Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Peran Francis Bacon dan John Stuart Mill dalam Filsafat Ilmu Pendidikan Islam Moh. Rifki; Ferdiansyah Ferdiansyah; Nurhayati Nurhayati
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 3 (2025): Desember
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Filsafat pendidikan Islam memberikan kerangka konseptual penting melalui kajian ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi membahas hakikat dan substansi dasar pendidikan, epistemologi menekankan cara memperoleh pengetahuan secara sistematis dan kreatif, sedangkan aksiologi menyoroti nilai-nilai dan manfaat pendidikan dalam membentuk karakter manusia. Kontribusi tokoh Barat seperti Francis Bacon dan John Stuart Mill memperkaya filsafat ilmu dengan pendekatan empiris, induktif, serta prinsip utilitarianisme, yang menekankan objektivitas, kebebasan individu, dan penerapan kebahagiaan sebagai ukuran tindakan. Studi ini menunjukkan bahwa epistemologi memiliki peran strategis dalam pendidikan, terkait erat dengan kebudayaan, dan esensial untuk pengembangan pengetahuan serta keterampilan hidup peserta didik. Pendekatan filosofis ini menjadi landasan dalam merancang sistem pendidikan Islam yang terintegrasi, bernilai, dan relevan dengan tantangan kontemporer.
Tantangan Perkembangan Ilmu Pengetahuan di Era Modern dan Peran Pendidikan Islam Mizan Sul Amalia Latjuba; Ainun Rahma; Melviana Melviana; Nurhayati Nurhayati; Revatus Sofiah; Fauzia Fauzia
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 3 (2025): Desember
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era modern telah membawa kemajuan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Namun, kemajuan tersebut juga memunculkan tantangan serius yang meliputi krisis moral, degradasi nilai spiritual, kesenjangan sosial-ekonomi, penyalahgunaan teknologi digital, serta lemahnya budaya riset di kalangan generasi muda. Artikel ini bertujuan mengkaji tantangan perkembangan ilmu di era modern serta menganalisis peran pendidikan Islam sebagai fondasi moral dan spiritual dalam menghadapi berbagai persoalan tersebut. Melalui pendekatan studi literatur, artikel ini menemukan bahwa pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam membentuk karakter ilmiah, mengintegrasikan ilmu agama dan sains modern, memperkuat etika digital, serta menghidupkan kembali tradisi keilmuan Islam. Dengan memperkuat kurikulum integratif dan keteladanan pendidik, pendidikan Islam berpeluang besar menjadi solusi bagi tantangan modernitas dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Dari Mitos ke Metode: Jejak Filsafat Perkembangan Ilmu Pengetahuan Ferdiansyah Ferdiansyah; Moh. Rifki; Nurhayati Nurhayati
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 3 (2025): Desember
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji perkembangan ilmu pengetahuan dari masa mitos hingga lahirnya metode ilmiah modern melalui perspektif filsafat ilmu. Permasalahan utama penelitian ini adalah hilangnya kesadaran masyarakat modern mengenai akar filosofis sains, sehingga ilmu sering dipahami sebagai produk teknis, bukan proses pencarian kebenaran. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan perjalanan historis epistemologi ilmu serta menegaskan peran filsafat dalam memberikan dasar moral bagi perkembangan sains. Penelitian menggunakan metode kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui penelusuran literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ilmu berkembang dari penjelasan mitologis, kemudian rasionalitas Yunani, metode eksperimental dalam peradaban Islam, hingga revolusi ilmiah modern. Kesimpulannya, kemajuan sains harus dikembalikan pada orientasi etis agar tidak terlepas dari tanggung jawab moral dan kemaslahatan manusia.
Filosofi di Balik Ilmu Sosial: Menyelami Fenomenologi, Hermeneutika, Teori Kritis, dan Multikulturalisme Revatus Sofiah; Fauzia Fauzia; Nurhayati Nurhayati; Ainun Rahma; Melviana Melviana; Mizan Sul Amalia Latjuba
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 3 (2025): Desember
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi dasar filosofis ilmu sosial melalui lensa fenomenologi, hermeneutika, teori kritis, serta gagasan multikulturalisme. Pendekatan fenomenologi dimanfaatkan untuk menangkap pengalaman pribadi individu di lingkungan sosial, sementara hermeneutika membantu mengurai arti dari teks dan perilaku sosial. Teori kritis menyediakan sudut pandang analitis guna mengkritik kekuatan terselubung dan ideologi yang memengaruhi hubungan sosial. Di sisi lain, multikulturalisme menggarisbawahi nilai keragaman budaya serta interaksi antar-kelompok dalam masyarakat. Metodologi yang diterapkan bersifat kualitatif deskriptif, yang difokuskan pada penggambaran dan analisis mendalam fenomena sosial melalui data non-kuantitatif. Kajian ini menghasilkan wawasan menyeluruh tentang peran filosofi dalam memperkaya studi ilmu sosial, sekaligus mendorong pandangan yang inklusif dan reflektif terhadap perubahan sosial masa kini.
The Influence of Role Playing and Simulation Learning on Critical Thinking Ability and Student Character Building Nurhayati Nurhayati; Bahtiar Bahtiar; Hamka Hamka
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 9 No 9 (2023): September
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v9i9.4803

Abstract

This study aims to determine how learning to play roles and simulations affects critical thinking skills and student character building. This study is quantitative and of the quasi-experimental variety. 38 MTsN 1 Palu City ninth graders were employed in this study. Data were gathered for this study using observation sheets for students' character development during the learning process and exams in the form of descriptions of critical thinking abilities. Descriptive and inferential statistics are used in the data analysis for this study. The study's findings demonstrate a considerable impact of simulation and role-playing learning models on students' critical thinking abilities. Students in the experimental class who were instructed using simulation and role-playing learning models scored, on average, better than those in the control class. The ability of students to formulate the main issues is the best sign of critical thinking abilities. The study's findings also demonstrate a considerable impact of simulation and role-playing learning techniques on student character development. Students in the experimental class who were instructed using role-playing learning simulations and models had an average value of character-building observations greater than those in the control class. Religious and creative activities are the best predictors of character development.
ETIKA SUFI SEBAGAI KERANGKA SPIRITUAL UNTUK MENANGANI DEHUMANISASI DAN KRISIS MORAL GLOBAL DI ERA DIGITAL MODERN Nurhayati
Darul Ulum: Jurnal Ilmiah Keagamaan, Pendidikan dan Kemasyarakatan Vol 17 No 1 (2026): Darul Ulum: Jurnal Ilmiah Keagamaan, Pendidikan dan Kemasyarakatan, Juni 2026
Publisher : STIT DARUL ULUM KOTABARU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62815/darululum.v17i1.226

Abstract

Penelitian ini mengkaji potensi etika Sufi sebagai kerangka spiritual untuk mengatasi dehumanisasi dan krisis moral global di era digital modern. Kami berpendapat bahwa masyarakat kontemporer menderita ketidakseimbangan mendasar antara kemajuan materi dan kedalaman spiritual, yang termanifestasi dalam fenomena seperti dehumanisasi, individualisme, materialisme, dan erosi nilai-nilai etika. Pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain penelitian kepustakaan digunakan, dengan mengacu pada literatur akademis dan karya ilmiah terkini yang membahas Sufisme dalam konteks modern, globalisasi, dan krisis moral. Data dianalisis melalui analisis konten sistematis, yang melibatkan reduksi, klasifikasi, dan interpretasi induktif dari materi tekstual. Kontribusi utama kami terletak pada pengusulan etika Sufi bukan hanya sebagai praktik spiritual individu tetapi sebagai kerangka sistemik dan aplikatif untuk mengembangkan etika sosial dan digital yang lebih humanistik. Analisis mengungkapkan bahwa konsep inti tazkiyatun nafs (pemurnian jiwa) menawarkan metode komprehensif untuk transformasi batin, sementara internalisasi nilai-nilai seperti ketulusan (ikhlas), kesabaran (sabr), kerendahan hati (tawadhu), dan cinta memberikan landasan perilaku konkret untuk membangun kembali kesadaran moral. Lebih lanjut, kami mendemonstrasikan aktualisasi praktis etika Sufi melalui tiga aplikasi: dzikir (mengingat Tuhan) sebagai bentuk kesadaran spiritual dan detoksifikasi digital, pembentukan komunitas spiritual di dunia maya, dan perumusan etika media sosial berbasis Sufi yang berlandaskan kejujuran dan komunikasi yang bertanggung jawab. Studi ini membahas kesenjangan penelitian yang signifikan mengenai integrasi etika Sufi sebagai solusi sistemik terhadap degradasi moral kontemporer. Signifikansi penelitian ini terletak pada upayanya untuk menjembatani tradisi spiritual klasik dengan tuntutan etika yang mendesak dari masyarakat digital modern, sehingga menawarkan jalur transformatif menuju tatanan global yang lebih beradab dan manusiawi
Sufisme Sosial Syekh Yusuf Al-Makassari: Mengintegrasikan Spiritualitas dan Tanggung Jawab Sosial untuk Paradigma Etika Modern Nurhayati
Kartika: Jurnal Studi Keislaman Vol. 6 No. 2 (2026): Kartika: Jurnal Studi Keislaman (May)
Publisher : Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPT NU) PCNU Kabupaten Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59240/kjsk.v6i2.1035

Abstract

This study examines the social Sufism of Sheikh Yusuf al-Makassari (1626–1699) as an integrative framework bridging individual spirituality and collective social responsibility, offering a relevant paradigm for modern ethical challenges. Employing a qualitative library-research approach, it analyzes primary texts such as Zubdat al-Asrar and secondary sources (2020–2025) through systematic content analysis. The findings reveal three interconnected pillars. First, the integration of sharia, tariqa, and haqiqa rejects any dichotomy between external legal observance and inner spiritual depth, ensuring that spiritual refinement translates directly into ethical character and social action. Second, the concept of insan kamil is redefined not as an isolated mystical achievement but as an active, socially-engaged ideal embodying moderation, balance, justice, and tolerance. Third, Sheikh Yusuf's armed resistance against Dutch colonialism exemplifies how spiritual attainment inherently demands opposition to injustice, challenging the notion that mysticism precludes socio-political struggle. This paradigm demonstrates contemporary relevance across personal, communal, and structural dimensions: it fosters balanced character development, inspires socially responsible citizenship in pluralistic societies, and grounds activist movements in resilient spiritual values. Ultimately, this study offers a historically-grounded yet forward-looking model for integrating esoteric spirituality with public ethics, addressing modern crises of moral degradation, individualism, and social fragmentation