Reza Sarwo Widagdo
Universitas PGRI Adi Buana, Surabaya

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Studi Kasus Pengaturan Proteksi Rele Diferensial Transformator 1 Gardu Induk 150 kV Tanggul Fajar Sukarno Aji Pandawa; Hadi Tasmono; Reza Sarwo Widagdo
SNHRP Vol. 5 (2023): Seminar Nasional Hasil Riset dan Pengabdian (SNHRP) Ke 5 Tahun 2023
Publisher : LPPM Universitas PGRI Adi Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rele diferensial pada transformator merupakan proteksi penting yang bekerja secara independen dan membutuhkan waktu respon cepat. Pengaturan yang tepat pada rele merupakan faktor kunci dalam menjaga keefektifan proteksi sistem transmisi dan meningkatkan efisiensi. Penelitian ini memanfaatkan data sekunder yang didapat dari gardu induk Tanggul digunakan sebagai dasar perhitungan matematis. Rasio transformator arus yang digunakan pada transformator memiliki konfigurasi 300:1 A pada sisi primer 150 kV, dan 2000:5 A pada sisi sekunder 20 kV. Penentuan rasio ini dilakukan berdasarkan perhitungan yang dilakukan, diperoleh nilai arus rating sebesar 254,034 A pada sisi primer 150 kV dan 1905,256 A pada sisi sekunder 20 kV. Iset yang didapatkan dari hasil perhitungan yaitu 0,0965 p.u. Namun, agar memenuhi persyaratan keselamatan yang meliputi faktor keamanan (5 persen), mismatch (4 persen), arus eksitasi (1 persen), kesalahan sadapan (10 persen), dan kesalahan CT (10 persen), Iset disesuaikan menjadi 0,3 p.u. dengan harapan bahwa pengaturan tersebut dapat berfungsi secara optimal. Berdasarkan perhitungan, diperoleh slope 1 dan slope 2 sebesar 11,8 persen dan 23,6 persen. Kurva karakteristik mengalami pergeseran, sehingga responsivitas rele akan meningkat dan memiliki toleransi yang rendah terhadap arus diferensial transien. Dalam simulasi menggunakan perangkat lunak ETAP Power Station 19.0.1, kinerja rele diferensial pada transformator 1 gardu induk Tanggul sudah benar dan menunjukkan hasil yang sesuai dengan prinsip selektivitas dalam daerah proteksi.
Studi Kasus Setting Relai Diferensial pada Transformator 2 Gardu Induk Buduran Manan Pratama; Hadi Tasmono; Reza Sarwo Widagdo
SNHRP Vol. 5 (2023): Seminar Nasional Hasil Riset dan Pengabdian (SNHRP) Ke 5 Tahun 2023
Publisher : LPPM Universitas PGRI Adi Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transformator tenaga merupakan salah satu komponen yang sensitif dalam saluran energi listrik dan rentan terhadap gangguan baik di dalam maupun di luar transformator itu sendiri. Oleh karena itu, penting untuk memiliki sistem proteksi yang handal dan dapat bekerja secara terkoordinasi untuk melindungi transformator dengan efektif. untuk menjaga agar sistem proteksi transformator di Gardu Induk 150 kV Buduran, Sidoarjo berfungsi dengan baik dan mencegah terjadinya arus gangguan yang dapat merusak peralatan. Dalam menangani gangguan, komponen lain yang terpenting dalam sistem proteksi listrik adalah Relai Diferensial. Relai ini digunakan untuk mendeteksi dan mengisolasi gangguan arus hubung singkat. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pengaturan yang tepat pada relai diferensial. Metode penelitian ini menggunakan data yang diperoleh dari GI Buduran, Sidoarjo. Selanjutnya, dilakukan perhitungan matematis berupa nilai rasio CT, error mismatch, nilai arus sisi tegangan menengah CT, nilai arus diferensial, nilai arus restrain (penahan), perhitungan percent slope (setting kecuraman), dan yang terakhir perhitungan nilai arus setting (Iset). Dari hasil perhitungan teori didapatkan setting relai diferensial sebesar 0,2884 p.u. pada sisi tegangan tinggi dan 0,5768 p.u. pada sisi tegangan menengah. Untuk slope 1 sebesar 40 persen untuk slope 2 sebesar 80 persen. Selanjutnya, dilakukan percobaan simulasi menggunakan ETAP 12.6.0 guna mengetahui kinerja dari relai diferensial.
Analisa Pembebanan Transformator Distribusi pada Penyulang Bumimoro AD185 dan AD180 di PT. PLN ULP Perak Moch. Dimas Pratama; Gatut Budiono; Reza Sarwo Widagdo
SNHRP Vol. 5 (2023): Seminar Nasional Hasil Riset dan Pengabdian (SNHRP) Ke 5 Tahun 2023
Publisher : LPPM Universitas PGRI Adi Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam penyaluran tenaga listrik kepada konsumen terdapat peralatan tenaga listrik yaitu transformator distribusi yang berfungsi sebagai menurunkan tegangan menengah ke tegangan rendah. Dalam proses pendistribusian sering kali terjadi ketidakseimbangan beban antar fasanya. Hal ini dikarenakan penggunaan listrik tidak bersamaan dalam kurun waktu tertentu. Ketidakseimbangan beban pada setiap fasa-fasanya menimbulkan arus pada netral. Arus netral yang mengalir dapat mengakibatkan rugi-rugi daya (losses), dan rugi-rugi ini berpengaruh terhadap efisiensi transformator. Dalam menganalisa permasalahan menggunakan perhitungan secara matematis dengan menggunakan persamaan ketidakseimbangan beban, rugi-rugi daya, dan efisiensi transformator. Analisa menunjukkan hasil rata-rata persentase ketidakseimbangan beban pada transformator AD185 sebesar 11,4 persen, dengan persentase ketidakseimbangan yang tertinggi pada jam 10:00 sebesar 12,6 persen. Pada transformator AD180 rata-rata persentase ketidakseimbang beban sebesar 8,5 persen, dengan persentase ketidakseimbangan yang tertinggi pada jam 18:00 sebesar 11,3 persen. Pada transformator AD185 rata-rata rugi-rugi daya sebesar 1,487 kW, dengan rugi-rugi daya yang tertinggi pada jam 19:00 sebesar 1,674 kW. Pada transformator AD180 rata-rata rugi-rugi daya sebesar 1,683 kW, dengan rugi-rugi daya yang tertinggi pada jam 18:00 sebesar 2,119 kW. Pada transformator AD185 rata-rata persentase efisiensi transformator sebesar 98,38 persen, dengan persentase efisiensi terendah pada jam 19:00 sebesar 98,27 persen. Pada transformator AD180 rata-rata persentase efisiensi transformator sebesar 98,39 persen, dengan persentase efisiensi terendah pada jam 18:00 sebesar 98,07 persen.
Analisa Sistem Keandalan Distribusi Dengan Penambahan LBS Pada PT. PLN Rayon Kenjeran Menggunakan Metode Section Technique Muhammad Umar Said; Gatut Budiono; Reza Sarwo Widagdo
SNHRP Vol. 5 (2023): Seminar Nasional Hasil Riset dan Pengabdian (SNHRP) Ke 5 Tahun 2023
Publisher : LPPM Universitas PGRI Adi Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dampak terbesar pada sistem distribusi tenaga listrik adalah kualitas, kontinuitas dan ketersediaan pelayanan tenaga listrik kepada konsumen. Indeks yang digunakan adalah SAIFI (System Average Interruption Frequency) dan SAIDI (System Average Interruption Duration). Untuk menentukan laju distribusi sistem yang diteliti, gunakan metode section technique dan tingkatkan peralatan Load Break Switch (LBS). Dalam analisis penelitian ini bahwasannya nilai keandalan penyulang Bulak Banteng adalah 3.34686761 jam per tahun dan untuk SAIFI adalah 5.13088 kali per tahun. Hasil perhitungan indeks koreksi kemudian dianalisis berdasarkan standar SPLN 682: Tahun 1986, nilai indeks SAIFI 5,13088 kali pertahun yaitu 3,2 kali pertahun, dan SAIDI 3,34686761 jam pertahun di bawah standar yaitu 21 jam pertahun dan masih handal. Pada perhitungan Reliability, setelah penambahan Load Break Switch (LBS), SAIFI memiliki 1,95 kali per tahun dan SAIDI memiliki 6,8547 jam per tahun. Dari hasil perhitungan indeks keandalan kemudian dianalisis dengan menggunakan standar bahwa SAIFI berada di bawah standar dalam setahun yaitu. 3,2 kali setahun untuk dapat diandalkan, untuk SAIFI 6,8547 jam setahun. Jadi, sistem distribusi pada PT. PLN Rayon Kenjeran masih bersifat andal.
Studi Kelayakan Instalasi Listrik Gedung Graha UNESA Surabaya Berdasarkan PUIL 2011 Trio Saputra; Gatut Budiono; Reza Sarwo Widagdo
SNHRP Vol. 5 (2023): Seminar Nasional Hasil Riset dan Pengabdian (SNHRP) Ke 5 Tahun 2023
Publisher : LPPM Universitas PGRI Adi Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi kelayakan instalasi listrik gedung sangat penting dilakukan untuk memastikan bahwa instalasi listrik yang akan dipasang di gedung aman sesuai dengan standar keselamatan yang ditetapkan. Peraturan ini dikenal sebagai Peraturan Umum Instalasi Listrik 2011. PUIL 2011 me mberikan panduan tentang tata cara pemasangan instalasi listrik pada bangunan gedung penelit ihan ini bertujuan untuk mengetahui hasil dari kelayakan instalasi listrik berupa rating pengaman dan luas penampang kabel serta intensitas pencahayaan, menggunakan metode observasi dengan pengambilan data yang akan dibandingan dengan perhitungan menggunakan perangkat lunak maupun rumus. Berdasarkan hasil simulasi dan perhitungan untuk kelayakan instalasi listrik pada gedung graha UNESA surabaya maka disimpulkan, ditemukan ketidak layakan sesuai PUIL 2011 pada SDP AC terpasang pengaman sebesar 1000 A, luas penampang 4x240 mm2 yang seharusnya 1250 A dan luas penampang 4x300 mm2, LP-3A terpasang pengaman 50 A seharusnya terpasang 63 A, PP-AC-OU-3A dan 3B terpasang pengaman 500 A, luas penampang 4x240mm2 seharusnya terpasang 630 A dan luas penampang 4x300 mm2. Didapatkan perhitungan intensitas pencahayaan pada toilet sebesar 162 lux pada gudang sebesar 78 lux, sehingga dari hasil perhitungan masih jauh dari standart.
Koordinasi Rele Arus Lebih Pola Non-Kaskade Pada Transformator Daya III di Gardu Induk 150 kV Tanggul Romadhoni Trio Imawan; Hadi Tasmono; Reza Sarwo Widagdo
SNHRP Vol. 5 (2023): Seminar Nasional Hasil Riset dan Pengabdian (SNHRP) Ke 5 Tahun 2023
Publisher : LPPM Universitas PGRI Adi Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu fungsi utama sistem proteksi adalah mengisolasi area yang mengalami gangguan dengan segera untuk memastikan area lain yang tidak terdampak tetap beroperasi dan menjaga aliran energi listrik. Di Jember, kebutuhan listrik dipenuhi melalui beberapa Gardu Induk (GI), termasuk Gardu Induk Tanggul yang dilengkapi dengan 3 Transformator Daya ber-tegangan 150/22 kV. Transformator Daya III dilengkapi dengan sistem proteksi rele arus lebih yang bertujuan untuk mendeteksi arus gangguan yang melebihi setting arus yang ditentukan. Rele Arus Lebih ini memiliki dua pola koordinasi, yaitu koordinasi pola kaskade dan pola non-kaskade, dengan pola non-kaskade dianggap lebih optimal karena mampu memutus gangguan dengan lebih cepat. Dalam pola koordinasi kaskade, waktu pemutusan trip pada PMT incoming saat terjadi gangguan di penyulang mlokorejo adalah 1,111 detik, sedangkan pada gangguan di penyulang mojomulyo, waktu pemutusan trip PMT incoming adalah 1,7 detik. Namun, dalam koordinasi pola non-kaskade, jika terjadi kegagalan trip, CBF akan mengirim sinyal pemutusan ke rele arus lebih sisi masukan 22 kV agar bekerja dengan setelan waktu pada sisi penyulang. Akibatnya, saat terjadi gangguan di penyulang mlokorejo, PMT incoming akan trip dalam waktu total 0,594 detik, dan saat gangguan terjadi di penyulang mojomulyo, PMT incoming akan trip dalam waktu total 0,766 detik. Dengan menggunakan pola non-kaskade PMT incoming akan bekerja dengan setelan waktu pada sisi penyulang, menghasilkan waktu trip yang lebih cepat dibandingkan dengan pola kaskade sehingga keamanan transformator daya lebih terjaga.
Analisa Pembebanan Transformator di Surabaya Intercultural School Wahyu Dwi Agustian; Hadi Tasmono; Reza Sarwo Widagdo
SNHRP Vol. 5 (2023): Seminar Nasional Hasil Riset dan Pengabdian (SNHRP) Ke 5 Tahun 2023
Publisher : LPPM Universitas PGRI Adi Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Listrik merupakan komponen penting dalam kehidupan. Di antara bagian-bagian listrik ini ada yang disebut transformator distribusi, yang memiliki fungsi mentransfer daya listrik dari gardu induk ke pusat beban. Kebutuhan listrik tiap tahunnya mengalami peningkatan beban, agar transformator bekerja optimal maka harus memperhatikan penyaluran ke beban. Pada saat transformator dibebani, diharapkan nilai pembebanan tidak lebih dari minimum yang dipersyaratkan, atau 80 persen. Diantisipasi bahwa nilai pembebanan setiap fasa pada pembebanan transformator (R, S, dan T) seimbang. Transformator yang digunakan untuk penyaluran tenaga listrik sering mengalami ketidakseimbangan beban, dan kondisi ketidakseimbangan ini diakibatkan oleh pembebanan yang tidak merata. Akhirnya ada arus yang melewati konduktor netral transformator yang merupakan indikasi terjadi ketidakseimbangan transformator dan menjadikan kerugian khususnya arus netral pada kawat netral transformator. Permasalahan ini dianalisis menggunakan metode kuantitatif. Hasilnya, menunjukan bahwa transformator dalam keadaan tidak seimbang dimana munculnya arus netral transformator. Persentase pembebanan transformator yaitu 43,6 persen dan ketidakseimbangan beban 10,4 persen. Oleh karena itu, arus netral yang tampak juga besar. Efisiensi transformator akan lebih besar jika ada sedikit perbedaan dalam daya yang mengalir masuk dan keluar. pemadaman listrik yang terjadi 3,807 kW maka persentasenya 0,22 persen dan efisiensi cukup besar yaitu 96,2 persen.
Perencanaan Sistem Penyalur Petir Eksternal Pada Gedung SMK Sultan Agung 1 Tebuireng Jombang Aditya Surya Medika; Puji Slamet; Reza Sarwo Widagdo
SNHRP Vol. 5 (2023): Seminar Nasional Hasil Riset dan Pengabdian (SNHRP) Ke 5 Tahun 2023
Publisher : LPPM Universitas PGRI Adi Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Petir merupakan gejala alam yang cukup berbahaya,hasil dari sambaran petir dapat merusak bagunan yang terkena samabaran petir.tetapi terdapat solusi yang bisa digunakan dalam mengantisipasi sambaran petir,yaitu dengan pemasangan proteksti petir.proteksi petir terdiri dari terminasi udara yang berfungsi untuk menerima sambaran petir pad radius tertentu,kabel penyalur yang berfungsi menyalurkan arus dan tegangan yang diterima terminasi udara menuju grounding atau pembumian dan pembumian atau grounding yang fungsinya menertalkan arus dan tegangan dari kabel penghantar menuju bumi.Dari hasil perhitungan model sudut proteksi satu gedung SMK Sultan Agung 1 Tebuireng Jombang membutuhkan 5 terminasi udara.sedangkan untuk 2 gedung lainnya membutuhkan 3 terminasi udara.untuk sistem pembumian menurut standar SMK Sultan Agung 1 Tebuireng Jombang setiap gedung membutuhkan 2 buah elektroda atau rod yang dipasang pada kedalam 3 meter dengan jarak antar rod adalah 15 meter,sehingga didapatkan nilai resistansi tanah sebaesar 3,1Ω.dimana dengan nilai 3,1Ω sudah memenuhi standar PUIL 2000.