Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

UJI ADAPTASI SORGUM MANIS SEBAGAI TANAMAN SELA DI ANTARA TANAMAN KARET BELUM MENGHASILKAN Sahuri, Sahuri
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 35, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v1i1.286

Abstract

Lahan di antara tanaman karet belum menghasilkan (TBM) memiliki potensi untuk peningkatan produksi sorgum manis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tanaman sela sorgum terhadap pertumbuhan tanaman karet dan mempelajari beberapa parameter agronomi sorgum. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sembawa dari bulan Juni sampai Oktober 2013. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Faktor perlakuan meliputi tiga belas genotipe sorgum yaitu : Patir-1, Patir-2, Patir-3, Patir-4, Patir-5, Patir-6, Patir-7, Patir-8, Patir-9, Patir-10, Patir-11, Patir-12, Patir-13, Pahat, Kawali dan Mandau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sorgum sebagai tanaman sela memiliki efek positif terhadap pertumbuhan tanaman karet. Hasil uji adaptasi sorgum manis menunjukkan bahwa genotipe Patir-5, Patir-9, dan Kawali nyata memiliki diameter batang, berat batang, dan kandungan nira lebih tinggi. Genotipe Patir-5, dan Kawali nyata memiliki berat biji per malai, berat 100 biji, dan hasil biji lebih tinggi.
Cocopeat as Soil Substitute Media for Rubber (Hevea brasiliensis Müll. Arg.) Planting Material Cahyo, Andi Nur; Sahuri, Sahuri; Nugraha, Iman Satra; Ardika, Risal
Journal of Tropical Crop Science Vol 6 No 01 (2019): Journal of Tropical Crop Science
Publisher : Department of Agronomy and Horticulture, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.761 KB) | DOI: 10.29244/jtcs.6.01.18-29

Abstract

To establish rubber plantations smallholders in South Sumatra, Indonesia, plant materials are planted in polybags fi lled with top soil media from the local area. Good quality media is very important to ensure optimal growth of the rubber planting materials. The availability of top soil has become increasingly limited. In order to fulfi ll the need of planting media, cocopeat, which is available in abundance in the area, can potentially be an alternative to top soil. Cocopeat can potentially be used alone, or in combination with other type of media. In this study, cocopeat was mixed with soil at several mixture ratios to determine the best formula of cocopeat based planting media for rubber planting material. The study was conducted from August 2016 to January 2017 in the Nursery of Sembawa Research Centre Experimental Field, Palembang, South Sumatra, Indonesia. A completely randomized design was employed with six combinations of cocopeat and soil, replicated three times. This study showed that the best mixture ratio is 80% cocopeat and 20% soil, whereas 100% soil or 100% cocopeat is not recommended. The use of cocopeat as planting media should be followed by balanced fertilization in order to provide nutrients that are not available in cocopeat.
Modification of Rubber (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) Spacing for Long-term Intercropping Sahuri, Sahuri; Cahyo, Andi Nur; Ardika, Risal; Nugraha, Iman Satra; Alamsyah, Aprizal; Nurmansyah, Nurmansyah
Journal of Tropical Crop Science Vol 6 No 01 (2019): Journal of Tropical Crop Science
Publisher : Department of Agronomy and Horticulture, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.445 KB) | DOI: 10.29244/jtcs.6.01.50-59

Abstract

Low prices of rubber has been a serious problem to rubber growers in Indonesia. Rubber-based intercropping systems offers a practical solution to this issue and increasing overall productivity, for example by growing upland rice and maize between the rubber tree rows. This study was aimed to determine the suitable spacing in rubber planting to facilitate long-term rubber-based intercropping systems. A field experiment was established in a smallholder rubber plantation in the Tanah Laut Regency, South Kalimantan with area of 50 ha. Two planting patterns of rubber clone PB260 were tested: (1) single row planting pattern (SR) by 6 m x 3 m, and (2) double row planting pattern (DR) by 18 m x 2 m x 2.5 m. The experiment showed that the girth of the rubber trees with the SR system at the 1st tapping year was slightly larger than that in the DR system, even though statistically it was not signifi cant. The latex yield per tree of SR and DR systems were similar, however, latex yield per hectare of SR system was higher than the DR system due to a higher tree population in the SR system. The DR system was technically suitable for long term intercropping, because when the rubber tree reached 8 to 9-year-old, the light penetration was > 80% at distance of about 4 m from the rubber tree rows. Economically, DR system can increase the added values for rubber farmers because it allows long term intercropping. Rubber-based intercropping with DR system is suitable to be applied, especially by smallholders, with a marginal benefi t cost ratio of around 2.07. Keywords: Hevea, intercropping system, rubber planting pattern, spatial arrangement
Efektifitas Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning/PBI) Terhadap Peningkatan Pemahaman Siswa Tentang Perubahan Benda Pada Siswa Kelas VI SDN 3 Kesik TP. 2017/2018 Sahuri, Sahuri
Jurnal DIDIKA: Wahana Ilmiah Pendidikan Dasar Vol 5, No 1 (2019): JURNAL DIDIKA : WAHANA ILMIAH PENDIDIKAN DASAR
Publisher : universitas hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.303 KB)

Abstract

Penelitian ini betujuan untuk mengetahui bagaimana efektifitas model pembelajaran berbasis masalah dalam mengoptimalkan pemahaman siswa tentang perubahan benda pada siswa. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas VI SDN 3 Kesik. Penelitian ini dilaukan pada semester I TP 2017/2018. Penelitian ini menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning). Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (Class Action Research). Prosedur penelitian terdiri dari  4 tahap, yakni  perencanaan, pelaksanaan atau  tindakan, pengamatan atau observasi,dan evaluasi. Keempat tahap tersebut akan berlangsung pada tahap pertama atau  siklus 1 dan akan berulang kembali pada tahap atau siklus ke 2. Hasil penelitian ini membutikan bahwa Metode pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning) merupakan salah satu metode pembelajaran yang efektif, digunakan dalam pembelajaran IPA topik perubahan benda. Keefektifan metode pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning) terlihat dari beberapa hal, yaitu dalam hal waktu, metode, dan evaluasi. Hal ini terlihat dalam proses pembelajaran siswa kelas VI SDN 3 Kesik pada siklus ke II lebih efektif dalam pembelajaran IPA topik perubahan benda dibandingkan pembelajaran pada siklus I tanpa menggunakan model pembelajaran berbasis masalah.
Efektifitas Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning/PBI) Terhadap Peningkatan Pemahaman Siswa Tentang Perubahan Benda Pada Siswa Kelas VI SDN 3 Kesik TP. 2017/2018 Sahuri, Sahuri
Jurnal DIDIKA: Wahana Ilmiah Pendidikan Dasar Vol 5, No 1 (2019): JURNAL DIDIKA : WAHANA ILMIAH PENDIDIKAN DASAR
Publisher : universitas hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/didika.v5i1.1775

Abstract

Penelitian ini betujuan untuk mengetahui bagaimana efektifitas model pembelajaran berbasis masalah dalam mengoptimalkan pemahaman siswa tentang perubahan benda pada siswa. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas VI SDN 3 Kesik. Penelitian ini dilaukan pada semester I TP 2017/2018. Penelitian ini menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning). Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (Class Action Research). Prosedur penelitian terdiri dari  4 tahap, yakni  perencanaan, pelaksanaan atau  tindakan, pengamatan atau observasi,dan evaluasi. Keempat tahap tersebut akan berlangsung pada tahap pertama atau  siklus 1 dan akan berulang kembali pada tahap atau siklus ke 2. Hasil penelitian ini membutikan bahwa Metode pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning) merupakan salah satu metode pembelajaran yang efektif, digunakan dalam pembelajaran IPA topik perubahan benda. Keefektifan metode pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning) terlihat dari beberapa hal, yaitu dalam hal waktu, metode, dan evaluasi. Hal ini terlihat dalam proses pembelajaran siswa kelas VI SDN 3 Kesik pada siklus ke II lebih efektif dalam pembelajaran IPA topik perubahan benda dibandingkan pembelajaran pada siklus I tanpa menggunakan model pembelajaran berbasis masalah.
TINGKAT KOMUNITAS GULMA PADA AREAL PERKEBUNAN KARET DI SEMBAWA, BANYUASIN Akbar, Andrea; Sahuri, Sahuri
Warta Perkaretan Vol. 42 No. 1 (2023): Volume 42, Nomor 1, Tahun 2023
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.wp.v42i1.909

Abstract

Gulma merupakan tumbuhan yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan berpotensi menurunkan produksi tanaman karet apabila tidak dilakukan pengendalian. Pengendalian dibutuhkan agar gulma tidak menimbulkan kerugian secara ekonomis pada tanaman karet. Sebelum dilakukan pengendalian diperlukan analisis vegetasi gulma agar pengendalian yang dilakukan dapat efektif. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis vegetasi gulma di perkebunan karet yang meliputi identifikasi jenis gulma, perhitungan nisbah jumlah dominan (NJD) dan koefisien komunitas gulma. Penelitian ini dilaksanakan di divisi 1 kebun produksi dan percobaan Pusat Penelitian Karet Sembawa, Banyuasin pada bulan September 2021. Blok pengamatan adalah tanaman belum menghasilkan 2 karet dan tanaman menghasilkan 3 karet seluas 1 ha yang ditentukan secara purposive sampling. Analisis vegetasi yang digunakan adalah metode kuadrat dengan petak contoh 0,5 m x 0,5 m . Hasil identifikasi gulma pada areal TBM ditemukan lima jenis gulma dari golongan rerumputan, empat jenis gulma dari golongan berdaun lebar, dan satu jenis gulma dari golongan teki-tekian. Sedangkan, hasil identifikasi di areal TM menunjukkan terdapat lima jenis gulma dari golongan rerumputan, enam jenis dari golongan daun lebar dan satu jenis dari golongan teki-tekian. Pada areal TBM, gulma dominan adalah Borreria alata dengan NJD 17% sedangkan pada areal TBM gulma dominan adalah Cynodon dactylon dengan NJD 24,94%. Nilai koefisien komunitas TM-TBM sebesar 31,67% yang menunjukkan komunitas gulma di areal TM dan TBM berbeda nyata. Penelitian ini diharapkan bisa menjadi pertimbangan sebelum melakukan pengendalian gulma sesuai umur tanaman karet dan spesifik sesuai jenis gulma dengan cara kimiawi, mekanis atau kombinasi keduanya.
STRATEGI MENGHADAPI REGULASI BEBAS DEFORESTASI UNI EROPA (EUDR) PADA KARET ALAM BERKELANJUTAN Sahuri, Sahuri; Syarifa, Lina Fatayati; Akbar, Andrea; Tistama, Radite; Rahutomo, Suroso; Alamsyah, Aprizal
Warta Perkaretan Vol. 43 No. 1 (2024): Volume 43, Nomor 1, Tahun 2024
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.wp.v43i1.958

Abstract

Tulisan ini membahas strategi menghadapi European Union Deforestation-Free Regulation (EUDR) serta model produksi pada karet alam berkelanjutan. Uni Eropa (UE) telah menetapkan kebijakan baru yaitu EUDR dimana mencegah perusahaan-perusahaan mengekspor produk-produk yang terkait dengan deforestasi dan degradasi ke pasar Uni Eropa. Negara produsen dapat menerapkan model produksi karet alam yang berstandar untuk produksi karet alam berkelanjutan. Strategi yang dapat dilakukan oleh pelaku industri karet di Indonesia dalam menghadapi EUDR yaitu menyusun Joint Task Force dengan negara produsen lain melalui asosiasi internasional komoditas, menyusun platform sertifikasi produk untuk karet yang diakui oleh UE, melakukan dialog dan diplomasi guna pengakuan atas platform sertifikasi produk yang dibentuk. Selain itu, pemerintah harus mempercepat pendataan base perusahaan industri karet melalui Siperibun, mempercepat pendataan pekebun karet melalui e-STDB sebagai bahan traceability, menyusun dan menerapkan sertifikasi produk berkelanjutan serta memitigasi permasalahan komoditas dalam negeri terutama pada tingkat petani untuk menciptakan model produksi karet alam yang berkelanjutan.
ANALISIS ACTIVE FIRE PROTECTION SYSTEM APAR DAN HIDRAN DI AREA OG FIELD PT. XYZ TAHUN 2022 Husen, Husen; Yunita, Yunita; Sahuri, Sahuri; Siddique, Faris
Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Hidup Vol 7 No 1 (2022): Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Hidup
Publisher : UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jkmlh.v7i1.3103

Abstract

Fires have a very broad hazard impact, which includes social and economic impacts, so it is necessary to be prepared to deal with fires. The existence of an active fire protection system is one form of effort for early prevention and mitigation of potential fire hazards. The purpose of this study was to determine the suitability of the inspection program, inspection procedures and implementation or application of fire extinguishers and hydrants in the OG Field area of PT. XYZ with PerMenNaKerTrans No. 4 of 1980, SNI-03-1745-2000, NFPA 10 of 2013 and NFPA 25 of 2014. The type and research design used is a qualitative method, with a descriptive research design using a comparative approach. The population in this study were all workers in the OG Field area of PT. XYZ with a number of workers as many as 248 people, then it is determined 20 informants including 2 key informants. Data collection techniques through direct observation or survey in the OG Field area of PT. XYZ and conduct interviews. Based on the results of observations and interviews that the author has done, the area of OG Field PT. XYZ already has an inspection program, inspection procedures and implementation or application of fire extinguishers and hydrants in accordance with PerMenNaKerTrans No. 4 of 1980, SNI-03-1745-2000, NFPA 10 of 2013 and NFPA 25 of 2014. However, there are still discrepancies in the hydrotest or hydrostatic testing of the fire extinguisher tube, instructions for use or operation of the fire extinguisher, placement of the fire extinguisher and damage or defects in the hydrant.
FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN TANAMAN KARET DI PERKEBUNAN RAKYAT: STUDI KASUS DI KABUPATEN MUSI BANYUASIN, SUMATERA SELATAN Alamsyah, Aprizal; Sahuri, Sahuri; Nugraha, Iman Satra; Syarifa, Lina Fatayati
Warta Perkaretan Vol. 43 No. 2 (2024): Volume 43, Nomor 2, Tahun 2024
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.wp.v43i2.1002

Abstract

Karet adalah salah satu komoditas perkebunan penting di Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Namun, pertumbuhan tanaman karet di perkebunan rakyat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman karet di perkebunan rakyat di kabupaten tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara menggunakan kuesioner yang melibatkan 100 sampel yang diambil secara acak sederhana. Kabupaten Musi Banyuasin dipilih sebagai lokasi penelitian karena merupakan salah satu daerah penghasil karet utama di Sumatera Selatan, dengan potensi besar dalam sektor perkebunan karet. Penelitian ini penting untuk dilakukan karena pertumbuhan tanaman karet dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kebersihan kebun, usia petani, dan tingkat pendidikan petani. Dengan memahami pengaruh faktor-faktor ini, diharapkan dapat dilakukan upaya perbaikan yang efektif untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil karet, sehingga mendukung pengembangan ekonomi lokal dan kesejahteraan petani. Analisis data dilakukan dengan teknik korelasi dan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebersihan kebun, usia petani, dan tingkat pendidikan petani masing-masing menyumbang 59%, 33%, dan 8% terhadap pertumbuhan tanaman karet. Secara khusus, kebersihan kebun berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan tanaman karet dibandingkan dengan usia dan tingkat pendidikan petani.
Evaluasi Penerapan Sistem Tanggap Darurat Kebakaran Di Industri Kelistrikan: Studi Kasus PT. XYZ Jakarta Tahun 2025 Husen, Husen; Sahuri, Sahuri; Arjuni, Defi; Hendrawati, Lulus Suci; Rudyarti, Edwina
Bhamada Occupational Health and Safety Environment Journal Vol 3 No 1 (2025): Juni
Publisher : LPPM Universitas Bhamada Slawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36308/bohsej.v3i1.803

Abstract

Kebakaran merupakan salah satu risiko terbesar di sektor industri kelistrikan yang memiliki banyak peralatan bertegangan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan sistem tanggap darurat kebakaran di PT. XYZ, Jakarta, serta mengidentifikasi hambatan dalam implementasinya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT. XYZ telah memiliki elemen-elemen dasar sistem tanggap darurat seperti SOP, tim tanggap darurat, dan pelatihan berkala. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah kurangnya integrasi komunikasi, belum optimalnya pelatihan praktis, dan keterbatasan pemeliharaan alat proteksi kebakaran, sehingga diperlukan penguatan sistem secara menyeluruh untuk meningkatkan kesiapan menghadapi insiden kebakaran. Hasil setelah adanya penerapan sistem menunjukkan efektifitas penerapan sistem tanggap darurat kebakaran melalui simulassi dan pelatihan dengan peningkatan nilai 15%-25% untuk aspek pengetahuan, fasilitas proteksi dan pendokumentasian SOP. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Penerapan sistem tanggap darurat kebakaran melalui simulasi dan pelatihan yang menyeluruh dan berkelanjutan menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan tangguh terhadap risiko kebakaran.