Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

EKSTRAK DAUN JAMBU METE (ANACARDIUM OCCIDENTALE L.) SEBAGAI BAHAN AKTIF PEMBUATAN SABUN CUCI TANGAN ANTISEPTIK Tri Wahyuningsih; Qurrata Ayun; Rika Endara Safitri
Jurnal Crystal : Publikasi Penelitian Kimia dan Terapannya Vol. 3 No. 2 (2021): Penelitian Kimia
Publisher : Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jc.v3i2.1809

Abstract

Sabun merupakan salah satu kebutuhan masyarakat yang sangat penting saat ini. Salah satunya adalah sabun yang dapat membunuh bakteri yang lebih dikenal dengan nama sabun antiseptik. Pembuatan sabun cuci tangan dengan bahan aktif ekstrak daun mete yang mengandung senyawa metanol yang di destilasi menggunakan pelarut etanol dilakukan pada penelitian ini, tujuannya adalah untuk 1) Mempelajari pengaruh lama maserasi daun jambu mete kering terhadap sifat fisik destilat dengan menggunakan variasi lama maserasi selama 1, 2, 3, 4 dan 5 hari, sebagai bahan aktif sabun antiseptik, 2) Mempelajari pengaruh massa maserasi daun jambu mete kering terhadap sifat fisik destilat dengan menggunakan variasi massa maserasi 1, 2, 3, 4 dan 5 g, sebagai bahan aktif sabun antiseptik. Dari data diperoleh hasil yang optimum dari lama maserasi daun jambu mete kering terhadap sifat fisik destilat dengan variasi lama maserasi selama 1, 2, 3, 4 dan 5 hari adalah 4 hari yaitu 0,7932 g/cm3. Dan hasil optimum dari massa maserasi daun jambu mete kering terhadap sifat fisik destilat dengan variasi massa maserasi 1, 2, 3, 4 dan 5 gr adalah 4 gr yaitu 0,7920 g/cm3
SUPERKAPASITOR STUDI PERBANDINGAN SIFAT ELEKTRODA SUPERKAPASITOR DARI ARANG AKTIF TEMPURUNG KELAPA BANYUWANGI DENGAN ACTIVATOR ASAM DAN BASA Eko Malis; Rosyid Ridho; Qurrata Ayun; Reny Eka Evi Susanti
Jurnal Crystal : Publikasi Penelitian Kimia dan Terapannya Vol. 5 No. 2 (2023): Penelitian Kimia dan Terapannya
Publisher : Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/jc.v5i2.3101

Abstract

Telah dilakukan penelitian preparasi elektroda superkapasitor arang aktif dari tempurung kelapa. pembuatan arang aktif dari tempurung kelapa yang berasal dari pesisir pantai Banyuwangi. Arang aktif ditreatment surface area melalui beberapa Langkah yaitu karbonasi dan aktivasi. Karbonasi dilakukan dengan cara pirolisis yaitu memanaskan tempurung kelapa pada suhu 750oC pada kondisis aerob. Aktivasi dilakukan dengan membandingkan 2 activator kimia diantaranya asam klorida dan Kalium Hidroksida Dengan konsentrasi masing-masing 5 mol/L. Pada penelitian ini difokuskan pada pemanfaatan tempurung kelapa sebagai elektroda superkapasitor. Karbon aktof Dari tempurung kelapa dipilih disebabkan sebaran distribusi kapasitansi dan luas area terbaik. Superkapasitor merupakan penyimpan energi yang lebih efisien dibandingkan dengan baterai. Elektroda dibuat dengan Luas 1,5 cm x 1,5 mm. Karakterisasi Permukaan karbon aktif menggunakan titrasi iodometri, karakterisasi elektroda menggunakan metode voltametri. Kapasitansi kapasitor maksimum diperoleh 15,59 F/g/S, Morfologi SEM menunjukkan ukuran pori sebesar 8,457 , iod number optimal sebesar 2376,74.
PELATIHAN PEMBUATAN LILIN AROMATERAPI DENGAN MEMANFAATKAN MINYAK JELANTAH BAGI SISWA MA AL-QODIRI KELIR BANYUWANGI Moh nurman bagus satrio; Qurrata A’yun; Reny Eka Evi Susanti; Rika Endara Safitri; Rosyid Ridho; Eko Malis; Dimas Priagung Banar Syah
Jurnal Mitra Dedikasi Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2026): Edisi Juni
Publisher : Yayasan Bakti Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70305/jmdm.v3i1.202

Abstract

Students today rarely apply the classroom materials they have learned to their daily lives. One of the topics taught at the Senior High School (SMA/MA) level is candle making. Training on producing aromatherapy candles using waste cooking oil can boost students' enthusiasm for practicing school materials. This training session was conducted over one day in partnership with Madrasah Aliyah (MA) Al Qodiri Kelir, Banyuwangi. The methods employed in this training included lectures, Q&A sessions, and hands-on mentoring. The program covered several key areas: the excitement of learning chemistry, an introduction to chemical-based products, the benefits of repurposing waste cooking oil for aromatherapy candles, and direct guidance in the candle-making process. As a result, the training successfully increased students' awareness of the environmental hazards posed by waste cooking oil and equipped them with the practical skills to create aromatherapy candle products from recycled oil.
ANALISIS KADAR METOKSIL PEKTIN KULIT KAKAO (THEOBROMA CACAO L) BERDASARKAN OPTIMASI VOLUME PELARUT DAN LAMA PENGENDAPAN PEKTIN Qurrata Ayun; Agnes Nazilatul; Reny Eka Evi Susanti; Eko Malis
JURNAL REDOKS : JURNAL PENDIDIKAN KIMIA DAN ILMU KIMIA Vol 8 No 2 (2025): Jurnal Redoks : Jurnal Pendidikan Kimia dan Ilmu Kimia
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia STKIP Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33627/re.v8i2.3512

Abstract

Kulit buah kakao mengandung pektin sebesar 16,27%, jumlah ini dipengaruhi oleh tingkat kematangan dan kesegaran dari buah kakao. Produksi kakao yang semakin meningkat menyebabkan limbah kulit kakao juga semakin banyak. Ekstraksi pektin merupakan salah satu cara yang berpotensi untuk meningkatkan nilai ekonomis kulit kakao. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh volume ammonium oksalat terhadap pembentukan pektin dan juga untuk mengetahui pengaruh lama pengendapan terhadap kadar metoksil pektin pada proses ekstraksi kulit buah kakao. Beberapa tahapan yang dilakukan antara lain preparasi sampel, proses ekstraksi kulit kakao, optimasi volume pelarut ammonium oksalat dan optimasi lama pengendapan pektin ekstraks kulit kakao. Berdasarkan hasil penelitian maka disimpulkan bahwa ammonium oksalat yang digunakan sebagai pelarut, yang paling optimum menunjukkan hasil rendemen (yield) yang paling tinggi adalah saat volumenya 20 mL yaitu 14,062 %. Untuk optimasi lama pengendapan pektin ekstrak kulit kakao diperoleh data rendemen tertinggi adalah saat 19 jam yaitu 14,062% dan berat ekivalen yang sesuai dengan standar mutu IPPA sebesar 769,23 mg. Untuk nilai dari kadar metoksil diperoleh data dari waktu penggumpalan 17, 18, 19, 20 dan 21 jam berkisar antara 1,93 – 3,87%, dimana menurut stadar mutu IPPA, pektin kulit kakao termasuk pada kategori pekting bermetoksil rendah (LMP) karena nilainya kurang dari 7%.
PENGARUH SUHU EKSTRAKSI DAN LAMA PENGGUMPALANTERHADAP KADAR DERAJAT ESTERIFIKASI (DE) EKSTRAK PEKTIN KULIT KAKAO (THEOBROMA CACAO L.) Qurrata Ayun; Ananda Nabila; Reny Eka Evi Susanti
JURNAL REDOKS : JURNAL PENDIDIKAN KIMIA DAN ILMU KIMIA Vol 9 No 1 (2026): Jurnal Redoks : Jurnal Pendidikan Kimia dan Ilmu Kimia
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia STKIP Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33627/re.v9i1.4261

Abstract

Kulit buah kakao (Theobroma cacao l.) merupakan limbah pertanian yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber pektin. Pektin sendiri memiliki nilai ekonomi tinggi dan yang menjadi salah satu parameter mutu dari pektin adalah nilai dari derajat esterifikasinya (DE). DE sendiri dipengaruhi oleh berbagai macam kondisi ketika proses ekstraksi pektin berlangsung. Kulit buah kakao sendiri mempunyai kandungan pektin sebesar 16,27%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu ekstraksi dan lama penggumpalan pektin terhadap kadar DE pada proses ekstraksi kulit buah kakao. Beberapa tahapan yang dilakukan antara lain adalah preparasi sampel, proses ekstraksi kulit kakao, optimasi suhu ekstraksi dan optimasi lama penggumpalan pektin. Dalam setiap optimasi dilakukan analisis berat ekivalen, kadar metoksil, kadar asam galakturonat dan yang terakhir penentuan derajat esterifikasi pektin kulit kakao tersebut. Berdasarkan hasil penelitian maka disimpulkan bahwa suhu untuk proses ekstraksi adalah 80°C dengan lama penggumpalan pektin 16 jam yang menghasilkan DE optimum sebesar 72%, kadar metoksil 12,01%, kadar asam galakturonat 94,60% serta berat ekivalennya 666,67%. Hasil yang diperoleh tersebut menunjukkan bahwa kulitas pektin yang diperoleh telah memenuhi kriteria standar mutu IPPA yaitu pektin kulit kakao termasuk pektin metoksil tinggi (HMP).