Claim Missing Document
Check
Articles

[Resensi Buku] Gereja Analog: Mengapa Kita Membutuhkan Orang, Tempat, dan Sesuatu yang Nyata dalam Era Digital Paulus Eko Kristianto
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 7, No 2 (2023): April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v7i2.955

Abstract

-
Proses Pendidikan Kristiani untuk Anak Usia Dini dengan Pendekatan Perkembangan Spiritualitas Menghadapi Budaya Digital Paulus Eko Kristianto
ARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Program Pascasarjana UKIM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37429/arumbae.v5i1.1019

Abstract

Budaya digital merupakan salah satu konteks nyata yang perlu dihadapi komunitas iman masa kini. Bahkan, anak usia dini sebagai partisipan Pendidikan Kristiani pun tetap berhadapan dengan konteks ini. Penulis mengusulkan salah satu cara menghadapinya melalui proses pendidikan dengan pendekatan perkembangan spiritualitas. Artikel ini membahas proses Pendidikan Kristiani untuk anak usia dini di Sekolah Pelangi Kasih dengan pendekatan perkembangan spiritualitas dalam budaya digital. Dalam artikel ini, Sekolah Pelangi Kasih dijadikan sebagai tempat penelitian. Melalui metode etnografi dan pustaka, hasil penelitian menunjukkan sekolah ini sudah mencoba menghadapi budaya digital dan perlahan dapat dikembangkan.  
Aku dalam Kehinaanku!: Menafsir Kehinaan Menurut Julia Kristeva Paulus Eko Kristianto
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 2 No. 1 (2017): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2017.21.281

Abstract

Abstract Abjection normally is understood as the gross taste. However, whether such humiliation is also understood when placed in the frame of philosophy? Julia Kristeva states abjection with regard to aesthetics in art and literature through poetry catharsis. That is through abjection, people are invited to immerse themselves further in selfhood. The key phrase is trying held by the author in this article outlines. The author tries to offer an alternative that has been wrapped Kristeva debasement in the language of the interface between semiotics and symbolism. Abstrak Kehinaan (abjection) biasa dipahami sebagai rasa jorok. Namun, apakah kehinaan juga dipahami demikian bila diletakkan dalam bingkai filsafat? Julia Kristeva menyatakan kehinaan berkaitan dengan estetika hina dalam seni dan sastra melalui katarsis puisi. Artinya, melalui kehinaan, manusia diajak untuk semakin membenamkan diri dalam kediriannya. Ungkapan kunci ini mencoba dipegang penulis dalam menguraikan artikel ini. Penulis mencoba menawarkan alternatif bahwa kehinaan telah dibalut Kristeva dalam bahasa persinggungan antara semiotika dan simbolisme.
MEMAHAMI MAH?YÂNA DAN HÎNAYÂNA DALAM FILSAFAT TIMUR Paulus Eko Kristianto
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 3 No. 1 (2018): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2018.31.346

Abstract

Abstract Since the death of Buddha, Buddhism has become very popular and growing. This was marked by the presence of two great schools of Buddhism namely Mah?yâna and Hînayâna. These two streams have similarities and differences in rituals and faith proclamation. This article, explains various characteristics of the two streams into their sub-streams. Such characteristics are not meant to divide the concept of seeing and living the Buddha, but to enrich the horizon of thought about it.   AbstrakSejak meninggalnya sang Buddha, Buddhisme menjadi begitu popular dan berkembang. Hal tersebut ditandai hadirnya dua aliran besar Buddhisme yakni Mahâyâna dan Hînayâna. Kedua aliran ini memiliki persamaan dan perbedaan dalam menjalani ritual dan mengikrarkan keyakinannya. Melalui artikel ini, penulis mencoba menjelaskan berbagai karakteristik kedua aliran hingga sub alirannya. Karakteristik ini tidak dimaksudkan memecah pemahaman dalam melihat dan menghayati Buddha, melainkan makin memperkaya cakrawala berpikir.
Resensi: Paideia—Filsafat Pendidikan-Politik Platon Paulus Eko Kristianto
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 2 No. 2 (2017): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2017.22.355

Abstract

Resensi Buku: Merleau-Ponty dan Kebertubuhan Manusia Paulus Eko Kristianto
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 7 No. 2 (2022): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2022.72.888

Abstract

Resensi Buku: Yang Tak Berhingga Menurut Yohanes Duns Scotus Paulus Eko Kristianto
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 8 No. 2 (2023): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2023.82.1133

Abstract

Pengintegrasian Gereja Semua dan Bagi Semua dalam Teologi Disabilitas di Pelayanan Bagi dan Bersama Penyandang Disabilitas Paulus Eko Kristianto
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 8, No 1 (2023): Oktober 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v8i1.1016

Abstract

Abstract. Disability is one of Indonesia's theological contexts. Discrimination and accessibility are two keywords that circulate when discussing disability. So, what about theology when talking about disability associated with ministry? This article discusses efforts to integrate the church of all and for all in the theology of disability in ministry for and with persons with disabilities. This integration was conducted through literature research on books and journals that discuss disability theology, disability ecclesiology, and ministry. This research showed that the church of all and for all can be integrated into ministries for and with persons with disabilities. This integration allows acceptance and accommodation for people with disabilities to participate in the church.Abstrak. Disabilitas merupakan salah satu konteks pergumulan teologi di Indonesia. Diskriminasi dan aksesibilitas menjadi dua kata kunci yang beredar kala membahas disabilitas. Lantas, bagaimana dengan teologi ketika membahas disabilitas yang dikaitkan pelayanan? Tulisan ini membahas upaya pengintegrasian gereja semua dan bagi semua dalam teologi disabilitas di pelayanan bagi dan bersama penyandang disabilitas. Integrasi ini dikerjakan melalui penelitian pustaka terhadap buku dan jurnal yang membahas teologi disabilitas, eklesiologi disabilitas, dan pelayanan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gereja semua dan bagi semua dapat diintegrasikan dalam pelayanan bagi dan bersama penyandang disabilitas. Integrasi ini memungkinkan adanya penerimaan dan akomodasi bagi penyandang disabilitas agar berpartisipasi dalam gereja.
Pembelajaran Transformatif bagi Kaum Muda dalam Komunitas Iman Intergenerasi untuk Mengupayakan Keadilan Ekologis Paulus Eko Kristianto
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 8, No 2 (2024): April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v8i2.1167

Abstract

Abstract. The ecological crisis is part of the Indonesian context. One paramater of the ecological crisis is climate change. Of course, this context needs to be addressed wisely, leading to ecological justice. Various studies discuss this. Through this article, I pursue transformative learning proposals for youth in intergenerational faith community to strive for ecological justice. The research was conducted by library research. The study results showed that transformative learning for intergenerational youth has the potention to seek ecological justice that starts from youth to intergenerational communities. Of course, the results of this research are expected to contribute conceptually and inspire the development of praxis.Abstrak. Krisis ekologi menjadi bagian konteks Indonesia. Salah satu ukuran krisis ekologis yaitu perubahan iklim. Tentu, konteks ini perlu disikapi dengan bijak yang mengarah ke keadilan ekologis. Ada beragam penelitian yang membahas hal ini. Melalui artikel ini, saya mencoba menempuh usulan pembelajaran transformatif bagi kaum muda dalam komunitas iman intergenerasi untuk mengupayakan keadilan ekologis. Metode penelitian yang digunakan yaitu studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran transformatif bagi kaum muda intergenerasi berpotensi mengupayakan keadilan ekologis yang dimulai dari kaum muda ke komunitas intergenerasi. Tentu, hasil penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi secara konseptual dan menjadi inspirasi ke pengembangan praksis.
PENGARAHAN SPIRITUALITAS BAGI DAN BERSAMA ANAK USIA DINI Paulus Eko Kristianto
Jurnal Amanat Agung Vol 18 No 2 (2022): Jurnal Amanat Agung Vol 18 no. 2 Desember 2022
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47754/jaa.v18i2.587

Abstract

Pengarahan spiritualitas bagi dan bersama anak usia dini menjadi salah satu proses pembentukan dan pengembangan spiritualitas yang mulai dikerjakan di berbagai agama, termasuk Kristen. Tentu, proses ini perlu dikerjakan dengan mempertimbangkan kekhasan dan kebutuhan anak usia dini itu sendiri. Hal ini dilakukan agar pengarahan spiritualitas bisa relevan dan tepat sasaran. Melalui penelitian pustaka dan pengamatan lapangan, khususnya otoetnografi, hasil penelitian menunjukkan bahwa pengarahan spiritualitas bagi dan bersama anak usia dini bisa dikerjakan. Proses ini dilakukan melalui keseimbangan bangunan konstruksi teori dan pengamatan lapangan berkenaan teori psikologi perkembangan, generasi alfa, dan pengarahan spiritualitas.