakan keyakinan yang salah berdasarkan interpretasi yang tidak benar dari realitas eksternal meskipun ada bukti sebaliknya. Keyakinan itu tidak sesuai dengan budaya atau subkultur seseorang, dan hampir semua orang tahu itu salah. Prevalensi gangguan waham seumur hidup adalah sekitar 0,2%. Subtipe waham presekutorik adalah yang paling umum dan subtipe somatik sangat jarang. Desain penelitian ini adalah Literature Review atau tinjauan pustaka. Penyebab gangguan waham belum diketahui secara pasti dan gangguan waham somatik cukup sulit dibedakan. Manifestasi klinis waham somatik yang paling umum adalah yang berhubungan dengan infestation (termasuk infestasi parasit); distorsi bentuk, ketiadaan, atau kerusakan bagian tubuh; nyeri dan kelemahan tubuh; atau kehilangan identitas di mana suatu bagian tubuh tampak terpisah atau asing. Pasien sangat yakin akan keparahan gejalanya.. Perlu dilakukannya pendekatan lebih pada pangobatan waham somatik, dapat diberikan antipsikotik dan SSRI. Kesan klinis menunjukkan bahwa prognosis gangguan waham buruk. Pada beberapa pasien, pengobatan dapat dikurangi atau dihentikan tanpa efek buruk, sementara pada pasien lain waham kambuh dengan cepat setelah penghentian, dan pengobatan harus dipertahankan untuk waktu yang lama.
“SEARCH FOR NMDAR-A” DALAM DIAGNOSIS PSIKOTIK AUTOIMUN: SERIAL KASUS ENSEFALITIS NMDAR Kosim, Hartono; Surya, Michael; Wahyuni, Anak Ayu Sri
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i2.10391

Abstract

ABSTRACT Anti-NMDAR encephalitis is an autoimmune disorder of the central nervous system that often presents initially with psychiatric symptoms, leading to a high risk of misdiagnosis as functional psychotic disorders. This study aims to evaluate the role of the “Search For NMDAR-A” approach in the early identification of autoimmune psychosis in acute psychotic episodes. The study employed a case series design involving 10 patients collected from November 2023 to June 2024 in the Department of Psychiatry. Evaluation was conducted through clinical psychiatric assessment, longitudinal observation, and cerebrospinal fluid (CSF) examination. Data were analyzed using qualitative descriptive analysis to identify key clinical patterns. The results indicate a dominant combination of symptoms, including sleep disturbances, agitation, and psychosis, with some cases accompanied by catatonia and cognitive impairment. The main finding highlights a consistent pattern of early symptoms accompanied by CSF abnormalities (elevated protein and pleocytosis) as indicators of suspected autoimmune psychosis. The “Search For NMDAR-A” approach shows potential as an initial clinical screening tool prior to definitive antibody testing. Conclusion: This approach is effective in enhancing clinicians’ awareness for the early detection of autoimmune psychosis. The novelty of this study lies in the systematic application of a mnemonic approach within psychiatric clinical practice. ABSTRAK Ensefalitis anti-NMDAR merupakan gangguan autoimun sistem saraf pusat yang sering diawali gejala psikiatri sehingga berisiko tinggi disalahdiagnosis sebagai gangguan psikotik fungsional. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi peran pendekatan “Search For NMDAR-A” dalam identifikasi dini psikosis autoimun pada episode psikotik akut. Desain penelitian berupa serial kasus terhadap 10 pasien yang dikumpulkan pada November 2023–Juni 2024 di Departemen Psikiatri. Evaluasi dilakukan melalui asesmen klinis, observasi longitudinal, dan pemeriksaan cairan serebrospinal (CSF). Data dianalisis secara deskriptif kualitatif untuk mengidentifikasi pola klinis utama. Hasil menunjukkan kombinasi gejala dominan berupa gangguan tidur, agitasi, dan psikosis, dengan sebagian kasus disertai katatonia dan gangguan kognitif. Temuan utama adalah konsistensi pola gejala awal yang disertai abnormalitas CSF (peningkatan protein dan pleositosis) sebagai indikator kecurigaan psikosis autoimun. Pendekatan “Search For NMDAR-A” berpotensi sebagai alat skrining awal sebelum uji antibodi definitif. Simpulan: Pendekatan ini efektif meningkatkan kewaspadaan klinisi dalam deteksi dini psikosis autoimun. Kebaruan penelitian terletak pada penerapan sistematis mnemonic dalam praktik psikiatri.
EPISODE DEPRESI SEDANG DENGAN TREMOR FUNGSIONAL: LAPORAN KASUS DENGAN PENDEKATAN NEUROPSIKIATRI Anindya, Anindya; Wahyuni, Anak Ayu Sri; Trisnawati GS, Sri Yenni; Mahardika, I Komang Ana
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.9671

Abstract

ABSTRACT Functional tremor is a form of Functional Neurological Disorder that often presents diagnostic challenges because it is not accompanied by clear structural or neurophysiological abnormalities. This condition is frequently associated with affective disorders, including depression with somatic symptoms, thus requiring an integrative neuropsychiatric approach. The purpose of this case report is to describe a case of functional tremor accompanied by a moderate depressive episode with somatic symptoms and to discuss it within a neuropsychiatric framework. The subject was a 24-year-old man who had experienced progressive tremor since adolescence, which worsened during activity and emotional stress and improved at rest. The patient also reported depressive symptoms including persistent sadness, anergia, sleep disturbances, concentration difficulties, and somatic complaints. Neurological examination revealed an arrhythmic tremor with variable amplitude and frequency that could be suppressed. Supporting examinations, including MRI, MRA, and Electroneuromyography (ENMG), were within normal limits. The management consisted of a combination of antidepressant pharmacotherapy, supportive psychotherapy, education regarding the functional nature of the symptoms, as well as relaxation exercises and stress management techniques. This approach focused on functional recovery, reduction of affective symptoms, and improvement of the patient’s understanding of the relationship between emotional states and motor manifestations. The key finding of this case is that improvement in tremor symptoms occurred in parallel with the improvement of depressive symptoms, supporting the presence of shared neuropsychiatric mechanisms involving emotional regulation, attention, and the perception of motor control. This case implies that an integrative neuropsychiatric approach is essential not only for establishing an accurate diagnosis but also for planning effective, function-oriented management for the patient’s overall recovery. ABSTRAK Tremor fungsional merupakan salah satu bentuk Functional Neurological Disorder yang sering menimbulkan tantangan diagnostik karena tidak disertai kelainan struktural atau neurofisiologis yang jelas. Kondisi ini kerap berasosiasi dengan gangguan afektif, termasuk depresi dengan gejala somatik, sehingga memerlukan pendekatan neuropsikiatri yang integratif. Tujuan laporan kasus ini adalah mendeskripsikan kejadian tremor fungsional yang disertai episode depresi sedang dengan gejala somatik serta membahasnya dalam kerangka pendekatan neuropsikiatri. Subjek penelitian adalah seorang laki-laki berusia 24 tahun dengan keluhan tremor progresif sejak remaja yang memberat saat aktivitas dan kondisi emosional serta membaik saat istirahat. Pasien juga mengalami gejala depresi berupa suasana perasaan sedih, anergia, gangguan tidur, gangguan konsentrasi, dan keluhan somatik. Pemeriksaan neurologis menunjukkan tremor aritmik dengan amplitudo dan frekuensi bervariasi serta dapat disupresi. Pemeriksaan penunjang, termasuk MRI, MRA, dan Electroneuromyography (ENMG), menunjukkan hasil dalam batas normal. Tatalaksana yang diberikan meliputi kombinasi farmakoterapi antidepresan, psikoterapi suportif, edukasi mengenai sifat fungsional gejala, serta latihan relaksasi dan manajemen stres. Pendekatan ini difokuskan pada pemulihan fungsi, pengurangan gejala afektif, serta peningkatan pemahaman pasien terhadap hubungan antara kondisi emosional dan manifestasi motorik. Temuan penting dari kasus ini menunjukkan bahwa perbaikan gejala tremor berjalan seiring dengan perbaikan kondisi depresi, menguatkan adanya keterkaitan mekanisme neuropsikiatri antara regulasi emosi, atensi, dan persepsi kendali gerakan. Kasus ini memberikan implikasi bahwa pendekatan neuropsikiatri yang integratif tidak hanya membantu dalam penegakan diagnosis yang tepat, tetapi juga efektif dalam perencanaan tatalaksana yang berorientasi pada pemulihan fungsi pasien secara menyeluruh.
PENDEKATAN PSIKIATRI KOMUNITAS PADA ORANG DENGAN HIV DAN POPULASI KUNCI MELALUI YAYASAN INSET DI KOTA MATARAM, NUSA TENGGARA BARAT Yuanita, Savitri; Lesmana, Cokorda Bagus Jaya; Ariani, Ni Ketut Putri; Wardani, Ida Aju Kusuma; Wahyuni, Anak Ayu Sri; Afrian, Himawan; Mahardika, I Komang Ana
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.9215

Abstract

ABSTRACT People living with HIV (PLHIV) and key populations are at high risk of mental health problems due to persistent stigma, discrimination, and psychosocial stress. Limited availability of community-based mental health services highlights the need to integrate a community psychiatry approach into HIV care. This community service program aimed to identify mental health issues among PLHIV, key populations, and HIV service providers, as well as to implement community-based mental health interventions through Yayasan INSET in Mataram City, West Nusa Tenggara. The program was conducted in June 2025 using a community psychiatry approach. Interventions included mental health screening of service providers using the Depression Anxiety Stress Scales-42 (DASS-42), self-care classes, basic counseling training for peer supporters, and mental health education and consultation integrated with Mobile Voluntary Counselling and Testing (VCT) services. The results showed that most service providers were in a normal psychological condition, with some experiencing symptoms ranging from mild to severe, and there was an improvement in mental health literacy, coping capacity, and psychosocial support skills following the intervention. The integration of mental health services with Mobile VCT also expanded service coverage and enhanced community acceptance. This approach proved effective in supporting the mental health of PLHIV, key populations, and HIV service personnel, and shows potential for replication in similar settings. ABSTRAK Orang dengan HIV (ODHIV) dan populasi kunci berisiko tinggi mengalami gangguan kesehatan mental akibat stigma, diskriminasi, dan tekanan psikososial yang berkelanjutan. Keterbatasan layanan kesehatan jiwa berbasis komunitas menegaskan perlunya integrasi pendekatan psikiatri komunitas dalam layanan HIV. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan menggambarkan permasalahan kesehatan mental pada ODHIV, populasi kunci, dan petugas layanan HIV, serta pelaksanaan intervensi kesehatan jiwa berbasis komunitas melalui Yayasan INSET di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Kegiatan dilaksanakan pada Juni 2025 dengan pendekatan psikiatri komunitas. Intervensi meliputi skrining kesehatan mental petugas menggunakan Depression Anxiety Stress Scales-42 (DASS-42), kelas self-care, pelatihan konseling dasar bagi pendukung sebaya, serta edukasi dan konsultasi kesehatan jiwa yang terintegrasi dengan layanan Mobile Voluntary Counselling and Testing (VCT). Hasil menunjukkan sebagian besar petugas berada pada kondisi psikologis normal dengan variasi gejala dari ringan hingga berat, serta terjadi peningkatan literasi kesehatan mental, kapasitas coping, dan keterampilan dukungan psikososial setelah intervensi. Integrasi layanan kesehatan jiwa dengan Mobile VCT juga memperluas jangkauan layanan dan meningkatkan penerimaan komunitas. Pendekatan ini efektif dalam mendukung kesehatan mental ODHIV, populasi kunci, dan tenaga pendukung layanan HIV serta berpotensi direplikasi di wilayah dengan karakteristik serupa.