Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

KAJIAN KONSEP ARSITEKTUR BIOFILIK PADA BANGUNAN SCIENCE CENTER (STUDI KASUS : ECORIUM NATIONAL INSTITUTE OF ECOLOGY, SOUTH KOREA) Bungawali, Nazlita; Satwikasari, Anggana Fitri
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol 8, No 1 (2024): Purwarupa Vol 8 No 1 Maret 2024
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/purwarupa.8.1.83-90

Abstract

ABSTRAK. Biofilik adalah konsep arsitektur yang berusaha menghubungkan manusia dengan alam melalui desain pada bangunan, berdasarkan teori biofilia dimana manusia memiliki kecintaan terhadap alam. Dengan menerapkan konsep desain arsitektur biofilik, diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup manusia dan lingkungan sekitar, dengan cara mengintegrasikan elemen-elemen alam ke dalam ruang yang dibangun oleh manusia. Salah satu contoh penerapan desain biofilik adalah pada bangunan pusat edukasi wisata, seperti science center, yang biasanya memiliki karakteristik atau orientasi bangunan yang tertutup. Dengan menggunakan prinsip- prinsip desain biofilik, seperti material alami, cahaya alami, udara segar, tanaman, air, dan bentuk organik, dapat menciptakan ruang yang lebih menarik, nyaman, dan interaktif bagi pengunjung. Selain itu, desain biofilik juga dapat membantu meningkatkan konsentrasi dan motivasi belajar pengunjung, yang sesuai dengan fungsi utama bangunan, yaitu sebagai sarana edukasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prinsip-prinsip desain biofilik yang paling relevan dan efektif untuk diterapkan pada bangunan pusat edukasi wisata. Sebagai studi kasus, penelitian ini akan mengambil contoh National of Ecological Institue atau Ecorium, yang merupakan bangunan pusat edukasi wisata yang berhasil menggabungkan sistem alam ke dalam desainnya, melalui pemanfaatan unsur air, hewan, dan vegetasi. Kata Kunci: biofilik, alam, eduwisata, science center ABSTRACT. Biophilic is an architectural concept that seeks to connect humans with nature through building design, based on the theory of biophilia where humans have a love for nature. By implementing the concept of biophilic architectural design, it is hoped that it can improve the quality of human life and the surrounding environment, by integrating natural elements into spaces built by humans. One example of the application of biophilic design is in tourism education center buildings, such as science centers, which usually have closed building characteristics or orientation. By using biophilic design principles, such as natural materials, natural light, fresh air, plants, water, and organic forms, you can create spaces that are more attractive, comfortable, and interactive for visitors. Apart from that, biophilic design can also help increase visitors' concentration and motivation of learn, which is in accordance with the main function of the building, namely as an educational facility. Therefore, this research aims to determine the most relevant and effective biophilic design principles to be applied to tourist education center buildings. As a case study, this research will take the example of the National Ecological Institute or Ecorium, which is a tourist education center building that has successfully integrated natural systems into its design, through the use of water, animal and vegetation elements. Keywords: biophilic, nature, edutourism, science center
Kajian Konsep Pekan Budaya (Culturally-Sensitive Design) pada Rumah Sakit Angkatan Laut dr.Azhar Azhari Manokwari, Papua Barat Lissimia, Finta; Jumastan, Jumastan; Satwikasari, Anggana Fitri; Nugrahaini, Fadhilla Tri; Riadi, Agustinus Rizki Wirawan
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya. Desain Arsitektur peka budaya adalah rancangan bangunan yang sensitif terhadap makna atau konteks budaya di suatu daerah. Pengaplikasiannya pada rancangan bangunan dapat dari berbagai aspek dari fasad, konfigurasi ruang, dan aspek lain agar kebudayaan setempat hidup Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi konsep desain peka budaya dan penerapannya pada fasilitas kesehatan khususnya rumah sakit. Rumah sakit yang menjadi studi kasus adalah Rumah Sakit Angkatan Laut dr.Azhar Azhari yang berlokasi di Manokwari, Papua Barat. Rumah Sakit ini dianggap tepat sebagai studi kasus karena berlokasi di provinsi di Indonesia yang masih kental dengan budayanya terutama dari suku-suku setempat. Metodologi penelitian adalah kualitatif dengan analisis deskriptif berdasarkan data yang didapat dari pengamatan obyek dan wawancara dengan pihak terkait. Konsep desain peka budaya berdasarkan enam aspek. Aspek peka budaya (cultural awareness) melalui penyediaan fasilitas yang mewadahi aktivitas masyarakat lokal. Aspek adaptasi kebudayaan (cultural adaptation) difasilitasi dengan membuat perencanaan pola tata ruang yang mendukung aktivitas kebudayaan. Keterlibatan Komunitas (community involvement) diterapkan dengan memberikan dukungan pada kegiatan komunitas di sekitar bangunan. Ruang inlusif adalah hasil dari respek terhadap keberagaman (respect for diversity). Aspek integrasi nilai-nilai budaya (integration of cultural values) diterapkan pada atap dan warna bangunan. Pertimbangan estetika budaya (consideration of cultural values) yang terlihat pada eksterior maupun interior bangunan.Kata kunci: Desain Peka Budaya, Fasilitas Kesehatan, Rumah Sakit.
Kajian Konsep Arsitektur Zero Carbon pada Bangunan Menara BCA Fadil, Muhammad Rizky; Satwikasari, Anggana Fitri
Journal of Comprehensive Science Vol. 3 No. 8 (2024): Journal of Comprehensive Science (JCS)
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v3i8.802

Abstract

Arsitektur adalah ilmu yang mempelajari tentang dasar dan perancangan pada bangunan. Konsep yang digunakan pada arsitektur menjadi sebuah tumpuan atau landasan awal yang digunakan untuk mengarahkan akan seperti apa bentuk dari desain bangunan yang dirancang kedepannya. Maka dari itu penetapan atau pemilihan konsep sangatlah penting ketika tahap awal perancangan pembangunan. Arsitektur zero carbon merupakan salah satu dari sekian banyaknya konsep yang digunakan pada dunia arsitektur. Kelebihan yang ada pada konsep arsitektur islami adalah mengutamakan ciri dari nilai-nilai islam yang kemudian diaplikasikan ke dalam perancangan arsitektur pada bangunan yang akan dirancang nantinya. Penerapan arsitektur zero carbon bisa diterapkan ke berbagai macam perancangan bangunan salah satunya adalah bangunan kantor. Pekerjaan didalam kantor yang sering orang-orang pusingkan ketika mengerjakanya juga membutuhkan tempat yang nyaman, aman dan bersih dengan itu adanya keseimbangan dalam kebutuhan yang pengguna bangunan butuhkan untuk melakukan pekerjaan. Kajian ini bertujuan untuk memahami penerapan konsep arsitektur zero carbon khususnya pada bangunan kantor. Metode yang dilakukan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif pada studi kasus arsitektur zero carbon. Hasil yang didapat dari penelitian ini menunjukan bahwa penerapan konsep arsitektur zero carbon memiliki beberapa macam prinsip yang dapat mempengaruhi baik atau buruknya bentuk dari hasil penelitian ini terhadap studi kasus. Kajian ini diharapkan bisa menjadi gambaran atau referensi dalam merancang bangunan menggunakan konsep arsitektur zero carbon khususnya pada bangunan kantor.
KAJIAN KONSEP ARSITEKTUR BIOFILIK PADA RUMANAMI RESIDENCE DI JAKARTA SELATAN ZAHRA, FATHY AULIA; Satwikasari, Anggana Fitri
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol. 9 No. 01 (2025): Purwarupa Vol 9 No 1 Maret 2025
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jakarta adalah ibu kota, pusat kegiatan, dan kota yang berkembang pesat dan merupakan salah satu kota dengan laju pertumbuhan penduduk tertinggi.Tingkat pertumbuhan yang tinggi mengakibatkan kebutuhan perumahan tidak terpenuhi, sehingga menyebabkan terbentuknya permukiman kumuh dan berdampak negatif terhadap kesehatan fisik dan mental masyarakat yang tinggal di permukiman kumuh. Perlu nya konsep Arsitektur Biofilik yang merupakan sebuah konsep dengan mengedepankan hubungan positif antara manusia dan alam yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental kehidupan manusia dengan menerapkan bahan dan bentuk alami ke dalam desain. Penlitian yang berjudul “KAJIAN KONSEP ARSITEKTUR BIOFILIK PADA RUMANAMI RESIDENCE DI JAKARTA SELATAN” ini dilakukan pada bangunan hunian majemuk yaitu Rumanami residence dengan  menggunakan metode analisis deskriptif untuk mendapatkan pemahaman tentang aplikasi konsep arsitektur biofilik pada hunian majemuk. Hasil yang di dapat pada penelitian ini bahwa konsep arsitektur biofilik dapat diterapkan dengan menghadirkan tanaman didalam dan luar bangunan, menggunakan material alami, lukisan bermotif alam, pola denah yang berulang, sirkulasi berliku dalam bangunan, penggunaan atap skylight serta ruang tempat berllindung seperti kamar tidur. Kata Kunci: Arsitektur, Biofilik, Hunian majemuk   ABSTRACT. Jakarta is the capital city, center of activity and a city that is developing rapidly and is one of the cities with the highest population growth rate. High growth rates result in housing needs not being met, thus causing the formation of slums and having a negative impact on the physical and mental health of the people who live there. in slums. There is a need for the concept of Biophilic Architecture, which is a concept that prioritizes a positive relationship between humans and nature which aims to improve the physical and mental health of human life by applying natural materials and forms into the design. The research entitled "STUDY OF THE CONCEPT OF BIOPHILIC ARCHITECTURE IN RUMANAMI RESIDENCE IN SELATAN JAKARTA" was carried out on a compound residential building, namely Rumanami residence, using descriptive analysis methods to gain an understanding of the application of the concept of biophilic architecture in compound residences. The results obtained from this research are that the concept of biophilic architecture can be applied by presenting plants inside and outside buildings, using natural materials, paintings with natural motifs, repeating floor plans, winding circulation in buildings, using roof skylights and sheltered spaces such as bedrooms. Keywords: Architecture, Biophilic, Compound housing
Kajian Konsep Arsitektur Hibrid pada Bangunan Gedung Sarbonne, Pondok Pesantren Tazkia, Malang Rafly, Ramadhan Fawwaz; Satwikasari, Anggana Fitri
ARCHIHUMANUM Vol 3 No 2 (2025): October
Publisher : CV. Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/archimane.v3i2.138

Abstract

Hybrid architecture represents the integration of two distinct design elements, harmonizing functionality and strength in both form and style. This concept has the potential to enhance building quality based on indicators such as durability, flexibility, energy efficiency, and cost-effectiveness. In the context of higher education, educational buildings not only serve as spaces for learning but also as hubs for interaction, knowledge exchange, and intellectual development. However, the disparity in educational facilities, particularly in underdeveloped, remote, and outermost areas (3T regions), remains a significant challenge in Indonesia. According to data from the Ministry of Education and Culture of Indonesia, approximately 25% of schools are located in isolated regions with limited access. This study aims to explore how the application of hybrid architectural principles in the design of higher education buildings can enhance comfort and foster public interest in educational activities. Additionally, it seeks to demonstrate the advantages of hybrid architecture in creating high-quality designs that provide innovative solutions to address disparities in educational facilities in 3T areas. Through this approach, the research aspires to contribute to equitable education infrastructure across Indonesia.
STUDY OF MODERN TROPICAL ARCHITECTURAL DESIGN CONCEPT IN VERTICAL RESIDENCE Saliim, Alief Muzakkii; Satwikasari, Anggana Fitri
Border: Jurnal Arsitektur Vol. 4 No. 1 (2022): JUNE 2022
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Architecture and Design, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/border.v4i1.90

Abstract

Indonesia is a country with a wet tropical climate with high rainfall intensity and short dry season. Indonesia is also one of the archipelagic countries which is quite densely populated, this density makes the demand for residential housing increasing every year. The solution to overcome these problems is to create vertical residences, or commonly referred to as flats, apartments, and condominiums. However, with the tropical climate conditions in Indonesia, vertical housing has more challenges in overcoming the problem of residential temperature due to areas that are more exposed to the sun. Therefore, this study aims to examine the quality of the vertical occupancy of Kampung Akuarium Flats against tropical climatic conditions. This research method is carried out by describing the condition of the building against the parameters of a tropical climate-based dwelling. The results of the study show that the design applied has climatic factors and can meet the needs of residential density in Indonesia.
Bus Rapid Transit-oriented Development: An Identification of Bus Rapid Transit System Passengers’ Modal Shift Potential Considerations Prayogi, Lutfi; Satwikasari, Anggana Fitri
CSID Journal of Infrastructure Development Vol. 2, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article explores some issues that are potentially considered by bus rapid transit (BRT) system passengers when shifting their mode of transport from driving their personal vehicle to taking the BRT system for the same kind of trip. The issues are explored as part of an attempt to design an appropriate BRT passengers’ modal shift evaluation. The BRT passengers’ modal shift evaluation is to be carried out to understand how a BRT system may influence urban development around the system and how it may trigger transit-oriented development (TOD) around the system. This article was written through a literature review directed on certain topics, that are BRT ridership-influencing factors, the BRT system passengers’ behaviour, the built environment condition around BRT systems, the types of transit system passengers and the types of trips carried out utilising a transit system. It is found that several components of BRT system service quality and several components of built environment around the system potentially influence the BRT system passengers’ consideration when shifting their mode of transport. However, the influence may not be homogenous among all passenger-trips due to the different passengers’ backgrounds and the different types of trips carried out utilising the BRT system.