Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Hubungan Status Gizi dengan Perkembangan Anak Usia 3-5 Tahun di Puskesmas Citangkil II Kota Cilegon Herni Febriawati; Trisonjaya Trisonjaya; Rangga Saputra; Nurry Ayuningtyas
Malahayati Nursing Journal Vol 5, No 8 (2023): Volume 5 Nomor 8 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v5i8.9394

Abstract

ABSTRACT Optimal development in toddlers needs to be supported by intake of nutrients and daily food in the right amount and good quality. Malnutrition in infancy can result in losses that cannot be repaired or replaced at a later date. To determine the relationship between nutritional status and motor development in children aged 3-5 years. Correlational quantitative research with cross sectional design. The number of samples is 110 children aged 3-5 years taken using purposive sampling technique. Results: The results of the univariate analysis showed that most of the children aged 3-5 years at the Citangkil II Health Center in Cilegon City had good nutritional status (72.6%) and most of them had development according to their age (61.8%). The results of the bivariate analysis obtained a p value: 0.000, so it was stated that nutritional status had a relationship with the development of children aged 3-5 years. There is a relationship between nutritional status and the development of children aged 3-5 years at Citangkil II Health Center, Cilegon City. Keywords: Toddler, Nutritional Status, Development  ABSTRAK Perkembangan yang optimal pada balita perlu didukung oleh asupan zat gizi dan makanan sehari-hari dalam jumlah yang tepat dan kualitas yang baik. Kekurangan gizi pada masa balita dapat mengakibatkan kerugian yang tidak dapat diperbaiki atau digantikan di kemudian hari. Untuk mengetahui hubungan status gizi dengan perkembangan anak usia 3-5 tahun.  Penelitian kuantitatif korelasional dengan desain cross sectional. Jumlah sampel adalah 110 anak usia 3-5 tahun diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil analisis univariat menunjukkan anak usia 3-5 tahun di Puskesmas Citangkil II Kota Cilegon sebagian besar memiliki status gizi baik (72,6%) dan sebagian besar memiliki perkembangan sesuai dengan umur (61,8%). Hasil analisis bivariat diperoleh p value: 0,000, sehingga dinyatakan bahwa status gizi memiliki hubungan dengan perkembangan anak usia 3-5 tahun. Ada hubungan antara statsus gizi dengan perkembangan anak usia 3-5 tahun di Puskesmas Citangkil II Kota Cilegon. Kata Kunci: Balita, Status Gizi, Perkembangan
Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operatif Di Rumah Sakit Kanker Dharmais Eli Mantika; Yuni Susilowati; Rangga Saputra
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 6 (2023): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v3i6.6583

Abstract

Penatalaksanaan kemoterapi masih menjadi pilihan utama bagi penderita kanker, namun terapi ini Menurut World Health Organiztion (WHO), jumlah tindakan operasi mengalami peningkatan yang sangat signifikan setiap tahunnya. Pada tahun 2019 sebesar 148 juta jiwa, dan meningkat di tahun 2020 menjadi 234 juta jiwa. Operasi termasuk tindakan yang menimbulkan kecemasan berhubungan dengan segala prosedur asing dan juga ancaman terhadap keselamatan jiwa akibat prosedur pembedahan. Masalah kecemasan pada pasien pre operasi sekitar 75%-80%. Komunikasi terapeutik perawat adalah salah satu penatalaksanaan kecemasan pada pasien pre operatif. Komunikasi terapeutik memegang peranan penting dalam membantu pasien memecahkan masalah yang dihadapi. Tujuan penelitian: Mengetahui hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi. Metode penelitian: Deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Jumlah populasi 123 pasien, berdasarkan perhitungan rumus Slovin didapat besar sampel sebanyak 105 responden. Hasil : Hasil analisis univariat menunjukkan pasien pre operasi di RS Kanker Dharmais hampir sebagian besar menganggap komunikasi terapeutik perawat sudah baik (53,3%), dan hampir sebagian besar merasakan cemas sedang (48,6%) dan cemas berat (40%). Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi. (p value : 0,000). Kesimpulan dan Saran: Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi bagi peningkatan kualitas komunikasi terapeutik perawat. Pihak rumah sakit juga perlu mengadakan pelatihan secara rutin untuk selalu meng-update keterampilan komunikasi perawat, bisa dengan metode roleplay atau dengan mengadakan seminar-seminar.
Pengaruh Media Audio Visual (Video) dalam Pendidikan Kesehatan terhadap Tingkat Pengetahuan Hipertensi di Desa Cikeusik Kecamatan Wanasalam Rangga Saputra; Putri Andini; M. Martono Diel
Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2025): November: Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jpikes.v5i3.5903

Abstract

Hypertension is one of the leading non-communicable diseases and a major cause of death worldwide. It is often referred to as the silent killer because it rarely shows specific symptoms, leaving many individuals unaware of their condition until serious complications occur. The low level of public knowledge about hypertension is a significant risk factor that contributes to poor prevention and control. Therefore, innovative health education strategies are urgently needed to improve community awareness, one of which is through audio-visual media such as video. This study aimed to determine the effect of audio-visual media (video) in health education on the level of knowledge about hypertension among residents of Cikeusik Village, Wanasalam Subdistrict. The research design applied was quantitative with a quasi-experimental method using a pretest-posttest with control group design. A total of 40 respondents were selected using a purposive sampling technique and divided into two groups: intervention (RT.005) and control (RT.004). The instrument used was a structured hypertension knowledge questionnaire. Data were analyzed using the Paired Sample T-Test to compare knowledge before and after the intervention, and the Independent Sample T-Test to compare differences between the intervention and control groups. The results indicated a significant improvement in hypertension knowledge after providing health education through audio-visual media (video) in the intervention group. The Independent Sample T-Test showed a significance value of p = 0.000 (p < 0.05), confirming that the use of audio-visual media had a positive and significant effect on respondents’ knowledge levels. Conclusion: audio-visual media (video) is proven to be an effective educational tool for improving community knowledge about hypertension and can be recommended as an attractive and easy-to-understand health promotion medium.
Hubungan Tingkat Kecemasan dengan Kejadian Sindrom Dispepsia pada Pasien di Rumah Sakit Annisa Tangerang Prida Sahla Rizkiyyah; Rangga Saputra; M. Martono Diel
Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2025): Juli: Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jpikes.v5i2.5940

Abstract

Dyspepsia is one of the top digestive disorders that are often found in society. The symptoms that arise include pain or discomfort in the heartburn, stomach feels full, nausea, vomiting, satiety, quickly, and often burping. This condition is not only influenced by organic factors, but also closely related to psychosomatic factors, one of which is anxiety. Anxiety can trigger an increase in the hull of stomach acid secretion, motility disorder, as well as a decrease in stomach mucosa function, which exacerbates in dyspepsia symptoms. This study aims to determine the relationship between anxiety levels and the incidence of spsia syndrome in patients at Annisa Tangerang Hospital. This study used quantitative designs with a correlational approach and a cross sectional design. The total population was taken from the last 3 months patient data and the number of samples using the slovin formula with a result of 130 respondents chosen with accidental sampling technique. The research instrument in the form of anxiety-level questionnaire and symptoms questionnaire. The data were analyzed using the Chi Square test with a significance level of p <0.05. The results showed a meaningful connection between anxiety levels and the incidence of dyspepsia syndrome (p = 0.005). This finding is in line with previous research that confirms that psychological factors can worsen digestive condition. The conclusion of this study is that anxiety has an important contribution to the emergence of dyspeptic syndrome. Therefore, the arrangement of patients based on dyspepsia needs to be carried out thoroughly, not only through pharmacological therapies, but also through nursing interventions that pay attention to the patient's psychological aspects. The results of this study are expected to be input for health workers, educational institutions, and subsequent researchers to develop holistic management strategies in reducing the incidence of dyspepsia.
Hubungan Tingkat Stres dengan Kejadian Penyakit Hipertensi di Puskesmas Sindang Jaya Wulan Noviasuci; Rangga Saputra; Rina Puspita Sari
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i2.16927

Abstract

ABSTRACT  Stress often occurs due to the suppression of the surrounding environment which ultimately leads to stimulation of physiological and psychological reactions. The body releases the hormones cortisol and adrenaline during stressful situations, which speeds up the heartbeat. According to the World Health Organization (2018) reports that 350 million people worldwide experience stress. The prevalence of stress in Indonesia according to data from the Ministry of Research and Technology is that 55% of the population in Indonesia experiences stress, with 0.8% of very severe stress and 34.5% of mild stress (Hasmy Ghozali, 2022). Prolonged stress that is not managed properly can lead to high blood pressure. The World Health Organization (WHO, 2023) estimates that 1.28 billion adults worldwide between the ages of 30-79 years are affected by hypertension, the majority of these individuals (two-thirds) live in middle- and low-income countries.   Hypertension is very dangerous and is referred to as a silent killer because it is only discovered after the problem arises. The higher the blood pressure, the greater the risk of complications. Long-term (persistent) hypertension can also lead to complications if not treated immediately. Heart disease, stroke, myocardial infarction, kidney failure and blindness are some of the complications of hypertension (Kemenkes RI, 2021). The purpose of this study is to determine the relationship between stress levels and the incidence of hypertension in the Sindang Jaya Health Center. This research method is quantitative with a correlation analysis design using a crosssectional approach. The technique used is purposive sampling. Data analysis uses the Spearman Rank Test. The sample totaled 95 respondents. ρ value = 0.000 0.05 and correlation strength (r = 0.764). There is a relationship between stress level and the incidence of hypertension in the Sindang Jaya Health Center.  Keywords: Stress Levels, Hypertension  ABSTRAK Stres seringkali terjadi karena penekanan lingkungan sekitar yang akhirnya menimbulkan rangsangan terhadap reaksi fisiologis dan psikologis. Tubuh melepaskan hormon kortisol dan adrenalin selama situasi stres, yang mempercepat detak jantung. Menurut World Health Organization (2018) melaporkan bahwa 350 juta orang di seluruh dunia mengalami stres. Prevalensi stres di Indonesia menurut data Kemenristek sebesar 55% penduduk di Indonesia mengalami stres, dengan 0,8% stres yang sangat parah dan 34,5%  stres ringan (Hasmy Ghozali, 2022). Stres berkepanjangan yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan tekanan darah tinggi. World Health Organization (WHO, 2023) memperkirakan bahwa 1,28 miliar orang dewasa di seluruh dunia antara usia 30-79 tahun terserang hipertensi, mayoritas individu ini (dua pertiga) tinggal di negara-negara berpendapatan menengah dan rendah.   Hipertensi sangat berbahaya dan disebut sebagai silent killer karena hanya ditemukan setelah masalah muncul. Semakin tinggi tekanan darah, maka semakin besar risiko terjadi komplikasi. Hipertensi jangka panjang (persisten) juga dapat menyebabkan komplikasi jika tidak ditangani segera. Penyakit jantung, stroke, infark miokard, gagal ginjal dan kebutaan merupakan beberapa komplikasi dari hipertensi (Kemenkes RI, 2021). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan kejadian penyakit hipertensi di Puskesmas Sindang Jaya. Metode penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain analitik korelasi menggunakan pendekatan crosssectional. Teknik yang digunakan adalah purposive sampling. Sampel berjumlah 95 responden. Analisis data menggunakan Uji Spearman Rank. Nilai  value = 0,000 0,05 dan kekuatan korelasi (r = 0,764). Terdapat hubungan tingkat stres dengan kejadian penyakit hipertensi di Puskesmas Sindang Jaya. Kata Kunci: Tingkat Stres, Hipertensi
HUBUNGAN SELF EFFICACY DAN SELF CARE DENGAN KUALITAS HIDUP PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE II DI RUMAH SAKIT AN-NISA TANGERANG Putri Apriani; Rangga Saputra; M.Martono Diel
Jurnal Vokasi Kesehatan Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : Gayaku Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58222/vz4s3t61

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Diabetes Melitus (DM) merupakan gangguan metabolik kronis akibat ketidakseimbangan kebutuhan dan ketersediaan insulin. Self efficacy adalah keyakinan individu dalam mengelola tugas untuk mencapai hasil yang diinginkan. Self care adalah upaya pasien dalam memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri untuk mengelola penyakitnya. Tujuan: untuk mengetahui hubungan self efficacy dan self care dengan kualitas hidup pada penderita diabetes melitus tipe II di Rumah Sakit An-Nisa Tangerang. Metode: penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasi dengan desain cross sectional. Analisis data menggunakan uji Chi Square dengan signifikansi 5%. Hasil: terdapat hubungan yang signifikan antara self efficacy dengan kualitas hidup (p = 0,032), dan self care dengan kualitas hidup (p = 0,049), yang keduanya menunjukkan p < 0,05. Kesimpulan: dapat disimpulkan bahwa self efficacy dan self care memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas hidup pada penderita diabetes melitus tipe II di Rumah Sakit An-Nisa Tangerang. Kata Kunci: self efficacy, self care, kualitas hidup ABSTRACT Background: Diabetes Mellitus (DM) is a chronic metabolic disorder characterized by elevated blood glucose levels due to an imbalance between the body’s insulin needs and availability. Self-efficacy refers to an individual’s belief in their ability to manage tasks necessary to achieve desired outcomes. Self-care is the patient’s effort to independently meet daily needs in order to prevent and manage the disease. Objective: To determine the relationship between self-efficacy and self-care with quality of life among patients with type II Diabetes Mellitus at An-Nisa Hospital Tangerang. Methods: This study used a descriptive correlational method with a cross-sectional design. Data were analyzed using the Chi Square test with a 5% significance level. Results: There was a significant relationship between self-efficacy and quality of life (p = 0.032), and between self-care and quality of life (p = 0.049), both showing p < 0.05. Conclusion: Self-efficacy and self-care have a significant relationship with the quality of life of patients with type II Diabetes Mellitus at An-Nisa Hospital Tangerang. Keywords: self-efficacy, self-care, quality of life
Hubungan Kebiasaan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) Dengan Kejadian Diare Pada Anak Sekolah Di SDN Tanah Merah 1 Kabupaten Tangerang Tahun 2026 Aisyah Fitria Rahmah; Adi Dwi Susanto; Rangga Saputra
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1508

Abstract

Diare merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang masih tinggi angka kejadiannya pada anak usia sekolah dan erat kaitannya dengan perilaku hidup bersih dan sehat, salah satunya kebiasaan cuci tangan pakai sabun (CTPS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan cuci tangan pakai sabun (CTPS) dengan kejadian diare pada anak sekolah di SDN Tanah Merah 1 Kabupaten Tangerang tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 220 siswa dengan sampel sebanyak 156 responden yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner kebiasaan CTPS sebanyak 15 pertanyaan dan kuesioner kejadian diare sebanyak 1 pertanyaan. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan kebiasaan CTPS kategori kurang berjumlah 77 responden (49,4%), kategori cukup 60 responden (38,5%), dan kategori baik 19 responden (12,2%). Kejadian diare ditemukan pada 84 responden (53,8%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p=0,000 (p<0,05) yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan cuci tangan pakai sabun (CTPS) dengan kejadian diare pada anak sekolah di SDN Tanah Merah 1 Kabupaten Tangerang. Diperlukan peningkatan edukasi dan penyediaan fasilitas cuci tangan di lingkungan sekolah guna menurunkan angka kejadian diare pada anak usia sekolah.
Hubungan Kebiasaan Konsumsi Kopi Dengan Kejadian Gastritis Pada Usia Dewasa Di Desa Pakualam Kabupaten Tangerang Dewi Retnowati; Adi Dwi Susanto; Rangga Saputra
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1522

Abstract

Abstrak Pendahuluan : Gastritis merupakan salah satu gangguan pencernaan yang banyak dialami masyarakat salah satu faktor pemicunya adalah kebiasaan konsumsi kopi yang berlebihan, terutama pada usia dewasa. Tujuan : Untuk mengetahui Hubungan Kebiasaan Konsumsi Kopi Dengan Kejadian Gastritis Pada Usia Dewasa di Desa Pakualam Kabupaten Tangerang. Metode : Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional. Teknik Sampel : Teknik yang digunakan adalah random sampling. Jumlah Sampel : Sampel berjumlah 196 responden. Analisa Data : Analisa data menggunakan Chi Square. Hasil penelitian : Hasil penelitian yang dilaksanakan di Desa pakualam, bahwa terdapat adanya hubungan antara kebiasaan konsumsi kopi dengan kejadian gastritis pada usia dewasa dengan p-value sebesar (0,000). Kesimpulan : Kebiasaan konsumsi kopi yang berlebihan berkaitan erat dengan munculnya kejadian gastritis pada usia dewasa di Desa Pakualam Kabupaten Tangerang. Alangkah baiknya masyarakat, khususnya usia dewasa, membatasi dan mengontrol kebiasaan konsumsi kopi agar risiko terjadinya gastritis dapat diminimalisir. Kata Kunci : Kebiasaan Konsumsi Kopi, Gastritis Abstract Introduction : Gastritis is one of the digestive disorders commonly experienced by the community, and one of its triggering factors is excessive coffee consumption, particularly among adults. Objective : To determine the relationship between coffee consumption habits and the incidence of gastritis in adults in Pakualam Village, Tangerang Regency. Method : This study used a quantitative research method with a cross sectional approach. Sampling Technique : The technique used was random sampling. Sample Size : The sample consisted of 196 respondents. Data Analysis : Data analysis using chi square. Research Results : The results of the research conducted in Pakualam Village showed a relationship between coffee consumption habits and the incidence of gastritis in adults, with a p-value of (0.000). Conclusion: Excessive coffee consumption is closely linked to the occurrence of gastritis among adults in Pakualam Village, Tangerang Regency. It is advisable for the community particularly adults to limit and control their coffee consumption in order to minimize the risk of developing gastritis. Keyword : Coffee Consumption Habit, Gastritis
Pengaruh Terapi Musik terhadap Tingkat Nyeri Pemasangan Infus pada Pasien Anak Usia Prasekolah di Ruang Anak Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta Tahun 2023 Rita Donna Marlina; Yuni Susilowati; Rangga Saputra
Termometer: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Vol. 2 No. 1 (2024): Januari : Termometer: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/termometer.v2i1.2807

Abstract

The infusion procedure can cause problems in children due to pain. Based on preliminary studies, it was found that at least 3 out of 5 pediatric patients who underwent an infusion procedure would cry loudly due to pain. This study is to determine the effect of music therapy on infusion pain in preschool-aged children. This study used Post-test Only Control Group Design which consisted of an experimental group of 9 respondents and a control group of 9 respondents. Based on the univariate statistical test, the results show that most of the respondents in the control group were 6 years old, namely as many as 3 people (33.3%), male as many as 5 people (55.6%), felt pain on a scale of 6-7 as many as 5 people (55.6%) and pain scale 8-9 as many as 4 people (44.4%). While in the intervention group, most of the respondents were 5 years old, consisting of 3 people (33.3%), 6 people (66.7%) were male and 6 people felt pain on a scale of 2-3 (66.7%). Based on the Mann Whitney test, a p value of 0.000 was obtained, meaning that music therapy affected the pain level of infusion in preschool-aged children. The results of this study prove that music therapy is an effective distraction technique for infusion pain levels in preschool-aged children. The results of this study are expected to be a reference for nurses in applying music therapy in reducing pain due to infusion.
Hubungan Penggunaan Aplikasi Artificial Intelligence (AI) terhadap Prokrastinasi Akademik pada Siswa di SMAN 20 Kabupaten Tangerang Hafizotun Muawiyah; Eva Marsepa; Rangga Saputra
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1661

Abstract

Latar Belakang: Prokrastinasi akademik adalah fenomena di mana pelajar menunda-nunda penyelesaian tugas atau kewajiban akademik hingga mendekati batas waktu, atau bahkan melewatinya. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui hubungan penggunaan aplikasi Artificial Intelligence (AI) terhadap prokrastinasi akademik pada siswa di SMAN 20 Kabupaten Tangerang. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Teknik sampel pada penelitian ini menggunakan probability sampling dengan cara stratified random sampling sebanyak 176 responden. Hasil Penelitian: Analisis menggunakan uji Chi-Square diperoleh nilai p 0,005 < 0,05 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan aplikasi Artificial Intelligence (AI) dengan prokrastinasi akademik pada siswa. Hasil uji koefisien kontingensi diperoleh nilai 0,277 menunjukkan bahwa kekuatan hubungan berada pada kategori rendah. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara penggunaan aplikasi Artificial Intelligence (AI) terhadap prokrastinasi akademik pada siswa di SMAN 20 Kabupaten Tangerang.