Sri Maryati Deliana, Sri Maryati
Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang, Semarang, Jawa Tengah

Published : 38 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search
Journal : Intuisi

Hubungan Perlakuan Diskriminasi Masyarakat Dengan Penerimaan Diri Transseksual Di Kota Semarang Khawwa, Ira El; Hendriyani, Rulita; Deliana, Sri Maryati
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 7, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v7i1.11611

Abstract

Abstrak. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan perlakuan diskriminasi masyarakat dengan penerimaan diri transseksual di Kota Semarang. Hasil uji korelasi, diketahui bahwa koefisien korelasi (r) perlakuan diskriminasi dengan penerimaan diri sebesar 0,498 dengan taraf signifikan (p) 0,004 dimana p < 0,05. Hal tersebut menunjukan bahwa hipotesis diterima. Hasil perhitungan F sebesar 5,793 dengan p = 0,053. Nilai p>0,05, karena p>0,05 maka pola hubungan antara perlakuan diskriminasi dengan penerimaan diri tidak linier. Hasil tersebut menunjukkan bahwa hanya terdapat hubungan antara kedua variabel dan tidak ditemukan hasil yang menunjukkan jika variabel perlakuan diskriminasi dapat mempengaruhi variabel penerimaan diri.Kata Kunci: Diskriminasi, Penerimaan Diri, Transseksual Abstract. This study is a quantitative correlation which aims to determine how the relationship of discrimination with self-acceptance transsexual community in the city of Semarang. Korelari test results, it is known that the correlation coefficient (r) with self-acceptance discrimination of 0.498 with a significance level (p) 0.004 where p <0.05. It shows that the hypothesis is accepted. The results of the calculation of F of 5.793 with p = 0.053. P-value> 0.05, since p> 0.05 then the pattern of relationship between discrimination with self-acceptance is not linear. These results indicate that there is a relationship between only two variabels and found no results which indicate if the variabel discrimination can affect self-acceptance variabels.Keywords: Discrimination, Self Acceptance, Transsexual 
SOSIALISASI ANAK TK DI SEKOLAH AKIBAT PENERAPAN DISIPLIN OTORITER GURU (Penelitian Deskriptif pada TK PGRI 65 Gebangsari Semarang Tahun Ajaran 2008-2009) Deliana, Sri Maryati
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 1, No 2 (2009): Juli 2009
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v1i2.8902

Abstract

Background of this research was kindergarten teacher which in PBM (Learning Process Teachs) applies autoritary discipline though ought to a kindergarten teacher becomes fasilitator and having responsibility to create situation that can grow initiative, motivation and participant responsibility educates to learn. This research applies descriptive method Population in this rematch me kindergarten  students of PGRI 65, with subjects 40. Sampling technique applies technics of population study. Variable in this research is socialization kindergarten student. Data collecting method by using Observation check list socialization of kindergarten .students. With three observers; Based on result of inferential research that applying of autoritary discipline Iearned haves an in with sociaIization children of because children will become more agresive. Based on result of this research suggested to learn kindergarten sudent teaching not to apply applying of autoritary discipline and teacher earns more patiently in facing behavior of kindergarten students.
MORAL JUDGMENT PADA SISWA KELAS IX DI MTS AL-ASROR TAHUN 2015 DITINJAU DARI LINGKUNGAN TEMPAT TINGGAL (PONDOK PESANTREN DAN RUMAH) Patrikasari, Destiana; Deliana, Sri Maryati
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 8, No 2 (2016): Juli 2016
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v8i2.8623

Abstract

Abstrak. Penelitian ini merupakan penelitian yang dilandasi oleh banyaknya fenomena kenakalan remaja mulai dari merokok, tawuran, narkoba, hingga seks bebas yang kini makin marak dalam kehidupan sehari-hari. Karena timbulnya kenakalan remaja ini seringkali dikatakan adanya krisis moral pada remaja. Moral judgment yang merupakan salah satu komponen perilaku moral seringkali diteliti karena banyaknya pandangan berbeda tentang moral judgment itu sendiri. Beberapa ahli sepakat bahwa moral terbentuk juga karena pengaruh dari lingkungan.Metode penelitian merupakan kuantitatif komparatif. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan dari moral judgment yang ditunjukkan oleh siswa kelas IX MTs Al-Asror dilihat dari lingkungan tempat tinggalnya, yaitu mereka yang tinggal dirumah dan mereka yang tinggal di pondok pesantren, subjek penelitian merupakan 80 siswa kelas IX MTs Al-Asror, yang terbagi dalam 2 kelompok yaitu 40 siswa merupakan siswa yang tinggal di rumah dan 40 siswa yang tinggal di pesantren dengan menggunakan teknik random sampling.Instrumen yang digunakan dalam pengambilan data merupakan skalaMoral Judgment. Berdasarkan data penelitian menunjukkan bahwa moral judgment yang ditunjukkan oleh siswa kelas IX MTs Al-Asror tidak menunjukkan adanya perbedaan moral judgment yang ditunjukkan oleh siswa kelas IX baik mereka yang tinggal di rumah ataupun pesantren, rata-rata berada pada kategori sedang. Dari hasil penelitian tersebut peneliti memberikan saran agar pembimbing dari siswa kelas IX ini baik orangtua maupun pengurus pondok sebaiknya meningkatkan kepedulian sehingga tercipta lingkungan yang kondusif bagi remaja untuk bisa memaksimalkan perkembangan remaja.Abstract. This research based on phenomen the number of juvenile delinquency ranging from smoked, brawl, drugs, to sex is now more prevalent in everyday life. Because the incidence of juvenile delinquency is often said to be the moral crisis in adolescents. Moral judgment, which is one component of moral behavior is often observed because of the many different views about the moral judgment itself. Some experts agree that morals are formed as well as the influence of the environment.The research method is comparative quantitative. This research was conducted in order to determine whether there are differences of moral judgment shown by students of class IX MTs Al-Asror seen from the neighborhood, those who stay at home and those living in the boarding school, the subject of the research is 80 students of class IX MTs Al-Asror, were divided into 2 groups: 40 students are students living at home and 40 students who live in boarding schools using random sampling techniques.The instruments used in data collection is a fiscal Moral Judgment. Based on research data shows that moral judgment shown by students of class IX MTs Al-Asror showed no difference in moral judgment shown by students of class IX both those who live in homes or schools, the average in middle category.From these results the researchers advise that students of class IX supervisor of both parents and caretaker's cottage should raise awareness so as to create a conducive environment for teens to be able to maximize the development of adolescents.
Dampak Psikologis pada Remaja Korban Pemerkosaan di Kabupaten Temanggung Sari, Kausar Rafika; Deliana, Sri Maryati; Hendriyani, Rulita
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 7, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v7i2.48749

Abstract

Penelitian ini berusaha menggambarkan secara lebih jelas dan mendalam tentang bagaimana dampak psikologis pada remaja korban pemerkosaan di Kabupaten Temanggung . Penelitian ini menggunakan metode wawancara (interview) dan observasi. Subjek pada penelitian ini yaitu satu orang remaja putri yang telah diperkosa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subjek mengalami pemerkosaan di Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subjek mengalami pemerkosaan di latar belakangi oleh ketidakharmonisan keluarga, hubungan yang buruk antar peer group nya dan kurangnya perhatian orang tua. Terdapat temuan baru pada faktor yang mempengaruhi timbulnya dampak psikologis pemerkosaan yaitu pengalaman traumatik masa lampau yaitu pernah mengalami pelecehan seksual, dinamika keluarga, hubungan sosial dan perilaku negatif orang tua. Sedangkan dampak psikologis yang dialami oleh subjek adalah subjek mengalami kejadian traumatic yang dialami kembali oleh subjek, subjek menghindari hal yang berhubungan dengan trauma, Subjek mengalami peningkatan kesadaran dan dampak psikososial pasca pemerkosaan subjek memisahkan diri dari lingkungan This research trying to describe more clearly and deeply about how psychology impact on teen rape victims in Temanggung regency. This research uses interview method and observation. Subject in this observation is a girl teenager who has been raped. Research result shows that subject has been raped and it caused by not harmonic family, bad relationship between peer group and lack of parent attention. There is a new factor which influence impact rape psychologist, that is traumatic experience in the past and ever has sexual harassment, family dynamic, social relationship and bad treatment from parent. While psychologist impact that experienced by the subject is subject gets traumatic experience and experienced again by the subject, subject avoids something that has relationship with trauma. Subject has increasing realize and psychosocialimpact after rape subject separate herself from the environment.
Gambaran Psychological Well-Being Keluarga Miskin Kampung Nelayan Tegal Sari Kota Tegal Wijaya, Mario Indrianto; Deliana, Sri Maryati; Hendriyani, Rulita
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 7, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v7i2.48745

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran psychological well-being keluarga miskin kampung nelayan RW 06 dan RW 10 Tegal Sari, Kota Tegal. Subjek penelitian berjumlah 65 orang yang merupakan keluarga miskin kampung nelayan Tegal Sari, Kota Tegal. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian simple random sampling. Metode penelitan yang digunakan adalah metode kuantitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar atau 78,46 persen (51 orang) menyatakan dirinya memiliki psychological well-being berada pada tingkat sedang. Sedangkan yang termasuk dalam kriteria tinggi hanya sebesar 15,38 persen (10 orang) dan 6,15 persen (4 orang) berada pada kategori rendah. Dari enam dimensi yang diteliti yaitu dimensi penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi, berada tingkat sedang,  dimensi yang paling besar proporsinya dalam terbentuknya psychological well-being pada keluarga miskin kampung nelayan Tegal Sari, Kota Tegal adalah dimensi pertumbuhan pribadi, sedangkan  dimensi yang paling kecil hubungan positif dengan orang lain. Gambaran secara umum masyarakat kampung nelayan RW 06 dan RW 10 Tegal Sari, Kota Tegal mempunyai psychological well-being yang berada pada kategori sedang. Berarti setengah dari masyarakat kampung nelayan berada pada tingkat ekonomi yang tergolong berkecukupan, karena mereka masih dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dan dapat menyekolahkan anak mereka walau mereka berpenghasilan sangat rendah. The purpose of this study was to determine how the image of psychological well-being of poverty families fishing village Tegal Sari, Tegal. Subject numbered 65 people who are poor fishing village . This research uses simple random sampling study. Research method used is descriptive quantitative method. The results showed that most or 78.46 percent (51 people) claimed have psychological well-being was at a moderate level . While the criteria are included in the height of only 15.38 percent (10 people) and 6.15 percent (4 people) are in the low category. Of the six dimensions studied were the dimensions of self acceptance, positive relations with others, autonomy, environmental mastery, purpose in life, and personal growth, to be moderate, the dimensions of the greatest proportion in the formation of psychological well-being for the poverty fisher village of Tegalsari, Tegal is the dimension of personal growth, while the smallest dimension of positive relationships with others. Picture of the general public fisher village Tegal Sari has psychological well-being that are in the medium category. Means half of the public fisher village is at a level that is relatively affluent economies, because they are still able to meet their daily needs and can send their children even though they income very low.