Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Penerapan Sistem Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik di Bantul, DIY Setiawan, Agus Nugroho
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 11th University Research Colloquium 2020: Bidang Sains dan Teknologi
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budidaya padi di wilayah Kecamatan Kasihan, Bantul mempunyai banyak kelemahannya, yang bermuara pada rendahnya produktivitas lahan, tingginya biaya usaha tani dan rendahnya pendapatan petani. Oleh karenanya untuk meningkatkan taraf hidup petani perlu dilakukan pemberdayaan petani dengan penerapan Sistem Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik (IPAT-BO). Namun karena teknologi ini berbeda dengan budidaya padi konvensional, maka perlu adanya sosialisasi yang baik dalam bentuk program pengabdian masyarakat. Program ini dilaksanakan dengan khalayak sasaran Kelompok Tani “Tlogo” di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Bantul. Untuk menjamin kelangsungan dan keberlanjutan kegiatan ini, maka digunakan beberapa metode yaitu diskusi publik, penyuluhan, pelatihan, demplot, pendampingan petani dan kunjungan lapangan, yang dikemas dalam bentuk Sekolah Lapangan (SL). Diskusi publik, penyuluhan dan pelatihan, dan demplot dilaksanakan di UMY; laboratorium lapangan di lahan petani di Kasihan, Bantul; dan kunjungan lapangan dilakukan ke Kelompok Tani “Mulyo Tani” di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Hasil program pengabdian masyarakat menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar petani sudah berumur tua dengan kemampuan menyerapkan pengetahuan yang terbatas, namun mempunyai semangat untuk maju dan mengembangkan teknologi budidaya padi. Meskipun teknologi IPAT-BO merupakan sesuatu yang baru bagi petani, namun petani yakin teknologi IPAT-BO mempunyai banyak keunggulan dan dapat meningkatkan hasil tanaman padi, sehingga petani sangat tertarik untuk mengembangkannya. Program penerapan ipteks memberikan manfaat yang besar bagi petani karena dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petani dalam budidaya padi yang lebih efektif dan efisien, ramah lingkungan dan lebih produktif. Transfer teknologi pertanian kepada petani dengan menerapkan berbagai bentuk kegiatan yang dikemas dalam satu kegiatan sekolah lapangan efektif untuk memberdayakan petani.
Upaya Meningkatkan Produktifitas Lahan dengan Tumpangsari Jagung Manis dan Kacangan Sarjiyah, Sarjiyah; Setiawan, Agus Nugroho
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 11th University Research Colloquium 2020: Bidang MIPA dan Kesehatan
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jagung manis umumnya dibudidayakan secara monokultur dengan jarak tanam yang cukup lebar. Sistem tanam monokultur mempunyai kekurangan antara lain penggunaan lahan yang kurang efektif atau produktivitas lahan rendah, mudah terserang hama dan penyakit dan resiko kegagalan panen lebih besar. Salah satu usaha untuk mengatasi masalah tersebut yaitu penerapan sistem tanam tumpangsari dengan kacangan yang dapat tumbuh pada intensitas cahaya kurang dari 100% . Informasi mengenai jenis kacang yang sesuai untuk dijadikan tanaman sela pada sistem tumpangsari dengan jagung manis masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis kacang yang mampu meningkatkan produktivitas lahan dan tidak menurunkan hasil jagung manis pada tumpangsari jagung manis-kacangan. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan rancangan percobaan faktor tunggal yang disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan 3 blok sebagai ulangan. Perlakuan yang diujikan adalah jenis kacangan yang terdiri atas 5 jenis yaitu kacang tanah, kacang kedelai, kacang merah, kacang tunggak dan kacang hijau. Selain itu juga dilakukan penanaman jagung manis dan berbagai jenis kacang secara monokultur sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tumpangsari jagung manis dengan kacang tanah, kacang kedelai, kacang tunggak dan kacang hijau dapat meningkatkan produktivitas lahan dengan nilai land equivalent ratio (LER) masing-masing 1,68; 1,13; 1,60 dan 1,52. Tumpangsari jagung manis+kacang menghasilkan jagung manis tidak beda nyata dengan monokultur.
Keanekaragaman Dan Kelimpahan Gulma Pada Tumpangsari Jagung Manis Dengan Kacangan Setiawan, Agus Nugroho; Sarjiyah, Sarjiyah
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 7, No 2: September 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bioeksperimen.v7i2.10814

Abstract

Jagung manis merupakan tanaman penting bagi Indonesia, umumnya ditanam secara monokultur dengan jarak tanam lebar yang menyebabkan banyak gulma. Pengendalian gulma kebanyakan dilakukan secara manual atau kimiawi yang efektivitas dan efisiensinya rendah. Salah satu metode yang potensial untuk mengendalikan gulma adalah tumpangsari. Tanaman yang sesuai untuk ditumpangsarikan dengan jagung manis adalah kacangan, yang mempunyai karakter berbeda dengan jagung manis. Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh jenis kacangan terhadap mikroklimat, keanekaragaman dan kelimpahan gulma, serta mendapatkan jenis kacangan yang efektif untuk menekan gulma. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan percobaan faktor tunggal yang disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap dengan 3 blok sebagai ulangan. Perlakuan yang diujikan adalah jenis kacangan yang terdiri atas 5 jenis yaitu kacang tanah, kedelai, kacang tunggak, kacang merah dan kacang hijau, serta penanaman jagung manis monokultur sebagai pembanding. Pengamatan gulma dilakukan dengan analisis vegetasi dengan 5 petak sampel setiap petak perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gulma yang tumbuh pada tumpangsari jagung manis+kacangan sebanyak 33 jenis, didominasi oleh gulma tekian dan daun lebar, yaitu Cyperus rotundus, Cynodon dactylon, Physallis angulata dan Phyllantus niruri; semua jenis kacang pada tumpangsari mampu menekan pertumbuhan gulma, dengan kemampuan menekan gulma yang paling tinggi yaitu kacang tunggak; dan keberadaan kacangan sebagai tanaman sela di antara jagung manis pada tumpangsari tidak menurunkan hasil jagung manis.
PENGUATAN PERILAKU HIDUP SEHAT DAN BERSIH DI MASA PANDEMI COVID-19 Setiawan, Agus Nugroho
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 1 (2021): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v4i1.102-109

Abstract

Pojok is one of village of Wonokerto, Turi, Sleman, DIY which is growing. The Pojok people realize that a good lifestyle will improve their health and a longer life expectancy, so they will continue to try to improve their knowledge and insight about health. Some of the problems faced are the insight and knowledge of the Pojok community about clean and healthy living behavior (PHBS) is still limited and has not been implemented as a whole, and family welfare program (PKK) activities related to clean and healthy living behavior and the number and skills of Health Cadres are still limited. To realize PHBS in Pojok, Community Service activities was conducted in the form of KKN PPM, for 6 months starting from January to June 2020. To achieve the goal, community service was conducted with several stages, i.e. KKN student training, coordination and socialization to the community, implementation of the field consisted as extension, training, facilitation, and assistance. The results of community service show that the activity has been going well with several activities, i.e. coordination, socialization, counseling, training and facilitation of supporting equipment, assistance, and monitoring and evaluation. The community of Pojok, Wonokerto, Turi gave a good response by participating in activities and implementing PHBS in their daily lives well. The community feels they have gained insight, experience and skills in the application of PHBS. The community service program of KKN PPM has provided more benefits, when the Covid-19 pandemic occurred, the community was ready to do a clean and healthy lifestyle
PENGELOLAAN LIMBAH MINYAK GORENG AGAR AMAN DAN BERMANFAAT Setiawan, Agus Nugroho; Wijayanti, Septi Nur; Haresmita, Perdana Priya; Nazhifah, Sherin Nawang Nauroh
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 2 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i2.21838

Abstract

Abstrak: Minyak jelantah atau used cooking oil (UCO) merupakan salah satu limbah rumah tangga yang hampir selalu dihasilkan setiap hari, yang apabila dikonsumsi terus–menerus dapat membahayakan tubuh dan memicu berbagai penyakit. Permasalahan jelantah juga terjadi pada rumah tangga ibu–ibu di Kecamatan Turi, Sleman. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam memanfaatkan limbah minyak jelantah menjadi berbagai barang yang lebih bermanfaat, dengan mitra sasaran Ibu–ibu anggota Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Donokerto I, Turi berjumlah 30 orang. Pengabdian kepada Masyarakat dilakukan dengan beberapa metode yaitu sosialisasi, penyuluhan, demo dan pelatihan, praktik serta pendampingan. Evaluasi dilakukan selama dan paska kegiatan dengan pre–test dan post–test, serta penilaian terhadap produk yang dihasilkan. Hasil pengabdian kepada masyarakat mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Ibu–ibu ‘Aisyiyah dalam mengelola minyak jelantah menjadi barang yang lebih bermanfaat. Tingkat partisipasi peserta dalam berbagai kegiatan mencapai 90%, pengetahuan Ibu–ibu ‘Aisyiyah tentang bahaya penggunaan minyak jelantah meningkat dari 67 menjadi 83, dan sebagian besar peserta (90%) menyatakan akan merubah pola pengelolaan minyak jelantah dari yang sebelumnya hanya dibuang akan diolah menjadi lilin jelantik dan sabun cuci tangan. Untuk meningkatkan keberhasilan program tetap perlu dilakukan pembinaan dan pendampingan yang berkelanjutan terutama oleh Ketua PRA dan Majelis Ekonomi.Abstract: Used cooking oil (UCO) is a household waste almost always produced daily. If consumed continuously, it can harm the body and trigger various diseases. The problem of waste cooking also occurs in women's households in Turi District, Sleman. This community service aims to increase knowledge and skills in utilizing used cooking oil waste to create various more useful goods, with the target partners being 30 members of the Branch Board of the 'Aisyiyah (PRA) Donokerto I, Turi. Community service uses several methods: socialization, counseling, demonstrations, training, practice, and mentoring. Evaluation is carried out during and after the activity with a pre–test and post–test and an assessment of the products. The results of community service were that they could increase the knowledge and skills of ‘Aisyiyah members in managing used cooking oil and making it more useful. The level of participant participation in various activities reached 90%, the knowledge of 'Aisyiyah members about the dangers of using used cooking oil increased from 67 to 83 (100 scale), and the majority of participants (90%) stated that they would change the pattern of managing used cooking oil from previously just throwing it away to processing it into aromatherapy candles and hand washing soap.
PENGELOLAAN LAHAN PEKARANGAN BERBASIS MASYARAKAT PERKOTAAN Setiawan, Agus Nugroho; Wijayanti, Septi Nur
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 4 (2025): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i4.32492

Abstract

Abstrak: Pandeyan merupakan salah satu kelurahan yang ada di Kemantren Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Pertumbuhan dan perkembangan Kelurahan Pandeyan telah memunculkan permasalahan, antara lain sulitnya mencari ruang terbuka hijau (RTH). Meskipun demikian, ada beberapa lahan yang belum dimanfaatkan oleh pemiliknya karena tinggal di daerah lain. Oleh karena itu, masyarakat berusaha memanfaatkan lahan tersebut untuk budidaya tanaman yang dikelola oleh Kelompok Wanita Tani (KWT), namun hasilnya belum optimal. Untuk memperbaiki kondisi tersebut dilakukan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota KWT Pandeyan dalam pemanfaatan pekarangan untuk mencapai kemandirian pangan. Mitra sasaran utama program ini adalah anggota KWT Kelurahan Pandeyan yang melibatkan 25 orang peserta. Pengabdian pada masyarakat ini dilakukan dengan pendekatan partisipatif, dan melalui serangkaian tahapan kegiatan, mulai dari koordinasi, sosialisasi dan penyuluhan, praktik, pendampingan sampai dengan monitoring evaluasi. Evaluasi program dilakukan dengan melihat partisipasi aktif peserta serta pre–test dan post–test. Program pemberdayaan masyarakat mendapatkan tanggapan yang baik dengan keterlibatan mitra yang mencapai 75%, mampu meningkatkan pengetahuan mitra tentang pangan sebesar 15% dan meningkatkan keterampilan dalam pengelolaan lahan pekarangan sehingga menjadi produktif.Abstract: Pandeyan is a village in the Umbulharjo District, Yogyakarta City. The growth and development of Pandeyan Village have raised problems, including the difficulty of finding green open space. However, there are some lands that the owners have not used because they live in other areas. Therefore, the community tried to use the land for crop cultivation managed by the Women Farmers Group (KWT), but the results were not optimal. To improve these conditions, a community service program was carried out, which aimed to enhance the knowledge and skills of the Women Farmers Group (KWT) Pandeyan in yard management and realizing yard-based food independence. The target partners for this community service are members of KWT Pandeyan Village, with 25 active participants. Community service uses a participatory approach and several stages: coordination, socialization, counseling, practice, mentoring, and evaluation and monitoring. Program evaluation is carried out by looking at the active participation of participants as well as pre-tests and post-tests. Community service in Pandeyan, Umbulharjo, Yogyakarta City received a good response, with partner involvement reaching 75%, able to increase partners' knowledge about food by 15% and improve skills in yard land management so that it becomes productive.