Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Distribusi Kasus Celah Bibir dan Langit-Langit Berdasarkan Usia Pembedahan di Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2020-2022 Shadrina, Nida Midati; Samad, Syahril; Listiyawati, Listiyawati; Pramasari, Cristiani Nadya; Danial, Danial
Mulawarman Dental Journal Vol 4, No 1 (2024): MOLAR Maret 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/MOLAR.v4i1.10471

Abstract

Latar Belakang: Celah bibir serta langit-langit ialah malformasi kongenital kepala dan leher yang paling umum terjadi. Etiologi celah bibir dan/atau langit-langit telah dipelajari secara ekstensif bahwa anomali ini bersifat multifaktorial. Faktor risiko terjadinya celah yaitu seperti, jenis kelamin, faktor genetik yang dapat berinteraksi dengan faktor lingkungan selama kehamilan, dan riwayat keluarga. Presentasi klinis celah mulut bervariasi dan dapat diklasifikasikan sebagai celah langit-langit terisolasi atau celah bibir dengan ataupun tanpa celah langit-langit. Bayi dengan celah dapat melakukan operasi celah bibir apabila telah memenuhi kriteria “The Rules of Ten”, yaitu usia lebih dari 10 minggu atau 3 bulan, berat badan sekitar 4-5 kg atau lebih dari 10 pounds, dan hemoglobin lebih dari 10 g/dl. Perbaikan langit-langit dilakukan pada usia anak 10 sampai 12 bulan.  Tujuan: Menggambarkan distribusi kasus celah bibir dan/atau celah langit-langit menurut usia pembedahan di Provinsi Kalimantan Timur tahun 2020-2022. Metode: Jenis penelitian ini ialah penelitian deskriptif dengan teknik total sampling. Sampel penelitian ini diambil dari populasi berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditentukan. Hasil: Distribusi kasus celah bibir dan/atau celah langit-langit pada tahun 2020-2022 memperlihatkan kelompok usia pembedahan lebih kerap dilakukan oleh kelompok usia balita (0-5 tahun) yakni 44 orang (57,15%). Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian ini, distribusi kasus celah berdasarkan usia saat dilakukan pembedahan banyak terjadi pada usia balita yaitu pada usia 0-5 tahun.
Klasifikasi gigi impaksi molar ketiga mandibula pada masa pandemi COVID-19 pasien di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie: Studi Cross-sectional Putri, Icha Try; Pramasari, Cristiani Nadya; Samad, Syahril
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 3 (2024): October 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i3.57806

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Gigi bungsu tumbuh miring atau disebut juga dengan gigi impaksi merupakan gigi yang belum erupsi seluruhnya atau erupsi sebagian, dikarenakan terhalang oleh gigi sekitar, tulang dan jaringan lunak sekitarnya sehingga erupsi tidak dapat digambarkan menurut posisi anatomisnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran klasifikasi gigi impaksi molar ketiga mandibula pasien pada masa pandemi COVID-19. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif menggunakan subjek rekam medis dan foto rontgen panoramik di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda januari-juni 2021. Pengambilan data berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditentukan. Data dikelompokkan berdasarkan usia, jenis kelamin dan klasifikasi Winter dan Pell and Gregory dijabarkan dalam bentuk tabel dan narasi. Hasil: Saat masa pandemi COVID-19 pasien terbanyak dengan kategori jenis kelamin adalah perempuan, dengan kategori usia adalah usia 25-34 tahun, dan berdasarkan distribusi elemen gigi impaksi molar ketiga adalah klas IIA Vertikal. Simpulan: Klinisi dapat mempersiapkan perlengkapan alat dan bahan serta alat perlindungan diri untuk persiapan melakukan odontektomi pada masa pandemi COVID-19. KATA KUNCI: Gigi Impaksi, molar ketiga, mandibula, COVID-19, RadiograpImpacted mandibular third molar classification during COVID-19 pandemic in rsud abdoel wahab sjahranie Samarinda: Cross-sectional StudyABSTRACTIntroduction: Wisdom teeth growing obliquely or also known as impaction teeth are teeth that have not erupted completely or partially erupted, due to obstruction by surrounding teeth, bone and soft tissue so that eruption cannot be described according to their anatomical position. The purpose of this study was to determine the classification of mandibular third molar impaction teeth during the COVID-19 pandemic. Methods: This study is a quantitative study with a descriptive method using the subject of medical records and panoramic x-rays at Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda Hospital January-June 2021. Data collection is based on predetermined inclusion criteria. Data were categorized based on age, gender and Winter and Pell and Gregory classifications described in the form of tables and narratives. Results: During the COVID-19 pandemic, the most patients with the gender category were female, with the age category being 25-34 years old, and based on the distribution of third molar impaction tooth elements were class IIA Vertical. Conclusion: Clinicians can prepare equipment and materials as well as personal protective equipment in preparation for performing odontectomy during the COVID-19 pandemic.KEY WORDS: Impacted teeth, third molar, mandibular, covid-19, radiograph 
Tingkat Kejadian Trauma Maksilofasial Akibat Kecelakaan kendaraan Bermotor di Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat Samad, Syahril; Sjamsudin, Endang; Tasman, Abel; Faried, Ahmad
Mulawarman Dental Journal Vol 1, No 1 (2021): MOLAR Maret 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/MOLAR.v1i1.5540

Abstract

Pengantar : Berdasarkan penelitian sebelumnya, penyebab terbanyak cedera kepala dan fraktur maksilofasial adalah akibat kecelakaan kendaraan bermotor. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kejadian fraktur maksilofasial di IGD Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Indonesia. Metode: Penelitian deskriptif data cross sectional ini dilakukan pada pasien di IGD RS Hasan Sadikin Bandung periode antara September 2017 - Februari 2018 dengan kriteria inklusi adalah adanya fraktur maksilofasial akibat kecelakaan kendaraan bermotor. Survei primer dan sekunder dilakukan berdasarkan kronologi trauma dan mengidentifikasi lokasi fraktur maksilofasial dan luka di wajah. Data formulir diisi oleh peneliti sesuai petunjuk. Data dianalisis dengan metode cross sectional untuk observasi. Sistem penilaian tingkat keparahan trauma maksilofasial dilakukan dengan menggunakan Facial Injury Severity Scale (FISS) dan Maxillofacial Injury Severity Score (MFISS). Hasil: Data tentang insidensi fraktur maksilofasial dengan cedera kepala akibat kecelakaan kendaraan bermotor pada 100 pasien didapatkan 16 kasus fraktur sepertiga atas maksilofasial, 73 kasus fraktur sepertiga tengah dan 53 kasus fraktur sepertiga bawah.Kesimpulan: Fraktur sepertiga tengah maksilofasial akibat kecelakaan kendaraan bermotor merupakan insidensi trauma yang paling banyak. Hasil penelitian menunjukkan penyebab terbanyak trauma maksilofasial dan cedera kepala pada pasien di Hasan Sadikin Bandung Propinsi Jawa Barat adalah kecelakaan kendaraan sepeda motor.
Mandibular third molar autotransplantation in a 15-year-old patient: five-year radiographic and clinical follow-up case report Marampa, Wilman Rante; Herdiani, Mirsa; Samad, Syahril; Agustin, Sylvia
Padjadjaran Journal of Dentistry Vol 37, No 2 (2025): July 2025
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjd.vol37no2.61910

Abstract

ABSTRACT Introduction: Tooth autotransplantation is a viable treatment option for replacing extracted permanent teeth that have been damaged due to caries, trauma, and malformations. This method offers a quick and economical solution when a donor tooth is available to replace a non-restorable tooth. The purpose of this case report is to present a unique case of mandibular third molar autotransplantation performed in a 15-year-old patient, with five-year radiographic and clinical follow-up. Case report: A 15-year-old female patient presented with her parents to the emergency room at Abdul Wahab Sjahranie Regional Hospital, complaining of an unbearable toothache following a previous dental filling. Intraoral examination revealed tooth 46 with a glass ionomer cement (GIC) restoration, a positive percussion test, and no history of swelling. An orthopantomogram (OPG) examination showed a radiolucent area at the apex of tooth 46. Impacted tooth 48 was observed with periodontal tissue in good condition and an incompletely formed root. Autotransplantation was performed using tooth 48 after the extraction of tooth 46. At the five-year follow-up appointment after treatment, tooth 48 remained stable and fully functional, with no complications, including mobility or infection. Conclusion: Tooth autotransplantation is an effective option for replacing missing teeth in young patients. Long-term success can be achieved with appropriate patient selection, atraumatic surgical technique, and careful postoperative care.KEYWORDSMandible, immature teeth, third molars, autotransplantation, extraction
Distribusi Kasus Celah Bibir dan Langit-Langit Berdasarkan Jenis Kelamin dan Lokasi Celah di Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2020-2022: Distribution of Cleft Lip and Palate Based on Gender and Cleft Location in East Kalimantan Province in 2020-2022 Shadrina, Nida Midati; Samad, Syahril; Listiyawati, Listiyawati; Pramasari, Cristiani Nadya; Danial, Danial
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 6 No. 1 (2024): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v6i1.1777

Abstract

Cleft lip and cleft palate are the most common congenital malformations of the head and neck and may be associated with other congenital anomalies. The etiology of cleft lip and/or palate has been studied extensively that this anomaly is multifactorial. Risk factors for clefts include gender, genetic factors, and family history. The clinical presentation of cleft palate varies and can be classified as isolated cleft palate or cleft lip with or without a cleft palate. The disorder may involve the lips, hard palate and/or soft palate, either completely or incompletely, and unilaterally or bilaterally. The purpose of this study is to describe the distribution of cases of cleft lip and/or cleft palate based on gender and cleft location in East Kalimantan Province in 2020-2022. This type of research is a descriptive study with total sampling technique. Data were obtained from patient registration forms based on predetermined inclusion criteria. The results showed that of the 77 samples, cases of clefts were more common in males, namely 52 people (67.53%) and females, namely 25 people (32.47%). The most frequent cleft location on the left unilateral were 36 people (46.75%) compared to the right unilateral of 19 people (24.68%), or bilateral as many as 22 people (28.57%). Based on the results of this study, the distribution of cases of cleft lip and/or cleft palate mostly occurs in males, with the location of the cleft more common in the left unilateral. Keywords:          Cleft Lip and Palate, Gender, Cleft Location   Abstrak Celah bibir serta langit-langit ialah malformasi kongenital kepala dan leher yang paling umum dan mungkin berhubungan dengan anomali kongenital lainnya. Etiologi celah bibir dan/atau langit-langit telah dipelajari secara ekstensif bahwa anomali ini bersifat multifaktorial. Faktor risiko terjadinya celah yaitu seperti, jenis kelamin, faktor genetik, dan riwayat keluarga. Presentasi klinis celah mulut bervariasi dan dapat diklasifikasikan sebagai celah langit-langit terisolasi atau celah bibir dengan ataupun tanpa celah langit-langit. Kelainan tersebut dapat melibatkan bibir, langit-langit keras dan/atau langit-langit lunak, baik secara lengkap atau tidak lengkap, serta unilateral atau bilateral. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan distribusi kasus celah bibir dan/atau celah langit-langit menurut jenis kelamin serta lokasi celah di Provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2020-2022. Jenis penelitian ini ialah penelitian deskriptif dengan teknik total sampling. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa dari 77 sampel, kasus celah lebih kerap dialami laki-laki yakni 52 orang (67,53%) dan perempuan yakni 25 orang (32,47%). Lokasi celah paling sering terjadi pada unilateral kiri berjumlah 36 orang (46,75%) dibandingkan dengan unilateral kanan sebanyak 19 orang (24,68%), ataupun bilateral sebanyak 22 orang (28,57%). Berdasarkan hasil penelitian ini, distribusi kasus celah bibir dan/atau celah langit-langit sebagian besar terjadi pada laki-laki, dengan lokasi celah lebih sering terjadi pada unilateral kiri. Kata Kunci:         Celah Bibir dan Langit-Langit, Jenis Kelamin, Lokasi Celah