Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

EFEK EKSTRAK BUAH NAGA MERAH (HYLOCEREUS POLYRHIZUS) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA AKUT DM DAN NON DM PADA WISTAR Tahir, Takdir; Bakri, Syakib; Patellongi, Ilhamjaya; Aman, Makbul; Miskad, Upik A.; Maryunis, Maryunis; Suryani, Ade Irma
in process
Publisher : ETN Centre Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Penggunaan bahan alam sebagai penyembuhan luka merupakan alternatif yang banyak digunakan. Ekstrak Buah Naga Merah (EBNM) memiliki kandungan antioksidan dan anti-inflamasi yang dibutuhkan untuk mempercepat penyembuhan luka. Namun penelitian yang berhubungan dengan efek buah naga merah terhadap penyembuhan luka masih sangat terbatas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek Ekstrak Buah Naga Merah terhadap penyembuhan luka DM dan luka Non DM pada wistar. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan desain post test with control group design. Wistar jantan albino (n=30) berat badan (250-350 gr) dibagi menjadi 2 kelompok (kelompok A wistar DM + Eksisi dan kelompok B wistar Non-DM + Eksisi). Selanjutnya Wistar dilukai pada punggung kiri dan kanan dengan menggunakan punch biopsy 8 mm. Topikal krim EBNM 3.5%, 5% dan 7.5% dioleskan pada permukaan luka dengan menggunakan cotton bud. Jaringan diwarnai dengan Hematoksilin dan Eosin (HE) untuk mengetahui ketebalan granulasi, dan epitelisasi jaringan. Data dianalisis dengan menggunakan uji independent T test dan paired T test (SPSS 21, Chicago Inc.). Hasil: Skor granulasi lebih baik pada konsentrasi 7.5 % pada kelompok EBNM topikal dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif untuk DM (p
EFEK EKSTRAK BUAH NAGA MERAH (HYLOCEREUS POLYRHIZUS) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA AKUT DM DAN NON DM PADA WISTAR Tahir, Takdir; Bakri, Syakib; Patellongi, Ilhamjaya; Aman, Makbul; Miskad, Upik A.; Maryunis, Maryunis; Suryani, Ade Irma
Jurnal Luka Indonesia Vol 2 No 2 Juni 2016
Publisher : ETN Centre Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32538/jli.v0i0.26

Abstract

Pendahuluan: Penggunaan bahan alam sebagai penyembuhan luka merupakan alternatif yang banyak digunakan. Ekstrak Buah Naga Merah (EBNM) memiliki kandungan antioksidan dan anti-inflamasi yang dibutuhkan untuk mempercepat penyembuhan luka. Namun penelitian yang berhubungan dengan efek buah naga merah terhadap penyembuhan luka masih sangat terbatas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek Ekstrak Buah Naga Merah terhadap penyembuhan luka DM dan luka Non DM pada wistar. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan desain post test with control group design. Wistar jantan albino (n=30) berat badan (250-350 gr) dibagi menjadi 2 kelompok (kelompok A wistar DM + Eksisi dan kelompok B wistar Non-DM + Eksisi). Selanjutnya Wistar dilukai pada punggung kiri dan kanan dengan menggunakan punch biopsy 8 mm. Topikal krim EBNM 3.5%, 5% dan 7.5% dioleskan pada permukaan luka dengan menggunakan cotton bud. Jaringan diwarnai dengan Hematoksilin dan Eosin (HE) untuk mengetahui ketebalan granulasi, dan epitelisasi jaringan. Data dianalisis dengan menggunakan uji independent T test dan paired T test (SPSS 21, Chicago Inc.). Hasil: Skor granulasi lebih baik pada konsentrasi 7.5 % pada kelompok EBNM topikal dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif untuk DM (p
EFEK EKSTRAK BUAH NAGA MERAH (HYLOCEREUS POLYRHIZUS) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA AKUT DM DAN NON DM PADA WISTAR Tahir, Takdir; Bakri, Syakib; Patellongi, Ilhamjaya; Aman, Makbul; Miskad, Upik A.; Maryunis, Maryunis; Suryani, Ade Irma
Jurnal Luka Indonesia Vol 2 No 2 Juni 2016
Publisher : ETN Centre Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32538/jli.v0i0.26

Abstract

Pendahuluan: Penggunaan bahan alam sebagai penyembuhan luka merupakan alternatif yang banyak digunakan. Ekstrak Buah Naga Merah (EBNM) memiliki kandungan antioksidan dan anti-inflamasi yang dibutuhkan untuk mempercepat penyembuhan luka. Namun penelitian yang berhubungan dengan efek buah naga merah terhadap penyembuhan luka masih sangat terbatas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek Ekstrak Buah Naga Merah terhadap penyembuhan luka DM dan luka Non DM pada wistar. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan desain post test with control group design. Wistar jantan albino (n=30) berat badan (250-350 gr) dibagi menjadi 2 kelompok (kelompok A wistar DM + Eksisi dan kelompok B wistar Non-DM + Eksisi). Selanjutnya Wistar dilukai pada punggung kiri dan kanan dengan menggunakan punch biopsy 8 mm. Topikal krim EBNM 3.5%, 5% dan 7.5% dioleskan pada permukaan luka dengan menggunakan cotton bud. Jaringan diwarnai dengan Hematoksilin dan Eosin (HE) untuk mengetahui ketebalan granulasi, dan epitelisasi jaringan. Data dianalisis dengan menggunakan uji independent T test dan paired T test (SPSS 21, Chicago Inc.). Hasil: Skor granulasi lebih baik pada konsentrasi 7.5 % pada kelompok EBNM topikal dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif untuk DM (p
Immunohistochemical Diagnostic value of Calretinin in Hirschprung Disease Azis, Zainab; Cangara, M. Husni; Zainuddin, Andi Alfian; Wahid, Syarifuddin; Mariana, Nita; Miskad, Upik A.
Nusantara Medical Science Journal Volume 8 Issue 2, July - December 2023
Publisher : Faculty of Medicine, Hasanuddin University.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/nmsj.vi.20000

Abstract

Introduction: Hirschsprung's disease (HD) is characterized by the absence of ganglion cells in Meissner's plexus and Auerbach's plexus which used to be assessed by histopathological examination using Hematoxylin and Eosin (H&E).  In some cases is difficult to assess ganglion cells, thus requiring additional examination in the form of calretinin immunohistochemistry to detect the presence of ganglion. Methods: The 59 samples of suspected HD  were analyzed by H&E staining followed by calretinin immunohistochemical staining. This study aimed to assess the sensitivity, specificity, positive predictive value, negative predictive value, and accuracy of calretinin in HD diagnostics. Results:  The immunohistochemistry of calretinin showed a good diagnostic value in detecting aganglionosis in patients with suspected HD with a sensitivity value = 97.7%; Specificity = 100%; Positive Presumptive Value (PPV) = 100%; Negative Presumptive Value (NPV) = 93.7%; Accuracy= 98.3%. Thus, calretinin immunohistochemistry can be relied upon as an additional method in the diagnosis of HD
Cryotherapy on exfoliative cytological changes for oral mucositis in cancer patients undergoing chemotherapy: A randomized control trial Erika, Kadek A.; Mulhaeriah, Mulhaeriah; Miskad, Upik A.; Zuraida, Eli; Sangkala, Moh S.; Magfirah, Ika; Achmad, Harun
Narra J Vol. 5 No. 2 (2025): August 2025
Publisher : Narra Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52225/narra.v5i2.1644

Abstract

Oral mucositis is a common complication of chemotherapy that significantly impacts quality of life and may reduce treatment efficacy. While oral cryotherapy has been widely studied as a preventive intervention due to its cost-effectiveness, safety, and ease of use, most research focused on clinical outcomes without incorporating objective cytological assessments of mucosal changes. The aim of this study was to evaluate the effectiveness of oral cryotherapy in managing chemotherapy-induced mucositis using exfoliative cytology to monitor oral mucosal changes. A single-blinded, randomized controlled trial was conducted involving 50 cancer patients undergoing chemotherapy, who were randomly assigned to either the intervention or control group. The control group (n=25) received standard oral hygiene care, while the intervention group (n=25) received oral cryotherapy in addition to routine oral hygiene. A 20-minute oral cryotherapy was administered twice daily after breakfast (09:00 A.M.) and lunch (01:00 P.M.) for 14 days. This study found a significant reduction in mucositis scores was observed in both groups (p<0.05). However, post-hoc analysis indicated that mucositis severity declined earlier in the cryotherapy group, whereas improvement in the control group was noted only after 14 days. Serial oral mucosal smears analyzed via exfoliative cytology revealed a reduction in inflammatory cells and the absence of coccus microorganisms by days 7 and 14 in the intervention group. In conclusion, this study demonstrated that oral cryotherapy effectively reduces the severity and duration of mucositis and accelerates recovery in cancer patients undergoing chemotherapy. Oral cryotherapy can be applied as a viable alternative to mitigate the severity of oral mucositis in this patient population.