Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

FROM HISTORY TO DECAY: CONDITION SURVEY OF FACADES ON KARET STREET, SURABAYA Tjia, Darrell Immanuel; Kenny David Ariyanto; Dharmatanna, Stephanus Wirawan
Border: Jurnal Arsitektur Vol. 7 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Architecture and Design, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karet street corridor is one of the historical street corridors in Surabaya that picture the blend character of Colonial and Chinese architecture. These unique characteristics started to decrease and even vanish in some buildings in the street, through the development of Surabaya. This research aims to map the existing condition of the facade and outlining possible conservation strategies by using field observation with qualitative analysis. All the sixty two buildings alongside the street corridor will be grouped into four condition levels: excellent, good, fair, and poor that were based on integrity of the facade, the suitability of materials, and the quality of surface finishes. The result showed that in areas with low activity, the damage is more commonly found than one in busy commercial zones. It also revealed that a combination of deterioration pattern and user behaviour affect the conservation strategies that could be applied in these buildings. This study recommends a zoning-based conservation in response to the deterioration of the facade, including full restoration, maintenance for good and fair condition, and preventive action for well preserved buildings. Overall, this research recommends preservation alternatives to maintain the authenticity and cultural significance of Karet street for years to come.
Polycam dalam Dokumentasi Warisan Digital: Fotogrametri Mobile pada Bangunan Bersejarah: Polycam in Digital Heritage Documentation: Mobile Photogrammetry of Historical Building Dharmatanna, Stephanus Wirawan
WASTU: Jurnal Wacana Sains & Teknologi Vol. 7 No. 1 (2025): Oktober
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Merdeka Surabaya.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55173/wastu.v7i1.63

Abstract

Penelitian ini membahas penerapan teknologi mobile photogrammetry menggunakan aplikasi Polycam sebagai metode dokumentasi digital warisan arsitektur kolonial di Indonesia. Studi kasus difokuskan pada patung singa pada fasad Gedung Singa Surabaya, karya kolaboratif tiga maestro seni Belanda: Hendrik Petrus Berlage, Joseph Mendes da Costa, dan Jan Toorop. Sebagai elemen artistik yang memiliki nilai simbolik dan historis tinggi, patung ini didokumentasikan untuk mendemonstrasikan potensi teknologi berbasis ponsel dalam pelestarian warisan budaya. Proses dokumentasi dilakukan menggunakan perangkat Samsung A55 dengan mode photo capture pada Polycam. Tantangan utama dalam akuisisi data adalah getaran kendaraan berat, gangguan visual lalu lintas, serta perubahan intensitas cahaya akibat lokasi gedung yang berada di kawasan padat Jalan Rajawali, Surabaya. Strategi pemindaian dilakukan secara presisi pada waktu pagi hari untuk meminimalkan gangguan lingkungan. Hasil model 3D menunjukkan representasi bentuk dan tekstur yang akurat, meskipun terdapat keterbatasan pada detail mikro dan pencahayaan tertentu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Polycam memiliki potensi signifikan sebagai alat dokumentasi digital yang mudah diakses, efisien, dan inklusif, terutama untuk objek arsitektur kolonial berukuran sedang. Pendekatan ini dapat mendukung pelestarian digital warisan budaya serta mendorong partisipasi masyarakat dalam upaya konservasi arsitektur bersejarah di Indonesia.
Warisan Visual dalam Komposisi Fasad Bangunan Kolonial sebagai Identitas Arsitektural di Jalan Jembatan Merah Surabaya Soegiarto, Rayden Lauwirya; Dharmatanna, Stephanus Wirawan
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 12 No 2 (2025): December
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v12i2a10

Abstract

Colonial buildings in Surabaya are an important part of the city's architectural heritage, representing its visual identity and the result of acculturation between European and Indonesian cultures. This study aims to examine the composition of facades as elements that shape the visual character of colonial buildings in the Jembatan Merah area. The study uses a qualitative-descriptive approach with a case study method, involving field observations, visual documentation, and analysis based on D.K. Ching's theory of visual composition and Hamid Shirvani's theory of visual character of the environment. Four colonial buildings were selected as objects of study: Singa Building, PTPN X Building, Maybank Building, and NILLMIJ Building. The results of the study show that the four buildings share common principles in terms of geometry, symmetry, scale, and façade rhythm, which create visual cohesion in the urban landscape. The proportion of openings ranging from 25–40% reflects the design adaptation to the tropical climate through the optimisation of natural ventilation, while the dominant proportion of massive surfaces reinforces the monumental impression characteristic of colonial architecture. Façade elements such as prominent main doors, limasan roofs, and decorative ornaments play an important role in shaping the visual identity of the buildings. These findings confirm that façade composition is an integral part of the visual heritage that must be preserved in efforts to conserve and revitalise historic areas. Understanding this visual composition structure is expected to serve as a reference in contextual design planning that is sensitive to the city's historical values.
BIM UNTUK MASA DEPAN BANGUNAN BERSEJARAH : METODE DOKUMENTASI DAN PERMODELAN DI INDONESIA Stephanus Wirawan Dharmatanna
DEARSIP : Journal of Architecture and Civil Vol 5 No 01 (2025): Desember 2024 - Mei 2025
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Islam Darul Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/dearsip.v5i01.9180

Abstract

Perkembangan kota yang pesat sering kali mengancam kelestarian bangunan bersejarah, terutama yang belum memiliki dokumentasi yang memadai. Tanpa dokumentasi arsitektur yang akurat, informasi tentang bentuk, struktur, dan elemen arsitektural dapat hilang, menghambat upaya konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis metode dokumentasi dan pemodelan digital yang diterapkan pada bangunan bersejarah di Indonesia serta mengevaluasi kelebihan, keterbatasan, dan prospek teknologi tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan mengkaji berbagai sumber akademik terkait Building Information Modeling (BIM), fotogrametri, pemindaian laser (LiDAR), dan teknologi digital lainnya. Analisis dilakukan terhadap efektivitas, tantangan implementasi, serta potensi pengembangan ke depan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode digital seperti BIM dan LiDAR memberikan akurasi tinggi dalam dokumentasi dan pemodelan bangunan bersejarah. Namun, tantangan utama meliputi keterbatasan tenaga ahli, biaya investasi tinggi, serta kurangnya standar regulasi nasional dalam digitalisasi cagar budaya. Kesimpulannya, meskipun teknologi digital berpotensi meningkatkan efektivitas pelestarian bangunan bersejarah, diperlukan strategi holistik yang mencakup regulasi, edukasi, serta dukungan kebijakan pemerintah untuk memastikan keberlanjutan digitalisasi warisan budaya di Indonesia.
FASAD SEBAGAI REPRESENTASI IDENTITAS ARSITEKTURAL : STUDI PADA GEDUNG SINGA SURABAYA Cynthia Carissa; Dharmatanna, Stephanus Wirawan; Elvina Shanggrama Wijaya
Jurnal Arsitektur Vol. 17 No. 2 (2025): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desain Arsitektural mencakup lebih dari struktur yang dapat menahan dan menyalurkan beban, melainkan juga menyangkut aspek kefungsian dan estetika. Dalam hal ini, fasad atau selubung bangunan adalah wajah yang dapat memberikan identitas arsitektural dalam suatu bangunan. Gedung Singa adalah salah satu gedung peninggalan Kolonial Belanda yang telah berdiri dengan kokoh hingga sekarang. Keberadaan fasad Gedung Singa yang didesain oleh Berlage, sang Arsitek, dengan sangat detail, menghadap ke Jalan Veteran, menjadi penanda masa keemasan Kolonial Belanda di Nusantara. Namun demikian, sekarang kondisi gedung ini membutuhkan perhatian dan perawatan, karena telah ditemukan beberapa tanaman liar yang tumbuh di dinding - dindingnya, di tengah upaya peremajaan kota lama oleh Pemerintah Kota Surabaya. Karena itu, upaya dokumentasi elemen fasad Gedung Singa menjadi upaya yang penting untuk dilakukan, sebagai langkah awal pelestarian gedung ini. Analisis dilakukan dengan memecah fasad menjadi elemen - elemen arsitektural dan mengklasifikasinya dalam guna dan style tertentu. Kesimpulannya, elemen fasad Gedung Singa mencerminkan status sosial serta pengaruh budaya Eropa pada masa kolonial. Dokumentasi elemen-elemen fasad secara terperinci perlu dilakukan secara berkala untuk mendukung kegiatan konservasi di masa depan.
Cross-Platform Mobile Photogrammetry for Heritage Preservation: Evaluating Low-Cost and Premium Devices in Sustainable Architecture Research: Fotogrametri Seluler Multi-Platform untuk Pelestarian Warisan Budaya: Evaluasi Perangkat Berbiaya Rendah dan Premium dalam Penelitian Arsitektur Berkelanjutan Dharmatanna, Stephanus Wirawan; Agustianti, Stefani Widya
RUAS Vol. 23 No. 2 (2025)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2025.023.02.12

Abstract

Digital heritage preservation is often hampered by high costs and limited access to cutting edge technologies such as laser scanning, especially for communities in developing countries. The emergence of mobile photogrammetry supported by smartphone applications such as Polycam offers a low cost and sophisticated solution for documenting architectural heritage. This study aims to compare the comparative reliability of Android (Samsung A55) and iOS (iPhone 13 Pro with LiDAR) devices in documenting architectural heritage elements in Indonesia. Data collection was conducted by evaluating the comparative features of Polycam on both platforms based on features, image upload capacity, processing time, output quality, and the strength and weaknesses of both platforms. The findings show that Android devices provide more efficient and user-friendly data collection while iPhone (iOS) devices produce more detailed and refined outputs, although the reconstruction process takes longer than Android. This study concludes that cross-platform mobile photogrammetry can play an important role in sustainable architecture research, enabling community based participation and academic exploration. This research positions mobile photogrammetry as a transformative tool for heritage preservation in the era of Society 5.0.
Dinamika Geografis, Iklim, dan Budaya dalam Standar Bangunan Hijau: Studi Komparatif Global Dharmatanna, Stephanus Wirawan; Nicholas Nathanael; Steven Gunawan; Florencia, Nicole; Nauli M, Jessica Theresia
Jurnal Sains Bangunan Vol 3 No 1 (2026): Jurnal Sains Bangunan Edisi Maret 2026
Publisher : FAKULTAS TEKNIK ITBADLA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor geografis, iklim, dan sosial-budaya terhadap pembentukan dan penerapan standar bangunan hijau di tiga negara dengan konteks berbeda, yaitu Belanda, Tiongkok, dan Afrika Selatan. Meskipun ketiganya berkomitmen terhadap prinsip keberlanjutan global, implementasi di masing-masing wilayah menunjukkan variasi yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan karakter sosial setempat. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan deskriptif-komparatif, melalui peninjauan terhadap dokumen kebijakan, sistem sertifikasi bangunan hijau nasional (BREEAM-NL, Three Star, dan Green Star SA), serta studi kasus proyek arsitektur berkelanjutan di ketiga negara. Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi kesamaan prinsip, perbedaan pendekatan, dan tingkat adaptasi terhadap konteks geografis dan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa negara Belanda dengan pendekatan integratif berbasis inovasi teknologi dan tata kelola air; Tiongkok menerapkan model sentralistik dengan fokus pada efisiensi energi dan skala nasional; sedangkan Afrika Selatan mengedepankan pendekatan adaptif-sosial yang menempatkan keadilan ekologis dan partisipasi masyarakat sebagai inti keberlanjutan. Ketiganya merepresentasikan variasi strategi dalam menerjemahkan prinsip hijau global menjadi praktik arsitektur kontekstual. Kesimpulannya, tidak ada model bangunan hijau yang bersifat universal. Efektivitas penerapannya bergantung pada kemampuan untuk menyesuaikan prinsip keberlanjutan dengan faktor geografis, iklim, dan budaya lokal. Pembelajaran dari ketiga negara ini dapat menjadi dasar bagi penguatan sistem Greenship di Indonesia menuju arsitektur hijau yang lebih adaptif, inklusif, dan relevan dengan konteks tropis.