Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search
Journal : eProceedings of Engineering

Pemetaan Budaya Perusahaan Menggunakan Metode Organizational Culture Assessment Instrument (OCAI) (Studi Kasus di PT XYZ) Azharine Ananda; Christanto Triwibisono; Fida Nirmala Nugraha
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Setiap organisasi maupun perusahaan tidak akan lepas dari manajemen sumber daya manusia. Budaya organisasi adalah sebuah pemahaman dari orang-orang yang memiliki tujuan, kepercayaan, dan nilai yang sama. Setiap organisasi menginginkan terbangunnya visi dan misi yang menginspirasi setiap anggota yang ada di organisasi tersebut. Tidak terkecuali dengan PT XYZ. Meskipun PT XYZ salah satu perusahaan garment yang besar, permasalahan-permasalahan sering sekali terjadi salah satunya yaitu salah satunya dari tingginya turnover karyawan khususnya pada operator sewing. Menurut operator tingginya turnover ini terjadi karena beberapa aspek baik dari segi peraturan maupun budaya kerja yang tidak sesuai dengan keinginan operator. Oleh sebab itu dilakukan perbaikan budaya dengan mempertimbangkan berbagai aspek dari perilaku organisasi, dan melakukan penilaian dengan menggunakan metode Organizational Culture Assessment Instrument (OCAI). Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil bahwa persepsi budaya menurut operator dan staff atau manajemen berbeda sehingga perlu diadakannya perbaikan pada budaya tersebut. Selain itu diharapkan nantinya dapat mengurangi turnover yang terjadi di perusahaan tersebut. Kata Kunci: Budaya Organisasi, Perbaikan Budaya, Perilaku Organisasi , Organizational Culture Assessment Instrument (OCAI) Abstract Every organization and company will not be separated from human resource management. Organizational culture is an understanding of people who have the same goals, beliefs, and values. Every organization wants a vision and mission that inspires every member in the organization. PT XYZ is no exception. Although PT XYZ is one of the major garment companies, problems often occur one of which is one of them is the high turnover of employees, especially for sewing operators. According to the operator, this high turnover occurs because of several aspects both in terms of regulations and work culture that are not in accordance with the wishes of operators. Therefore cultural improvement is carried out by considering various aspects of organizational behavior, and evaluating using the Organizational Culture Assessment Instrument (OCAI) method. Based on the results of the study, it was found that cultural perceptions according to operators and staff or management were different so that there was a need for improvement in the culture. In addition, it is hoped that later it can reduce the turnover that occurs in the company. Keywords: Organizational Culture, Cultural Improvement, Organizational Behavior, Organizational Culture Assessment Instrument (OCAI)
Perancangan Penilaian Kinerja Karyawan Dengan Metode Integrasi 360 Degrees Feedback Dan Analytical Hierarchy Process (ahp) pada PT Tekno Buana Globalindo Olivia Cahyaningdhia Saputri; Christanto Triwibisono; Fida Nirmala Nugraha
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT Tekno Buana Globalindo (PT TBG) merupakan perusahaan yang bergerak dibidang jasa pengolahan limbah pengeboran minyak dan gas. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang jasa, PT TBG dituntut untuk memberikan kinerja kepada pelanggannya dengan baik. Divisi Operation and Engineeering merupakan divisi yang memiliki tugas untuk mengurusi semua proses pengolahan limbah yang ada dilapangan, sehingga karyawan yang ada pada divisi tersebut dituntut untuk memiliki performansi kinerja yang sangat baik. PT TBG menerapkan penilaian kinerja karyawan untuk menjadi bahan evaluasi kerja karyawannya, akan tetapi penilaian kinerja pada PT TBG dinilai masih belum memiliki standar penilaian dan penilaian masih bersifat searah yang menimbulkan persepsi bahwa penilaian ada faktor bias. Dalam penelitian ini dilakukan perbaikan rancangan penilaian dengan menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dan menggunakan Metode 360 Degree Feedback. Hasil yang didapat terdapat 3 kompetensi penilai, yaitu personality dengan bobot kepentingan 26%, knowledge dengan bobot kepentingan 17%, dan workplace dengan bobot kepentingan 57%, dengan melibatkan penilaian atasan sebesar 60%, penilaian rekan kerja sebesar 30%, dan penilaian diri sendiri sebesar 10%. Perubahan yang dilakukan akan memengaruhi tahap pernyusunan dan tahap evaluasi.Kata kunci: Penilaian Kinerja, Bobot Indikator, Analytical Hierarchy Process, 360 Degree Feedback.
Perancangan Sistem Pengukuran Kinerja Divisi Sdm Di Pt Xyz Dengan Menggunakan Framework Balanced Scorecard Keyna Ratu Nefira; Fida Nirmala Nugraha; Christanto Triwibisono
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak PT XYZ adalah salah satu perusahaan yang menjadi produsen dan distributor minuman non-alkohol siap minum. Dalam upaya meningkatkan pencapaian kinerja, maka diperlukannya perbaikan kinerja perusahaan maupun SDM dapat dilakukan dengan cara merancang manajemen kinerja. Sistem pengukuran kinerja yang mampu mengatasi permasalahan SDM adalah metode Balanced Scorecard yang merupakan sistem pengukuran kinerja yang menghubungkan karyawan, strategi perusahaan, dan kinerja melalui empat perspektif, yaitu perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal, dan perspektif pertumbuhan dan pembelajaran. Untuk melakukan pengukuran kinerja SDM di PT XYZ dimulai dengan penjabaran visi, misi, dan strategi PT XYZ. Selanjutnya adalah perhitungan pembobotan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP), setelah itu mengukur kinerja pada PT XYZ. Berdasarkan hasil pengolahan data, terdapat 6 sasaran strategi, dengan leading indicator, lagging indicator, dan 12 Key Performance Indicator. Hasil akhir skor kinerja PT XYZ untuk perspektif keuangan adalah 3.45 dengan kriteria baik, untuk perspektif pelanggan adalah 4.00 dengan kriteria baik, untuk perspektif proses bisnis internal adalah 4.37 dengan kriteria baik, dan untuk perspektif pertumbuhan dan pembelajaran adalah 3.47 dengan kriteria baik. Sehingga secara keseluruhan kinerja PT XYZ adalah 3.84 dengan kriteria baik. Kata Kunci: Pengukuran Kinerja, Balanced Scorecard, Key Performance Indicator, Analytcal Hierarcy Process, Leading Indicator, Lagging Indicator Abstract PT XYZ is one company that is a producer and distributor of non-alcoholic beverages ready to drink. In an effort to improve performance achievement, the need to improve company performance and HR can be done by designing performance management. The performance measurement system that is able to overcome HR problems is the Balanced Scorecard method which is a performance measurement system that connects employees, corporate strategy, and performance through four perspectives, namely financial perspective, customer perspective, internal business process perspective, and growth and learning perspective. To measure the performance of HR at PT XYZ, it starts with the translation of PT XYZ's vision, mission and strategy. Next is the weighting calculation using the Analytical Hierarchy Process (AHP) method, then measuring the performance at PT XYZ. Based on the results of data processing, there are 6 strategic objectives, with leading indicators, lagging indicators, and 12 Key Performance Indicators. The final result of PT XYZ's performance score for financial perspective is 3.45 with good criteria, for customer perspective is 4.00 with good criteria, for internal business process perspective is 4.37 with good criteria, and for growth and learning perspective is 3.47 with good criteria. So that overall the performance of PT XYZ is 3.84 with good criteria. Keywords: Performance Measurement, Balanced Scorecard, Key Performance Indicators, Analytcal Hierarchy Process, Leading Indicator, Lagging Indicator
Analisis Beban Kerja Fisik Dan Perancangan Kebutuhan Jumlah Pegawai Menggunakan Metode Work Sampling Pada Divisi Human Resource Department Di Pt Pikiran Rakyat Bandung Intan Novhela; Christanto Triwibisono; Fida Nirmala Nugraha
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak - Analisis beban kerja dapat menjadi dasar sebuah perusahaan untuk menentukan jumlah pekerja ideal dalam perusahaan, apakah sudah cukup, harus ditambah atau dikurangi ketika terjadi peningkatan produksi, strukturisasi perusahaan, dan ketika perusahaan melakukan perubahan terhadap strategi bisnisnya. Hasil analisis beban kerja menggunakan metoda work sampling pada divisi Human Resource Development di PT Pikiran Rakyat Bandung diketahui bahwa urutan beban kerja dari yang tertinggi ke terendah yaitu : grup E dengan nilai beban kerja 144,2% (kategori beban kerja tinggi) - grup B dengan nilai beban kerja 136,3% (kategori beban kerja tinggi) - grup C dengan nilai beban kerja 107,1% (kategori beban kerja tinggi) - grup F dengan nilai beban kerja 102,2% (kategori beban kerja optimal) - grup A memiliki nilai beban kerja 97,8% (kategori beban kerja optimal) - dan nilai beban kerja terendah pada grup D yaitu 89,4% (kategori beban kerja optimal). Jumlah pegawai HRD PT Pikiran Rakyat saat ini adalah 12 orang. Berdasarkan hasil perhitungan beban kerja terhadap masing-masing grup, didapatkan bahwa dibutuhkan 2 pegawai tambahan yaitu 1 pegawai pada grup E dan 1 pegawai pada grup B, dan untuk grup A,C,D,F terhitung sudah memiliki jumlah pegawai yang sesuai dengan beban kerjanya. Kata kunci : beban kerja, work sampling, kebutuhan pegawai Abstract - Workload analysis can be the basis of a company to determine the number of ideal workers in the company, whether it is sufficient, must be added or reduced when there is an increase in production, structuring the company, and when the company changes its business strategy. The results of workload analysis using the work sampling method in the Human Resource Development division of PT Pikiran Rakyat Bandung note that the order of workload from highest to lowest is: group E with a workload of 144.2% (high workload category) - group B with the value of workload is 136.3% (high workload category) - group C with workload value of 107.1% (high workload category) - group F with workload value of 102.2% (optimal workload category) - group A has a workload value of 97.8% (optimal workload category) - and the lowest workload value in group D is 89.4% (optimal workload category). The number of HR employees at PT Pikiran Rakyat is currently 12 people. Based on the calculation of workload for each group, it was found that 2 additional employees were needed, namely 1 employee in group E and 1 employee in group B, and for group A, C, D, F was calculated to have the number of employees according to his workload . Keywords : workload, work sampling, employee need
Perancangan Beban Kerja Dan Penentuan Kebutuhan Sumber Daya Manusia Pada Operator Lantai Produksi Di Pt Xyz Menggunakan Metode Work Sampling Adinda Rahmi Humaira; Christanto Triwibisono; Fida Nirmala Nugraha
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT XYZ merupakan perusahaan yang berfokus pada produksi baju muslim dan kerudung. Pada tahun 2018 perusahaan tidak dapat memenuhi target produksi ketika high season yaitu bulan Mei, November, dan Desember. Salah satu penyebab penurunan ini disebabkan oleh operator lantai produksi bekerja lebih sibuk dari biasanya saat kenaikan produksi berlangsung karena target produk yang harus dihasilkan lebih banyak. Karyawan lantai produksi merasa beban kerja yang dimiliki terlalu berat karena tugas yang harus mereka selesaikan dengan target waktu tertentu tidak sesuai dengan kapasitas kerja mereka dan dirasa jumlah tenaga kerja yang tidak sesuai dengan beban kerja yang ada. Analisis beban kerja diperlukan untuk memastikan kegiatan produksi berjalan dengan baik dan sumber daya manusia memiliki beban kerja yang merata dan dapat digunakan sebagai dasar dalam penentuan kebutuhan pegawai. Dari analisis work sampling dapat diketahui hasil nilai beban kerja yang optimal berada diantara 101.80%-115.09% sedangkan beban kerja pekerjaan QC bahan sebesar 104.7%, pekerjaan cutting sebesar 110.27%, pekerjaan QC cutting sebesar 116.14%, pekerjaan pemisahan sebesar 110.75%, pekerjaan sewing sebesar 111.33%, pekerjaan QC akhir sebesar 108.64%, dan pekerjaan packaging sebesar 101.80%. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan karyawan perusahaan perlu melakukan penambahan 1 operator untuk pekerjaan QC cutting dan penambahan 1 operator sewing. Kata kunci: Produktivitas, Beban Kerja, Work sampling, Kebutuhan Karyawan
Perbaikan Analisis Jabatan Menggunakan Metode Observasi Dan Proses Hierarki Analitik Di Pt. Leading Garment Industries Desi Lestari; Budi Sulistyo; Fida Nirmala Nugraha
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak PT. LGI merupakan suatu perusahaan manufaktur yang berfokus pada produksi pakaian seperti pakaian tidur pria dan wanita, pakaian luar pria dan wanita, jaket, pakaian dalam pria dan wanita, sprei dan selimut tebal. Perusahaan ini sudah 36 tahun menjalankan bisnisnya. Dalam menjalankan proses bisnis perusahaan, karyawan belum memiliki dokumen uraian jabatan dan persyaratan jabatan yang sesuai dengan standar pada umumnya dan belum mampu menjelaskan jabatan secara informatif. Hal ini menjadi kekurangan perusahaan dalam memberikan informasi pekerjaan pada suatu jabatan. Saat ini perusahaan mengalami perubahan struktur organisasi pada Divisi PPIC. Penelitian ini dilakukan berdasarkan kedua hal tersebut dimana memperbaiki analisis jabatan dan sesuai kebutuhan perusahaan. Analisis jabatan yang akan diperbaiki dari analisis jabatan yang sudah ada sebelumnya akan menghasilkan uraian jabatan dan persyaratan jabatan. Perbaikan ini menggunakan metode observasi dengan pengumpulan data menggunakan wawancara dan kuesioner. Standar operasional prosedur membantu memahami proses bisnis pada departemen. Penelitian ini dilanjutkan dengan perancangan kelas jabatan, dimana hal ini akan membantu memberikan informasi mengenai kriteria beban pekerjaan secara keseluruhan dan tingkat kesulitan. Hal ini dilakukan untuk saling menghargai pekerjaan jabatan, memotivasi karyawan dan mengoptimalkan operasional perusahaan. Perhitungan ini menggunakan teknik AHP dalam menghitung bobot untuk mencapai suatu tujuan. Penelitian ini menghasilkan 13 dokumen uraian jabatan dan persyaratan jabatan untuk setiap jabatan serta hasil kelas jabatan pada Departemen PPIC. Kata kunci: analisis jabatan, struktur organisasi, wawancara, kuisioner, kelas jabatan, AHP. Abstract PT. LGI is a manufacturing company that focuses on the production of clothing such as men's and women's sleepwear, men's and women's outerwear, jackets, men's and women's underwear, bed linen and thick blankets. This company has been running its business for 36 years. In carrying out the company's business processes, employees do not have job description documents and job requirements that are in accordance with the standards in general and have not been able to explain the position informally. This becomes a lack of companies in providing job information to a position. At present the company is experiencing changes in organizational structure in the PPIC Division. This research was carried out based on these two things which improved job analysis and according to company needs. Job analysis that will be corrected from the analysis of existing positions will result in job descriptions and job requirements. This improvement uses the observation method by collecting data using interviews and questionnaires. Operational standards procedures help understand business processes in the department. This research is continued with the design of occupational classes, where this will help provide information about the criteria for the overall workload and the level of difficulty. This is done to respect work position, motivate employees and optimize company operations. This calculation uses the AHP technique in calculating weights to achieve a goal. This study produced 13 job description documents and job requirements for each position as well as the results of class positions in the PPIC Department. Keyword: job analysis, structure organization, interview, questionnaire, job class, AHP.
Analisis Beban Kerja Mental Dan Perancangan Kebutuhan Jumlah Pegawai Menggunakan Metode Nasa-tlx Pada Divisi Human Resource Department Di Pt Pikiran Rakyat Bandung Ovie Isnanda Irsa; Christanto Triwibisono; Fida Nirmala Nugraha
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak - PT Pikiran Rakyat Bandung adalah perusahaan yang bergerak dalam bisnis media cetak. Pada divisi Human Resources Department (HRD) di PT Pikiran Rakyat , terjadi ketidak seimbangan beban kerja yang diakibatkan oleh perubahan strategi bisnis dan beban kerja yang tidak merata. Oleh karena hal tersebut dibutuhkan analisis beban kerja mental untuk menghitung jumlah karyawan ideal pada divisi tersebut. NASATLX merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk menghitung beban kerja mental. Metode NASA-TLX membagi beban kerja menjadi 6 dimensi elemen kerja. Berdasarkan hasil analisis beban kerja menggunakan metode NASA-TLX didapatkan urutan beban kerja grup tertinggi hingga ke terendah yaitu: grup D (213,42) – grup B (133,53) – grup C – (117,37) – grup F (114,96) – grup E (77,92) – grup A (56,69). Jumlah karyawan HRD PT Pikiran Rakyat saat ini adalah 12 orang. Berdasarkan hasil perhitungan karyawan ideal, didapatkan bahwa dibutuhkan tambahan 2 orang karyawan tambahan yaitu 1 orang sebagai kepala urusan (grup B) dan 1 orang sebagai staf perencanaan dan pengembangan (grup E). Kata kunci : beban kerja, NASA-TLX, kebutuhan pegawai Abstract - PT Pikiran Rakyat Bandung is a company engaged in the print media business. In the Human Resources Department (HRD) division at PT Pikiran Rakyat, workload imbalances occur due to changes in business strategies and uneven workloads. Therefore, this requires an analysis of the mental workload to calculate the ideal number of employees in the division. NASA-TLX is a method that can be used to calculate mental workload. NASA-TLX method divides workload into 6 dimensions of work elements. Based on the results of the workload analysis using the NASA-TLX method, the highest to lowest group workload sequences are: group D (213.42) - group B (133.53) - group C - (117.37) - group F (114 , 96) - group E (77.92) - group A (56.69). The current number of HRD employees of PT Pikiran Rakyat is 12 people. Based on the calculation of ideal employees, it was found that additional 2 additional employees were needed, namely 1 person as head of affairs (group B) and 1 person as planning and development staff (group E). Keywords : workload, NASA-TLX , employee need
Perancangan Kebutuhan Pelaksana Mesin Di Bagian Weaving Departemen Produksi Pt Tarumatex Bandung Dengan Menggunakan Metode Pengukuran Beban Kerja Nasa-tlx Alvin Tri Noviandri; Fida Nirmala Nugraha; Budi Sulistyo
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT Tarumatex Bandung merupakan sebuah perusahaan yang berlokasi di Jl. Jend. A. Yani no. 806 dan bergerak dibidang produksi tekstil. Seiring dengan proses produksi kain grey yang dilakukan di PT Tarumatex Bandung, terdapat kendala yang menyebabkan terhambatnya proses produksi dan tidak tercapainya target produksi perusahaan. Dari empat bagian yang ada di Departemen Produksi (warping, sizing, drawing in, dan weaving), disinyalir bahwa bagian weaving memiliki kendala dengan frekuensi terbanyak, tingkat keparahan kendala tertinggi, lingkungan kerja terbising, dan tanggung jawab terhadap mesin perorang terbanyak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur beban kerja yang dialami oleh pelaksana mesin bagian weaving dengan menggunakan metode NASA-TLX dan mengetahui jumlah karyawan ideal untuk diusulkan kepada pihak perusahaan. Enam indikator NASA-TLX (Kebutuhan Mental, Kebutuhan Fisik, Kebutuhan Waktu, Performansi, Tingkat Usaha, dan Tingkat Frustasi) akan diperhitungkan rating dan pembobotannya setelah pelaksana mesin mengisikan kuesioner NASA-TLX untuk mendapatkan angka weighted workload (WWL). Hasil perhitungan kebutuhan jumlah pelaksana mesin menunjukkan bahwa untuk mewujudkan beban kerja yang merata, regu A direkomendasikan untuk menambahkan pelaksana mesin sebanyak 4 orang, regu B sebanyak 6 orang, dan regu C sebanyak 2 orang. Kata kunci : beban kerja, weighted workload (WWL), NASA-TLX, pelaksana mesin
Perencanaan Kebutuhan Tenaga Kerja Operator Sewing Di Pt Xyz Menggunakan Metode Work Sampling Dan Nasa-tlx Nabila Vidya Ariani; Atya Nur Aisha; Fida Nirmala Nugraha
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Manusia merupakan aset utama dalam organisasi, sehingga sumber daya manusia (SDM) harus dikelola dan dimanfaatkan secara seimbang dan manusiawi. Analisis beban kerja diperlukan untuk memastikan pekerjaan yang dilakukan berjalan dengan baik dan sumber daya manusia memiliki beban kerja yang optimal. PT XYZ mengalami kenaikan dan penurunan tingkat turnover yang signifikan. Nilai beban kerja tersebut dirasakan dari pekerjaan fisik seperti tenaga kerja yang dikeluarkan pada line tersebut lebih besar dengan line yang sudah optimal, lingkungan kerja yang tidak kondusif, gerakan kerja yang terbatas, suhu ruang kerja yang cukup panas. Selain pekerjaan fisik, nilai beban kerja juga dirasakan dari mental operator seperti kebutuhan waktu, dimana deadline yang diberikan oleh PT XYZ setiap line nya sama, sehingga hal tersebut memengaruhi performansi kerja ataupun tingkat frustasi operator. Dalam upaya meningkatkan produktivitas operator PT XYZ perlu dilakukan pengukuran terhadap beban kerja dengan menggunakan metode yang telah diakui, karena permasalahan tersebut akan mengurangi tingkat beban kerja operator. Analisis beban kerja operator sewing digunakan untuk mengetahui beban kerja eksisting dan sebagai dasar dalam penentuan kebutuhan operator setiap line nya yang tidak merata. Hasil analisis beban kerja menggunakan metode work sampling dan NASA-TLX pada line 11, 12 dan 13, dimana line tersebut mempunyai kategori beban kerja yang tinggi. Pada metode work sampling, line 11 memiliki nilai beban kerja sebesar 107,84%, line 12 memiliki nilai beban kerja sebesar 108,83%, dan line 13 memiliki nilai beban kerja sebesar 110,43%. Pada metode NASA-TLX, line 11 memiliki nilai beban kerja sebesar 70, line 12 memiliki nilai beban kerja sebesar 67, dan line 13 memiliki nilai sebesar 67. Ditinjau dari sisi beban kerja fisik dan mental operator, jumlah penambahan operator yang diusulkan yaitu masing-masing 1 operator pada setiap line. Kata kunci : Beban Kerja, Work Sampling, NASA-TLX, kebutuhan operator Abstract Humans are the main assets in the organization, so that human resources (HR) must be managed and utilized in a balanced and humane manner. Workload analysis is needed to ensure that the work carried out goes well and human resources have an optimal workload. PT XYZ experienced a significant increase and decrease in turnover. The value of the workload is felt from physical work such as labor that is issued on the line is greater with an optimal line, a non-conducive work environment, limited work movements, a fairly hot workspace temperature. In addition to physical work, the workload value is also felt by the operator's mentality such as time requirements, where the deadlines provided by PT XYZ are the same, so that it affects work performance or the operator's frustration. In an effort to increase the productivity of PT XYZ operators, it is necessary to measure workloads using a recognized method, because these problems will reduce the level of operator workload. The workload analysis of sewing operators is used to determine the existing workload and as a basis for determining uneven operator requirements for each line. The workload analysis results using the work sampling method and NASA-TLX on lines 11, 12 and 13, where the line has a high workload category. In the work sampling method, line 11 has a workload value of 107.84%, line 12 has a workload value of 108.83%, and line 13 has a workload value of 110.43%. In the NASA-TLX method, line 11 has a workload value of 70, line 12 has a workload value of 67, and line 13 has a value of 67. Judging from the operator's physical and mental workload, the number of additional operators proposed is respectively each operator on each line. Keywords: Workload, Work Sampling, NASA-TLX, operator requirements
Perancangan Penilaian Kinerja Karyawan Menggunakan Metode Behaviorally Anchored Rating Scales (bars) Di Pt Widya Trans Cargo Alfriyani Oktavia Hutasoit; Christanto Triwibisono; Fida Nirmala Nugraha
eProceedings of Engineering Vol 8, No 2 (2021): April 2021
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak PT Widya Trans Cargo merupakan sebuah perusahaan yang bergerak dibidang logistik dalam menyediakan transportasi pengangkutan barang menggunakan transportasi jenis kontainer. Perusahaan ini menggunakan dua rute yaitu jalur darat maupun jalur lautan. PT Widya Trans Cargo memberikan pelayanan jasanya kepada setiap perusahaan-perusahaan yang membutuhkan jasa pengangkutan barang. Permasalahan yang terdapat pada perusahaan ini yaitu tidak terdapatnya penilaian kinerja karyawan yang jelas dan terukur pada divisi operasi mengakibatkan tidak diketahuinya performansi dan pencapaian yang sudah didapatkan oleh setiap karyawan. Hal ini membuat karyawan merasa kurang puas terhadap penilaian yang dilakukan serta tidak ada feedback yang diberikan kepada karyawan atas capaian yang telah dilakukan. Selain itu, pada tahun 2019 target pengiriman container perbulannya banyak yang tidak tercapai. Oleh karena itu dilakukan perancangan performance appraisal yang lebih jelas dan terukur. Perancangan ini dilakukan dengan menggunakan metode Behaviorally Anchor Rating Scales (BARS) untuk membantu perusahaan mengetahui hal-hal apa saja yang mempengaruhi penurunan kinerja, halhal apa saja yang perlu ditingkatan, dan dapat memberikan feedback kepada karyawan dari hasil penilaian ini mengenai pencapaian yang sudah didapatkan. Kata kunci: Behaviorally Anchor Rating Scales (BARS), Penilaian kinerja Abstract PT Widya Trans Cargo is a logistic firm that provides transportation for transporting goods through shipping containers. This company uses both land and ocean routes. PT Widya Trans Cargo rendered its services to any of the companies that needed a cargo services. The problem that exists in this company, there is no clear and measureable performance appraisal in the operations division which results not knowing the performance and achievements that have been obtained by each employee. This makes employees feel less satisfied with their appraisal and there is no feedback given to employees for their accomplishment. In addition, the 2019 container shipping targets a large monthly area were not reached. Therefore, it does the more evident and measurable design of the good performance appraisal. The design involves using Behaviorally Anchor Rating Scales (BARS) method to help companies learn anything that affects performance impairment, anything that needs to be improved, and can feedback employees from these appraisal on achieving achievements. Keywords: Behaviorally Anchor Rating Scales (BARS), Performance Apprasial