Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Dampak Keluarga Broken Home Terhadap Relasi Orang Tua Dengan Anaknya dalam Web Series Bad Parenting Selina Sebayang; Luh Putu Sendratari; Fitri Noviani
Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2025): June
Publisher : Penerbit Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/iso.v5i1.2538

Abstract

Broken home describes a family that is in disarray because parents no longer care about the situation and circumstances of the family at home. The consequences of a broken home certainly greatly affect the relationship between parents and children in terms of communication, mental, psychological and education of the child. There have been many literary works that tell the relationship between children and parents that contain many meanings and moral messages. One of them is the bad parenting web series which provides an overview of the conditions in which parents are unable to provide good parenting to their children. This study aims to determine the impact of a broken home family on the relationship between parents and their children in the bad parenting web series as a source of learning sociology. The research method used is descriptive qualitative research to describe the impact of a broken home family on the relationship between parents and children in the Bad Parenting Web Series. The data analysis used is Roland Barthes' semiotic analysis. The research findings reveal that the storyline of the characterization by the main character shows Monica's character who is authoritarian, selfish and overprotective of her child. The existence of forms of bad parenting patterns carried out by the characters caused by various underlying factors that lead to a strained relationship between mother and father, coupled with children starting to grow up. There are aspects in the Bad Parenting web series that have the potential to be a source of learning Sociology. Sociology studies the relationship between parents and children as part of social interaction in the family. A good relationship between parents and children can help the development of children and create a harmonious family.
Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial dalam Tradisi Mekering-Keringan dan Colekan-Colekan Adeng di Banjar Adat Banyuning Tengah Kadek Widiantini; Luh Putu Sendratari; Fitri Noviani
Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 6 No. 2 (2026): Desember
Publisher : Penerbit Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk interaksi sosial yang terdapat dalam pelaksanaan tradisi mekering-keringan dan colek-colekan adeng di Banjar Adat Banyuning Tengah. Tradisi ini merupakan salah satu warisan budaya masyarakat yang masih dipertahakan hingga saat ini dan dilaksanakan sebagai bagian dari kegiatan adat yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini terdiri dari tokoh masyarakat, kelian adat, lurah, serta pemuda yang terlibat dalam pelaksanaan tradisi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam tradisi mekering-keringan dan colek-colekan adeng terdapat berbagai bentuk interaksi sosial, di antaranya kerja sama, akomodasi, dan persaingan. Kerja sama terlihat dari keterlibatan masyarakat dalam mempersiapkan hingga sampai penutup piodalan Pura Gede Pemayun. Sementara, akomodasi tampak terlihat dari sikap saling memahami antar peserta agar kegiatan tetap berlangsung dengan aman dan tertib. Persaingan tercermin dalam permainan yang dilakukan secara sportif dan penuh kegembiraan tanpa menimbulkan konflik. Melalui interaksi tersebut, tradisi ini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga memperkuat kebersamaan dan solidaritas masyarakat Banjar Adat Banyuning Tengah.
Sejarah Lahirnya Dan Perkembangan Event Cosplay Di Kota Singaraja Nalsali Natan Stefanus Bukit; I Wayan Putra Yasa; Fitri Noviani
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.5936

Abstract

Penelitian ini membahas sejarah lahirnya dan perkembangan event cosplay di Kota Singaraja sebagai bagian dari pengaruh budaya populer Jepang di Indonesia. Fenomena meningkatnya minat masyarakat terhadap budaya Jepang, khususnya cosplay, mendorong terbentuknya komunitas serta penyelenggaraan berbagai event sebagai ruang ekspresi dan interaksi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi proses terbentuknya event cosplay serta faktor-faktor yang melatarbelakangi perkembangannya di Kota Singaraja. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus, melalui teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan event cosplay berlangsung secara bertahap, dimulai dari inisiatif individu, berkembang melalui interaksi antar penggemar, hingga terbentuknya komunitas yang terorganisir. Faktor utama yang mempengaruhi perkembangan tersebut meliputi interaksi sosial antar komunitas, peran media sosial dalam penyebaran informasi, serta dukungan masyarakat dan pemerintah daerah. Selain sebagai bentuk hiburan, event cosplay juga berfungsi sebagai sarana pembentukan identitas diri, peningkatan kreativitas, serta mendukung promosi budaya dan pariwisata lokal. Dengan demikian, event cosplay di Kota Singaraja tidak hanya menjadi fenomena budaya, tetapi juga memiliki kontribusi sosial dan ekonomi bagi masyarakat setempat.
Representasi Perempuan dalam Kepemimpinan Organisasi Mahasiswa: Studi pada BEM FHIS Undiksha Novinta Eva Diona Br Tarigan; Lola Utama Sitompul; Fitri Noviani
Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 6 No. 2 (2026): Desember
Publisher : Penerbit Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/iso.v6i2.4078

Abstract

Tujuan Penelitian ini untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk representasi perempuan dalam kepemimpinan organisasi mahasiswa pada Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial Universitas Pendidikan Gaesha. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi terhadap pengurus serta anggota organisasi. Hasil peneilitain menunjukkan bahwa representasi perempuan dalam kepemimpinan organisasi mencakup empat bentuk, yaitu: representasi deskriptif, formalistik, susbtantif, dan simbolik. (1) representasi deskriptif terlihat dari keterlibatan perempuan yang cukup tinggi dalam struktur organisasi, namun belum merata pada posisi kepemimpinan tertinggi; (2) Representasi formalistik menunjukkan bahwa perempuan memiliki peluang yang sama secara structural, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal; (3) Representasi substantif masih terbatas karena perempuan belum memiliki pengaruh signifikan dalam pengambilan keputusan strategis; dan (4) Representasi simbolik tampak dari kehadiran perempuan yang cenderung bersifat simbolis.
Genjek Art: A Gender Ideological Battle Arena (A Perspective from Pierre Bourdieu's Capital Theory) Luh Putu Sendratari; I Ketut Margi; Lola Utama Sitompul; Fitri Noviani; Santana Sembiring
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jiis.v12i1.118714

Abstract

Art observers note that there is still insufficient research into the turmoil and ideological clashes within the arts. This article aims to emphasize that the realm of art is open to analysis from various perspectives, including genjek. This art form falls under the category of folk art and historically emerged from the encouragement of farmers to express their artistic passions in their spare time. Buleleng has a strong tradition of genjek art in its rural areas, which has since evolved alongside the development of tourism in the region. Genjek serves as a form of cultural capital, evident in the artistic performances, pronunciation, and linguistic style of the songs produced. Through these artistic expressions and the widespread promotion of genjek art, cultural reproduction occurs, which can shape power dynamics and potentially lead to violence from a gender perspective. Additionally, the conflict between gender ideology and feminist ideology is apparent through the use of hidden transcripts in genjek performances. In this sense, genjek art not only serves entertainment purposes but also needs to be developed as an educational tool. Furthermore, genjek art contains economic potential that can serve as a foundation for entrepreneurship in the performing arts sector.