Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Bahasa Inggris Feny Puspitasari
IMAGIONARY Vol 1 No 2 (2023): APRIL
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (801.208 KB) | DOI: 10.51353/jim.v1i2.749

Abstract

The Ginkgo biloba plant is the only living species in the division of Ginkgophyta. It is also known as the maidenhair tree. The uniqueness of Ginkgo biloba lies in its fan-shaped leaves. The color and shape of Ginkgo biloba have been adapted into a performance costume for the prestigious Met Gala Party. This article discusses the design of the stage costume using Ginkgo biloba as a source of metaphor in fashion with adaptation techniques. The method used involves designing fashion products, starting from creating a concept, and mood board, making several alternative designs, and product prototypes. The resulting product is a Ginkgo biloba metaphor visualized in the form of fashion silhouettes, colors, accessories, and decorative details in the form of knife pleats. Respondent’s response to the metaphor through the adaptation technique of the Ginkgo biloba leaf shape is that almost all respondents can capture it well in the form of accessories, knife pleats, and silhouettes. However, the metaphor through the adaptation technique of the pattern arrangement, less than half of the respondents can capture it. In terms of color, almost all respondents can capture the color metaphor in the monochromatic scheme of the basic yellow color as the source of color ideas from Ginkgo biloba.
MODIFIKASI BUSANA DUNHUANG FEITIAN DENGAN INSPIRASI TOKOH FLORA PADA ANIMASI WINX CLUB Syifaa Yustiana Dewi; Feny Puspitasari
Tanra: Jurnal Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Dan Desain Universitas Negeri Makassar Vol 10, No 2 (2023): Mei - Agustus
Publisher : Universitas Negeri makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/tanra.v10i2.42864

Abstract

Setiap negara pasti memiliki berbagai macam tarian tradisional yang berkembang dan dilestarikan secara turun-temurun. Selain tariannya, busananya pun menjadi salah satu daya tarik bagi masyarakat luas karena keunikan dan sejarahnya. Salah satunya negara China yang memiliki busana tari tradisional Dunhuang Feitian. Namun busana ini masih tergolong sederhana sehingga peneliti bertujuan untuk memodifikasi busana Dunhuang Feitian menjadi busana kreasi yang lebih meriah dengan inspirasi dari tokoh Flora dalam film animasi fantasi Winx Club. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui proses dan hasil dari memodifikasi busana tradisonal Dunhuang Feitian menjadi busana kreasi yang lebih variatif dengan inspirasi dari tokoh Flora dalam film animasi fantasi Winx Club. Metode yang digunakan untuk penelitian ini yaitu Three Stage Design Process yang terdiri dari tiga tahapan. Tahap pertama adalah problem definition & research yaitu pencarian sumber ide untuk menentukan busana yang akan dimodifikasi dan menggabungkannya dalam sebuah moodboard, lalu creative exploration yaitu proses pengembangan dan pemodifikasian desain dari sumber ide yang sudah ditentukan dan terakhir implementation yaitu perwujudan hasil akhir dari modifikasi busana yang sudah sesuai dan memenuhi kriteria busana kreasi.Keywords: Dunhuang Feitian; Busana Tradisional; Winx Club; Film Animasi Fantasi.
Inovasi Wisata Edukasi Ciletuh Unesco Global Geopark Melalui Produk Hanjeli E- Dye Cucu Ruhidawati; Winwin Wiana; Katiah Katiah; Pipin Tresna; Feny Puspitasari
ABMAS Vol 23, No 1 (2023): Jurnal Abmas, Juni 2023
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v23i1.52915

Abstract

Inovasi mengandung makna perubahan, inovasi sangat berguna di segala bidang kehidupan, oleh karena itu memahami beberapa hal terkait inovasi memang diperlukan. Inovasi diperlukan untuk mempertahankan produk, baik jasa maupun barang agar terus diminati oleh pelanggan atau konsumen. Desa wisata merupakan desa yang memiliki potensi yang dapat menggerakkan orang orang untuk berkunjung dengan tujuan berwisata. Pada desa wisata membutuhkan inovasi dengan memanfaatkan potensi lokal yang diunggulkan. Pengembangan kawasan desa wisata Ciletuh, sebagai upaya untuk meningkatkan dan mengembangkan potensi alam hanjeli desa sekitar Ciletuh Unesco Global Geopark, merupakan strategi mengenalkan potensi alam yang melimpah dan dapat diolah menjadi ciri khas desa wisata Ciletuh. Hanjeli merupakan produk unggulan Desa Wisata Waluran Mandiri tetapi belum dimanfaatkan dengan optimal sebagai produk kreatif di bidang lain selain pangan. Berdasarkan hal tersebut metodologi pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh sivitas akademika prodi Pendidikan tata busana di dalam memecahkan permasalan adalah menggunakan Actioan researchAction Research dari pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan sasaran antara kader PKK dan sasaran langsung masyarakat/ perempuan muda sebanyak 20 orang di Desa Waluran di Kawasan Desa Wisata Ciletuh. Hasil dari Action adalah terdapatnya produk selain makanan dan strategi untuk mengexplorasi potensi hanjeli dengan diterapkan teknik ecoprint-tie dye yang menghasilkan motif tekstil yang menarik, ramah lingkungan dan merupakan tren fesyen yang sangat digemari masyarakat, terutama generasi muda/pengunjung desa wisata Ciletuh.
Brand Logo Design Training for The Small-Medium Batik Enterprise in Kalitengah Village Cirebon West Java Indonesia Feny Puspitasari; mila karmila; Katiah Katiah; Marlina Marlina; Asri Andarini Nurlita
ABMAS Vol 24, No 1 (2024): Jurnal Abmas, Juni 2024
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v24i1.52917

Abstract

This paper is a result based on the community service activity in Kalitengah village, Tengahtani sub-disctrict, Cirebon, West Java, Indonesia. The aim is to support the batik enterprises towards a more independent and better but still profit-oriented even in a pandemic situation. They have many problems in the sale and marketing system, and they don't have a brand logo yet.  This paper focused on brand logo design training because the small-medium batik enterprises need a brand logo. The brand logo will help them for a differentiator, identity, and develop an online promotion for their business and earn more profit. The methods used participatory action research (PAR). The steps are 1) field survey; 2) workshops; 3) mentoring; 4) Empowering; 5) Evaluation and follow up. The study involved 2 (two)  small-medium batik enterprises;  Selva Batik and Batik Habibah. The result is the logo of Selva batik's more contemporary, modern impressions whereas the logo of Batik Habibah has traditional and decisive impressions. Both logos have represented their enterprises as a part of Batik Pesisir Cirebon and had reached the stage from unbranded to brand as a reference, brand as personality, and brand as an icon.