Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

ANALISIS KETIMPANGAN PENDAPATAN TERHADAP TINGKAT KEMISKINAN PETANI KARET DI KECAMATAN BANYUASIN III KABUPATEN BANYUASIN SUMATERA SELATAN Nugraha, Iman Satra; Asywadi, Hajar; Alamsyah, Aprizal; Syarifa, Lina Fatayati; Antoni, Mirza; Adriani, Dessy
Warta Perkaretan Vol. 44 No. 1 (2025): Volume 44, Nomor 1, Tahun 2025
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.wp.v44i1.1065

Abstract

Perkebunan karet merupakan salah satu komoditas utama Provinsi Sumatera Selatan, dengan produksi terbesar di Indonesia, di mana 90% dihasilkan oleh petani karet rakyat. Selain itu, komoditas karet juga menyumbang devisa negara sebesar 109 triliun pada tahun 2021. Harga karet yang tidak stabil berdampak pada pendapatan petani karet rakyat. Pendapatan yang berfluktuasi menyebabkan distribusi pendapatan petani menjadi tidak stabil, sehingga mempengaruhi kemampuan petani dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Penelitian diperlukan untuk mengukur ketimpangan pendapatan terhadap tingkat kemiskinan di Kecamatan Banyuasin III. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2023 di Kecamatan Banyuasin III dengan menggunakan 42 petani sampel dari 4 Desa. Lokasi pengambilan sampel sengaja dipilih dengan pertimbangan bahwa Kecamatan Banyuasin III merupakan salah satu penghasil karet di Kabupaten Banyuasin. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner, dan pengolahan data dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan analisis rasio Gini untuk melihat tingkat ketimpangan pendapatan, sedangkan tingkat kemiskinan dinilai dengan menyamakan total pengeluaran petani sampel dengan beras. Karakteristik petani karet menunjukkan bahwa sebagian besar berpendidikan sekolah dasar, yaitu sebesar 55%, sementara sisanya tersebar di tingkat sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Mayoritas petani berusia 46-55 tahun, yaitu sebesar 36%. Berdasarkan temuan penelitian, tingkat ketimpangan di antara para petani karet masih tergolong rendah, dengan rasio Gini sebesar 0,29. Namun, jika dilihat dari garis kemiskinan, masih terdapat petani yang masuk dalam kategori paling miskin 5%, sangat miskin 2%, miskin 7% dan tidak miskin 86%. Upaya yang perlu dilakukan untuk menjaga ketimpangan pendapatan petani adalah menciptakan pasar yang transparan dan efisien, hilirisasi produk dan adanya dukungan dari para stakeholder.
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DAN PROSPEK UNIT PENGOLAHAN DAN PEMASARAN BOKAR (UPPB) MENUJU ERA BARU Nugraha, Iman Satra; Bidarti, Agustina
JURNAL ILMU MANAJEMEN Vol. 19 No. 1 (2022): JUNI 2022
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.741 KB) | DOI: 10.21831/jim.v19i1.49391

Abstract

Pengembangan sumber daya manusia hasil dari penilaian kinerja karyawan untuk meningkatkan kinerja karyawan dan pada akhirnya tercapainya tujuan perusahaan yang berkelanjutan. Kinerja karyawan harus tetap terus dijaga agar perusahaan dapat eksisting menghadapi persaingan dari luar. Oleh karena itu penulisan artikel ilmiah ini perlu dilakukan untuk mengetahui hal-hal apa saja yang perlu dilakukan oleh karyawan/pengurus Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB). Artikel ini dilakukan menggunakan metode desk study yaitu berdasarkan literatur yang dihimpun oleh penulis untuk menghasilkan alternated yang diperlukan untuk membentuk UPPB yang mampu bersaing. Pada saat ini kontribusi UPPB sebesar 10% dari total produksi karet di Sumatera Selatan (Sumsel). Capaian tersebut masih tergolong rendah sehingga UPPB perlu memikirkan cara untuk meningkatkan kontribusi tersebut. Peluang tersebut sangat memungkinkan untuk dilakukan karena secara hukum UPPB telah dipayungi peraturan No. 38/Permentan/OT.140/8/2008 tentang Pedoman Pengolahan dan Pemasaran Bahan Olah Karet, dan peraturan Kementerian Perdagangan (2009 ) No . 5 3 /M- DAG/PER/10/2009 tentang Pengawasan Mutu Bahan Olah Komoditi Ekspor Standard Indonesian Rubber. Salah satu cara yang dapat dilakukan UPPB adalah dengan memperkuat sumber daya manusia pengurus mulai dari ketua UPPB sampai ke bagian pemasaran, produksi, teknis dan pengawasan. Penguatan ini diharapkan akan meningkatkan kontribusi dalam menghasilkan bokar bersih. Selain itu juga dengan adanya peningkatan sumber daya manusianya akan meningkatkan nilai tambah UPPB dengan adanya diversifikasi produk yang awalnya hanya sleb tebal menjadi produk jadi seperti balon maupun karet gelang. Penambahan nilai tambah ini akan dapat meningkatkan pendapatan petani karet maupun kemajuan UPPB itu sendiri serta mampu menangkap peluang pasar yang lebih luas.
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DAN PROSPEK UNIT PENGOLAHAN DAN PEMASARAN BOKAR (UPPB) MENUJU ERA BARU Nugraha, Iman Satra; Bidarti, Agustina
JURNAL ILMU MANAJEMEN Vol. 19 No. 1 (2022): JUNI 2022
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jim.v19i1.49391

Abstract

Pengembangan sumber daya manusia hasil dari penilaian kinerja karyawan untuk meningkatkan kinerja karyawan dan pada akhirnya tercapainya tujuan perusahaan yang berkelanjutan. Kinerja karyawan harus tetap terus dijaga agar perusahaan dapat eksisting menghadapi persaingan dari luar. Oleh karena itu penulisan artikel ilmiah ini perlu dilakukan untuk mengetahui hal-hal apa saja yang perlu dilakukan oleh karyawan/pengurus Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB). Artikel ini dilakukan menggunakan metode desk study yaitu berdasarkan literatur yang dihimpun oleh penulis untuk menghasilkan alternated yang diperlukan untuk membentuk UPPB yang mampu bersaing. Pada saat ini kontribusi UPPB sebesar 10% dari total produksi karet di Sumatera Selatan (Sumsel). Capaian tersebut masih tergolong rendah sehingga UPPB perlu memikirkan cara untuk meningkatkan kontribusi tersebut. Peluang tersebut sangat memungkinkan untuk dilakukan karena secara hukum UPPB telah dipayungi peraturan No. 38/Permentan/OT.140/8/2008 tentang Pedoman Pengolahan dan Pemasaran Bahan Olah Karet, dan peraturan Kementerian Perdagangan (2009 ) No . 5 3 /M- DAG/PER/10/2009 tentang Pengawasan Mutu Bahan Olah Komoditi Ekspor Standard Indonesian Rubber. Salah satu cara yang dapat dilakukan UPPB adalah dengan memperkuat sumber daya manusia pengurus mulai dari ketua UPPB sampai ke bagian pemasaran, produksi, teknis dan pengawasan. Penguatan ini diharapkan akan meningkatkan kontribusi dalam menghasilkan bokar bersih. Selain itu juga dengan adanya peningkatan sumber daya manusianya akan meningkatkan nilai tambah UPPB dengan adanya diversifikasi produk yang awalnya hanya sleb tebal menjadi produk jadi seperti balon maupun karet gelang. Penambahan nilai tambah ini akan dapat meningkatkan pendapatan petani karet maupun kemajuan UPPB itu sendiri serta mampu menangkap peluang pasar yang lebih luas.
KONSEPSI MODEL PENGEMBANGAN USAHA KARET GELANG SKALA PETANI DI KABUPATEN MUSI BANYUASIN, SUMATERA SELATAN AGUSTINA, Dwi Shinta; NUGRAHA, Iman Satra; ALAMSYAH, Aprizal; SYARIFA, Lina Fatayati; VACHLEPI, Afrizal
Jurnal Penelitian Karet JPK: Volume 43, Nomor 2, Tahun 2025
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v43i2.967

Abstract

Kondisi harga karet yang berfluktuasi mengharuskan petani untuk meningkatkan motivasi di dalam mencari alternatif usaha untuk dapat menjaga kelangsungan pendapatannya. Salah satu usaha pengolahan karet yang dapat dikembangkan di tingkat petani adalah pengolahan lateks menjadi karet gelang. Makalah ini menyampaikan hasil kajian pengembangan usaha karet gelang skala petani di Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan ditinjau dari aspek kewirausahaan. Penelitian menggunakan metode action research di dua UPPB terpilih sebagai peserta program di Kabupaten Musi Banyuasin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan usaha baru di tingkat petani dapat memberikan manfaat bagi petani dan pembangunan pedesaan. Dalam pengembangannya, usaha karet gelang di tingkat petani masih perlu beberapa perbaikan baik dari sisi karakter kewirausahaan petani dan sarana pendukung lainnya seperti listrik dan kestabilan ketersediaan bahan baku lateks. Beberapa karakter kewirausahaan petani yang masih perlu diperbaiki diantaranya adalah kreatif, dinamis dan memiliki kecakapan memimpin, memiliki akal dan daya yang panjang (resourcefulness) serta kemampuan untuk membangun bridging social capital.