Fathurachman Fathurachman
Bagian Orthopaedi Dan Traumatologi, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung, Jawa Barat, Indonesia

Published : 21 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Fraktur midfasial dengan intoksikasi alkohol: emergensi dan elektif Nur Huda Alimin; Asri Arumsari; Fathurachman Fathurachman
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 2, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.622 KB) | DOI: 10.22146/mkgk.32010

Abstract

Regio maksilofasial selain memegang peranan estetik juga termasuk organ yang melaksanakan fungsi penting tubuh seperti respirasi, bicara, mastikasi, penglihatan, membaui, sehingga kasus trauma wajah harus diberikan perhatian khusus. Prinsip advanced trauma life support (ATLS) harus diaplikasikan untuk pemeriksaan awal pada semua pasien dengan trauma maksilofasial. Tujuan dudi kasus ini adalah untuk menggambarkan prinsip-prinsip penatalaksanaan emergensi, elektif, serta evaluasi hasil terapi pada pasien trauma midfasial yang disertai intoksikasi alkohol. Pasien laki-laki usia 38 tahun mengalami kecelakaan sepeda motor dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dengan intoksikasi alkohol disertai fraktur midfasial dan laserasi multipel di intraoral. Penanganan emergensi dilakukan dengan mengontrol airway serta menghentikan perdarahan. Terapi pembedahan ORIF dengan insersi miniplate dan screw melalui pendekatan intraoral dilakukan dua minggu setelah kecelakaan. Penanganan awal setiap pasien trauma harus mengikuti prinsip ATLS dankarena regio midfasial memengang peranan penting sehingga koreksinya harus dilakukan dengan tepat dan akurat.ABSTRACT: Midfacial fracture with alcohol intoxication. Maxillofacial region includes organs executing essential functions of the body like respiration, speech, mastication, vision, smelling so special attention must be paid in case of facial trauma. Advanced trauma life support (ATLS) principles must be applied for initial assessment of all maxillofacial trauma patients. Objectives to describe the principles of emergency management, elective, and evaluation of therapy results in patients with midfacial trauma that accompanied alcohol intoxication. A 38 years old male patient suffered a motorcycle accident was taken to the Emergency Room (ER) Dr. Hasan Sadikin Hospital with alcohol intoxication accompanied by midfacial fracture and multiple laceration intraorally. Emergency management is done by controlling the airway and stop the bleeding. The elective surgical treatment with ORIF (miniplate and screw insertion) through intraoral approach was done two weeks after the accident. Initial treatmentof all trauma patient should follow the principles of ATLS and because of midfacial region plays an important role so that corrections must be done properly and accurately. 
Penatalaksanaan kasus kegawatdaruratan fraktur dentoalveolar pada pasien usia lanjut dengan penyakit sistemikManagement of emergency case of dentoalveolar fractures in elderly patients with systemic disease Ariyanto Suryo Karyono; Winarno Priyanto; Abel Tasman Yuza; Fathurachman Fathurachman
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 30, No 3 (2018): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.889 KB) | DOI: 10.24198/jkg.v30i3.20017

Abstract

Pendahuluan: Fraktur dentoalveolar adalah kerusakan atau putusnya kontinuitas jaringan keras pada stuktur gigi dan alveolarnya disebabkan trauma. Cedera yang terjadi dapat hanya mengenai gigi dan struktur pendukungnya saja seperti pada usia lanjut yang terjatuh, ataupun dapat juga berhubungan dengan cedera multisistem. Penanganan kegawatdaruratan fraktur dentoalveolar pada usia lanjut dengan penyakit sistemik membutuhkan tindakan yang cepat dan tepat serta membutuhkan tindakan kooperatif pasien. Tujuan laporan kasus ini adalah memaparkan dan mendiskusikan penatalaksanaan kegawatdaruratan yang cepat dan tepat serta penutupan luka pada pasien usia lanjut dengan fraktur dentoalveolar disertai penyakit sistemik. Laporan Kasus: Seorang perempuan usia 72 tahun datang dengan keluhan perdarahan pada mulut. Riwayat trauma pasien sedang berjalan di dalam rumahnya, tiba-tiba ptergelincir dan terjatuh dengan mekanisme mulut membentur lantai terlebih dahulu. Riwayat penyakit sistemik penyakit jantung, hipertensi dan diabetes mellitus sejak 10 tahun yang lalu. Pasien mengonsumsi obat aspilet, metformin, allopurinol, spironolactone, rosuvastatin calcium. Pemeriksaan klinis terdapat fraktur dentoalveolar. Pasien terlebih dahulu di konsul ke Dokter Spesialis Ilmu Penyakit Dalam karena pasien menderita penyakit sistemik dan mengonsumsi obat antikoagulan. Pengobatan selanjutnya melakukan ekstraksi gigi, irigasi luka dan penjahitan luka dengan menggunakan anastesi lokal Lidokain murni. Medikasi dengan pemberian Amoxicillin tablet 500 mg, Ranitidin tablet 150 mg, Ibuprofen tablet 400 mg dan penyuntikan Serum Anti-Tetanus. Simpulan: Penatalaksanaan kasus kegawatdaruratan fraktur dentoalveolar pada pasien usia lanjut dengan penyakit sistemik dengan segera dan cepat disertai dengan konsul ke Dokter Spesialis Ilmu Penyakit Dalam untuk meminimalisir risiko kegawatdaruratan. Pengobatan fraktur dentoalveolar berupa ekstraksi gigi, irigasi luka dan  penjahitan luka menggunakan anastesi lokal serta medikasi antibiotik, anti nyeri dan penyuntikan serum anti tetanus disertai pendekatan psikologis dapat menyembuhkan kondisi pasien dalam 7 hari.Kata kunci: Fraktur dentoalveolar, usia lanjut, penyakit sistemik. ABSTRACT            Introduction: Dentoalveolar fractures are damage or rupture of the hard tissue continuity in the dental structure and alveoli caused by trauma. Injuries can be occurred only in the teeth and their supporting structures as in older adults with trauma from falls, or associated with multisystem injuries. Management of emergency cases of dentoalveolar fractures in elderly patients with systemic diseases requires prompt and precise action and requires the patient’s cooperative effort. The purpose of this case report was to describe and discuss the prompt and precise management of emergency case and wound closure of dentoalveolar fractures in elderly patients with systemic disease. Case report: A 72-years-old woman presented with the chief complaint of mouth-bleeding. The patient's trauma history was walking inside her house, suddenly slipping and falling with the mechanism of her mouth hitting the floor first — history of systemic diseases were heart disease, hypertension, and diabetes mellitus since 10 years before. The patient was under the treatment of Aspilets™, metformin, allopurinol, spironolactone, and rosuvastatin calcium. Clinical examination result was a dentoalveolar fracture. The patient was being consulted first by an internist due to her systemic disease and was administered with anticoagulant medication. Treatments performed afterwards were tooth extraction, wound irrigation, and wound suturing using a pure lidocaine local anaesthesia. Medications administered were 500 mg of amoxicillin tablets, 150 mg of ranitidine tablets, 400 mg of ibuprofen tablets, and an anti-tetanus serum injection. Conclusion: The prompt and precise management of emergency cases of dentoalveolar fractures in elderly patients with systemic diseases was performed with a consulting to an internist to minimise the emerging risks. Treatment of dentoalveolar fractures was consisted of tooth extraction, wound irrigation, and suturing using a local anaesthetics and administration of antibiotics, analgesics, and anti-tetanus serum injection, along with psychological approaches was proven to be able to heal the patient's condition in 7 days.Keywords: Dentoalveolar fractures, elderly patients, systemic disease.
Penatalaksanaan fraktur kondilus bilateral dan korpus mandibula dengan reduksi tertutup pada pasien remajaManagement of bilateral condyle fracture and mandibular corpus with the closed reduction in adolescent patients Deny Rakhman; Farah Asnely Putri; Fathurachman Fathurachman; Endang Sjamsudin
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 33, No 3 (2022): Maret 2022 (Suplemen 3)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v33i3.31027

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Fraktur kondilus dan Korpus mandibula merupakan fraktur pada mandibula yang cukup sering terjadi pasca trauma. Komplikasi yang sering terjadi akibat fraktur kondilus dan korpus mandibula pada anak adalah ankilosis dan gangguan sendi sendi temporomandibula. Perawatan fraktur mandibula dapat dengan reduksi terbuka atau reduksi tertutup. Penanganan fraktur secara sederhana dan teknik yang tepat dapat mencegah komplikasi lebih lanjut. Tujuan laporan kasus ini memaparkan dan membahas penatalaksanaan kegawatdaruratan pada pasien remaja yang menderita fraktur kondilus dan korpus mandibula dengan reduksi tertutup. Laporan kasus: Pasien perempuan usia 16 tahun datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Unpad dengan keluhan perdarahan dari mulut dan sulit membuka mulut akibat kecelakaan lalu-lintas. Pemeriksaan klinis dan radiografis menunjukan adanya fraktur kondilus bilateral dan fraktur korpus mandibula. Pasien dilakukan pembersihan dan penjahitan luka, perawatan fraktur kondilus dengan reduksi tertutup dan fiksasi maksilomandibular dengan arch bar. Kontrol pada minggu ke 12 menunjukkan hasil perbaikan. Simpulan: Penatalaksanaan fraktur kondilus dan Korpus mandibula dengan reduksi tertutup yang tepat menunjukkan hasil yang memuaskan secara anantomi dan fungsi pada saat penatalaksaan kedaruratan trauma.Kata kunci: fraktur kondilus bilateral; fraktur korpus mandibula; reduksi tertutup; fiksasi maksilomandibular ABSTRACTIntroduction: Condyle and mandibular corpus fractures are quite common post-trauma mandibular fractures. Complications that often occur due to condyle and mandibular corpus fractures in children are ankylosis and temporomandibular joint disorders. Mandibular fractures can be treated with open reduction or closed reduction. Simple fracture management and proper technique can prevent further complications. This case report aimed to present and analyse the emergency management of condyle and mandibular corpus fractures in an adolescent patient with closed reduction. Case report: A 16-year-old female patient came to Universitas Padjadjaran Dental Hospital with complaints of oral bleeding and mouth-opening difficulty due to a traffic accident. Clinical and radiographic examination revealed bilateral condylar and mandibular corpus fractures. The patient was cleaned and sutured, treated for condylar fractures with closed reduction and maxillomandibular fixation with arch bars. The improvement showed at the control visit after 12 weeks. Conclusion: Management of condylar and mandibular corpus fractures with properly closed reduction showed satisfactory anatomical and functional results.Keywords: bilateral condyle fracture; mandibular corpus fracture; closed reduction; maxillomandibular fixation 
Faktor Keseimbangan Statis Tubuh, Kecepatan Dan Kelincahan Gerak Pada Anak Sekolah Dasar Usia 6 Sampai 9 Tahun Dengan Flatfoot Husna Bulkis Dasopang; Wulan Mayasari; Fathurachman Fathurachman
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 4, No 2 (2018): Volume 4 Nomor 2 Desember 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.194 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v4i2.20671

Abstract

Pengaruh  flatfoot anak terhadap penurunan kebugaran fisik dan kemampuan motorik dilaporkan  masih kontroversi sampai saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh flatfoot pada faktor keseimbangan tubuh (One Leg Test), kecepatan gerak (45 Meter Dash Test) dan kelincahan gerak (T Test). Metode penelitian analitik dengan desain cross-sectional yang melibatkan murid SD di Kecamatan Sukajadi kelas 1 sampai 3 dengan rentang usia 6 sampai 9 tahun. Dari setiap kelompok (normal dan flatfoot) diseleksi secara acak masing-masing sebanyak 50 anak, kemudian dilihat apakah ada perbedaan yang signifikan dari setiap faktor kebugaran fisik tersebut. Jika signifikan maka akan dihasilkan nilai uji hipotesis  P<0.05. Tidak ada perbedaan yang signifikan dari rekaman ketiga faktor kebugaran fisik (tes keseimbangan statis tubuh, kecepatan dan kelincahan gerak) dari kedua kelompok (normal dan flatfoot) dengan hasil uji independent t-test dan U Mann Whitney test menunjukkan nilai  P>0.05. Flatfoot anak dengan kelompok usia 6 sampai 9 tahun tidak berpengaruh terhadap beberapa faktor kebugaran fisik: keseimbangan statis tubuh, kecepatan dan kelincahan gerak yang diperlukan untuk aktifitas olahraga.Kata Kunci: anak, flatfoot, kebugaran fisik
Alveolar cleft closure with iliac bone graft: a case report. Tichvy Tammama; Endang Syamsudin; Fathurachman Fathurachman
Journal of Dentomaxillofacial Science Vol. 2 No. 1 (2017): (Available online: 1 April 2017)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15562/jdmfs.v2i1.457

Abstract

Objective: The present article is to report a case of a patient with alveolar cleft that was treated with the application of iliac bone graftMethods: A nine year-old girl with maxillary alveolar cleft had labioplasty and palatoplasty. The cleft was closed using iliac bone graft and the result was the canine erupts on the graft site get a better alveolar arch, and no more oronasal fistule. Alveolar cleft can be treated by the use of iliac bone graft.Results: Based on the clinical and radiographic development of the patient, the treatment for overall seemed success with the obtain of maxillary arch continuity, provide bone that is available for permanent canine to erupt, optimal alar base reconstruction, the fistulae was eliminated, provide a better nasal alar cartilage support, get a stabil the maxillary segment for orthodontic treatment, and obtain an ideal alveolar morphology.Conclusion: The timing of alveolar bone grafting usually associated with the state of the developing of dentition. Post operative management is important to get a good result, and to prevent any complications.
Management of sinistra condyle fracture in emergency: case report Cahyadi Siauw; Asri Arumsari; Endang Syamsudin; Fathurachman Fathurachman
Journal of Dentomaxillofacial Science Vol. 3 No. 3 (2018): (Available online: 1 December 2018)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2685.44 KB) | DOI: 10.15562/jdmfs.v3i3.735

Abstract

Objective: Condyle fracture is a fracture that involves temporomandibular joint, resulting temporomandibular joint disorder. It often caused complications namely ankylosis and temporomandibular joint disorder. Trauma induced mandible fracture can leads to unilateral or bilateral condyle fracture.Method: Nine teen years old male came with mouth bleeding and pain on left lower jaw joint. Clinical examination showed laceration on right chin and left condyle fracture.Result: Management of patient to stitch laceration wound on chin region. Condyle fracture was treated conservatively using closed reduction method by arch bar and MMF rubber.Conclusion: Condyle fracture management needs a particular concern using closed method or conservative and open method or surgery. This present case chose closed method referring minimal displacement of condyle fracture.
Perbandingan efek pemberian ekstrak kunyit dengan ibuprofen terhadap pencegahan pembentukan adhesi pasca penyambungan tendon Diki Julkarnain; Dicky Mulyadi; Fathurachman Fathurachman
Majalah Kedokteran Andalas Vol 43, No 1 (2020): Published in January 2020
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.616 KB) | DOI: 10.25077/mka.v43.i1.p15-22.2020

Abstract

Proses penyembuhan cedera pada tendon masih sering kali terganggu dengan kejadian adhesi. Adhesi dari tendon harus dikurangi agar proses penyembuhan tendon dapat kembali ke fungsi maksimal. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengurangi adhesi adalah melalui penekanan proses inflamasi. Tujuan: Untuk melihat perbandingan pemberian ekstrak kunyit dengan ibuprofen terhadap pembentukan adhesi pasca penyambungan tendon achilles kelinci. Metode: Merupakan penelitian laboratorium eksperimental dengan rancang acak sederhana dengan menggunakan 27 ekor kelinci putih jantan (ras New Zealand) yang dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan. Tendon achilles dipotong secara tajam kemudian dijahit kembali, kemudian di-imobilisasi dengan circular cast. Kemudian masing-masing kelompok perlakuan diberikan pemberian ekstrak kunyit, ibuprofen, dan placebo pasca tindakan selama 5 hari. Hasil: Didapatkan adanya perbedaan bermakna antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol (p=0.000), ditemukan kelompok perlakuan mengurangi adhesi lebih baik dibandingkan kelompok kontrol dan ekstrak kunyit lebih baik dibandingkan dengan ibuprofen. Simpulan: Dari penelitian ini, ekstrak kunyit lebih baik dibandingkan ibuprofen dalam pencegahan pembentukan adhesi pasca penyambungan tendon achilles kelinci.
PENGELOLAAN MALOKLUSI OPEN BITE ANTERIOR AKIBAT FRAKTUR NEGLECTED MAKSILA LE FORT I DENGAN TEKNIK OSTEOTOMI LE FORT I DAN FIKSASI TRANSOSSEOUS (Laporan Kasus) Harfindo Nismal; Abel Tasman Yuza; Fathurachman Fathurachman
Cakradonya Dental Journal Vol 12, No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : FKG Unsyiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.434 KB) | DOI: 10.24815/cdj.v12i2.18446

Abstract

Maloklusi open bite adalah suatu gigitan terbuka merupakan komplikasi paling signifikan suatu fraktur maksila yang tidak memperoleh perawatan dengan segera dirawat, atau terlantar terlalu lama, dalam waktu beberapa hari hingga beberapa minggu dan disebut dengan neglected fracture. Salah satu cara untuk memperbaiki keadaan ini adalah melakukan osteotomi pada maksila. Tujuan laporan kasus ini untuk memberikan tambahan pengetahuan tentang kelainan yang muncul akibat ditundanya perawatan pada fraktur maksila Le Fort I beserta cara pengelolaannya. Dilaporkan seorang pasien laki-laki, 32 tahun datang ke Poliklinik Bedah Mulut dan Maksilofasial dengan keluhan tidak dapat mengatupkan kedua rahang dan mengunyah makanan dengan baik. Satu bulan sebelum datang ke RS. Dr. Hasan Sadikin pasien memiliki riwayat jatuh dari atap rumah dengan posisi menelungkup dan wajah terlebih dahulu membentur lantai rumah, selanjutnya pasien dibawa ke Unit Gawat Darurat salah satu rumah sakit swasta terdekat, dinyatakan tidak ada kelainan dan diperbolehkan pulang ke rumah setelah dilakukan pemeriksaaan dan perawatan luka di dalam mulut. Terapi Le Fort I osteotomy dilakukan, reposisi rahang atas untuk mencapai oklusi yang baik, dan maksila difiksasi dengan empat osteosynthesis miniplate.
Determinants Of Financial Distress In Retail Trade Sub-Sector Companies In Indonesia Fathurachman, Fathurachman
GOVERNORS Vol. 3 No. 2 (2024): August 2024 Issue
Publisher : Yayasan Cita Cendekiawan Al Khwarizmi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47709/governors.v3i2.4315

Abstract

This study aims to identify the influence of cash flow, sales growth, liquidity, and profitability on financial distress. This study uses a quantitative approach by utilizing secondary data in the form of company financial statements. The population in this study is companies that belong to the retail trading sub-sector listed on the Indonesia Stock Exchange. The purposive sampling method was used to select 12 companies as research samples. The analysis method used is multiple linear regression. The results showed that cash flow, sales growth, and liquidity had a significant negative influence on financial hardship, which meant that an increase in these three variables tended to lower the risk of financial hardship. Meanwhile, the profitability variable did not show a significant influence on financial difficulties, indicating that the level of profitability was not directly related to the financial condition of the company that was experiencing difficulties. These findings provide important insights for company management in managing financial risks.
PENGELOLAAN MALOKLUSI OPEN BITE ANTERIOR AKIBAT FRAKTUR NEGLECTED MAKSILA LE FORT I DENGAN TEKNIK OSTEOTOMI LE FORT I DAN FIKSASI TRANSOSSEOUS (Laporan Kasus) Harfindo Nismal; Abel Tasman Yuza; Fathurachman Fathurachman
Cakradonya Dental Journal Vol 12, No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/cdj.v12i2.18446

Abstract

Maloklusi open bite adalah suatu gigitan terbuka merupakan komplikasi paling signifikan suatu fraktur maksila yang tidak memperoleh perawatan dengan segera dirawat, atau terlantar terlalu lama, dalam waktu beberapa hari hingga beberapa minggu dan disebut dengan neglected fracture. Salah satu cara untuk memperbaiki keadaan ini adalah melakukan osteotomi pada maksila. Tujuan laporan kasus ini untuk memberikan tambahan pengetahuan tentang kelainan yang muncul akibat ditundanya perawatan pada fraktur maksila Le Fort I beserta cara pengelolaannya. Dilaporkan seorang pasien laki-laki, 32 tahun datang ke Poliklinik Bedah Mulut dan Maksilofasial dengan keluhan tidak dapat mengatupkan kedua rahang dan mengunyah makanan dengan baik. Satu bulan sebelum datang ke RS. Dr. Hasan Sadikin pasien memiliki riwayat jatuh dari atap rumah dengan posisi menelungkup dan wajah terlebih dahulu membentur lantai rumah, selanjutnya pasien dibawa ke Unit Gawat Darurat salah satu rumah sakit swasta terdekat, dinyatakan tidak ada kelainan dan diperbolehkan pulang ke rumah setelah dilakukan pemeriksaaan dan perawatan luka di dalam mulut. Terapi Le Fort I osteotomy dilakukan, reposisi rahang atas untuk mencapai oklusi yang baik, dan maksila difiksasi dengan empat osteosynthesis miniplate.