Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

SOSIALISASI KESADARAAN DAN KEPATUHAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN PAJAK BUMI BANGUNAN (PBB) SEKTOR PEDESAAN DI DESA KERINJING Anton Indra Budiman; Ubaidillah Ubaidillah; Eka Meirawati; Ika Sasti Ferina
Jurnal Abdimas Mandiri Vol. 7 No. 1
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jam.v7i1.2923

Abstract

Kegiatan yang dilaksanakan di desa Kerinjing Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan ini ditujukan untuk penduduk desa yang memiliki lahan tanah dan bangunan yang dikenakan PBB-P2 yang terdapat di desa tersebut. Kesadaran masyarakat untuk membayar pajak sudah patuh namun ada sebagian wajib pajak yang masih melalaikan kewajibannya sehingga target penerimaan ada yang belum terealisasi. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang merupakan potensi yang harus terus digali dalam menambah penerimaan daerah dikarenakan obyek pajak ini adalah bumi dan bangunan yang jelas sebagian besar masyarakat memilikinya. Pemungutan PBB sering kali mendapatkan hambatan, baik mulai dari sosialisasi kepada masyarakat yang kurang pemahaman masyarakat yang sempit mengenai pajak sampai pada metode pemungutannya yang kurang  efektif dan efisien dan lain sebagainya. Implementasi atas peraturan Undang-Undang nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah masih banyak permasalahan yang harus disikapi dengan baik dan sedini mungkin. Dengan kondisi yang ada pada penduduk desa pada saat ini, sebagai wajib pajak memiliki sangat banyak permasalahan. Tujuan kegiatan ini agar penduduk desa Kerinjing Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan memiliki/menjalankan lahan tanah dan bangunan dapat memahami regulasi dan teknis yang diamanahkan oleh regulasi yang terkait dengan PBB-P2, serta memahami dan kesadaran pembayaran PBB-P2. Kegiatan ini dilakukan dengan cara memberikan pemahaman tentang regulasi perpajakan atau peraturan daerah terkait PBB-P2, pemahaman dan kesadaran pembayaran PBB-P2, serta memberikan informasi mengenai PBB-P2 untuk penduduk desa yang memiliki lahan tanah dan bangunan di desa Kerinjing.  
Good Corporate Governance, Corporate Social Responsibility, Firm Value, and Financial Performance as Moderating Variable Mukhtaruddin Mukhtaruddin; Ubaidillah Ubaidillah; Kencana Dewi; Arista Hakiki; Nopriyanto Nopriyanto
Indonesian Journal of Sustainability Accounting and Management Vol. 3 No. 1 (2019): June 2019
Publisher : Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28992/ijsam.v3i1.74

Abstract

Good corporate governance and corporate social responsibility can assist the company in facing the challenges and risks as a strategy in increasing the firm value by building the right image from the stakeholders’ view. This study aims to determine the effect of good corporate governance and corporate social responsibility on firm value with financial performance as a moderating variable. The population of this research is banking companies listed in Indonesia Stock Exchange (IDX) for 2011–2015. The sample consisted of 23 companies which were selected by purposive random sampling. This data is analyzed by using Partial Least Square approach. The results of this study indicate that good corporate governance has an insignificant positive effect on firm value; otherwise corporate social responsibility has a significant negative impact on firm value. Financial performance has significantly strengthened the relationship between good corporate governance and corporate social responsibility on firm value.
Pemikiran KH. Abdurrahman Wahid tentang Kurikulum Pesantren ., Ubaidillah
Tasyri` : Jurnal Tarbiyah-Syari`ah-Islamiyah Vol 29 No 02 (2022): Oktober 2022
Publisher : LPPM STAI Ihyaul Ulum Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/tasyri.v29i02.181

Abstract

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua yang ada di nusantara. Kitab kuning merupakan sumber belajar belajar utama pesantren. Hal ini menjadikan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang selalu mempertahankan khazanah keilmuan klasik par excellent.. Perkembangan dunia menuntut pesantren untuk mengkaji ulang terhadap kurikulum yang dimilikinya. Kaji ulang kurikulum bertujuan supaya pesantren lebih mampu memenuhi perkembangan zaman dan tuntutan kebutuhan masyarakat. Kajian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian ini ialah data tertulis. Data tertulis tersebut berupa tulisan-tulisan KH. Abdurrahaman Wahid, yang mencerminkan pemikiran tentang kurikulum pesantren. Pemikiran KH. Abdurrahman Wahid tentang kurikulum pesantren menjelaskan tentang perlunya pesantren melakukan perubahan kurikulum untuk dapat menghadapi tantangan globalisasi dan perkembangan tunutan masyarakat. Perubahan kurikulum tersebut yaitu mengintegrasikan antara materi agama dengan materi non agama (umum), dengan tetap mempertahankan nilai dasar yang selama dipegang pesantren, yaitu, pertma, sikap memandang kehidupan sebagai kerja peribadatan; kedua, kecintaan pada ilmu-ilmu agama yang sangat kuat pada diri santri; dan ketiga, keikhlasan bekerja atau ketulusan bekerja untuk tujuan bersama.
Ontologi Islam Nusantara dalam Pendidikan Islam di Indonesia ., Ubaidillah
TABYIN: JURNAL PENDIDIKAN ISLAM Vol 4 No 2 (2022): Desember
Publisher : STAI Ihyaul Ulum Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/tabyin.v4i2.195

Abstract

Di awal milenia kedua, Indonesia yang multi etnis dan multi agama, dan dikenal sebagai masyarakat yang toleran, sempat dikejutkan oleh beberapa kejadian bernuansa SARA. Kejadian-kejadian seperti ini, cukup menggangu bagi bangsa Indoensia mengingat sejarah panjang identitas Indoensia sebagai bangsa yang toleran dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Pendidikan memegang peran penting dalam membentuk sikap masyarakat, termasuk siakap toleran-intoleran. Hal ini dikarenakan salah satu fungsi dan tujuan pendidikan sebagai media tranafer of knowlwdge dan transfer of values. Dengan menggunanakan metode perpustakaan (librarry research) dan deskriptif, dan pengelolaan data dilakukan dengan proses mengedit, mengklasifikasikan, memverifikasi, menganalisis, dan menyimpulkan, penelitian ini berusaha menemukan jawaban atas berkembangnya intoleransi di Indonesia dengan menjassikan Islam Nusanatar sebagai landasan pendidikan Islam di Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa Islam Nusantara dengan paradigmanya yang tawazun, tawasuth, dan tasamuh yang terbingkai dalam sikap keberagamaan yang rahmatan lil ‘alamin, dapat menjadi jawaban sebagai landasan ontologis pelaksanaan Pendidikan Islam. Dengan paradigma keseimbangan yang menjadi ciri Islam Nusantara, Pendidikan Islam tidak hanya diorientasikan untuk mengejar kepentingan ukhrowi yang jsutru sangat rentan ketika dihadapkan pada sesuatu yang dikemas dengan label agama.
Actualization of Moderate Islam in Sufism: Philosophy, Fahruddin Faiz's View Al-Aluf, Widayatul Wilda; Zahra, Alifarose Syahda; ., Ubaidillah
Jurnal Spiritual Healing Vol 4 No 2 (2023): Spiritual Healing
Publisher : Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/sh.v4i2.19476

Abstract

The development of religious moderation is influenced by philosophical tasawuf, which gives a new face to science. This study aims to explain Fahruddin Faiz's preaching in the actualization of moderate Islam. The focus of this research examines how the actualization of moderate Islam in the philosophical tasawuf of Fahruddin Faiz's view uses the method of library research (library research) a qualitative with discourse analysis. The findings in this study are that prior to the existence of philosophical tasawuf, tasawuf was still pure and had not been touched by philosophical teachings. so that in the end there was philosophical tasawuf where tasawuf was also influenced by philosophy, one proof of this is the existence of moderate tasawuf. And other findings that in Fahruddin Faiz's preaching regarding moderate Islam have several characteristics, including: tawazun (balanced), tawassut (not excessive), i'tidal (fair), tasamuh (tolerant), and i'tishad (simple). There is a strong connection with moderate tasawuf which means inter-religious tolerance that grows through the application of these characteristics. Fahruddin Faiz likens a tolerant person to the sea, because the sea is wide open, accepting anything. The sea is a symbol of relaxation, relief, and breadth.
Relevansi Sosiologi Pengetahuan Karl Mannheim dalam Konteks Pendidikan Agama Islam di Era Kontemporer ., Ubaidillah
AL-MIKRAJ Jurnal Studi Islam dan Humaniora (E-ISSN 2745-4584) Vol 5 No 01 (2024): Al-Mikraj, Jurnal Studi Islam dan Humaniora
Publisher : Pascasarjana Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/almikraj.v5i01.6785

Abstract

The purpose of this study is to analyze the application of Karl Mannheim's sociology of knowledge theory in Islamic religious education in the contemporary era, with a focus on the role of ideology and utopia in shaping the curriculum and teaching of Islam. The library method in this study was used to explore literature related to Karl Mannheim's sociology of knowledge, Islamic religious education, and its application in contemporary education. This study adopts a descriptive-qualitative approach by analyzing Mannheim's works and literature that discusses the dynamics of Islamic religious education in Indonesia, both traditional and modern. The main focus is to examine how ideology and utopia influence Islamic religious learning, as well as the relevance of integrating religious knowledge with general science in the context of globalization. The results of the study show that in Islamic religious education in the contemporary era, ideology and utopia have a major influence on the formation of religious knowledge. Religious education is often hampered by conservative ideologies that prioritize tradition and reject innovation, ignoring developments in science and technology. However, a more progressive integration of utopia can encourage changes in teaching methods, allowing Islamic religious education to be more relevant to the challenges of the times. This study also found a gap between traditional religious education and the need to adapt religious knowledge to social and global realities. Therefore, it is necessary to update the educational methodology in order to create a generation that not only understands religion, but is also able to play an active role in an increasingly developing society.
Relevansi Sosiologi Pengetahuan Karl Mannheim dalam Konteks Pendidikan Agama Islam di Era Kontemporer ., Ubaidillah
AL-MIKRAJ Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol. 5 No. 01 (2024): Al-Mikraj, Jurnal Studi Islam dan Humaniora
Publisher : Pascasarjana Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/almikraj.v5i01.6785

Abstract

The purpose of this study is to analyze the application of Karl Mannheim's sociology of knowledge theory in Islamic religious education in the contemporary era, with a focus on the role of ideology and utopia in shaping the curriculum and teaching of Islam. The library method in this study was used to explore literature related to Karl Mannheim's sociology of knowledge, Islamic religious education, and its application in contemporary education. This study adopts a descriptive-qualitative approach by analyzing Mannheim's works and literature that discusses the dynamics of Islamic religious education in Indonesia, both traditional and modern. The main focus is to examine how ideology and utopia influence Islamic religious learning, as well as the relevance of integrating religious knowledge with general science in the context of globalization. The results of the study show that in Islamic religious education in the contemporary era, ideology and utopia have a major influence on the formation of religious knowledge. Religious education is often hampered by conservative ideologies that prioritize tradition and reject innovation, ignoring developments in science and technology. However, a more progressive integration of utopia can encourage changes in teaching methods, allowing Islamic religious education to be more relevant to the challenges of the times. This study also found a gap between traditional religious education and the need to adapt religious knowledge to social and global realities. Therefore, it is necessary to update the educational methodology in order to create a generation that not only understands religion, but is also able to play an active role in an increasingly developing society.
Pendidikan Metakognitif Dalam Meningkatkan Kecerdasan Intrapersonal Siswa di MA Darul Ishlah ., Ubaidillah
Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. 12 No. 3 (2024): EQUILIBRIUM : JURNAL PENDIDIKAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/equilibrium.v12i3.16436

Abstract

Intrapersonal intelligence is needed as an ability to guide oneself in advancing abilities and a more competent self. Therefore, it is necessary to increase this intelligence, one of which is through metacognitive education. Metacognition is considered to have a close correlation with intrapersonal intelligence, the concepts and theories have very relevant intersections to be correlated. This research is a type of Qualitative with a case study approach at MA Darul Ishlah Tulang Bawang Lampung. The methods used were interviews, observation and documentation, involving 24 students, 3 teachers and 2 leaders of the Darul Ishlah Foundation. The results of this study indicate that the stimulation of metacognitive development carried out on students during the learning process increases students' intrapersonal intelligence. Such as the ability to conceptualize life goals, manage emotions, motivate themselves and manage time effectively.
Pemikiran KH. Abdurrahman Wahid tentang Kurikulum Pesantren ., Ubaidillah; pengelola, pengelola
Tasyri` : Jurnal Tarbiyah-Syari`ah-Islamiyah Vol. 29 No. 02 (2022): Oktober 2022
Publisher : LPPM STAI Ihyaul Ulum Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/tasyri.v29i02.181

Abstract

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua yang ada di nusantara. Kitab kuning merupakan sumber belajar belajar utama pesantren. Hal ini menjadikan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang selalu mempertahankan khazanah keilmuan klasik par excellent.. Perkembangan dunia menuntut pesantren untuk mengkaji ulang terhadap kurikulum yang dimilikinya. Kaji ulang kurikulum bertujuan supaya pesantren lebih mampu memenuhi perkembangan zaman dan tuntutan kebutuhan masyarakat. Kajian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian ini ialah data tertulis. Data tertulis tersebut berupa tulisan-tulisan KH. Abdurrahaman Wahid, yang mencerminkan pemikiran tentang kurikulum pesantren. Pemikiran KH. Abdurrahman Wahid tentang kurikulum pesantren menjelaskan tentang perlunya pesantren melakukan perubahan kurikulum untuk dapat menghadapi tantangan globalisasi dan perkembangan tunutan masyarakat. Perubahan kurikulum tersebut yaitu mengintegrasikan antara materi agama dengan materi non agama (umum), dengan tetap mempertahankan nilai dasar yang selama dipegang pesantren, yaitu, pertma, sikap memandang kehidupan sebagai kerja peribadatan; kedua, kecintaan pada ilmu-ilmu agama yang sangat kuat pada diri santri; dan ketiga, keikhlasan bekerja atau ketulusan bekerja untuk tujuan bersama.
Ontologi Islam Nusantara dalam Pendidikan Islam di Indonesia ., Ubaidillah
TABYIN: JURNAL PENDIDIKAN ISLAM Vol 4 No 2 (2022): Desember
Publisher : STAI Ihyaul Ulum Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/tabyin.v4i2.195

Abstract

Di awal milenia kedua, Indonesia yang multi etnis dan multi agama, dan dikenal sebagai masyarakat yang toleran, sempat dikejutkan oleh beberapa kejadian bernuansa SARA. Kejadian-kejadian seperti ini, cukup menggangu bagi bangsa Indoensia mengingat sejarah panjang identitas Indoensia sebagai bangsa yang toleran dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Pendidikan memegang peran penting dalam membentuk sikap masyarakat, termasuk siakap toleran-intoleran. Hal ini dikarenakan salah satu fungsi dan tujuan pendidikan sebagai media tranafer of knowlwdge dan transfer of values. Dengan menggunanakan metode perpustakaan (librarry research) dan deskriptif, dan pengelolaan data dilakukan dengan proses mengedit, mengklasifikasikan, memverifikasi, menganalisis, dan menyimpulkan, penelitian ini berusaha menemukan jawaban atas berkembangnya intoleransi di Indonesia dengan menjassikan Islam Nusanatar sebagai landasan pendidikan Islam di Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa Islam Nusantara dengan paradigmanya yang tawazun, tawasuth, dan tasamuh yang terbingkai dalam sikap keberagamaan yang rahmatan lil ‘alamin, dapat menjadi jawaban sebagai landasan ontologis pelaksanaan Pendidikan Islam. Dengan paradigma keseimbangan yang menjadi ciri Islam Nusantara, Pendidikan Islam tidak hanya diorientasikan untuk mengejar kepentingan ukhrowi yang jsutru sangat rentan ketika dihadapkan pada sesuatu yang dikemas dengan label agama.