Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Pengembangan Inovasi Rasa Keripik Tempe “Ceria” Rantika, Rizka Freeco; Ningsih, Nindya Rachamwati; Sugianto, Alip
Educommunity Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2024)
Publisher : CV. Edutechnium Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71365/ejpm.v2i2.64

Abstract

Innovation in the food industry is a crucial step to maintain and expand the market. This article discusses the development of tempeh chips with three flavors-Original, Balado, and Sweet Corn-at Ms. Via's tempeh chips MSME in Mangge Village, Magetan Regency. Through community service activities, this innovation aims to increase the attractiveness and selling value of the product by combining the quality of traditional tempeh with flavors that match modern consumer preferences. The results of this innovation not only increase product variety, but also open up opportunities for expansion to a wider market, both locally and regionally. Assistance in product packaging and branding was also implemented to support the success of this innovation. Thus, flavor and packaging innovations are expected to increase production, sales, and economic impact for the business.
Pelatihan Seni Batik Guna Meningkatkan Ekonomi Warga Muhammadiyah Dusun Trenceng Mrican Ponorogo Sumaji, Sumaji; Prasetyaningsih, Erny; Hari Abrianto, Tegoeh; Sugianto, Alip
DEDIKASI PKM Vol. 5 No. 2 (2024): DEDIKASI PKM UNPAM
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/dkp.v5i2.38937

Abstract

Ponorogo dahulu merupakan salah satu pusat industry kerajinan Batik. Salah satu desa yang melestarikan batik adalah Mrican. Kini keberadaan Batik Ponorogo sudah mulai hilang karena berbagai hal. Untuk kembali menumbuhkan pengrajin batik perlu adanya pelatihankepada masyarakat sebagai upaya memicu dan memacu kembali kejayaan batik Ponorogo. Pelatihan ini dilaksanakan dengan metode teori dan praktik, peserta memperoleh teori sebagai upaya menguatkan pemahaman menganeai teori-toeri dalam membatik dan praktik secara langsung atau learning by doing. Hasilnya para peserta bisa membuat batik dengan baik, dengan demikian harapannya dapat menumbuhkan peluang ekonomi bagi warga Muhammadiyah dusun Trenceng Mrican Ponorogo.
PELATIHAN SENI HADROH BAGI PENGURUS TAMAN PENDIDIKAN AL QUR’AN MUHAMMADIYAH PONOROGO Sugianto, Alip; Wibowo, Sugeng; Sunarto, Sunarto
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 9 (2024): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v7i9.3498-3504

Abstract

Forum TPA Muhammadiyah Ponorogo terdiri dari 43 lembaga, dari 43 lembaga tersebut yang memiliki seni hadroh 3 lembaga. Hal tersebut dikarenakan beberapa hal, seperti kurangnya sarana fasilitas dan belum banyak guru yang menguasai seni hadroh. Berdasarkan permasalahan tersebut pengabdian ini mengadakan pelatihan seni hadroh. Metode yang digunakan adalah  learning by doing, teori dan praktek. Hasilnya peserta memiliki pemahaman berharga tentang konsep-konsep hadroh, jenis-jenis instrument hadroh dan cara bermain hadroh, dalam prakteknya peserta bisa menguasai dasar-dasar bermain, sehingga masih dibutuhkan banyak latihan-latihan secara rutin agar memperoleh hasil yang maksimal. 
Pelatihan Manajemen Keuangan dan Ketrampilan Wirausaha Pemuda Muhammadiyah Ponorogo Sebagai Upaya Memperkuat Kemandirian EkonomiI Sugianto, Alip; wijianto, Wijianto; Prasetyaningsih, Erni
Jurnal Terapan Ekonomi dan Bisnis Vol. 1 No. 1 (2021): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24269/jteb.v1i1.4117

Abstract

Pemuda Muhammadiyah adalah salah satu organisasi otonom Muhammadiyah yang bergerak di bidang Kepemudaaan. Pemuda Muhammadiyah yang notabene meneruskan Khittah Muhammadiyah sebagai pelangsung, pelopor dan penyempurna Amal Usaha Muhammadiyah perlu adanya pemahaman tentang manajemen keuangan dan ketrampilan wirausaha. Selain itu kemandirian ekonomi kader sangat perlu ditingkatkan karena salah satu Kepribadian Pemuda Muhammadiyah adalah Qodirun ‘alal Kasbi yang artinya memiliki kemampuan usaha sendiri dari segi ekonomi. Karena itu Pemuda Muhammadiyah tidaklah mesti miskin, seorang kader Pemuda Muhammadiyah harus  kaya raya agar bisa menunaikan ibadah Haji, Umroh, Zakat, Shadaqoh guna mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu, perlu adanya pelatihan manajemen keuangan dan kewirausahaan bagi Pemuda Muhammadiyah Ponorogo dengan diadakan Pelatihan Manajemen Keuangan dan Ketrampilan Wirausaha yang diharapkan mampu memberikan bekal pengetahuan yang memadai untuk diaplikasikan dalam usaha sehingga memberi dampak yang positif untuk kemandirian ekonomi Pemuda Muhammadiyah Ponorogo.Kata Kunci : Manajemen Keuangan, Pemuda Muhammadiyah 
KAJIAN ETNOLINGUISTIK TERHADAP PAKAIAN ADAT WAROK PONOROGO Sugianto, Alip
ARISTO Vol 3 No 1 (2015): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24269/ars.v3i1.8

Abstract

Pakaian Adat merupakan sebuah identitas suatu daerah yang mana simbol dari kebudayaan yang dimiliki oleh wilayah tersebut. Hal tersebut sebagaimana Pakaian Adat Etnik Panaragan yang terkenal dengan Pakaian Khas Warok Ponorogo. Pakaian Adat Khas Ponorogo memiliki nilai filosofi yang terkandung didalamnya yang akan di telaah dengan menggunakan pendekatan etnolinguistik. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pakaian adat panaragan atau warok memiliki kharakter jiwa masyarakat Ponorogo yang tersimpan dalam nilai-nilai yang terdapat dalam pakaian adat. Nilai tersebut antara lain ketenangan, keberanian, kesabaran.
KEBUDAYAAN MASYARAKAT JAWA ETNIK PANARAGAN Sugianto, Alip
ARISTO Vol 4 No 1 (2016): ARISTO Vol. 6 Tahun 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24269/ars.v4i1.178

Abstract

AbstrakPonorogo menurut banyak kalangan merupakan sub etnik kebudayaan Mataraman yang meliputi Madiun, Magetan, Ngawi, Pacitan dan Trenggalek. Namun berdasarkan analisa penulis Ponorogo merupakan sub etnik kebudayaan sendiri yang tidak termasuk dalam wilayah kebudayaan Mataraman. Melainkan sebuah Etnik tersendiri Kebudayaan Jawa Etnik Panaragan. Artikel ini menjelaskan tentang kebudayaan Jawa Etnik Panaragan sehingga memiliki ciri khas tersendiri sebagai sub etnik budaya sendiri di Jawa Timur.Kata Kunci: Kebudayaan, Jawa dan Etnik Panaragan
Pendampingan Pelaksanaan Disiplin Bahasa dengan Pendekatan Logic Consequence Di Pondok Modern Syafii, Muhammad Lukman; Sugianto, Alip; Cendriono, Nanang
Jurnal ABDINUS : Jurnal Pengabdian Nusantara Vol 3 No 1 (2019): Volume 3 Nomor 1 Tahun 2019
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.981 KB) | DOI: 10.29407/ja.v3i1.13553

Abstract

This Science and Technology Activities for Communities is to approve sanctions applied in upholding the discipline of language in modern boarding school which fall into the category of punishment or logical consequences, which support can instill a high awareness in students to use language only to be able to enforce it as requested, but more because of the awareness of the importance of this language in the learning process. The method applied in this PKM activity was published in several stages, namely: discussing and enforcing debates on language discipline, socialization programs to modern cottage leaders, seminars on Punishment VS Logic Consequences, followed by workshops on language safety agreements with logical consequences, Preparing relevant punishment for students who commit an offense. In the end, from the implementation of the PKM program, it is hoped that the modern boarding school will no longer use punishment consisting of punishment in the enforcement of language discipline but instead uses logical agreement, so as to increase the awareness and interest of students in learning foreign languages.