Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Perbandingan Lama Hilangnya Nyeri (Analgesia) Bupivakain Hiperbarik + Tramadol Intratekal dengan Bupivakain Hiperbarik + NaCl Intratekal pada Pasien yang Menjalani Operasi Dengan Anestesi Spinal Yuliana, Siti Sovia; Kresnoadi, Erwin; Setyorini, Rika Hastuti
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 2.1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang : Nyeri pasca operasi merupakan salah satu faktor utama yang dapat mempengaruhi proses penyembuhan dan pemulihan pasien. Berbagai tehnik anestesi regional telah dikembangkan untuk memfasilitasi tindakan operasi seperti anestesi spinal. Pendekatan multimodal pada anestesi spinal merupakan salah satu cara yang saat ini banyak digunakan untuk mengatasi nyeri pasca operasi. Penambahan obat anestesi lokal dengan obat golongan opioid sebagai terapi multimodal dapat memberikan hasil yang menjanjikan. Pada penelitian ini obat yang digunakan adalah bupivakain dan tramadol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penambahan tramadol pada bupivakain hiperbarik secara intratekal untuk memperpanjang lama analgesia pasca operasi. Metode : Penelitian ini bersifat analitik deskriptif dengan menggunakan sumber data sekunder. Penelitian dilakukan terhadap empat puluh delapan pasien dengan status fisik ASA I-II yang terbagi ke dalam 2 kelompok. Kelompok A (perlakuan) mendapat bupivakain 0,5% 12,5 mg hiperbarik ditambah tramadol 25 mg intratekal dan kelompok B (kontrol) mendapat bupivakain 0,5% 12,5 mg hiperbarik ditambah NaCl 0,9% 0,5 cc intratekal. Penliaian efek analgesia dilakukan sampai terjadinya regresi 2 segmen dicapai. Analisis statistik menggunakan independent t-test dan mann whitney test. Hasil : Hasil penelitian ini mendapatkan lama analgesia kelompok perlakuan lebih panjang dibandingkan dengan kelompok kontrol dengan perbedaan bermakna. Simpulan : Lama analgesia bupivakain 0,5% 12,5 mg hiperbarik ditambah tramadol 25 mg intratekal lebih lama dibandingkan dengan bupivakain 0,5% 12,5 mg hiperbarik ditambah NaCl 0,9% 0,5 cc intratekal.
Perbandingan Lama Analgesia Bupivakain Hiperbarik + Midazolam Intratekal Dengan Bupivakain Hiperbarik + NaCl Intratekal pada Pasien yang Menjalani Operasi dengan Anestesi Spinal Puspitarini, Yuyun; Kresnoadi, Erwin; Nurbaiti, Lina
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 2.1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Nyeri merupakan efek fisiologis yang dapat terjadi pada setiap pasien pasca operasi. Pemberian obat Bupivakain 0,5% 12,5 mg hiperbarik secara intratekal pada anestesi spinal dapat dijadikan multi modal untuk meningkatkan efek analgesia pada pasien pasca operasi. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penambahan midazolam untuk bupivakain intratekal hiperbarik dalam memperpanjang durasi analgesia pada pasien operasi. Metode : Penelitian menggunakan analitik deskriptif dengan mengambil sumber dari data skunder pada empat puluh delapan pasien yang terkelompokan menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok perlakuan (A) yang diberikan Bupivakain 0,5% 12,5 mg hiperbarik intratekal ditambahkan Midazolam 1 mg dan kelompok control (B) Bupivakain 0,5% 12,5mg hiperbarik intratekal ditambahn NaCl 0,9% 1 cc. Kemudian dibandingkan mula blok sensorik, level maksimal torakal, lama blok motorik, dan efek samping yang muncul pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan Hasil : Pada penelitian ini menunjukan terdapat peningkatan efek dari lama analgesia pada kelompok perlakuan lebih lama (223,83±3,40) dari pada kelompok kontrol (120,46±2,86). Kesimpulan : Penambahan midazolam 1mg intratekal pada bupivakain 0,5 % 12,5 mg hiperbarik dapat memberikan lama analgesia yang lebih lama pada pasien yang menjalani operasi dengan anestesi spinal (223,83±3,40 minutes) dibandingkan (120,46±2,86)
Perbandingan Lama Analgesia Bupivakain Hiperbarik+ Epinefrin Intratekal dengan Bupivakain Hiperbarik + NaCl Intratekal pada Pasien yang menjalani Operasi dengan Anestesi Spinal Istianah, Nur; Kresnoadi, Erwin; Nurbaiti, Lina
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 2.1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang. Teknik penggunaan anestesi regional sangat berkembang dan yang paling sering digunakan adalah anestesi spinal atau yang disebut SAB (Sub-Arachnoid Block) yaitu memasukkan obat anestesi lokal kedalam ruangan subaraknoid untuk mendapatkan efek analgesia.Obat anestesi lokal yang sering digunakan adalah buivakain dan untuk mendapatkan efek analgesia yang lebih lama, obat anestesi lokal memerlukan suatu adjuvant.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penambahan epinefrin pada bupivakain hiperbarik intratekal dalam memperpanjang durasi analgesia pada pasien yang menjalani operasi dengan anestesi spinal. Metode.Penelitian ini menggunakan analitik deskriptif pada 48 pasien yang menjalani operasi menggunakan anestesi spinal di Rumah Sakit Bhyangkara Mataram.Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik quota sampling. Kelompok A (Bupivakain 0,5% 12,5 mg ditambah epinefrin 0,1 mg) dan kelompok B (Bupivakain 0,5% 12,5 mg ditambah NaCl 0,9% 0,1 cc). Hasil.Hasil penelitian diuji secara statistika menggunakan Independent T-test dan Mann Whitney test yang menunjukkan lama analgesia pada kelompok A (225 menit) lebih lama dibandingkan dengan kelompok B (121 menit). Kesimpulan.Bupivakain 0,5% 12,5 mg ditambah epinefrin 0,1 mg hiperbarik intratekal dapat memperpanjang lama analgesia pasca operasi dibandingkan bupivakain tanpa penambahan epinefrin.
Perbandingan Lama Analgesia Bupivakain Hiperbarik + Morfin Intratekal dengan Bupivakain Hiperbarik + NaCl Intratekal pada Pasien yang Menjalani Operasi dengan Anestesi Spinal Mardani, Imam; Kresnoadi, Erwin; Setyorini, Rika Hastuti
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 2.1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Nyeri pasca operasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kenyamanan pada pasien yang sudah menjalani operasi. Penggunaan anestesi spinal termasuk salah satu teknik anestesi yang dapat dipilih untuk mengurangi nyeri pasca operasi. Obat yang dapat digunakan sebagai agen anestesi adalah kombinasi bupivakain dan morfin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas penambahan morfin terhadap bupikain hiperbarik untuk memperpanjang durasi analgesia. Metode : Penelitian ini bersifat analitik deskriptik dengan menggunakan data sekunder. Penelitian dilakukan terhadap 48 pasien dengan status fisik ASA I-II yang terbagi dalam dua kelompok. Kelompok A (perlakuan) mendapat bupivakain 0,5% 12,5 mg hiperbarik ditambah morfin 0,1 mg intratekal dan kelompok B (kontrol) mendapat bupivakain 0,5% 12,5 mg hiperbarik ditambah NaCl 0,9% 0,1 cc intratekal. Penilaian lama analgesia dilakukan dari awal pemberian obat sampai terjadinya regresi 2 segmen. Analisis statistik pada penelitian ini menggunakan independent t-test dan uji Mann whitney Hasil : hasil penelitian ini didapatkan bahwa lama analgesia kelompok perlakuan lebih panjang dibandingkan dengan kelompok kontrol dengan perbedaan bermakna. Simpulan : simpulan dari penelitian ini adalah lama analgesia bupikain 0,5% 12,5 mg hiperbarik ditambah morfin 0,1 mg lebih lama dibandingkan bupivakain 0,5% 12,5 mg hiperbarik ditambah Nacl 0,9% 0,1 cc.
Perbandingan Lama Analgesia Bupivakain Hiperbarik + Klonidin Intratekal dengan Bupivakain Hiperbarik + NaCl Intratekal pada Pasien yang menjalani Operasi dengan Anestesi Spinal A.S., Husnul Asmaroni; Kresnoadi, Erwin; Setyorini, Rika Hastuti
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 2.1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Anestesi lokal menggunakan bupivakain hiperbarik banyak digunakan pada operasi. Kerugian dari penggunaan bupivakain hiperbarik dosis tinggi adalah toksisitas sistemik. Sehingga dosis bupivakain diturunkan, tetapi mempengaruhi kualitas dan durasi anestesi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas penambahan klonidin 75 mcg intratekal untuk memperpanjang lama analgesia bupivakain 0,5% 12,5 mg hiperbarik intratekal pada pasien yang menjalani operasi dengan anestesi spinal. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik deskriptif dengan desain quota sampling pada 48 pasien yang menjalani operasi elektif. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok, masing-masing 24 pasien. Kelompok A (perlakuan) mendapat bupivakain 0,5% 12,5 mg hiperbarik ditambah klonidin 75 mcg intratekal dan kelompok B (kontrol) mendapat bupivakain 0,5% 12,5 mg hiperbarik ditambah NaCl 0,5 cc intratekal. Data yang dicatat adalah TDS, TDD, TAR, Laju jantung, dlaju nafas, mula blok sensorik, lama analgesia, mula blok motorik, lama blok motorik, dan efek samping. Uji statistik menggunakan uji independent T-test untuk data numerik dan Mann Whitney untuk data nominal dengan derajat kemaknaan p < 0,05. Penyajian data dalam bentuk tabel. Hasil: Hasil penelitian ini didapatkan lama analgesia kelompok Bupivakain 0,5% 12,5 mg hiperbarik ditambah Klonidin 75 mcg intratekal lebih lama dibandingkan kelompok Bupivakain 0,5% 12,5 mg hiperbarik ditambah NaCl 0,9% 0,5 cc intratekal. Kesimpulan: Lama analgesia kelompok Bupivakain 0,5% 12,5 mg hiperbarik ditambah Klonidin 75 mcg intratekal lebih lama secara bermakna dibandingkan kelompok Bupivakain 0,5% 12,5 mg hiperbarik ditambah NaCl 0,9% 0,5 cc intratekal.
Efektifitas Tramadol 100mg Supp dibandingkan dengan Ketoprofen 100mg Supp untuk Mengurangi Nyeri Selama 24 Jam Pasca Operasi Seksio Sesaria dengan Menggunakan Vas Skor di Rumah Sakit Bhayangkara Hadi, Ewaldo Amirullah; Kresnoadi, Erwin; Danianto, Ario
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 3.1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Rasa nyeri yang ditimbulkan pasca operasi seksio sesaria adalah nyeri ringan hingga sedang. Tramadol dan Ketoprofen merupakan obat yang dapat digunakan untuk mengurangi nyeri pasca operasi seksio sesaria. Tramadol berkerja dengan menghambat reseptor opioid dan ketoprofen berkerja dengan penghambatan jalur siklooksigenase dari metabolisme asam arakidonat. Tujuan: Penelitian ini membandingkan efektifitas tramadol 100 mg supp dan ketoprofen 100mg supp dalam mengurangi nyeri pasca operasi seksio sesaria. Metode: Metode Penelitian ini observasi klinik karena sampel penelitian diobservasi sampai waktu tertentu untuk melihat efek yang timbul pada sampel penelitian. Total 48 pasien, yang terbagi dalam 2 kelompok. Kelompok Tramadol 24 pasien dan Kelompok Ketoprofen 24 pasien. Data Disajikan dalam bentuk nilai rerata ± simpang baku, kemudian diuji dengan menggunakan uji Mann Whitney dan Independent t-Test dengan (α = 0,05). Hasil: Penurunan derajat nyeri pada pasien pasca seksio sesaria yang diberi tramadol 100mg supp lebih efektif dibanding dengan ketoprofen 100mg supp, p=0,000 (p,0,05). Kesimpulan: terdapat perbedaan bermakna antara kelompok tramadol dan kelompok ketoprofen dalam menurunkan derajat nyeri, p=0,000 (p,0,05).
EFEKTIFITAS PEMBERIAN TRAMADOL 37,5mg + PARACETAMOL 325mg per oral DIBANDINGKAN KETOPROFEN 100mg supp UNTUK MENGURANGI NYERI SELAMA 24 JAM PADA PASIEN PASCA OPERASI BEDAH DI RS. BHAYANGKARA MENGGUNAKAN VAS Skor Hardiansyah, Nanang Bagus; Kresnoadi, Erwin; Nandana, Pandu Ishaq
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 3.1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Nyeri pasca bedah disebabkan oleh adanya rangsangan mekanik luka yang menyebabkan tubuh mengeluarkan mediator – mediator kimia nyeri dan bervariasi mulai dari nyeri ringan sampai nyeri berat namun menurun sejalan dengan proses penyembuhan. Tramadol+paracetamol dan Ketoprofen merupakan obat yang dapat digunakan untuk mengurangi nyeri pasca operasi bedah. Kombinasi Tramadol + paracetamol menghambat sintesis prostaglandin dalam sistem saraf pusat dan nyeri blok impuls pada sistem saraf perifer dan ketoprofen berkerja dengan penghambatan jalur siklooksigenase dari metabolisme asam arakidonat. Tujuan: Penelitian ini membandingkan efektifitas tramadol 37,5mg + paracetamol 325 mg peroral dan ketoprofen 100mg supp dalam mengurangi nyeri pasca operasi bedah umum. Metode: Metode Penelitian ini observasi klinik karena sampel penelitian diobservasi sampai waktu tertentu untuk melihat efek yang timbul pada sampel penelitian. Total 48 pasien, yang terbagi dalam 2 kelompok. Kelompok Tramadol 24 pasien dan Kelompok Ketoprofen 24 pasien. Data Disajikan dalam bentuk nilai rerata ± simpang baku, kemudian diuji dengan menggunakan uji Mann Whitney dan Independent t-Test dengan (α = 0,05). Hasil: Penurunan derajat nyeri pada pasien pasca operasi bedah umum yang diberi tramadol 37,5mg + paracetamol 325 mg peroral lebih efektif dibanding dengan ketoprofen 100mg supp, p=0,000 (p,0,05). Kesimpulan: terdapat perbedaan bermakna antara kelompok tramadol + paracetamol dan kelompok ketoprofen dalam menurunkan derajat nyeri, p=0,000 (p,0,05).
Kelebihan Cairan (Fluid Overload) dan Hubungannya dengan Kejadian Acute Kidney Injury (Aki) Kresnoadi, Erwin
Jurnal Kedokteran Vol 7 No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mempertahankan keseimbangan cairan merupakan tujuan utama untuk pasien ICU. Pasien dengan kelebihan cairan akan mengalami peningkatan kebutuhan ventilasi serta pemanjangan waktu perawatan di ICU dan akan terjadi penurunan indeks oksigenasi. Hubungan akumulasi cairan berlebihan dan Acute Kidney Injury (AKI) sangat kompleks. Kelebihan cairan meningkatkan tekanan intra abdomen yang selanjutnya menyebabkan kongesti vena ginjal serta penurunan laju filtrasi glomerulus. Akibatnya, kelebihan cairan menjadi salah satu penanda tingkat keparahan AKI.