Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Farmaka

PENERAPAN REGULASI BPOM DALAM IKLAN KOSMETIK : UPAYA PERLINDUNGAN KONSUMEN DARI KLAIM TIDAK TEPAT DI JAWA BARAT Winardi, Devani Olivia; Ramadhania, Zelika Mega
Farmaka Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v23i1.65336

Abstract

Iklan kosmetik merupakan salah satu bentuk komunikasi pemasaran yang dirancang untuk menyampaikan manfaat, keamanan, dan kualitas produk kepada konsumen. Di Indonesia, praktik ini diatur secara ketat melalui Peraturan BPOM No. 18 Tahun 2024 tentang Penandaan, Promosi, dan Iklan Kosmetik, serta Peraturan BPOM No. 3 Tahun 2022 mengenai Persyaratan Teknis Klaim Kosmetika. Pengawasan terhadap kepatuhan iklan menjadi krusial untuk mencegah klaim yang menyesatkan. Berdasarkan laporan BBPOM Bandung selama 2022–2024, pelanggaran paling sering ditemukan pada iklan digital. Pada tahun 2022 dan 2023, dari 450 iklan yang diawasi, 6,4% dinyatakan tidak memenuhi ketentuan (TMK), seluruhnya berasal dari media digital. Pada 2024, tingkat pengawasan menurun (316 iklan), namun persentase pelanggaran meningkat signifikan menjadi 26,6%, dengan 91% berasal dari media digital. Pelanggaran didominasi oleh klaim berlebihan dan klaim di luar fungsi produk. Artikel ini menganalisis ketentuan iklan kosmetik sesuai regulasi BPOM dan memetakan pola pelanggaran aktual, dengan tujuan meningkatkan pemahaman pelaku usaha serta perlindungan konsumen. Berbeda dari studi sebelumnya yang lebih normatif, artikel ini menyajikan pendekatan berbasis data pengawasan, sehingga memberikan kontribusi empiris terhadap penguatan pengawasan iklan kosmetik di era digital.
ANALISIS SAFETY STOCK DAN REORDER POINT OBAT DI PUSKESMAS X KOTA BANDUNG UNTUK OPTIMALISASI MANAJEMEN PERSEDIAAN Lestyawan, Samuel; Ramadhania, Zelika Mega; Kusumastuti, Herfina Tri
Farmaka Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v23i1.65586

Abstract

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) merupakan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama yang menyelenggarakan upaya kesehatan. Sedangkan obat mejadi komponen penting dalam mendukung upaya pelayanan kesehatan di puskesmas. Maka, diperlukan penyelenggaraan pelayanan kefarmasian yang optimal di puskesmas untuk memastikan ketersediaan, pengelolaan, dan penggunaan obat yang efektif dan rasional bagi masyarakat. Salah satu bentuk pelayanan kefarmasian tersebut adalah pengendalian perbekalan farmasi yang bertujuan untuk memastikan stok tetap optimal. Pengendalian perbekalan farmasi dapat dilakukan melalui analisis safety stock dan re-order point. Safety stock merupakan stok yang harus tersedia untuk mengantisipasi hal-hal tidak terduga yang akan terjadi, sementara itu, re-order point merupakan titik jumlah stok di mana harus dilakukan pemesanan kembali. Setelah dilakukan perhitungan safety stock dan re-order point di Puskesmas X, didapatkan persediaan dengan safety stock dan re-order point paling tinggi adalah tablet parasetamol 500 mg, kapsul N-asetilsistein 200 mg, kapsul amoksisilin 500 mg, tablet vitamin B kompleks, dan tablet kalsium laktat dengan nilai safety stock berturut-turut adalah 3602, 2425, 2153, 2009, dan 1392 serta nilai re-order point berturut-turut adalah 5359, 2608, 3203, 2989, dan 2071. Nilai-nilai tersebut selaras dengan nilai penggunaan di mana kelima persediaan tersebut penggunaannya paling besar. Diharapkan dengan ditentukannya nilai safety stock dan re-order point, Puskesmas X dapat lebih optimal dalam mengelola persediaan farmasi, terutama dalam menentukan waktu pemesanan ke PBF.