Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGEMBANGAN DESA SIAGA DONOR DARAH MELALUI PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH WARGA DUSUN III DESA TIMBANG LAWAN, LANGKAT, SUMATERA UTARA Cahaya Permata; Farida Hanim Harahap; Annisa Annisa; Ainun Jannah Indryani; Maria Ulfa Lubis; Nova Emiliya Pane
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2023): Volume 4 Nomor 3 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v4i3.18410

Abstract

Harus dilakukan pengembangan donor darah dengan mendata golongan darah masyarakat sebagai langkah utama pembentukan desa siaga donor darah. Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan, bencana, dan kegawadaruratan, serta kesehatan secara mandiri. Untuk tercapainya desa siaga, penting berbagai kegiatan berbasis masyarakat yang ada seperti posyandu, polindes, dana kesehatan, dll sebagai titik awal pembangunan desa siaga. Salah satu program yang sedang dikembangkan adalah Desa Siaga Donor Darah diawali dengan kegiatan pengecekan golongan darah warga dusun III. Pengabdian kepada masyarakat dalam kegiatan Donor Darah Desa Siaga melibatkan 29 mahasiswa Universitas Islam Negeri Sumatera Utara yang sedang mengabdi pada program KKN dengan menjalankan program Donor Darah. Dilakukan pemgecekan golongan darah di dusun III Timbang Lawan, yaitu dengan mengambil sample 30 warga. Hasil pengecekan golongan darah diketahui 30% warga dengan golongan darah A, 20% warga dengan golongan darah B, 43,3% dengan golongan darah O, dan 6,6% dengan warga golongan darah AB. Sebagian warga sudah mengetahui golongan darahnya yang selanjutnya tambahan data ini akan menjadi data utama dalam Inisisasi Desa Siaga Donor Darah. Data pengecekan dusun III ini kemudian menjadi bagian data base Desa Timbang Lawan.
Strategi Advokasi Kesehatan untuk Percepatan Penurunan Stunting: Studi Literatur Review Miftahurrahmah El Hayatli; Annisa Annisa; Nabila Fitri; Nur Atikah Sari Br Rambe; Naufal Allamsyah
Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan | E-ISSN : 3063-1467 Vol. 3 No. 1 (2026): April - Juni
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62379/jipk.v3i1.2165

Abstract

Stunting is a public health issue in Indonesia that requires comprehensive intervention through the involvement of various stakeholders. Health advocacy plays a crucial role in building policy commitment, strengthening cross-sectoral coordination, and increasing community participation in accelerating the reduction of stunting. This study aims to identify and analyze various health advocacy strategies implemented to accelerate the reduction of stunting. The study employed a literature review method with a descriptive approach. Data sources were obtained from relevant national journals through a search on the Google Scholar database using the keywords “health advocacy” and “stunting reduction strategies.” Literature selection was based on inclusion criteria, namely scientific articles discussing advocacy strategies or efforts to reduce stunting, published between 2020 and 2025, and available in full text. The exclusion criteria included articles that were irrelevant to the topic, incomplete, or lacked clear sources and data. The results of the review of the ten articles indicate that the most commonly implemented advocacy strategies include advocating with the government to secure policy and budgetary support, strengthening cross-sectoral coordination, empowering communities through community health workers and integrated health posts (posyandu), nutrition education, utilizing communication media, and interventions during the first 1,000 Days of Life (HPK). These strategies have been shown to support increased stakeholder commitment and the effectiveness of stunting prevention programs. Thus, integrated, sustainable, and evidence-based health advocacy is a critical factor in accelerating the reduction of stunting in Indonesia.
A CONTRASTIVE ANALYSIS OF COMMA USAGE IN ENGLISH AND BAHASA INDONESIA: A LITERATURE REVIEW Annisa annisa; Imelda Kurniati Siregar; Reinasya Br Surbakti; Tiara Adelia; Siti Ismahani
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v6i3.12123

Abstract

Tanda baca memegang peranan penting dalam penulisan akademik karena berkontribusi terhadap kejelasan, koherensi, dan keterbacaan suatu teks. Di antara berbagai jenis tanda baca, koma merupakan salah satu tanda baca yang paling sering digunakan sekaligus menjadi salah satu yang paling menantang bagi pembelajar bahasa, khususnya mereka yang mempelajari bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL). Perbedaan aturan penggunaan koma antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sering kali menyebabkan kesalahan dalam penulisan akademik di kalangan pembelajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL) di Indonesia. Meskipun berbagai penelitian telah membahas kesalahan menulis pada pembelajar EFL, penelitian yang secara khusus menganalisis penggunaan koma melalui perspektif analisis kontrastif antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia masih relatif terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persamaan dan perbedaan penggunaan koma antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia dengan menggunakan pendekatan analisis kontrastif berbasis kajian literatur, serta meneliti dampaknya terhadap penulisan akademik pembelajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL) di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kajian literatur kualitatif dengan menganalisis berbagai sumber, termasuk buku, jurnal, dan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan tanda baca, penggunaan koma, analisis kontrastif, dan penulisan akademik EFL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Inggris dan bahasa Indonesia memiliki beberapa persamaan dalam penggunaan koma, seperti untuk memisahkan unsur-unsur dalam suatu daftar dan klausa pengantar. Namun, terdapat perbedaan yang signifikan dalam penggunaan koma sebelum konjungsi koordinatif, pada klausa nonrestriktif, dan dalam struktur kalimat yang kompleks. Perbedaan-perbedaan tersebut berkontribusi terhadap kesalahan penggunaan koma di kalangan pembelajar EFL di Indonesia, terutama pada struktur yang kompleks, sehingga diperlukan pengajaran tanda baca yang eksplisit berbasis analisis kontrastif. Punctuation plays a crucial role in academic writing because it contributes to the clarity, coherence, and readability of a text. Among the various types of punctuation, the comma is one of the most frequently used punctuation marks and also one of the most challenging for language learners, particularly those learning English as a foreign language (EFL). Differences in comma rules between Indonesian and English often lead to errors in academic writing among English as a Foreign Language (EFL) learners in Indonesia. Although various studies have addressed writing errors among EFL learners, research specifically analyzing comma usage through a contrastive analysis perspective between English and Indonesian remains relatively limited. Therefore, this study aims to examine the similarities and differences in comma usage between English and Indonesian using a literature-based contrastive analysis approach, as well as to investigate its impact on the academic writing of English as a Foreign Language (EFL) learners in Indonesia. This study employs a qualitative literature review method by analyzing various sources, including books, journals, and previous research related to punctuation, comma usage, contrastive analysis, and EFL academic writing. The results of the study show that English and Indonesian share some similarities in comma usage, such as separating items in a list and introductory clauses. However, there are significant differences in the use of commas before coordinating conjunctions, non-restrictive clauses, and complex sentence structures. These differences contribute to errors in comma usage among EFL learners in Indonesia, particularly in complex structures, making explicit punctuation instruction based on contrastive analysis necessary.