Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Teknik Penanganan Umpan Hidup Pada Penangkapan Ikan Dengan Alat Tangkap Pole And Line Di KM. Cinta Bahari 09 Sorong – Papua Barat: Live Bait Handling Techniques In Fishing With Pole And Line Fishing Gear In KM. Citra Bahari 09 Sorong- West Papua Selfinus Pattiasina; fatmawati Marasabessy; Gerard Sugeng Ojaba
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 3 No. 1 (2022): Jurnal Perikanan Kamasan
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v3i1.51

Abstract

Penangkapan dengan pole and line yang dilakukan dengan joran dan tali harus menggunakan umpan hidup untuk menarik perhatian ikan Cakalang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan alat tangkap pole and line dengan umpan hidup, dan jenis tangkapan dengan alat tersebut di KM. CINTA BAHARI 09 Sorong. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi partisipan. Dari hasil pengamatan diketahui Konstruksi alat tangkap pole and line memiliki bagian-bagian yakni joran dengan bahan bambu yang berukuran 1-3 m, tali utama dari bahan multifilamen yang berukuran 12, 5 m dan mata pancing dari bahan stanless stell dengan ukuran no 51. Metode penangkapan pole and line terdiri dari beberapa tahapan yakni perisapan, setting dan hauling. Jenis hasil tangkapan yang diperoleh adalah ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) dengan jumlah 74 ton. Dalam penangkapan pole and line umpan hidup yang digunakan adalah ikan-ikan yang berukuran kecil, seperti Puri kepala merah (Stollephorus devisi), Puri gelas (Stollephorus commersonii), Puri kepala batu (Hypotherina leognesi), Gosao (Spratteloides delicatulus), Lompa (Thrissina baelama forska) dan Tembang (Sardinela fimbriata). Untuk mempertahankan umpan agar tetap hidup harus adanya alat-alat pembantu, seperti: bak penampung, lampu, jaring-jaring, pipa paralon atau bambu, pompa air, selang air, dan karet. Cara spesifik untuk mempertahankan umpan hidup yaitu membuat sirkulasi air masuk ke dalam bak dengan menggunakan pipa paralon atau bambu yang gunanya untuk mensuplai oksigen terlarut dari laut dan pada malam hari diberi lampu agar ikan tenang karena sifat ikan yang menyukai cahaya (phototaksis).
Tropik Level Ikan Karang Di Rumah Ikan: Tropic Level Reef Fish in Fish Apartment Jacomina Tahapary; Fatmawati Marasabessy
Jurnal Perikanan Kamasan: Smart, Fast, & Professional Services Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Perikanan Kamasan
Publisher : Akademi Perikanan Kamasan Biak Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58950/jpk.v3i2.60

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tropik level ikan karang pada rumah ikan. Rumah ikan merupakan suatu struktur yang terendam dalam air untuk meniru terumbu karang alami. Rumah ikan yang dikonstruksikan untuk memberi ruang bagi ikan dalam beraktivitas, seperti aktivitas makan, berlindung, dan memijah. Keberadaannya pada dasar perairan menarik ikan karang untuk memanfaatkannya karena ikan karang merupakan ikan yang hidup pada daerah terumbu karang sejak juvenil sampai dewasa, berasosiasi dengan terumbu karang karena tersedianya makanan dan tempat perlindungan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode visual sensus. Teramati 20 family ikan karang yang berada pada 2 lokasi rumah ikan dengan jumlah terbesar pada ikan mayor. Tropik level ikan karang berada pada tropik level 4.2 dengan dominasi ikan karnivora dan omnivore.
Differences in Fishing Time for By-Catch in Gill Net Fishing Gear in Selayar Waters serang, Abu samad; Almohdar, Erna; Hukubun, Wiwien G.; Anwar, Yanto; Tanjaya, Erwin; Marasabessy, Fatmawati
Agrikan Jurnal Agribisnis Perikanan Vol. 17 No. 2 (2024): Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52046/agrikan.v17i2.2305

Abstract

This research was conducted from October to December 2022, located in Selayar Village, Southeast Maluku Regency. The aim of this research is to determine the main, by-catch and discarded catches and to determine the differences between morning and afternoon catches. The method used in this research is the experimental metal fishing method, namely, conducting direct observations in the field of the catch using gill net fishing gear, then identifying the type of fish for each catch, counting the number of fish and weighing the weight of the fish (kg). ). The method used is experimental fishing or experimental fishing, observation and interviews. the object used is the catch on the gill net fishing gear. The research results are described in graphical form. The research results showed the highest value of main catch during the day, by-catch during the day and discard catch also during the day.
Mengukur Tingkat Keramahan Lingkungan Alat Tangkap Pancing Ulur di Desa Labetawi, Kota Tual, Provinsi Maluku Serang, Abu Samad; Marasabessy, Fatmawati; Rahantan, Ali; Tahapary, Jacomina; Almohdar, Erna; Anwar, Yanto; Hukubun, Wiwien G.; Tanjaya, Erwin
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 5 No 4 (2025): JPMI - Agustus 2025
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpmi.3613

Abstract

Peningkatan penggunaan alat tangkap ramah lingkungan pada sektor perikanan sangatlah penting untuk menjaga keberlanjutan sumber daya laut. Kegiatan penyuluhan dan hasil pengukuran dalam mengevaluasi tingkat keramahan alat tangkap pancing ulur yang digunakan nelayan di Desa Labetawi, berdasarkan kriteria Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF), mengcakup selektivitas alat tangkap, pengurangan bycatch, pengelolaan dampak terhadap habitat laut, keberlanjutan sumber daya perikanan, efisiensi sosial dan ekonomi, serta penerapan prinsip ekonomi biru. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan dan observasi terhadap penggunaan pancing ulur, wawancara dengan nelayan, analisis hasil tangkapan dan dampaknya terhadap lingkungan. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa alat tangkap pancing ulur memiliki tingkat selektivitas yang tinggi, mengurangi bycatch, dan tidak merusak habitat laut seperti terumbu karang dan padang lamun. Selain itu, penggunaan pancing ulur juga mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan dengan hasil tangkapan ikan yang konsisten dan ramah terhadap lingkungan. Dari aspek sosial dan ekonomi, nelayan yang menggunakan pancing ulur mengalami peningkatan pendapatan dan efisiensi operasional, sehingga dapat mendukung prinsip ekonomi biru. Maka disimpulkan bahwa alat tangkap pancing ulur di Desa Labetawi, sangat memenuhi kriteria (CCRF), sebagai alat tangkap yang ramah lingkungan, dengan skor nilai keramahan 33,6 sehingga dapat menjadi model penerapan perikanan berkelanjutan pada wilayah pesisir lainya di Kota Tual, Provinsi Maluku.
Status Trofik Ikan Karang Pada Rumah Ikan Di Perairan Pulau Ohoieuw Kei Kecil Maluku Tenggara Tahapary, Jacomina; Almohdar, Erna; Marasabessy, Fatmawati
Rosenberg : Jurnal Rosenberg Teknologi Penangkapan Ikan Vol 1 No 1 (2023): Rosenberg: Jurnal Teknologi Penangkapan Ikan
Publisher : Prodi TPI Politeknik Perikanan Negeri Tual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas makan ikan karang yang teramati di rumah ikan berdasarkan status tropiknya. Rumah ikan sebagai lokasi pengamatan diletakkan pada dua stasiun, di bagian utara Pulau Ohoieuw, dimana pada lokasi tersebut berada pada bagian teluk dan terdapat terumbu karang yang masih dalam kondisi baik dan di bagian barat yang merupakan wilayah rusaknya ekosistem terumbu karang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah stationary underwater visual census. Berdasarkan status trofiknya maka ditemukan 8 kelompok ikan karang yakni herbivora (pemakan alga) meliputi famili Scaridae, Acanthuridae, dan Siganidae. Kelompok intertivivora (pemakan intervebrata), meliputi famili Balistidae, Labridae, Nemiptiridae, dan Apogonidae. Kelompok koralivora (pemakan polip karang) adalah famili Chaetodontidae. Kelompok Detritivora (pemakan bahan organik), yakni famili Mullidae. Kelompok predator yang ditemukan adalah karnivora (pemakan ikan besar) meliputi famili Serranidae dan Carangidae, sedangkan kelompok piscivora (pemakan ikan kecil) meliputi famili Lutjanidae, Haemulidae, Platycephalidae. Kelompok planktivora (pemakan plankton), yakni Caesionidae, dan kelompok omnivora (pakan alami bervariasi), meliputi famili Pomacentridae, Blenniidae, dan Scorpanidae. Pada lokasi terumbu baik ikan herbivora yang teramati berjumlah 10 spesies (43.44%), intertivora 16 spesies (70.71%), koralivora 8 spesies (46.75%), detritivora 4 spesies (63.22%), karnivora 1 spesies (80%), piscivora 3 spesies (47.22%), dan Omnivora 10 spesies (55.58%). Pada lokasi terumbu rusak ikan herbivora yang teramati berjumlah 13 spesies (56.56%), intertivora 15 spesies (29.29%), koralivora 9 spesies (53.25%), detritivora 4 spesies (36.78%), karnivora 1 spesies (20%), piscivora 2 spesies (52.78%), dan Omnivora 13 spesies (44.42%).
Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Hutan Mangrove Di Pesisir Biak Timur Kabupaten Biak Numfor Rante, Irwan; Marasabessy, Fatmawati
Rosenberg : Jurnal Rosenberg Teknologi Penangkapan Ikan Vol 2 No 1 (2024): Rosenberg: Jurnal Teknologi Penangkapan Ikan
Publisher : Prodi TPI Politeknik Perikanan Negeri Tual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekosistem mangrove di wilayah pesisir Biak Timur memiliki luas secara keseluruhan 144,81 Ha, dimana kerapatan jarang 89,64 Ha, kerapatan sedang 26,19 Ha dan kerapatan padat 28,98 Ha. Kondisi mangrove di wilayah pesisir timur Pulau Biak (Distrik Biak Timur dan Distrik Oridek) berada dalam kondisi rusak sekitar 61,90% dan kondisi baik sekitar 38,10%. Kondisi mangrove yang rusak yang ditandai dengan kerapatan mangrove yang jarang. Kondisi hutan mangrove di Biak Timur mengalami penurunan luas yang cukup signifikan sebagai akibat konversi menjadi lahan pemukiman dan pembangunan. Akibatnya terlihat adanya degradasi yang cukup serius terjadi pada hutan mangrove di kawasan ini terutama yang dekat dengan pemukiman penduduk. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan menganalisis tingkat partisipasi dan faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pemanfaatan dan pengelolaan hutan mangrove di Biak Timur Kabupaten Biak Numfor. Tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan mangrove dianalisis menggunakan skala likert, faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan mangrove menggunakan analisis diskriminan. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan mangrove pada kategori sedang dengan jumlah sebesar 49,154%. Variabel yang mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan mangrove adalah variabel lama pendidikan.