Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Meneroka Motif Kuda Lumping Antara Surealisme dan Realisme Nawung Asmoro Girindraswari
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/jpks.v8i2.22166

Abstract

Kuda Lumping merupakan tarian tradisional jawa yang menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda.  Kuda lumping populer dengan sebutan Jathilan di Yogyakarta. Di dalam motif kuda lumping terdapat makna  yang diciptakan melalui pandangan filosofi. Kajian Bahasa rupa tradisional Jawa dapat ditelusuri dari sisi historis, falsafah, dan karakteristik semiotiknya.Melihat fenomena yang terjadi pada kesenian kuda lumping tersebut penulis merumuskan permasalahan penelitian dalam tulisan ini: Bagaiamana makna tanda yang dibangun pada motif kuda lumping antara surealisme dan realisme dalam pertunjukan kesenian Jathilan di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta? Metode penelitian yang digunakan penulis  dalam penelitian ini ialah dengan cara mengambil analisis data diskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan dengan cara melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi dengan mencari sumber observasi langsung sanggar kesenian Jathilan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, wawancara langsung ke narasumber dan dokumentasi melalui foto, video, dan rekaman. Hasil yang dicapai ialah kesimpulan tentang makna tanda pada kuda lumping di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.Hasil penelitian menunjukan dari sisi makna dan fungsi motif yang berkembang saat ini kuda lumping sangat berbeda dengan tradisional, seharusnya selalu relevan berdasarkan esensinya sesuai dengan karakteristik budaya jawa dan etika yang harus tetap di jaga.Kata Kunci : Makna, Motif, Kuda Lumping
CREATING THE TAMBUN BUNGAI BATIK MOTIF AS AN ALTERNATIVE BRAND IDENTITY FOR CENTRAL KALIMANTAN Nawung Asmoro Girindraswari; Bayu Prihantoro
JOURNAL OF HUMANITIES AND SOCIAL STUDIES Vol. 1 No. 1 (2023): MAY 2023
Publisher : Media Inovasi Pendidikan dan Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Developing batik motifs with the character of a region is one potential way to create new, contemporary motifs by tapping into the region's potential. Tambun and Bungai are taken from the names of two well-known and renowned heroes in the folk stories of the Dayak people in Central Kalimantan Province, Kalimantan Tengah. They are seen as having prominent cultural aspects that can represent Central Kalimantan and be transformed into a form of visual branding. There are many potentials in Central Kalimantan that can be developed into iconic motifs, such as from local customs, natural resources, and ecotourism. Therefore, there is a need to create a Tambun Bungai motif that is in line with the local wisdom and characteristics in an effort to promote Central Kalimantan through batik media. This article is part of an effort to establish the brand identity of Central Kalimantan through in-depth research on the local cultural identity, with the output being the creation of a decorative pattern called the Tambun Bungai batik motif.
Batik Tambun Bungai Penciptaan Motif Lokal Untuk Kejatidirian Eknonomi Kreatif Kalimantan Tengah Nawung Asmoro Girindraswari; Utari Yolla Sundari; Muh.Andis Hidayatullah; Muhamad Romadoni
Journal of Management and Bussines (JOMB) Vol 6 No 1 (2024): Journal of Management and Bussines (JOMB)
Publisher : IPM2KPE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/jomb.v6i1.8191

Abstract

This research aims to create local batik motif. This research was focused on creating local Tambun Bungai batik motifs for the creative economic identity of Central Kalimantan Province in supporting SDGs in regional development. This research uses a design creation approach that is implemented on fabric using a digital batik printing process. The design creation research methods involves the following steps. (1) identification (2) research (3) idea formulation (4) prototype (5) selection (6) implementation (7) evaluation. The results yield are typical Tambun Bungai batik which has its own uniqueness, inspired by the richness of the natural landscape, traditional art and has bold color patterns that convey a strong impression of the philosophical values ​​inherent in Central Kalimantan batik motifs as well as being an effective regional promotional media. Keywords: Batik, Dayak, Creative economy, Central Kalimantan
Benang Bintik: Batik Motif Babukung sebagai Pilar Ekonomi Kreatif Lamandau Nawung Asmoro Girindraswari; Muh. Andis Hidayatullah; Andi Arie Astuti; Hendro T.G. Samosir; Marrisa Aulia Mayangsari
Kaganga:Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora Vol. 7 No. 2 (2024): Kaganga: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/kaganga.v7i2.12707

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan ide konsep motif batik berupa visual, warna, ragam hias, pertunjukan dan nilai sejarah Babukung. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode yang digunakan termasuk metode kreatif yang terdiri dari beberapa tahap; merumuskan kreasi ide motif Babukung, eksplorasi ide konsep, eksplorasi desain dan teknik, proses kreatif mewujudkan motif benang bintik, hasil kreatif motif benang bintik, termasuk analisis desain, kajian pasar, dan teknik produksi digital printing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan motif Babukung pada benang bintik tidak hanya memperkaya warisan budaya tetapi juga berpotensi meningkatkan daya saing produk lokal di pasar kreatif. Simpulan penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi pengembangan strategi ekonomi kreatif yang berkelanjutan dan mempromosikan pelestarian budaya di kabupaten Lamandau. Kata kunci: Benang Bintik, Festival Babukung, Lamandau.
Pemberdayaan Komunitas Lokal Berwawasan Ekonomi Kreatif melalui Pelatihan Pembuatan Benang Bintik Bermotif Fauna Khas Sabangau di Kalampangan Muh. Andis Hidayatullah; Nawung Asmoro Girindraswari; Utari Yolla Sundari; Muhamad Romadoni
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI) Vol. 2 No. 2 (2024): Desember
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/jpmi.v2i2.2694

Abstract

Kawasan wisata Taman Nasional Sabangau terletak di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Sebagai wisata andalan, kawasan ini merupakan habitat bagi flora dan fauna khas Kalimantan. Namun masyarakat sekitar wilayah ini masih dihadapkan dengan berbagai permasalahan salah satunya adalah ekonomi. Pemberdayaan komunitas lokal berwawasan ekonomi kreatif dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Melalui pelatihan pembuatan benang bintik bermotif fauna khas Sabangau yang diberikan kepada PKK Kalampangan diharapkan akan meningkatkan pengetahuan, keterampilan serta kreativitas masyarakat yang kemudian menjadi diproduksi menjadi salah satu produk ekonomi kreatif. Pelatihan pembuatan benang bintik yang telah dilakukan pada bulan Oktober diikuti oleh 15 peserta mendapatkan atensi dari masyarakat dan juga pihak Kelurahan Kalampangan. Hasil evaluasi juga menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan serta keterampilan dari peserta setelah mengikuti pelatihan.
PELATIHAN TARI BAHALAI SEBAGAI UPAYA OPTIMALISASI POTENSI CULTURAL TOURISM DI KELURAHAN SEI GOHONG Muhamad Romadoni; Luluk Tri Harinie; Nawung Asmoro Girindraswari; Daniel Batuah Barajaki Asang; Vitani Desy Derja F
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2024): Vol. 5 No. 6 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i6.39495

Abstract

Salah satu potensi yang dimiliki Kelurahan Sei Gohong untuk meningkatkan jumlah wisatawan sejatinya bisa didorong dengan kegiatan kesenian sebagai produk kebudayaan. Keberadaan cagar budaya yang sudah dibangun tidak jauh dari wisata kiranya menjadi daya tarik tersendiri. Tujuannya agar memanfaatkan potensi cagar budaya dalam memberdayakan masyarakat dapat meningkatkan jumlah wisatawan yang akan berkunjung. Metode yang dilakukan dalam pemberdayaan masyarakat menggunakan model pembelajaran kolaboratif. Dalam model ini, tim Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) menyampaikan materi melalui ceramah, sesi tanya jawab, serta metode demonstrasi dan drill. Intervensi yang diberikan kepada sasaran berupa tim PKM melakukan sosialisasi, pelatihan tari bahalai dilanjutkan dengan pertunjukan di depan cagar budaya sebagai upaya pengembangan potensi bentuk pariwisata. Pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan pelatihan tari bahalai sebagai upaya optimalisasi wisata budaya menunujukan peserta mempunyai semangat tinggi dalam menangkap materi yang telah diajarkan oleh Tim PKM. Beberapa gerakan yang telah diajarkan mampu diperagakan di depan masyarakat umum sebagai bentuk pertunjukan yang mengasah mental para peserta. Kegiatan ini juga menjadikan Kelurahan Sei Gohong memiliki sumber daya manusia yang mumpuni dalam mengoptimalisasikan kelurahan cultural tourism.
Purun Puppet Theatre: Weaving Stories on an Ecopedagogical Stage for the Sustainability of Cultural and Environmental Wisdom Nawung Asmoro Girindraswari; Marissa Aulia Mayangsari
Paedagogi: Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (e-journal) Vol. 12 No. 1 (2026): JUNE: 2026
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/paedagogi.v12i1.73927

Abstract

Ecological crises, marked by environmental degradation and the weakening of human–nature relationships, reflect the limitations of environmental education paradigms that remain dominated by cognitive and normative approaches. Such approaches often fail to cultivate ecological awareness grounded in lived experience, cultural contexts, and community-based social practices. This study aims to analyze Purun Puppet Theatre as an arts-based ecopedagogy model that supports the sustainability of environmentally grounded cultural wisdom. The study employed Participatory Action Research and Arts-Based Research, involving 31 participants in Palangka Raya. PAR was used to examine the production process of Purun Paper Puppets, while ABR was applied to analyze the implementation of Purun Puppet Theatre as an ecopedagogical stage. Post-performance sustainability implications were explored through Focus Group Discussions (FGDs), and all data were interpreted within the conceptual frameworks of PAR and ABR. The findings indicate that Purun Puppet Theatre operates through three epistemic stages. First, formation of praxis, referring to the development of ecological understanding through the production of Purun Paper Puppets, integrating purun materiality, place-based experiences, and community participation as ecological learning practices. Second, knowledge production, referring to the implementation of Purun Puppet Theatre as an ecopedagogical stage that generates cultural–ecological knowledge through relationships among puppets, materials, narratives, audiences, and the social space of performance. Third, knowledge translation, referring to the translation of environmentally grounded cultural wisdom through post-performance reflection, strengthening ecological awareness, empathy toward human–nature relationships, and the reinterpretation of local purun wisdom within the context of environmental sustainability. This study demonstrates that Purun Puppet Theatre functions not only as a medium for communicating ecological messages but also as an arts-based ecopedagogy model that produces and translates cultural–ecological knowledge in reflective, participatory, and contextual ways.
Kajian Semiotika Body painting Motif Dayak dalam Seni Pertunjukan Multikontekstual Nawung Asmoro Girindraswari; Endah Yusma Pratiwi; Muh. Andis Hidayatullah; Nirena Ade Christy; Inthanni Suci Plodya; Duly Marseni; Nuor Gita
JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) Vol 11, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jpks.v11i1.39300

Abstract

This study aims to analyze the role of Dayak motif body painting in contemporary performance art, focusing on how these motifs function as a system of signs that convey symbolic meaning to the audience. The approach used is qualitative with Peirce's semiotic analysis, which divides signs into icons, indices, and symbols. Data were obtained through observations of the Dayak Opera Nyai Nyalong Apoi 3 performance and interviews with Dayak artists and cultural experts. The results of the study show that Dayak motif body painting not only serves as a decorative element but also as a symbolic text that enriches the dramaturgy of the performance. Although there are aesthetic changes in body painting, such as changes in color and technique, the symbolic meaning contained in each motif remains preserved, reflecting spiritual strength, social status, and the relationship between humans and nature. Body painting functions as an icon representing nature and specific powers, an index linking the wearer to social or spiritual status, and a symbol understood based on cultural consensus. The study also shows that the symbolic transformation of body painting remains relevant in contemporary performance art, despite the influences of modern cultural development. A deep cultural awareness is crucial to ensure that body painting remains an effective symbolic communication tool and does not reduce to merely a visual ornament.