Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

POROSITAS DAN KADAR AIR TERSEDIA TANAH DI BAWAH TEGAKAN JATI Lutfiana, Lucky; Mowidu, Ita; Dewi HS, Endang Sri
Agropet Vol 21, No 2 (2024): Volume 21 No 2 Tahun 2024
Publisher : Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71127/2828-9250.648

Abstract

ABSTRAK: Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakteristik porositas dan Kadar Air tersedia di bawah tegakan tanaman jati di kelurahan Lawanga Tawongan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif.  Sampel tanah utuh dan tidak utuh diambil di bawah tegakan pohon jati di kelurahan Lawanga Tawongan untuk dianalisis sifat fisiknya. Hasil analisis menunjukkan bahwa tanah di bawah tegakan pohon jati di Kelurahan Lawanga Tawongan memiliki rata-rata porositas tanah 55,86%, kadar air tanah jenuh 92,46%, kadar air tanah kapasitas lapangan 85,42%, kadar air tanah titiklayu permanen 13,29% dan kadar air tersedia 72,13% Strategi yang harus diperhatikan dibuat saluran drainase permukaan pada bentang lahan yang datar untuk menghindari terjadinya genangan jika curah hujan tinggi Di Kelurahan Lawanga Tawongan. ABSTRACT: The research aims to find out the physical characteristics of the soil under a stand of teak plants in Lawanga Tawongan village. The research method uses descriptive methods. Whole and incomplete soil samples taken under a teak tree in the Lawanga Tawongan village for analyzed its physical properties. The analysis results show that the soil under the Teak tree in Lawanga Tawongan Village have an average BV soil 1.09 g/cm3, BJ soil 2.49 g/cm3, soil porosity 55.86%, water content saturated soil 92.46%, soil water content field  capacity  85.42%,  water  content  permanent  point  wilt  soil 13.29%, available water content 72.13% and pores drainage 7.05%. The strategy that must be considered is making drainage channels surface on a flat landscape to avoid these happening puddles if rainfall is high in Lawanga Tawongan Village. 
Rekayasa Lingkungan Perakaran Melalui Sistem Rorak untuk Meningkatkan Serapan Hara pada Tanaman Kakao Mowidu, Ita; HS, Endang Sri Dewi
Agropet Vol 19, No 1 (2022): Volume 19 No 1 Tahun 2022
Publisher : Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71127/2828-9250.476

Abstract

Indonesia menjadi negara penghasil biji kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Meskipun demikian, produksi kakao masih rendah jika dibandingkan dengan kedua negara tersebut. Rendahnya produksi kakao antara lain disebabkan oleh produktivitas tanah yang rendah yang tidak mampu menyediakan unsur hara yang cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman kakao. Oleh sebab itu perlu dilakukan rekayasa lingkungan perakaran untuk meningkatkan ketersediaan dan serapan hara oleh tanaman kakao. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun petani di Desa Lape Kecamatan Poso Pesisir pada bulan September sampai Desember 2021. Unit percobaan diatur menurut rancangan bujur sangkar latin (RBSL). Perlakuan yang diterapkan adalah pembuatan rorak pada pertanaman kakao tua klon Sulawesi yang terdiri dari kontrol (tanpa rorak), rorak 1, 2 dan 4. Tiap perlakuan diulang 4 kali dan setiap unit percobaan terdiri dari 1 tanaman sehingga seluruhnya terdapat 16 tanaman percobaan.  Kontribusi penelitian terhadap ilmu pengetahuan adalah (1) memberikan gambaran hubungan rekayasa lingkungan perakaran dengan ketersedian dan serapan hara tanaman kakao; (2) menciptakan teknologi tepat guna dalam meningkatkan produksi kakao. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi rorak pada pertanaman kakao tua meningkatkan kadar N total dan P tersedia dalam tanah. Pada kondisi tanah dengan kandungan bahan kasar tinggi, aplikasi rorak menurunkan kadar C organik dan KTK tanah pada 2 bulan setelah aplikasi. Serapan N tanaman lebih tinggi pada aplikasi rorak, tetapi serapan P lebih rendah pada 2 bulan setelah aplikasi rorak
DIVERSIFIKASI PENDAPATAN PETANI KAKAO MELALUI SISTEM PERTANIAN AGROFORSTRI Wulandari, Asyifa Ayu; Dewi. HS, Endang Sri; Saleh, Abdul Rahim
Agropet Vol 20, No 2 (2023): Volume 20 No 2 Tahun 2023
Publisher : Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71127/2828-9250.646

Abstract

ABSTRAK: Tanaman kakao yang dibudidayakan dalam sistem agroforestri telah memberikan penghasilan jutaan keluarga petani dari produk biji kakao yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Sistem agroforestri juga memberikan manfaat terhadap peningkatan pendapatan petani melalui produk lain selain biji kakao melalui produksi buah-buahan dan bahan baku produk lainnya yang dapat dikonversi kedalam rupiah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dampak penerapan sistem agroforestri berbasis kakao terhadap pendapatan petani melalui diversifikasi produk. Penelitian ini dilaksanakan di Lape kebun milik petani yang terletak di kecamatan Poso Pesisir Kabupaten Poso Sulawesi Tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei melalaui wawancara dan observasi lapangan. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara sengaja (purposive sampling). Struktur pohon dalam sistem agroforestri menunjukkan perbedaan pada variabel jumlah spesies pohon pohon pelindung 8.71 dan kerapatan buah 65.70 pada kerapatan tinggi. Kinerja ekonomi sistem menunjukkan adanya perbedaan pada jumlah produk yang dijual dan produk yang dikonsumsi sendiri pada kerapatan tinggi sedangkan produksi kakao dan basal kakaotidak menunjukkan adanya perbedaan pada kerapatan rendah, kerapatan sedang dan kerapatan tinggi. Sistem agroforestri berbasis kakao di Lape mampu mendiversifikasi produk pada kerapatan pada kerapatan tinggi sebesar Rp. 12.821.000 per tahun dengan tingkat kerapatan pohon pelindung 15 sampai 19 pohon pada luas areal 1000 m2 sehingga mendapatkan tambahan pendapatan selain dari penjualan biji kakao. ABSTRACT: Cocoa plants cultivated in agroforestry systems have provided income for millions of farming families from cocoa bean products which have high economic value. The agroforestry system also provides benefits in increasing farmers' income through products other than cocoa beans through the production of fruit and other product raw materials that can be converted into rupiah. This research aims to identify the impact of implementing a cocoa-based agroforestry system on farmer income through product diversification. This research was carried out in a farmer's Lape plantation located in Poso Pesisir sub-district, Poso Regency, Central Sulawesi. The method used in this research is a survey method through interviews and field observations. The sampling technique was carried out deliberately (purposive sampling). The number of samples used was 21 farmers. Tree structure in the agroforestry system shows differences in the variable number of shade tree species 8.71 and fruit density 65.70 at high density. The economic performance of the system shows that there is a difference in the number of products sold and products consumed at high density, while the production of cocoa and cocoa basalt does not show any difference at low density, medium density and high density. The cocoa-based agroforestry system in Lape is able to diversify products at a high density of IDR. 12,821,000 per year with a protective tree density level of 15 to 19 trees on an area of 1000 m2 so as to obtain additional income apart from selling cocoa beans.
Mortalitas Walang Sangit Akibat Aplikasi Ekstrak Daun Paitan Kawura, Arlini; Mowidu, Ita; Hs, Endang Sri Dewi
Agropet Vol 19, No 2 (2022): Volume 19 No 2 Tahun 2022
Publisher : Universitas Sintuwu Maroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71127/2828-9250.496

Abstract

Padi merupakan penghasil beras yang menyuplai pangan utama di Indonesia. Salah satu faktor pembatas produksi padi adalah adanya serangan hama walang sangit yang menyerang pada fase masak susu. Daun paitan merupakan salah satu tumbuhan yang memiliki potensi untuk digunakan sebagai pestisida nabati. Maka dari itu telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun paitan terhadap mortalitas walang sangit. Penelitian berbagai konsentrasi ekstrak daun paitan (0, 10, 20, 30, 40 dan 50 %) yang diulang 4 kali disusun menurut rancangan acak lengkap (RAL). Setiap unit terdiri dari 1 pot padi fase masak susu yang diinvestasikan 5 ekor nimfa walang sangit instar 5 dan diberi sungkup. Ekstrak daun paitan diaplikasikan sesuai dengan perlakuan pada walang sangit sebelum dimasukkan ke dalam pot padi bersungkup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi ekstrak daun paitan berpengaruh sangat nyata terhadap mortalitas hama walang sangit. Konsentrasi ekstrak daun paitan 30% menyebabkan mortalitas walang sangit 85% dan berbeda tidak nyata dengan konsentrasi 40 dan 50%. LT-50 pada konsentrasi 30, 40, dan 50% adalah 5 hari. Hasil analisis probit menunjukkan bahwa LD-50 selama 5 hari diperoleh pada konsentrasi ekstrak daun paitan 14%.
PENGARUH STATUS KESUBURAN TANAH TERHADAP HASIL DAN KUALITAS BIJI TIGA KLON KAKAO (Theobroma cacao L.) Endang Sri Dewi HS; Prapto Yudono; Eka Tarwaca Susila Putra; Benito Heru Purwanto; Toyip Toyip
Jurnal Agrotek Tropika Vol 11, No 3 (2023): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 11, Agustus 2023
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v11i3.6865

Abstract

Biji kakao merupakan bahan utama pembuatan berbagai produk makanan, minuman dan obat obatan, hal tersebut menyebabkan permintaan kakao terus meningkat. Namun demikian  peningkatan kebutuhan tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan produksi di tingkat produsen. Indonesia sebagai salah satu produsen  terbesar kakao dunia  justru mengalami penurunan produksi dan kualitas akibatnya volume eksport terus mengalami penyusutan. Salah satu penyebab rendahnya produksi dan kualitas biji adalah kesuburan tanah. tanaman kakao merupakan tanaman yang sangat peka  terhadap ketersediaan unsur hara. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh status kesuburan tanah terhadap produksi dan kualitas biji beberapa klon kakao.  Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan June 2017 sampai bulan Oktober 2018 bertempat Di kebun kakao milik PT Pagilaran Unit Segayung Utara yang berlokasi di Desa Simbangjati, Tulis Kabupaten Batang  Jawa Tengah. Penelitian dirancang menggunakan rancangan tersarang (Nested Design) dengan tiga klon (RCC 70, RCC 71 dan KKM 22) bersarang pada dua Status kesuburan tanah. Status kesuburan tanah didasarkan pada level ketersediaan unsur hara N,P,K dan B. Paramemeter yang diamati adalah karakteristik tanah, karakter fisiologis yang meliputi kadar klorofil daun, Laju fotosintesis, kandungan CO2 daun, kandungan H2O daun, Laju transpirasi dan Lebar bukaan Stomata,  Komponen hasil meliputi berat biji perbuah,  jumlah biji perbuah, berat biji perpohon, jumlah buah perpohon dan produksi per hektar. Serta komponen kualitas yang meliputi kadar lemak, kadar protein dan bean count. Hasil menunjukkan bahwa  status kesuburan tanah tinggi memperlihatkan kadar klorofil, laju fosintesis , kadar CO2 dan H2O daun lebih tinggi yang menyebabkan produksi dan mutu biji (bean count dan kadar lemak) lebih tinggi.
ISOLASI DAN KARAKTERISASI RIZOBAKTERI PENAMBAT NITROGEN DARI EKOSISTEM PADI SAWAH ORGANIK Sri Sudewi; Abdul Rahim Saleh; Lisa Indriani Bangkele; Endang Sri Dewi
Jurnal Agrotek Tropika Vol 12, No 3 (2024): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 12, AGUSTUS 2024
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v12i3.7493

Abstract

Rhizobakteri mampu mengfiksasi nitrogen (N) secara mutualisme, mengubah N dari atmosfer menjadi senyawa nitrogen yang tersedia bagi tanaman, sehingga meningkatkan pertumbuhan tanaman. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi bakteri penambat N pada ekosistem padi sawah organik di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Bakteri diisolasi dari rizosfer tanaman padi yang sehat, untuk selanjutnya dikulturkan dengan menggunakan media Burk N-bebas. Hasil yang diperoleh sebanyak 12 isolat bakteri memiliki kemampuan tumbuh pada media Burk N-bebas dengan karakter yang berbeda-beda setelah diidentifikasi secara morfologi dan biokimiawi. Isolat RFN7 menghasilkan kadar nitrogen total sebesar 0.41%, sedangkan yang terendah pada isolat RFN4 sebesar 0.16%. Isolat rizobakteri yang mampu tumbuh pada media Burk-N bebas mempunyai kemampuan untuk mengikat nitrogen bebas yang berguna bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sehingga isolat-isolat tersebut berpotensi sebagai biofertilizer dalam upaya mendukung pertanian berkelanjutan yang ramah terhadap lingkungan.
INCREASING CHLOROPHYLL CONTENT AND YIELD OF EGGPLANT ON VARIOUS MAGNESIUM DOSES Dewi HS, Endang Sri; Tanari, Yulinda; Pangli, Marten; Toyip, Toyip
Jurnal Agrotek Tropika Vol. 13 No. 3 (2025): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 13, AGUSTUS 2025
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v13i3.9815

Abstract

Eggplant is a vegetable that is rich in vitamin and antioxidant so is beneficial for health. Base on this, demand for eggplant continues to increasing. Eggplant production can be increased by increasing the chlorophyll content with additional doses of magnesium (Mg). Mg is the main component of chlorophyll and plays an important role in various plant metabolic pathways. Puprpose of this study  determine effect of Mg on increasing Chlorophyll content and its correlation with increasing eggplant yields. This research was conducted in August-Desember 2023 in the Integrated Garden Rumah Tani Nusantara located in Kayamanya Village, Poso. Central Sulawesi. This Study was designed in CRBD, treatment with 6 levels of Mg doses, namely without Mg doses as control. 0.5 g.polybag-1, 1 g.polybag-1, 1.5 g.polybag-1, 2 g.polybag-1, 2.5 g.polybag-1 with three replications. The parameters observed were chlorophyll content ( chlorophyll a, b and Total), plant height and yield component (number of fruits, fruit weight and Fruit Length). The results showed that the Mg dose treatment increased the chlorophyll content of eggplant leaves, both chlorophyll a, b, plant height and yield components. There is a correlation between increased eggplant yields and magnesium doses.
Pengaruh Dosis dan Jenis Aplikasi Boron terhadap Tingkat Layu Pentil (Cherelle wilt) Tanaman Kakao Sri Dewi HS, Endang; Yudono, Prapto; Putra, Eka Tarwaca Susila; Purwanto, Benito Heru; Toyip, Toyip
AGROSCRIPT: Journal of Applied Agricultural Sciences Vol 5 No 1 (2023): June
Publisher : Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/agroscript.v5i1.1219

Abstract

Cherelle wilt merupakan penyakit fisiologis pada tahap awal perkembangan buah kakao karena kegagalan perkembangan buah. Salah satu unsur yang diduga kuat menjadi penyebab adalah unsur boron yang ketersediannya sangat penting bagi tanaman karena berperan dalam perkembangan sel, metabolisme protein, asam amino, nitrat, lemak, karbohidrat, auksin dan fenol, fungsi membran, berperan dalam keberhasilan pembentukan bunga, pembuahan dan perkembangan buah. Tujuan penelitian untuk mengkaji dan meneliti tentang pengaruh boron terhadap layu pentil kakao. Penelitian dirancang menggunakan rancangan Randomized Complete Block Design (RCBD) dimana faktor A terdiri dari metode aplikasi pupuk yaitu lewat daun dan lewat tanah sedangkan faktor B adalah takaran pemberian boron yang terdiri dari tanpa pemberian pupuk , pemberian boron 1,5 g.pohon-1, 3 g. Pohon-1, 4,5 g.pohon-1 dan 6 g.pohon-1 setiap perlakuan diulang tiga kali, setiap ulangan terdiri dari 5 tanaman sehingga kombinasi perlakuan menjadi 2 x 5 x 3 x 5 = 150 tanaman. Parameter yang diamati adalah Boron total daun, viabilitas pollen, total pentil yang terbentuk, persentase pentil sehat, dan pentil layu. Hasil menunjukkan bahwa metode aplikasi pupuk boron berpengaruh terhadap layu pentil kakao. Metode aplikasi boron lewat daun dengan dosis 0, 4,5 dan 6 g.tanaman-1 memberikan nilai pentil layu yang lebih tinggi. Sedangkan metode aplikasi boron lewat daun dosis 1,5, dan 3 g.tanaman-1 serta metode aplikasi lewat tanah dosis 6 g.tanaman-1 memberikan persentase pentil sehat yang lebih tinggi. Metode aplikasi lewat daun dengan dosis 3 g.tanaman-1 adalah dosis maksimal yang mampu memberikan hasil tertinggi terhadap viabilitas pollen, jumlah buah, dan persentase pentil sehat.
Penyuluhan Pemanfaatan Sumber Daya Lokal Melalui Sistem Hidroponik Untuk Mendukung ketahanan Pangan Wilayah Perkotaan Dewi HS, Endang Sri; H Marande, Yunruth; F Rone, Murti; Tomaddiawe, Dewi; Toyip, Toyip
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jb.v7i2.17978

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya lokal melalui sistem hidroponik guna mendukung Ketahanan Pangan di wilayah perkotaan. Kegiatan dilaksanakan di Poso pada tanggal 10 November 2025 dengan menggunakan metode penyuluhan yang meliputi ceramah, diskusi, dan praktik langsung. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta terkait prinsip dasar hidroponik, termasuk teknik budidaya, pengelolaan larutan nutrisi, dan pemanfaatan bahan lokal seperti botol bekas, wadah sederhana, serta air hujan. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya produksi pangan mandiri di lingkungan perkotaan sebagai bagian dari strategi keberlanjutan. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip Sustainable Development yang menekankan efisiensi penggunaan sumber daya dan pengurangan limbah. Meskipun demikian, beberapa kendala masih ditemukan, seperti keterbatasan pengetahuan teknis lanjutan dan perlunya pendampingan berkelanjutan untuk memastikan keberhasilan implementasi. Secara keseluruhan, kegiatan ini memberikan kontribusi positif dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya lokal secara optimal dan berkelanjutan.
Physiological activities of cocoa trees induced by soil and foliar applications of boron fertilizer Dewi HS, Endang Sri; Yudono, Prapto; Susilaputra, Eka Tarwaca; Purwanto, Benito Heru
SAINS TANAH - Journal of Soil Science and Agroclimatology Vol 20, No 1 (2023): June
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/stjssa.v20i1.64091

Abstract

This study investigates the impact of boron fertilizer on physiological activities of cocoa trees, specifically focusing on boron content, nitrogen content, nitrate reductase activity, chlorophyll content, and photosynthesis rate in cocoa plant leaves. This research was arranged in a randomized complete block design with two treatment factors, which were the type of boron fertilizer application (soil and foliar fertilizer), and the dose of boron fertilizer (1.5, 3, 4.5, and 6 g plant−1 with 0 g plant−1 as a control). Data were then analyzed for variance differences (ANOVA) with α = 5%, followed by the Tukey test, and contrast orthogonal for comparing treated and control plants. The results showed that the dose of boron fertilizer and the type of fertilizer application used have a significant effect on the physiological activity of the cocoa plant. The dose of boron with soil application affects physiological activity in a linear pattern where each additional dose of boron will increase the activity of nitrate reductase, chlorophyll content, and photosynthetic rate. The dose of boron with foliar application affects physiological activity in a quadratic pattern, where the dose of boron in the range of 3 g plant−1 is the optimum dose that gives maximum results on nitrate reductase activity, chlorophyll content, and photosynthetic rate in the cocoa leaves. Therefore, it is considered that the application of boron fertilizer at a dose of 3 g plants−1 with the foliar application is more efficient in increasing physiological activity compared to the dose of boron with soil application.