Musa Asy’arie
Universitas Muhammadiyah Surakarta

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

KONSEP ADIL KELUARGA POLIGAMI DALAM TINJAUAN PENDIDIKAN ISLAM Rico Setyo Nugroho; Musa Asy’arie; Chusniatun Chusniatun
SUHUF Vol 34, No 2 (2022): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/suhuf.v34i2.20954

Abstract

Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama. Indahnya sebuah pernikahan poligami dan lebih indah lagi kalau dipraktikkan dengan adil dan penuh tanggung jawab. kajian penelitian ini adalah mendeskripsikan tentang keadilan dalam rumah tangga poligami. Jenis penelitian ini penelitian pustaka (library research) karena itu pengumpulan data dimulai dengan studi terhadap teks keagamaan dan literatur dan karya dari para praktisi poligami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam Islam tema tentang keadilan dalam rumah tangga poligami sudah selesai dalam arti bahwa keadilan bisa diterapkan dalam kehidupan poligami. Keadilan yang dimaksud adalah pangan, papan, sandang dan giliran mabit. Keadilan akan lahir dari pribadi muslim yang beradab. Temuan ini diharapkan bisa meminimalisir problem yang terjadi dalam rumah tangga poligami terkait masalah poligami
Model Transformasi Intelektual Muslim Berbasis Berpikir Profetik dalam Menghadapi Tantangan Era Digital Khamami Khamami; Musa Asy’arie; Mahasri Shobahiya
Iseedu: Journal of Islamic Educational Thoughts and Practices Vol. 9 No. 2 (2025): Vol 9 No 2 (2025): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/iseedu.v9i2.15097

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model transformasi intelektual Muslim berbasis berpikir profetik sebagai solusi menghadapi tantangan era digital yang berkembang pesat, dengan menekankan keseimbangan antara pengetahuan akademik, spiritualitas, dan moralitas. Penelitian ini menggunakan Ilmu Sosial Profetik yang digagas oleh Kuntowijoyo, yang menekankan tiga nilai inti: transendensi, humanisasi, dan liberasi sebagai dasar dalam memahami dan mengatasi masalah social. Literatur menunjukkan bahwa banyak intelektual Muslim yang terjebak dalam pola pikir materialistik dan rasional, sehingga nilai-nilai keagamaan mulai terpinggirkan. Berpikir profetik menawarkan alternatif dengan mengintegrasikan wahyu dan nilai moral dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi pustaka, menganalisis berbagai sumber terkait berpikir profetik dan digitalisasi pendidikan Islam. Berpikir profetik mampu membentuk intelektual Muslim yang kritis, inovatif, berakhlak, serta mampu memanfaatkan teknologi secara etis dan produktif. Hasil penelitian ini penting untuk mengarahkan pendidikan Islam dalam menghadapi tantangan digital, dengan mengintegrasikan nilai-nilai profetik dalam proses pembelajaran. Penelitian ini memberikan perspektif baru dalam menggabungkan nilai-nilai Islam dengan perkembangan teknologi untuk membentuk intelektual Muslim yang beretika.  
Dari Idealisme ke Realitas: Tantangan Penerapan Nilai Multikultural dalam Kehidupan Umat Islam di Era Modern Ria Nata Kusuma; Musa Asy’arie; Mahasri Shobahiya
Iseedu: Journal of Islamic Educational Thoughts and Practices Vol. 9 No. 2 (2025): Vol 9 No 2 (2025): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/iseedu.v9i2.15139

Abstract

Multikulturalisme Islam dijadikan gambaran prinsip secara universal. Prinsip yang dimaksud adalah ta'aruf, tasamuh, dan 'adl. Islam memfokuskan pada rasa hormat yang diberikan terhadap variasi ajaran Ilahi. Namun, tren sosial memperlihatkan beberapa aspek yang cukup tinggi seperti eksklusivisme, intoleransi, dan polarisasi identitas keagamaan. Disebabkan karena pendidikan multikultural dan media digital yang muncul dalam kehidupan manusia. Dalam mengatasi tantangan, perlu adanya implementasi nilai multikultural bagi setiap masyarakat Muslim. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis sastra menggunakan literature terdahulu. Hasil penelitian ini memperlihatkan adanya pengembangan dalam edukasi multikultural yang difokuskan secara Islam diperlukan sebagai upaya yang cukup strategis. Selanjutnya, diperlukan adanya penafsiran pada teks agama dan peran ulama dalam mengajarkan agama Islam kepada masyarakat. Literasi digital memainkan peran yang penting dalam membentuk komunitas Islam secara inklusif dan dialogis. Sehingga, multikulturalisme mampu membentuk komunitas Islam dengan keberagaman yang berkaitan dengan fenomena sosial dan wujud aktual berdasarkan ajaran profetik. Dalam hal ini, fokus utama adalah pada kondisi adanya tantangan kemanusiaan, kesetaraan dan transendensi pada hidup yang kontemporer.
Konsep ‘Dunia Kotak’ dalam Perspektif Pendidikan Agama Islam: Analisis Sosial dan Budaya Digital Muhammad; Musa Asy’arie; Mahasri Shobahiya
Islamic Education Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Medan Resource Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57251/ie.v5i2.1956

Abstract

The development of human civilization reflects a shifting worldview—from flat-earth beliefs to a spherical understanding of the planet, and now to the phenomenon of the “boxed world.” The concept of the “boxed world” refers to a modern pattern of life structured within rigid physical, social, digital, and cognitive frameworks characterized by segmentation and categorical thinking. This study aims to analyze the concept of the “boxed world” from the perspective of Islamic Religious Education (Pendidikan Agama Islam/PAI) and to explore its social and digital-cultural implications. Using a thematic-conceptual approach, the findings reveal that the “box” metaphor extends beyond architectural design to shape social systems, digital behavior, and modern patterns of thought. The rise of social polarization and the pursuit of efficiency in modern society have fostered “boxed thinking,” which tends to weaken critical reflection, creativity, and spirituality. The novelty of this study lies in integrating the metaphorical analysis of the “boxed world” with core values of Islamic Religious Education as an ethical-normative framework for responding to digital culture. From an Islamic perspective, foundational values such as tawhid (divine unity), ukhuwah (brotherhood), justice, trustworthiness (amanah), and balance (tawazun) function as guiding principles to ensure that digital transformation and social structures remain aligned with human dignity and spiritual equilibrium.
RECONSTRUCTING ISLAMIC RELIGIOUS EDUCATION PEDAGOGY BASED ON DEMOCRACY AND MULTICULTURALISM THROUGH CRITICAL-COLLABORATIVE LEARNING IN HIGH SCHOOL Woro Yustia Pratiwi; Musa Asy’arie
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14459

Abstract

Social change and the complexity of societal diversity require that Islamic Religious Education (PAI) learning not only be oriented towards mastering religious doctrines, but also towards developing a dialogical, inclusive, and democratic learning space. This qualitative research using library research aims to redefine and reconstruct PAI pedagogy based on democracy and multiculturalism through critical-collaborative learning in high schools. Data were obtained through a literature search in the databases of Google Scholar, Scopus, DOAJ, and Garuda Kemdikbud, by selecting 17 relevant sources from 142 identified records for analysis using content analysis, critical analysis, and conceptual synthesis techniques. The results show that the reconstruction of PAI pedagogy based on democracy and multiculturalism is realized through five main stages of syntax, namely democratic awareness, multicultural inquiry, collaborative dialogue, reflective engagement, and transformative action. These five stages of syntax position students as active subjects in constructing religious understanding through dialogue, critical reflection, and social collaboration. The novelty of this research lies in the integration of the principles of democracy, multiculturalism, and critical-collaborative learning into a systematic Islamic Religious Education (PAI) pedagogical framework. The main conclusion of the research confirms that this reconstruction expands the development of Islamic Religious Education (PAI) pedagogy that is more inclusive, humanistic, and responsive to the dynamics of contemporary multicultural society. ABSTRAK Perubahan sosial dan kompleksitas keanekaragaman masyarakat menuntut pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak hanya berorientasi pada penguasaan doktrin keagamaan, melainkan juga pengembangan ruang belajar yang dialogis, inklusif, dan demokratis. Penelitian kualitatif metode studi kepustakaan (library research) ini bertujuan meredefinisi dan merekonstruksi pedagogi PAI berbasis demokrasi dan multikulturalisme melalui pembelajaran kritis-kolaboratif di Sekolah Menengah Atas. Data diperoleh melalui pencarian literatur pada basis data Google Scholar, Scopus, DOAJ, dan Garuda Kemdikbud, dengan memilih 17 sumber relevan dari 142 rekaman teridentifikasi untuk dianalisis menggunakan teknik analisis isi (content analysis), analisis kritis, dan sintesis konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekonstruksi pedagogi PAI berbasis demokrasi dan multikulturalisme terwujud melalui lima tahapan sintaks utama, yaitu kesadaran demokratis (democratic awareness), penelusuran multikultural (multicultural inquiry), dialog kolaboratif (collaborative dialogue), keterlibatan reflektif (reflective engagement), dan aksi transformatif (transformative action). Kelima tahapan sintaks tersebut menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam mengonstruksi pemahaman keagamaan melalui dialog, refleksi kritis, dan kolaborasi sosial. Kebaruan penelitian terletak pada pengintegrasian prinsip demokrasi, multikulturalisme, dan pembelajaran kritis-kolaboratif ke dalam satu kerangka pedagogis PAI yang sistematis. Simpulan utama penelitian menegaskan bahwa rekonstruksi ini memperluas pengembangan pedagogi PAI yang lebih inklusif, humanis, dan responsif terhadap dinamika masyarakat multikultural kontemporer.    
MULTICULTURAL PAI LEARNING DESIGN THROUGH STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS IN HIGH SCHOOL Ria Nata Kusumaa; Musa Asy’arie
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14460

Abstract

Islamic Religious Education (PAI) learning tends to be teacher-centered, making the instillation of multicultural values ​​less than optimal, so that an inclusive cooperative learning design is needed. This qualitative literature study aims to describe the design of multicultural-based PAI learning through the implementation of the Student Teams Achievement Divisions (STAD) model in Senior High Schools. Data sources were obtained from a review of 25 relevant scientific literature on multicultural education, PAI curriculum, and cooperative learning models, which were then analyzed descriptively and analytically including data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of the study indicate that the syntax design of the STAD model is able to integrate multicultural values ​​in a structured manner through the formation of heterogeneous groups, cooperative discussion activities, group presentations, individual quizzes, and team awards. The formation of heterogeneous groups facilitates inclusive social interaction of students without differentiating academic or social backgrounds, thus effectively instilling the values ​​of tolerance (tasamuh), brotherhood (ukhutwah), mutual assistance (ta'awun), and deliberation. The novelty of this research lies in the explicit integration of inclusivity principles into each instructional stage of the STAD model in Islamic Religious Education (PAI) subjects. The main conclusion confirms that the implementation of the STAD cooperative learning design can be an alternative transformative and relevant PAI learning strategy to strengthen students' social character and tolerance amidst the dynamics of a pluralistic society. ABSTRAK Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang cenderung berpusat pada guru membuat penanaman nilai multikultural kurang optimal, sehingga diperlukan desain pembelajaran berpendekatan kooperatif yang inklusif. Penelitian kualitatif studi kepustakaan ini bertujuan mendeskripsikan rancangan pembelajaran PAI berbasis multikultural melalui penerapan model Student Teams Achievement Divisions (STAD) di Sekolah Menengah Atas. Sumber data diperoleh dari penelaahan 25 literatur ilmiah relevan mengenai pendidikan multikultural, kurikulum PAI, serta model cooperative learning, yang kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain sintaks model STAD mampu mengintegrasikan nilai-nilai multikultural secara terstruktur melalui pembentukan kelompok heterogen, kegiatan diskusi kooperatif, presentasi kelompok, kuis individu, serta pemberian penghargaan tim. Pembentukan kelompok yang heterogen memfasilitasi interaksi sosial siswa secara inklusif tanpa membedakan latar belakang akademis maupun sosial, sehingga efektif menanamkan nilai toleransi (tasamuh), persaudaraan (ukhutwah), tolong-menolong (ta'awun), dan musyawarah. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengintegrasian eksplisit prinsip-prinsip inklusivitas ke dalam setiap tahapan instruksional model STAD pada mata pelajaran PAI. Simpulan utama mengonfirmasi bahwa penerapan desain pembelajaran kooperatif STAD dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran PAI yang transformatif dan relevan untuk memperkuat karakter sosial serta toleransi siswa di tengah dinamika masyarakat yang majemuk.  
The Transformation of the Prophetic Thinking Model in the Islamic Education Curriculum: Ulil Albab's Character Building Strategy in the Society 5.0 Era Ari Priyono; Musa Asy’arie; Mahasri Shobahiya
Iseedu: Journal of Islamic Educational Thoughts and Practices Vol. 10 No. 1 (2026): May
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Contemporary Islamic education faces critical challenges amid globalization and Society 5.0, including character deterioration, moral crisis, and dualism between secular knowledge and spiritual values. Empirical data indicates a significant character crisis among Indonesian youth, reflected in rising rates of bullying, moral decadence, and juvenile delinquency, alongside declining integration of humanistic and spiritual values in curricula. This study aims to: (1) analyze the epistemological foundations of prophetic thinking in Islamic education; (2) identify transformation strategies for curriculum, pedagogy, and institutional culture; (3) evaluate best practices from innovative madrasahs and pesantrens; and (4) formulate strategic recommendations for prophetic education in the Society 5.0 era. Using a systematic literature review, this study analyzed 52 selected articles from Google Scholar, DOAJ, Scopus, and Islamic university repositories (2018–2026). Findings reveal that prophetic education grounded in humanization (insaniyyah), liberation (tahrir), and transcendence (ta’alluh) effectively cultivates holistic character, producing ulil albab graduates capable of critical thinking, ethical decision-making, and social transformation. A Conceptual Model of Prophetic Education Transformation (CMPET) integrating curriculum reconstruction, exemplary pedagogy, character-based assessment, and community collaboration is proposed.
Pembelajaran Berbasis Proyek Multikultural dalam Pendidikan Agama Islam untuk Mencegah Perilaku Intoleran di Sekolah Bambang Sismedi Saputro; Musa Asy’arie; Mahasri Shobahiya
Iseedu: Journal of Islamic Educational Thoughts and Practices Vol. 10 No. 1 (2026): May
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/iseedu.v10i1.15025

Abstract

Peristiwa meningkatnya perilaku intoleran di lingkungan sekolah menunjukkan masih lemahnya internalisasi nilai-nilai multikultural dalam Pendidikan Agama Islam (PAI). Kesenjangan ini menandakan bahwa pendekatan pembelajaran konvensional belum sepenuhnya efektif dalam membentuk karakter religius dan toleran peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan model Project-Based Learning (PjBL) berbasis multikultural sebagai strategi pilihan untuk mencegah perilaku intoleran dan menumbuhkan sikap inklusif di sekolah. Melalui studi kepustakaan terhadap berbagai penelitian relevan, ditemukan bahwa PjBL berorientasi multikultural mampu mengintegrasikan ranah pengetahuan, sikap, dan keterampilan secara komprehensif melalui aktivitas kolaboratif lintas budaya dan proyek sosial kontekstual. Secara teoretis, penelitian ini menambah wawasan kajian pendidikan karakter dan pendidikan multikultural dengan menawarkan pendekatan transformatif berbasis pengalaman dalam konteks PAI. Temuan menunjukkan bahwa penerapan PjBL tidak hanya meningkatkan empati dan kerja sama, tetapi juga memperkuat nilai-nilai moderasi beragama seperti keadilan, keseimbangan, dan perdamaian. Jadi, model PjBL berbasis multikultural berpotensi menjadi model pembelajaran efektif dalam membangun karakter peserta didik yang moderat dan toleran.
Meneguhkan Pendidikan Demokratis dan Multikultural untuk Membangun Karakter Inklusif Peserta Didik di Indonesia Woro Yustia Pratiwi; Musa Asy’arie; Mahasri Shobahiya
Iseedu: Journal of Islamic Educational Thoughts and Practices Vol. 10 No. 1 (2026): May
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/iseedu.v10i1.15140

Abstract

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keragaman budaya, agama, etnis, dan bahasa yang sangat luas. Keberagaman tersebut menjadi kekayaan nasional, tetapi juga menimbulkan tantangan dalam mewujudkan kehidupan sosial yang harmonis dan demokratis. Pendidikan memiliki peran sentral dalam menanamkan nilai-nilai toleransi, empati, dan partisipasi aktif sebagai fondasi masyarakat demokratis. Artikel ini bertujuan untuk menelaah keterkaitan antara pendidikan demokrasi dan pendidikan multikultural dalam membentuk karakter inklusif peserta didik di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka (literature review) dengan menelaah hasil-hasil penelitian nasional dan internasional periode 2020–2024. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis untuk mengidentifikasi hubungan konseptual, praktik implementasi di sekolah, serta tantangan dalam penerapan nilai-nilai demokrasi dan multikultural. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi nilai demokrasi dan multikulturalisme dalam sistem pendidikan dapat memperkuat sikap toleran, empati sosial, serta kemampuan reflektif siswa. Penerapan pendidikan demokratis berbasis multikultural juga terbukti relevan dengan arah kebijakan pendidikan nasional seperti Kurikulum Merdeka dan Profil Pelajar Pancasila. Artikel ini menegaskan bahwa kolaborasi antara guru, sekolah, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan pembentukan karakter inklusif peserta didik di era masyarakat majemuk.