Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Moralitas dalam Eksposisi Kejadian 2:18-24: Implikasinya bagi LGBT di Masyarakat Masa Kini: Morality in the Exposition of Genesis 2:18–24: Its Implications for LGBT Issues in Contemporary Society Ester Agustini Tandana
Journal of Religious and Socio-Cultural Vol 5 No 1 (2024): Journal of Religious and Socio-Cultural Vol.5 No.1 (May 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Widya Agape dan Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/jrsc.v5i1.199

Abstract

Love is a central tenet of Christian ethics when it comes to moral absolutes. Indeed, what happens in our efforts to practice morals shows up in our reflections on the nature of morals as well. We are vulnerable to the temptation to reduce the biblical understanding of the rich moral meaning to its "outer shell alone, its echoes voiced most to express mercy in matters set forth by contemporary culture. We must dig deeper than the power of feelings. Passionate feelings of love cannot be equated with moral absolutes and cannot determine whether a person's sexuality is what it is. The ultimate authority to inform and control the desires of our hearts should rest with the Creator Himself. The modern phenomenon that occurs in the modern world cannot be considered as a so-called human right only, but this reality needs to be reviewed from what was raised in the exposition of Genesis 2. The LGBT phenomenon does not mean that people need to stay away and despise, but rather accept their humanity as humanity. This provides an opportunity for God to work in mankind's struggles. This study uses qualitative research that looks at the LGBT phenomenon in today's society. This phenomenon is then studied in previous research through literature, books, and journals to obtain research conclusions. Kasih merupakan prinsip utama yang berada di pusat etika Kristen ketika berbicara moral absolut. Sesungguhnya yang terjadi dalam usaha kita untuk mempraktikkan moral muncul dalam refleksi kita tentang sifat moral juga. Diri kita rentan terhadap godaan untuk mengurangi pemahaman alkitabiah tentang makna moral yang kaya hanya pada “cangkang luarnya saja, gemanya paling banyak disuarakan untuk menyatakan belas kasihan dalam hal-hal yang dituangkan oleh budaya kontemporer. Kita harus menggali lebih dalam daripada kekuatan perasaan. Perasaan kasih yang menggebu-gebu tidak dapat disamakan dengan moral absolut dan tidak dapat menentukan apakah seksualitas seseorang tersebut memang kenyataannya seperti itu. Otoritas tertinggi untuk menginformasikan dan mengendalikan keinginan hati kita seharusnya ada pada Sang Pencipta sendiri. Fenomena LGBT yang terjadi di dunia modern ini tidak dapat dianggap sebagai hal yang disebut sebagai hak asasi manusia saja melainkan kenyataan ini perlu ditinjau dari apa yang diangkat dalam eksposisi Kejadian 2. Fenomena LGBT bukan berarti orang perlu menjauhi dan menganggap hina, melainkan menerima kemanusiaan mereka sebagai umat manusia. Hal ini memberikan kesempatan bagi Tuhan untuk bekerja dalam pergumulan umat manusia. Penelitian ini memakai penelitian kualitatif yang melihat fenomena LGBT dalam masyarakat sekarang ini. Fenomena ini kemudian dikaji dalam penelitian yang ada sebelumnya lewat literatur, buku-buku, jurnal-jurnal sehingga mendapatkan kesimpulan penelitian.
REFLECTION GOOD NAME AND CORRUPTION BEHAVIOR IN INDONESIA FROM PROVERBS 22:1 Ester Agustini Tandana
QUAERENS: Journal of Theology and Christianity Studies Vol 5 No 1 (2023): QUAERENS: Journal of Theology and Christianity Studies
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Widya Agape dan Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/quaerens.v5i1.177

Abstract

This study investigates the relationship between maintaining a good name and the prevalence of corruption behavior in Indonesia. By conducting an exegetical analysis of Proverbs 22:1, which emphasizes the value of a good name, the research explores its relevance to the issue of corruption in the Indonesian context. The research explores the socio-cultural significance of a good name in Indonesian society and its impact on individual and collective behavior. It examines the perception of integrity and the role of reputation in shaping ethical conduct among public officials, business leaders, and citizens. The study also reviews existing literature, case studies, and empirical evidence related to corruption in Indonesia. Drawing insights from Proverbs 22:1, which states that "A good name is more desirable than great riches; to be esteemed is better than silver or gold," the research highlights the moral and spiritual dimensions of reputation and their potential influence on mitigating corruption. The findings provide valuable insights into the relationship between a good name, ethical behavior, and the prevalence of corruption in Indonesia. The study emphasizes the importance of fostering a culture of integrity, accountability, and transparency to effectively combat corruption. It also offers recommendations and strategies for individuals, institutions, and policymakers to promote and uphold a good name in the Indonesian context, to reduce corruption and its detrimental effects on society. This study contributes to the existing literature on corruption and ethics by examining the significance of a good name in addressing corruption behavior in Indonesia. It serves as a foundation for further research, policy development, and initiatives aimed at promoting integrity and combating corruption in the country.
Application of Christian Religious Education Teacher Leadership to Realize Sunday School Quality at the Batu Hidup Christian Church, Muara Karang, Jakarta Krisna Karolina Tafetin; Christian Ade Maranatha; Ester Agustini Tandana
SERVIRE: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Vol 2 No 1 (2022): SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (Oktober 2021)
Publisher : Indonesia Christian Religion Theologians Association and Widya Agape School of Theology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.475 KB) | DOI: 10.46362/servire.v2i1.130

Abstract

Christian Religious Education Teachers (CRE) are educators and shapers of behavior for children to have and emulate the character of Christ. Christian Religious Education (PAK) teachers have the right to provide effective teaching, for every child who is committed to accepting Jesus Christ as Lord and Savior. This is addressed to the Sunday School children of the Living Stone Christian Church (GKBH). The purpose of this study was to analyze and describe the implementation of Christian Religious Education teacher leadership to realize Sunday School quality at the Batu Hidup Muara Karang Christian Church. The method used is the method of library research and observation accompanied by structured interviews from the research site. Data and information obtained from research results, literature (library), and other sources in the form of books, articles and even journals were obtained. The results of this study at the Sunday School at the Batu Hidup Christian Church in Muara Karang, show that the leadership of the Sunday School teachers has been well managed. The teaching process uses props, the teacher is friendly and teaches patiently in dealing with the nature of children. Other additional activities include drawing, ice breaker, and coloring so that children don't get bored in learning. Guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) adalah pendidik dan pembentuk perilaku bagi anak-anak agar memiliki dan meneladani karakter Kristus. Guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) berhak untuk memberikan pengajaran yang efektif, bagi setiap anak-anak yang berkomitmen untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruslamat. Hal ini ditujukan kepada anak-anak Sekolah Minggu Gereja Kristen Batu Hidup (GKBH). Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mendeskripsikan implementasi kepemimpinan guru Pendidikan Agama Kristen untuk mewujudkan mutu Sekolah Minggu di Gereja Kristen Batu Hidup Muara Karang. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kepustakaan serta observasi yang disertai wawancara terstruktur dari tempat penelitian. Data dan informasi yang diperoleh dari hasil penelitian, literatur (kepustakaan), dan sumber-sumber lain berupa buku, artikel bahkan jurnal yang diperoleh. Hasil penelitian di Sekolah Minggu di Gereja Kristen Batu Hidup Muara Karang ini, menunjukkan bahwa kepemimpinan guru Sekolah Minggu telah di terapakan dengan baik. Proses pengajarannya menggunakan alat peraga, guru ramah dan mengajar dengan penuh kesabaran dalam menghadapi sifat anak-anak. Aktivitas tambahan lainnya berupa menggambar, Ice breaker, dan mewarnai sehingga anak-anak tidak jenuh dalam belajar.
Upaya Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas 8c Dalam Pendidikan Agama Kristen Melalui Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah Di Sekolah Menengah Pertama BOPKRI 3 Yogyakarta Intan Anggreni; Ester Agustini Tandana; Eko Basuki; Liantoro Liantoro; Lionarto Erson Jayadi
SERVIRE: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Vol 4 No 1 (2024): SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (April 2024)
Publisher : Indonesia Christian Religion Theologians Association and Widya Agape School of Theology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/servire.v4i1.202

Abstract

This study aims to improve the learning interest of class 8C students in the subject of Christian Religious Education at SMP BOPKRI 3 Yogyakarta through the implementation of Problem-Based Learning (PBL) strategies. The research method used is classroom action research (CAR) which consists of several cycles, each covering the stages of planning, implementation, observation, and reflection. The results of the study indicate that the implementation of PBL is effective in improving students' learning interest. Students are more actively involved in the learning process, show improvements in critical thinking skills, and are more enthusiastic in solving problems related to the subject matter. This improvement is reflected in better academic grades and student activity during the learning process. In addition, supporting factors such as teacher support in guiding discussions, the use of interesting learning media, and a conducive classroom atmosphere also contribute to increasing students' learning interest. This study is that the Problem-Based Learning strategy is effective in improving the learning interest of class 8C students in Christian Religious Education. Recommendations for further research are to adopt PBL in other subjects and expand the use of learning media to further increase student engagement and interest in learning. Keywords: Learning interest, Christian Religious Education, Problem-Based Learning (PBL), classroom action research, junior high school students. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan minat belajar siswa kelas 8C dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen di SMP BOPKRI 3 Yogyakarta melalui penerapan strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM). Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari beberapa siklus, masing-masing mencakup tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan PBM efektif dalam meningkatkan minat belajar siswa. Siswa lebih aktif terlibat dalam proses pembelajaran, menunjukkan peningkatan dalam kemampuan berpikir kritis, dan lebih antusias dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan materi pelajaran. Peningkatan ini tercermin dalam nilai akademik yang lebih baik dan keaktifan siswa selama proses pembelajaran. Selain itu, faktor-faktor pendukung seperti dukungan guru dalam membimbing diskusi, penggunaan media pembelajaran yang menarik, dan suasana kelas yang kondusif juga berkontribusi terhadap peningkatan minat belajar siswa. Penelitian ini adalah bahwa strategi Pembelajaran Berbasis Masalah efektif dalam meningkatkan minat belajar siswa kelas 8C dalam Pendidikan Agama Kristen. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya adalah mengadopsi PBM dalam mata pelajaran lain dan memperluas penggunaan media pembelajaran untuk lebih meningkatkan keterlibatan dan minat belajar siswa.
Membentuk Semangat Belajar Anak Melalui Metode Game Dan Nyanyi: Pendampingan Di Sekolah Minggu Jemat Kristen Indonesia Keluarga Kerajaan Salatiga Ofriana Sni; Gertina Greetha Sumolang; Ester Agustini Tandana; Dunant Soukotta; Steven Gunawan
SERVIRE: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Vol 5 No 1 (2025): SERVIRE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (April 2025)
Publisher : Indonesia Christian Religion Theologians Association and Widya Agape School of Theology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/servire.v5i1.204

Abstract

Sekolah minggu adalah suatu kegiatan pembelajaran Alkitab kepada anak-anak Kristen yang diadakan pada hari Minggu. Di sekolah minggu juga anak-anak tidak saja belajar tentang Firman Tuhan saja tetapi anak-anak juga diajar bernyanyi, berdoa dan bermain game yang berhubungan dengan pertumbuhan iman anak-anak. Dalam penyampaian cerita guru sekolah minggu juga harus menyiapkan game dan pujian yang berhubungan dengan cerita firman Tuhan yang akan disampaikan. Tujuan pengabdian ini adalah membentuk semangat belajar anak di Sekolah Minggu Jemaat Kristen Indonesia Keluarga Kerajaan Salatiga. Metode pengabdian yang digunakan adalah game dan nyanyi yang diterapkan oleh mentor gereja anak JKI Keluarga Kerajaan untuk menambah semangat dan wawasan anak-anak dalam mengikuti ibadah sekolah minggu. Dengan adanya game dan pujian maka anak-anak tidak akan merasa bosan melainkan meningkatkan semangat belajar anak-anak akan kebenaran firman Tuhan.