Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Konsep Tathmaninnul Qulub dalam QS. Ar-Ra’d: 28 sebagai Resolusi Quarter-Life Crisis pada Fase Emerging Adulthood Zafrani Rizqi; Nahum Mangatur Siregar; Farid Adnir
Mesada: Journal of Innovative Research Vol. 3 No. 1 (2026): January-June
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/457trt24

Abstract

Penelitian ini didasarkan pada tingginya prevalensi quarter-life crisis (QLC) di Indonesia yang menyentuh angka 77%, di mana manifestasinya didominasi oleh dimensi afektif kesedihan mendalam dan kecemasan eksistensial pada fase emerging adulthood. Pentingnya studi ini didorong oleh adanya kesenjangan metodologis dari riset terdahulu yang bias kuantitatif-korelasional serta mengukur religiusitas sebatas konstruk psikologi generik tanpa menelusuri teks suci keagamaan secara mendalam. Artikel ini berargumen bahwa konsep spiritualitas dari Al-Qur'an menawarkan kerangka resolusi krisis yang menyasar langsung akar persoalan secara lebih fundamental. Menggunakan metode kualitatif berupa penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan tafsir tematik (maudhu'i), studi ini mengeksplorasi pemaknaan teks utama Surah Ar-Ra’d ayat 28 dengan dukungan literatur psikologi perkembangan. Hasil analisis membuktikan bahwa mekanisme tathmainnul qulub (ketenangan hati) melalui dzikrullah bertindak sebagai mediator psikospiritual aktif yang mentransformasi aspek kognitif, afektif, dan perilaku individu. Formula ini mengubah orientasi keberhasilan dari pencapaian materi eksternal menuju kedekatan spiritual internal. Kesimpulannya, konsep tathmainnul qulub terbukti efektif sebagai resolusi krisis yang melahirkan regulasi emosi Islam, pembentukan makna hidup, dan resiliensi spiritual untuk mencapai psychological well-being. Langkah penelitian berikutnya disarankan untuk menguji efektivitas model konseptual ini secara klinis lewat pendekatan eksperimental.
Perkembangan Tafsir di Nusantara Farid Adnir; Suci Rahmadina; Hanif Triansyah; M. Ridho Baihaki
Mesada: Journal of Innovative Research Vol. 3 No. 1 (2026): January-June
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/p9txmq23

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memetakan sejarah, karakteristik metodologi, dan periodisasi perkembangan tafsir Al-Qur'an di Nusantara, serta melacak kontribusi penting para mufasir lokal beserta karya-karyanya. Sebagai wilayah dengan keragaman budaya dan kebahasaan non-Arab, tradisi tafsir di Indonesia melewati proses pribumisasi yang panjang melalui adaptasi ke dalam bahasa daerah dan nasional. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif-analitis dengan pendekatan historis-kontekstual berbasis studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan tafsir di Nusantara bertransformasi melalui empat periode utama. Pertama, Periode Klasik (Abad 8–15 M), dicirikan oleh penyampaian lisan, praktis-integral dengan ilmu keislaman lain, dan ber-metode ijmali. Kedua, Periode Tengah (Abad 16–18 M), ditandai dengan mulainya kodifikasi tertulis dalam bahasa lokal (Melayu-Jawi) seperti karya perintis Tarjuman al-Mustafid karya Abdurrauf as-Sinkili. Ketiga, Periode Pramodern (Abad 19 M), ditandai dengan sistem pengajaran halaqah, penulisan syarah, dan lahirnya tafsir berbahasa Arab Marah Labid karya Nawawi al-Bantani. Keempat, Periode Modern (Abad 20 M hingga sekarang), yang dipengaruhi oleh gerakan pembaruan Islam Timur Tengah, pelembagaan akademik di perguruan tinggi (IAIN/UIN), serta lahirnya ragam tafsir berbahasa daerah (Jawa dan Sunda) hingga tafsir kontemporer komparatif seperti Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dan Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab. Penelitian ini menyimpulkan bahwa transformasi tafsir di Indonesia memiliki jalur orisinalitasnya sendiri yang sangat adaptif dalam mendialogkan teks suci Al-Qur'an dengan realitas sosial, bahasa, dan budaya lokal masyarakat Nusantara.
ANALISIS PEMIKIRAN TAFSIR MODERN DAN KONTEMPORER TERHADAP NILAI-NILAI EKONOMI ISLAM DALAM MEWUJUDKAN PEMBANGUNAN BERKEADILAN Wafiq Azizah Rangkuti; Faris Naufal; Farid Adnir
INTERNATIONAL, Journal of Sharia Business Management Vol 5 No 3 (2026)
Publisher : CV. Barokah Publsiher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemikiran tafsir modern dan kontemporer terhadap nilai-nilai ekonomi Islam dalam mewujudkan pembangunan berkeadilan. Kajian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kebutuhan akan konsep pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan pemerataan kesejahteraan, keadilan sosial, dan keberlanjutan pembangunan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari berbagai jurnal ilmiah, buku, dan literatur akademik yang membahas tafsir ekonomi Islam, pembangunan berkeadilan, serta pemikiran para mufasir modern dan kontemporer. Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis isi (content analysis) untuk mengidentifikasi, mengelompokkan, dan menginterpretasikan berbagai konsep yang berkaitan dengan nilai-nilai ekonomi Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tafsir modern dan kontemporer memberikan pemahaman yang lebih kontekstual terhadap ayat-ayat ekonomi Al-Qur’an, terutama terkait prinsip keadilan, kemaslahatan, keseimbangan, amanah, dan falah. Nilai-nilai tersebut memiliki kontribusi yang signifikan dalam mendukung pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, pemikiran tafsir modern dan kontemporer dapat menjadi landasan konseptual dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang lebih adil serta sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi Islam.
Analisis Kritis Terhadap Penelitian Tafsir dan Tantangan Seminar Akademik di Perguruan Tinggi Bima Sapitri Daulay; Mhd. Rafi Kurniawan; Farid Adnir
Fatih: Journal of Contemporary Research Vol. 3 No. 1 (2026): January-June
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/teg19y41

Abstract

Penelitian tafsir merupakan salah satu bidang kajian penting dalam studi Al-Qur'an yang menuntut ketepatan metodologi serta kemampuan akademik dalam mengkomunikasikan hasil rancangan penelitian. Namun, dalam praktiknya, banyak mahasiswa mengalami kesulitan ketika menghadapi seminar penelitian, terutama dalam menjelaskan aspek metodologis, mempertahankan argumentasi ilmiah, dan menyampaikan gagasan secara sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi presentasi akademik yang efektif serta mengidentifikasi berbagai tantangan metodologis yang sering muncul dalam seminar penelitian tafsir. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data diperoleh berbagai dari sumber primer dan sekunder yang berkaitan dengan metodologi penelitian tafsir, komunikasi akademik, serta problematika seminar penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan metode deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan seminar penelitian tafsir ditentukan oleh beberapa faktor utama, yaitu kejelasan struktur penelitian, kemampuan mengidentifikasi gap of knowledge, ketepatan pemilihan pendekatan dan metode tafsir, serta keterampilan presentasi akademik yang mencakup pengelolaan media visual, retorika ilmiah, dan penguasaan sesi tanya jawab. Selain itu, tantangan metodologis yang sering dihadapi mahasiswa meliputi ketidaksesuaian antara rumusan masalah dan metode penelitian, lemahnya pembatasan objek kajian, serta kurangnya penguasaan instrumen metodologis. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kompetensi metodologi penelitian dan keterampilan komunikasi akademik agar seminar penelitian tafsir dapat berjalan lebih efektif dan menghasilkan penelitian yang berkualitas.
Konsep Was-Was dalam Perspektif Tafsir Ibn Katsir dan Relevansinya dengan Obsessive Compulsive Disorder (OCD) Nursumayyah Damanik; Farid Adnir
Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an, Tafsir dan Pemikiran Islam Vol. 7 No. 2 (2026): Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an, Tafsir dan Pemikiran Islam
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) IAIFA Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the concept of was-was according to Ibn Kathīr’s exegesis and its relevance to Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) in modern psychology. Employing a library research method with a conceptual-comparative approach, this research analyzes the interpretation of Qur’anic verses on was-was in Tafsīr Ibn Kathīr and compares them with the clinical characteristics of OCD based on DSM-5 criteria and contemporary psychiatric literature. The findings reveal that was-was and OCD share phenomenological similarities, particularly in the manifestation of recurrent intrusive thoughts, pathological doubt, and compulsive behaviors performed as a response to anxiety. However, fundamental differences remain: was-was is understood as a spiritual whisper originating from satanic temptation that can be overcome through religious practices such as dhikr and isti‘ādhah, whereas OCD is classified as a neuropsychiatric disorder with specific diagnostic criteria, multifactorial etiology, and requires professional clinical intervention. This study concludes that OCD can be regarded as an extreme form of was-was that necessitates an integrative treatment approach combining psychotherapy, pharmacotherapy, and spiritual guidance. This research contributes to the interdisciplinary dialogue between Qur’anic exegesis and mental health studies.
Evaluating Dropshipping Through Hadith and Islamic Commercial Law: Unauthorized Sales, Salam, and Wakalah bi Al-Ujrah Nurul Hasanah Simamora; Farid Adnir
Sinthop: Media Kajian Pendidikan, Agama, Sosial dan Budaya Vol. 5 No. 2 (2026): July-December
Publisher : Lembaga Aneuk Muda Peduli Umat, Bekerjasama dengan LaKaspia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69548/sinthop.v5.i2.133.323-332

Abstract

The expansion of dropshipping has renewed questions in Islamic commercial jurisprudence concerning ownership, authorization, possession, delivery risk, and contractual uncertainty. Although previous studies have examined dropshipping through Islamic jurisprudence and hadith, they have not consistently integrated hadith source mapping and selected transmission issues with a comparative assessment of different contractual models. This article examines three normative configurations: dropshipping conducted without supplier authorization, dropshipping structured as salam, and dropshipping conducted through wakālah bi al-ujrah. It employs focused qualitative library research using major hadith collections, transmitter biographies, classical commentaries, and relevant contemporary studies. The analysis combines takhrīj al-ḥadīth with a focused review of selected transmission issues, textual context, classical commentary, and fiqh al-ḥadīth. The report lā tabiʿ mā laysa ʿindaka appears in several major collections. Al-Tirmidhī classified the report associated with Ḥakīm ibn Ḥizām as ḥasan, while Shuʿayb al-Arnaʾūṭ’s critical edition of Musnad Aḥmad evaluates one transmission route as weak because of a disputed interruption but classifies the report as a whole as ṣaḥīḥ li-ghayrihi on the basis of corroborating evidence. The legal analysis shows that dropshipping cannot be assigned a uniform ruling merely because the seller lacks physical inventory. An unauthorized independent sale raises legal concerns when the dropshipper lacks ownership, contractual authority, and a reliable capacity to deliver. Salam may provide a valid structure when its substantive requirements are fulfilled, while wakālah bi al-ujrah may do so when the mandate, authority, compensation, and responsibilities are clearly defined. The article offers a focused textual-contractual framework for evaluating normative dropshipping models without claiming that particular marketplace practices necessarily comply with them.
Latar Belakang, Historis dan Pengaruh Kolonialisme dan Modernitas Reformasi Pemikiran Islam Farid Adnir; Wildanu Farhan; Roudhatul Rizka Hasanah; Nur Intan Harahap
Mesada: Journal of Innovative Research Vol. 3 No. 1 (2026): January-June
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/ffvdf158

Abstract

Reformasi pemikiran Islam merupakan respons intelektual terhadap dinamika historis yang melatarbelakangi kemunduran umat silam setelah masa kejayaan peradaban klasik. Artikel ini bertujuan ini untuk menganalisis latar belakang historis, serta pengaruh kolonialisme dan modernitas terhadap lahirnya reformasi pemikiran Islam sekaligus mengkaji bentuk dan perkembangannya. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptrif analitis. Hasil kajian menunjukkan bahwa kemunduran umat Islam ditandai oleh melemahnya tradisi intelektual, dominasi taqlid, serta munculnya praktik keagamaan yang menyimpang dari sumber utama ajaran Islam. kondisi ini diperparah oleh kolonialisme Barat yang tidak hanya berdampak pada aspek politik dan ekonomi, tetapi juga mempengaruhi sistem pendidikan dan pola pikir umat. Di sisi lain, modernitas membawa nilai rasionalitas dan perkembangan ilmu pengetahuan yang mendorong lahirnya pembaharuan dalam memahami ajaran Islam secara kontekstual. Reformasi pemikiran Islam kemudian berkembang dalam berbagai bidang, meliputi aqidah, syariah, pendidikan, sosial dan politik. Perkembangannya berlangsung secara bertahap sejak abad ke-18 hingga era kontemporer, dengan tokoh-tokoh pembaharu yang berupaya mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan tuntutan zaman. Dengan demikian, reformasi pemikiran Islam menjadi langkah strategis dalam mengembalikan relevansi ajaran Islam serta menjawab tantangan  modernitas.
Konsep Verifikasi Informasi dalam Surah Al-Hujurat Ayat 6: Kajian Tafsir dan Implikasinya terhadap Literasi Digital Septia Nur Hidayah; Farid Adnir
Jurnal Alwatzikhoebillah : Kajian Islam, Pendidikan, Ekonomi, Humaniora Vol. 12 No. 2 (2026): Jurnal Alwatzikhoebillah : Kajian Islam, Pendidikan, Ekonomi, Humaniora
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/alwatzikhoebillah.v12i2.5637

Abstract

The rapid development of digital media has facilitated access to and dissemination of information but has also increased the circulation of hoaxes, misinformation, disinformation, and manipulative content. This study examines the concept of information verification in Surah Al-Hujurat verse 6 through Qur’anic exegesis and analyzes its implications for strengthening digital literacy. This qualitative library research employed a thematic exegesis approach. Primary data were drawn from the Qur’an and selected classical and contemporary exegeses, while secondary data were obtained from books and scholarly articles on information verification and digital literacy. Data were collected through documentation and analyzed using content analysis by comparing exegetical interpretations and relating their essential principles to contemporary digital communication. The findings demonstrate that the command of tabayyun entails assessing source credibility, clarifying the accuracy and context of information, and considering its possible social consequences before taking action. It embodies the principles of prudence, critical thinking, objectivity, justice, and social responsibility. In digital literacy, these principles can be implemented through source identification, cross-checking, contextual evaluation, restraint in sharing unverified content, and ethical accountability. Therefore, tabayyun provides a Qur’anic ethical foundation for developing critical, selective, and responsible digital media practices.