Asep Afaradi
Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search
Journal : Kurios

Berteologi yang humanis: Membangun spiritualitas kesetaraan di antara perbedaan pandangan teologis Afaradi, Asep
KURIOS Vol. 10 No. 2: Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i2.788

Abstract

The phenomenon of theology in the digital space has shown a worrying escalation, where pastors, theologians, or those who call themselves apologists tend to be condescending; they often label each other "heretics." This article aims to share the concept of humanist theology by building a spirituality of equality rooted in the life of the Triune God. Using a literature study approach, through the results of previous research on equality in church and theology, it was found that the church must imitate the life of the Triune God and live it in theology. This study concludes that the spirituality of doing church built on the life of the Triune God makes the church a container of humanity, so in theology, it must be in a humanizing or humanist corridor.   Abstrak Fenomena berteologi di ruang digital telah menunjukkan sebuah eskalasi yang memprihatinkan, di mana secara gamblang pendeta, teolog, atau mereka yang menyebut diri sebagai apologet cenderung bersikap yang merendahkan; tidak jarang mereka saling memberi label "sesat" terhadap sesama. Artikel ini bertujuan untuk membagikan konsep berteologi yang humanis dengan membangun spiritualitas kesetaraan yang berakar pada kehidupan Allah Trinitas. Dengan menggunakan pendekatan studi pustaka, melalui hasil riset sebelumnya tentang kesetaraan dalam bergereja dan teologi, maka didapati bahwa gereja harus mengimitasi kehidupan Allah Trinitas dan menghidupinya dalam berteologi. Simpulan penelitian ini, bahwa spiritualitas menggereja yang dibangun pada kehidupan Allah Trinitas menjadikan gereja wadah kemanusiaan, sehingga dalam berteologi harus berada pada koridor yang memanusikan atau humanis.