andris kiamani
Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Analisis Makna Frase “Lembu Jantan Kedua”: Studi Eksegese Hakim-Hakim 6:25-26 Pattinaja, Aska Aprilano; Kiamani, Andris
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 7 No. 2 (2025): Maret 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v7i2.634

Abstract

The book of Judges 6 is a book that tells the life of the Israelites during the time of the Judges, and one of the most famous stories is about the life of Gideon, an outstanding judge. In verses 25-26 there is an unusual line of narration, which readers will find odd, concerning the "second bull." Any reader would ask, why the second bull? Why not the first bull? Where is the first bull? Dominic Rudman has specifically researched this part of the text, but has not formulated a definitive answer and no other studies have specifically analyzed this phrase. Many interpretations of this phrase, too, are often based on thematic and historical interpretations of Gideon's narrative, without regard to the context of the verse. Since there are very few studies oriented towards this phrase and in order to find its exact meaning, this article analyzes the phrase "second bull" using a qualitative method based on hermeneutic exegesis. This article finds three important meanings of the phrase "the second bull": firstly, it refers to the oxen as per the meaning of the text; secondly, it refers to the oxen set aside for the Lord; and thirdly, it refers to Gideon's obedient response to the Lord. The results of this study have added exegetical and theological insight and value to support a better understanding of this phrase in the book of Judges.   Kitab Hakim-hakim 6 merupakan kitab yang menceritakan kehidupan bangsa Israel pada masa Hakim-hakim, dan salah satu kisah yang terkenal adalah mengenai kehidupan Gideon, seorang hakim yang luar biasa. Pada ayat 25-26 terdapat alur narasi yang tidak biasa, karena dinilai janggal oleh para pembaca, mengenai “lembu jantan kedua.” Setiap pembaca akan bertanya, mengapa harus lembu jantan kedua? Mengapa bukan lembu jantan yang pertama? Di mana lembu jantan yang pertama? Dominic Rudman telah secara khusus meneliti bagian teks ini, tetapi tidak merumuskan jawaban yang dapat dijadikan acuan secara pasti serta belum adanya penelitian lain yang secara spesifik, yang menganalisis frase ini. Banyak interpretasi terhadap frase ini juga, sering didasarkan pada tafsiran tematis dan historis dari narasi Gideon, tanpa memperhatikan konteks ayat tersebut. Dikarenakan sangat sedikit penelitian yang berorientasi dalam pembahasan frase ini dan untuk menemukan makna yang pasti, maka artikel ini menganalisis frase “lembu jantan kedua” dengan metode kualitatif berdasarkan study hermeneutik eksegesis. Artikel ini menemukan ada tiga makna penting dari frase “lembu jantan kedua” yakni: pertama, frase ini merujuk kepada lembu tambun sesuai makna teks; kedua, frase ini merujuk kepada lembu yang dikhususkan bagi Tuhan; dan ketiga, frase ini merujuk kepada respons ketaatan Gideon terhadap Tuhan. Hasil penelitian ini, telah menambah wawasan dan nilai eksegetis dan teologis untuk mendukung pemahaman yang lebih baik terhadap frase ini dalam kitab Hakim-hakim.
Prinsip Perintisan Jemaat Sebagai Refleksi Gereja Tuhan Masa Kini Andris Kiamani; Aska Aprilano Pattinaja
Jurnal Pistis: Teologi dan Praktika Vol. 23 No. 2 (2023): Vol. 23 No. 2 (2023): Jurnal Pistis: Teologi dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51591/pst.v23i2.138

Abstract

Perintisan jemaat merupakan sesuatu yang sangat penting bagi pelayanan masa kini. Sekalipun penting, namun pada kenyataannya terdapat gereja-gereja yang memandang bahwa perintisan jemaat adalah tugas dari penginjil, hamba Tuhan, bagian gereja atau denominasi tertentu saja. Hal ini dikarenakan gereja berada dalam zona nyaman untuk lebih sibuk untuk memperhatikan pelayanan kedalam dan mengabaikan perintisan jemaat-jemaat baru. Banyak penelitian yang telah dilakukan dalam mengkaji tentang perintisan gereja atau jemaat, tetapi penelitian ini menemukan, belum adanya penelitian yang secara khusus dan komprehensif, mengenai prinsip perintisan gereja. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan untuk meletakkan dasar bagi pemahaman yang benar, berdasarkan kebenaran Alkitab terhadap pentingnya prinsip perintisan jemaat sebagi sebuah refleksi gereja Tuhan masa kini. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, maka penelitian ini menemukan, lima prinsip penting perintisan jemaat, yakni: pertama visi dari Tuhan; kedua tempat tujuan untuk memulai; ketiga mengikuti perintah Tuhan; keempat menunggu waktu Tuhan; dan kelima memiliki iman yang radikal akan janji-Nya. Iman adalah bagian terpenting untuk menarik janji Tuhan agar terjadi secara nyata.