Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Maghrib Mengaji Bersama Anak-anak di Masjid Taqwa Tamiang Ujung Gading Muhammad Wildan Matondang; Riska Afifah; Siti Nur Bahagia; Nur Jannah Lubis; Riska Putri; Sangkot Maulidun Nisa; Nadia Royani Nst; Ahmad Syarkawi Nst; Amin; Ahmad Faisal Da’oe
Ambacang: Jurnal Inovasi Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2025): Edisi Januari
Publisher : PT. Willy Print Art

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan Maghrib Mengaji bersama anak-anak di Masjid Taqwa Tamiang Ujung Gading merupakan program pendidikan agama yang bertujuan untuk membina dan mendidik generasi muda dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam sejak dini. Program ini melibatkan anak-anak dalam kegiatan membaca dan menghafal Al-Qur'an secara rutin setiap waktu Maghrib. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi Iqra', talaqqi, tahfidz, serta pengajaran adab dan ibadah. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kemampuan membaca Al-Qur'an dan hafalan surat-surat pendek di kalangan anak-anak. Selain itu, kegiatan ini juga berhasil membentuk karakter disiplin, tanggung jawab, dan kebiasaan baik dalam beribadah. Dukungan dari orang tua dan masyarakat berperan penting dalam keberhasilan program ini, yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar agama tetapi juga sebagai pusat pembinaan moral dan sosial bagi anak-anak. Untuk meningkatkan efektivitas kegiatan, disarankan agar dilakukan pelatihan untuk pengajar, penyediaan fasilitas pendukung, serta evaluasi berkala terhadap perkembangan anak-anak.
Prohibition of Marriage Within Villages in a Review of Customary and Islamic Law Ahmad Faisal
Poltanesa Vol 26 No 1 (2025): June 2025
Publisher : P3KM Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51967/tanesa.v26i1.3314

Abstract

In Islam, the term mahram means a person who is forbidden to marry. Although Islam has determined it, in jorong Bandar Mas nagari Cubadak Pasaman district, there is a tradition of prohibiting marriage relations for reasons outside the provisions of shara', namely, a man is prohibited from marrying a woman who is still in the same village with the man. Therefore, the author is interested in conducting research with the type of qualitative research that aims to understand the prohibition of marriage in one village. The results showed that one village marriage in the version of the Bandar Mas jorong community is a pantang marriage. Kawin pantang in Minangkabau custom can be understood as a marriage that is prohibited by custom or a marriage that cannot be carried out or held based on the values agreed upon in custom. In Islamic law, women who cannot be married are called mahrams. Linguistically, the term mahram comes from the word haram, which means forbidden or not allowed. The prohibition of marriage in the same village is not known in Islam. Regarding the prohibition of marriage in the same village, a common ground can be found between the two. Customary law can be considered to strengthen Islamic law. Marriage with someone other than a relative will strengthen the offspring, as reported by the Companions and the opinion of Imam Ghazali.
PRODUCTIVE WAQF GOVERNANCE IN SOUTHERN TAPANULI: Toward an Integrative”“Participatory Model Ahmad Faisal; Jureid Jureid; Siti Kholijah
Ghaly: Journal of Islamic Economic Law Vol. 4 No. 1 (2026): Ghaly: Journal of Islamic Economic Law
Publisher : Islamic Economic Law Study Program, Faculty of Sharia Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda Islamic State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21093/ghaly.v4i1.13381

Abstract

Indonesia possesses significant potential for productive waqf as an instrument of socio-economic development; however, its realisation remains limited due to persistent managerial, institutional, and governance challenges. This study examines the model of productive waqf management in South Tapanuli (Tabagsel), covering Mandailing Natal, South Tapanuli, Padang Lawas, North Padang Lawas, and Padangsidimpuan City. Situated within the discourse of Islamic economic law and waqf governance, the research employs a descriptive qualitative approach based on field data and relevant documentary sources. The findings reveal substantial disparities in productive waqf development across the region. Among the five areas studied, Mandailing Natal demonstrates the most successful implementation through an integrated management system that combines agricultural, commercial, and community-based economic activities. In contrast, productive waqf in the other regions remains largely traditional and underutilised due to limited institutional capacity, weak managerial professionalism, and inadequate governance support. The study argues that the effectiveness of productive waqf management depends on the integration of spiritual, social, and economic functions through collaborative stakeholder engagement. As its principal contribution, this research proposes an integrative–participatory model of productive waqf governance as a novel framework for strengthening regional waqf management and enhancing its socio-economic impact.
KEDUDUKAN BADAN WAKAF INDONESIA SEBAGAI LEMBAGA INDEPENDEN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF Ahmad Faisal
QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies Vol. 4 No. 2 (2025): QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies, Desember 2025
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/qanun.v4i2.1155

Abstract

Wakaf di Indonesia mengalami perkembangan yang signifikan yang ditandai dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf. Undang-undang wakaf mengamanatkan pembentukan Badan Wakaf Indonesia sebagai lembaga independen dalam mengembangkan wakaf dan independen dalam melaksanakan tugasnya. Independensi Badan Wakaf Indonesia ternyata mengalami sorotan. Apakah independensi yang dimuat dalam ketentuan undang-undang wakaf tersebut konsisten dengan praktik di lapangan? Oleh karena itu, penulis mengkaji permasalahan ini dengan melakukan penelitian yuridis normatif dengan metode deskriptif analitis. Penelitian ini memberikan gambaran bahwa secara normatif, Badan Wakaf Indonesia merupakan lembaga negara independen. Secara implementasinya, Badan Wakaf Indonesia belum mampu independen dari pengaruh lembaga negara lain, terutama Kementerian Agama dan pemerintah daerah. Pengaruh Kementerian Agama dan pemerintah daerah terutama pada komposisi struktur kepengurusan yang wajib menyertakan keterwakilan dari kedua lembaga tersebut. Kementerian Agama juga tidak sepenuhnya memberikan kewenangan di bidang wakaf kepada Badan Wakaf Indonesia. Dari sektor keuangan, sumber pendanaan Badan Wakaf Indonesia bersifat sumbangan wajib dari Kementerian Agama dan hibah pemerintah daerah dan pelaporan pertanggungjawaban kepada Menteri Agama.
KEDUDUKAN HUKUM ADAT DI MANDAILING NATAL DALAM BAYANG-BAYANG KUHP BARU: PENERAPAN SANKSI PERZINAAN DALAM PERADILAN PIDANA Ahmad Faisal; Affan Muhammad Hasibuan; Abd Bais; Abdul Haris Nasution; Sopi Adefariza; Nur Hamidah Daulay; Ros Dewi Pulungan
QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies Vol. 4 No. 4 (2026): QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies, Juni 2026
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/qanun.v4i4.1341

Abstract

Pengesahan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Tahun 2023 membawa perubahan signifikan dalam sistem hukum pidana Indonesia, salah satunya melalui pengakuan terhadap hukum yang hidup dalam masyarakat (living law). Pengakuan tersebut membuka ruang interaksi antara hukum pidana nasional dan hukum adat, namun sekaligus menimbulkan persoalan mengenai batas keberlakuannya, terutama dalam konteks pemidanaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan hukum adat Mandailing Natal dalam sistem peradilan pidana pasca berlakunya KUHP Baru, dengan fokus pada penerapan sanksi adat perzinaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan normatif dengan menelaah peraturan perundang-undangan, doktrin hukum, dan konsep dasar hukum pidana, serta didukung oleh data empiris terbatas untuk memberikan konteks praktik adat di masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengakuan hukum adat dalam KUHP Baru bersifat terbatas dan tidak menempatkan hukum adat sebagai rezim pemidanaan yang otonom. Sanksi adat perzinaan berupa pernikahan dan denda adat memiliki legitimasi sosial sebagai mekanisme pemulihan komunitas, namun tidak dapat diposisikan sebagai pemidanaan negara karena tidak sejalan dengan asas legalitas dan kepastian hukum. Oleh karena itu, hukum adat Mandailing Natal tetap hidup sebagai mekanisme sosial, tetapi keberlakuannya dibatasi ketika bersentuhan dengan kewenangan negara dalam sistem peradilan pidana nasional.
Pemikiran Hukum Progresif Prof. Dr. Satjipto Rahardjo Ahmad Faisal
Journal of Cross Knowledge multi science
Publisher : edujavare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70610/jck.v1i2.172

Abstract

The judiciary should not become the mouthpiece of the law by overriding the values of justice. In order to find the values of justice in every decision, judges should explore the values that live in society. Indonesian legal figure, Prof. Dr. Satcipto Rahardjo expressed progressive legal thinking that prioritizes the deepest meaning of the law, namely justice. This progressive legal theory needs to be studied in the midst of various kinds of judge decisions that are considered to be an obstacle to the achievement of the values of justice. By conducting a literature search, researchers interpreted and expressed arguments about the progressive legal theory put forward by Prof. Dr. Satcipto Rahardjo. The search results showed that he argued that judges are an important factor in determining whether the court is a place to seek victory or justice. For this reason, it is necessary to interpret progressive law to humanize the rigid law so that the law becomes alive and touches aspects of justice for the achievement of human happiness.