Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Pengaruh Variasi Suhu dan Lama Waktu Penyimpanan terhadap Karakteristik Fisikokimia Kolagen Kulit Ikan Gabus (Channa striata Bloch) Nofita, Rahmi; Agustin, Rini; Fajrin, Mutiara Izmu
JSFK (Jurnal Sains Farmasi & Klinis) Vol 10 No 1 (2023): J Sains Farm Klin 10(1), April 2023
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jsfk.10.1.89-99.2023

Abstract

Kebutuhan kolagen sebagai bahan baku untuk industri farmasi dan kosmetika pada saat ini sangat tinggi. Hambatan dalam proses produksi kolagen, proses pembuatan sediaan yang mengandung kolagen, dan pada waktu penyimpanan bahan baku serta sediaan yang mengandung kolagen adalah stabilitas kolagen. Kolagen sangat rentan terhadap pengaruh perubahan suhu, diatas suhu ±40°C kolagen akan berubah menjadi gelatin, dimana struktur triple helix kolagen rusak menjadi rantai lurus, sehingga menyebabkan penurunan kualitas, perubahan susunan gugus fungsi, intensitas serapan, viskositas, perubahan suhu transisi kaca, bahkan perubahan suhu denaturasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi suhu dan lama penyimpanan terhadap karakteristik fisikokimia kolagen kulit ikan gabus. Kolagen disimpan dan diamati sebagai serbuk dan dispersi pada kelembaban relatif 80% pada suhu 5, 26 dan 40°C selama 60 hari penyimpanan. Untuk serbuk kolagen, terdapat penurunan suhu transisi gelas dengan suhu terendah setelah penyimpanan adalah 55,05°C. Karakterisasi gugus fungsi serbuk kolagen menunjukkan perubahan hipsokromik pada bilangan gelombang gugus amida A seiring dengan peningkatan suhu penyimpanan. Pada dispersi kolagen, intensitas serapan UV tampak hiperkromik pada panjang gelombang ± 230 nm. Viskositas dispersi kolagen juga menurun seiring dengan peningkatan suhu dan waktu penyimpanan, serta terdapat penurunan suhu denaturasi dispersi kolagen menjadi 28,3°C. Selama penyimpanan, semakin tinggi suhu maka kualitas fisikokimia kolagen semakin rendah. Dari sini dapat disimpulkan bahwa serbuk kolagen disimpan secara optimal pada suhu 5, 26 dan 40°C, sedangkan dispersi kolagen pada suhu 5 dan 26°C. 
PROGRAM BERKELANJUTAN MEMBANTU MITRA KELOMPOK TERNAK KUBU SEPAKAT UNTUK TUMBUH KEMBANG USAHA PETERNAKAN KAMBING KACANG Evitayani, Evitayani; Warly, Lili; Syukur, Sumaryati; Azheri, Busra; Nofita, Rahmi; Budiman, Cipta; Astuti, Tri
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 4 (2025): Volume 6 No 4 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i4.50713

Abstract

Pemeliharaan ternak kambing terutama kambing kacang masih dilaksanakan secara semi tradisional. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan peternak dan rendahnya motivasi untuk meningkatkan usaha serta kurangnya pakan pada leguminosa. Teknologi pemberian Pupuk Organik Sarana Tani Utama (STU) untuk penanaman leguminosa Indigofera zollingeriana merupakan aternatif pembuatan pakan konsentrat berupa tepung dan pellet. Melalui metode STU untuk pembuatan pellet indigofera diharapkan peternak cepat memahami dan melaksanakan bagaimana menyusun ransum agar performan bobot Kambing kacang meningkat produksinya. Pemanfaatan Teknologi STU bertujuan untuk melihat kemampuan STU untuk meningkatkan solubilitas mineral dan memperbaiki absorbsi nutrisi tanaman (terutama fosfat) melalui perpanjangan hypa akar untuk lebih memanfaatkan pupuk. Kondisi ini diharapkan dapat dijadikan sebagai lahan yang cocok untuk penanaman Indigofera sehingga dapat menopang peningkatan produktivitas ternak sapi. Hasil pengabdian program berkelanjutan usaaha berkembang ini telah memberikann sumbangan ilmu pengetahuan di bidang Pakan Hijauan. Kelompok ternak Kubu Sepakat sudah mengenal penanaman Indigofera melalui pemanfaatn STU, dan mengetahui cara membuat pellet Indigofera sebagai pengganti pakan konsetrat yang relatif lebih mahal. Melalui aplikasi di lapangan dan metode Discussion group telah membuat hampir 70 persen kelompok ternak memahami bagaimana penyusunan ransum, istilah-istilah peternakan dan membuat tepung dan pellet Indigofera. Sehingga hasil pengabdian ini memperoleh metode terbaik untuk meningkatkan pendapatan peternak dan usaha berkembang yang berkelanjutan.
Optimization of Xanthorrhizol Nanoemulsion Formulation Using The Design of Experiment Approach (Box-Behnken Methods) Salsabila Az-zahra, Naiya; Hasanah, Uswatul; Nofita, Rahmi
JSFK (Jurnal Sains Farmasi & Klinis) Vol 12 No 2 (2025): J Sains Farm Klin 12(2), August 2025
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jsfk.12.2.167-177.2025

Abstract

Nanoemulsion is an effective drug delivery system to enhance the penetration of active substances. Xanthorrhizol (XNT) shows potential as an anti-aging agent with collagenesis activity and photo-aging inhibition, but its lipophilic nature limits skin penetration and reduces its effectiveness in reaching the stratum corneum. Therefore, this study aims to optimize the formulation of xanthorrhizol nanoemulsion using the Design of Experiment (DoE) statistical approach with the Box-Behnken Design (BBD) method on the Design Expert® software. The optimization in this study involved three independent variables (X): (X₁) the concentration of Smix (Tween 80 and PEG 400), (X₂) stirring time, and (X₃) stirring speed. The responses (Y) evaluated to determine the optimization outcome were (Y₁) percent transmittance (%T) and (Y₂) pH. Based on the optimization results, the base formula with the amount of Smix 60%, stirring speed 875 rpm and stirring time 15 minutes gave a 98.4%T response and pH 7.05. The xanthorrhizol nanoemulsion formula was yellow in color and had a distinctive xanthorrhizol odor. The formulation exhibited a globule size of 13.76 ± 0.2 nm, a polydispersity index of 0.059 ± 0.000, and a zeta potential of −48.03 ± 1.423 mV. It also showed 95.5 ± 0.31% transmittance, had a pH of 7.12 ± 0.01, and was classified as an oil-in-water (O/W) nanoemulsion. The nanoemulsion remained stable after freeze-thaw and centrifugation tests, with an entrapment efficiency of 58.6%. Based on these findings, the developed formulation can be considered a promising nanoemulsion system for xanthorrhizol delivery