Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

HUBUNGAN FREKUENSI SENAM AEROBIK TERHADAP TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI DI DESA JOMBOK KECAMATAN NGORO KABUPATEN JOMBANG Nella Astania Eka Putri; Dwi Adji Norontoko; Kiaonarni Ongko Waluyo
JURNAL KEPERAWATAN Vol. 16 No. 3 (2022)
Publisher : JURUSAN KEPERAWATAN POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/nersbaya.v16i2.38

Abstract

ABSTRAK Hipertensi adalah suatu keadaan peningkatan tekanan sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg karena disebabkan oleh kondisi yang kompleks tanpa disertai gejala yang jelas. Salah satu penyebab peningkatan tekanan darah yaitu kurangnya berolahraga. Kesadaran masyarakat akan pentingnya berolahraga secara teratur masih dianggap kurang, hal ini disebabkan karena kemalasan dan kesibukan akan padatnya aktivitas. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan frekuensi senam aerobik terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi di Desa Jombok Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan rancangan penelitian korelasional menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah penderita hipertensi di Desa Jombok Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang dengan besar sampel 56 orang yang dipilih dengan metode accidental sampling. Variabel dalam penelitian ini adalah frekuensi senam aerobik dan tekanan darah. Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini adalah lembar kuesioner dan lembar observasi. Setelah data terkumpul dianalisis dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi. Untuk mengetahui hubungan frekuensi senam aerobik dangan tekanan darah menggunakan uji korelasi Spearman Rank dengan nilai signifikan 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 29 penderita hipertensi (51,8%) yang sering melaksanakan senam aerobik terdapat 20 penderita hipertensi (69,0%) memiliki tekanan darah dalam kategori normal-tinggi. Hasil uji korelasi diperoleh nilai p value 0,000, maka nilai p value 0,000 < α = 0,05. Dapat diartikan bahwa terdapat hubungan frekuensi senam aerobik dengan tekanan darah. Dimana semakin sering penderita hipertensi melakukan senam aerobik, maka tekanan darah semakin terkendali. Diharapkan penderita hipertensi lebih aktif dan rutin dalam mengikuti kegiatan senam aerobik sebagai salah satu alternatif pelaksanaan terapi non-farmakologi untuk membantu mengendalikan tekanan darah. Kata Kunci : frekuensi senam aerobik, tekanan darah, hipertensi ABSTRACT Hypertension is a condition of increased systolic pressure 140 mmHg and diastolic blood pressure 90 mmHg because it is caused by a complex condition without obvious symptoms. One of the causes of increased blood pressure is a lack of exercise. Public awareness of the importance of exercising regularly is still considered lacking, this is due to laziness and busyness with busy activities. The purpose of this study was to determine the relationship between the frequency of aerobic exercise and blood pressure in patients with hypertension in Jombok Village, Ngoro District, Jombang Regency. The type of research used is quantitative with a correlational research design using a cross sectional approach. The population in this study were hypertensive patients in Jombok Village, Ngoro District, Jombang Regency with a sample size of 56 people selected by the accidental sampling method. The variables in this study were the frequency of aerobic exercise and blood pressure. The data collection instruments in this study were questionnaire sheets and observation sheets. After the data collected were analyzed using a frequency distribution table. To determine the relationship between the frequency of aerobic exercise and blood pressure, the Spearman Rank correlation test was used with a significant value of 0.05. The results showed that from 29 hypertensive patients (51.8%) who often did aerobic exercise, there were 20 hypertensive patients (69.0%) who had blood pressure in the normal-high category. Correlation test results obtained p value 0.000, then p value 0.000 < = 0.05. It can be interpreted that there is a relationship between the frequency of aerobic exercise and blood pressure. Where the more often people with hypertension do aerobic exercise, the more controlled blood pressure. It is expected that hypertension sufferers are more active and routine in participating in aerobic exercise activities as an alternative to implementing non-pharmacological therapy to help control blood pressure. Keywords : frequency of aerobic exercise, blood pressure, hypertension
IMPROVING THE PROFESSIONAL ABILITY OF NURSES IN NURSING INTERVENTIONS IN HOSPITALS THROUGH EVIDENCE-BASED NURSING PRACTICE WORKSHOP Adin Mu'afiro; Joko Suwito; Kiaonarni Ongko Waluyo; Sri Hidayati; Supriyanto Supriyanto; Hepta Nur Anugrahini
Frontiers in Community Service and Empowerment Vol. 2 No. 1 (2023): March
Publisher : Forum Ilmiah Teknologi dan Ilmu Kesehatan (FORITIKES)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35882/ficse.v2i1.21

Abstract

The evidence-based approach in Indonesia has not yet developed, including the use of research results in practice. Thus it is necessary to grow the attitude, willingness, awareness, and ability to develop EBNP or transform research results into practice so that nurses can improve the "quality of care" for patients. The purpose of community service activities is to improve the professional ability of nurses at RSUD Dr. Sososdoro Djatikoesoemo Bojonegoro in providing Nursing Care through an Evidence-based Nursing Practice (EBNP) workshop. The workshop took place on May 24-25, 2022, and was attended by 30 nurses from the Inpatient Installation. Nurses' knowledge was measured by an evaluation that use pre-test and post-test methods. The skills evaluation was conducted online on July 23, 2022, by presenting the EBNP project plan to be carried out. Community service participants are nurses at RSUD Dr. R Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro who has characteristics of most (45%) nurses having an age between 41-50 years and having a working period of 11-20 years (44%), and most (67%) educated in Nurses. The functional positions of the most community service participants are Associate Expert nurses at 37% and there are Main Expert Nurses as much as 4%. The results of the activities through the Workshop showed an increase in the capacity of nurses regarding EBNP who previously had very poor knowledge of 19 people (63.3%) and increased to very good knowledge of 12 people (40.0%). Nurses who initially lacked knowledge increased to 3 people (10.0%) with good knowledge, but there were still 7 people (23.3%) who lacked knowledge. However, not all nurses have participated in the EBNP workshop, so it is necessary to conduct a workshop for the next generation so that all nurses can carry out nursing interventions based on evidence-based.
Kepatuhan Minum Obat Pada Klien Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Wonokusumo Surabaya Febiayuni, Nabila; Ongko Waluyo, Kiaonarni; padoli, Padoli; Minarti, Minarti
JURNAL KEPERAWATAN Vol. 17 No. 1 (2023)
Publisher : JURUSAN KEPERAWATAN POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/nersbaya.v17i1.35

Abstract

ABSTRAK Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg. Klien hipertensi harus memahami dan menumbuhkan kesadaran diri terhadap penyakitnya, dan melakukan perawatan mandiri seperti salah satunya patuh minum obat antihipertensi. Semakin patuh klien saat mengkonsumsi obat maka tekanan darah akan terkontrol dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui tingkat kepatuhan minum obat pada klien hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Wonokusumo Surabaya. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional dan menggunakan teknik accidental sampling. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh klien hipertensi yang melakukan pemeriksaan di Puskesmas Wonokusumo Surabaya dengan jumlah sampel 85 klien. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner dari Morisky Medication Adherence Scale (MMAS). Data yang diperoleh kemudian di analisis dikode, dan ditabulasi dan disajikan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar 50,6% memiliki tekanan darah kategori tahap 1 dan sebagian kecil 14,1% memiliki tekanan darah kategori tahap 2, pada tingkat kepatuhan minum obat sebagian besar 57,6% klien hipertensi tidak patuh dan hampir setengahnya 42,4% klien patuh minum obat hipertensi. Klien dan keluarga diharapkan dapat mendukung untuk selalu melakukan pengontrolan tekanan darah dengan rutin serta patuh dalam melakukan pengobatan hipertensi. Kata Kunci : Kepatuhan, Tekanan Darah, Hipertensi ABSTRACT Hypertension or high blood pressure is an increase in systolic blood pressure over 140 mmHg and diastolic blood pressure over 90 mmHg. Hypertension clients should understand and cultivate self-awareness of the disease, and perform self-care such as one of them obediently taking antihypertension drugs. The more obedient the client when taking the drug then the blood pressure will be well controlled. Theadvice of this study is to find out tingkat compliance taking drugs in hypertension clients at work area of Wonokusumo Public Health Center Surabaya. The type of research used is descriptive research with a cross sectional approach and using accidental sampling techniques. The population in this study was all hypertension clients who conducted examinations at Wonokusumo Health Center Surabaya with a sample number of 85 clients. Data collection using questionnaires from the Morisky Medication Adherence Scale (MMAS). The result showed that most of the 50.6% had stage 1 category blood pressure and a small percentage of 14.1% had stage 2 category blood pressure, at the level of adherence to taking medications most of the 57.6% of hypertensive clients were non-compliant and almost half of 42.4% of clients were obedient to take hypertension medications. Families is hoped that can support clients to always control blood pressure regularly and be obedient in treating hypertension. Keywords : Compliance, Blood Pressure, Hypertension
Pengetahuan Petugas Pariwisata Tentang Pertolongan Pertama Pada Kegawatdaruratan Tenggelam Di Wisata Pemandian Pacet Mojokerto budi setiawan, indra; padoli, padoli; Ongko Waluyo, Kiaonarni; Widyastuti, Dwi Utari
JURNAL KEPERAWATAN Vol. 17 No. 3 (2023)
Publisher : JURUSAN KEPERAWATAN POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/nersbaya.v17i3.94

Abstract

ABSTRAK   Angka kematian akibat insiden tenggelam yang masih tinggi disebabkan karena kontribusi dari faktor sistem pertolongan dan penanganan awal. Banyak kejadian korban pertolongan pertama yang justru meninggal dunia atau menderita kecacatan karena kurang pemahaman petugas dalam memberikan pertolongan. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi Pengetahuan Petugas Pariwisata Tentang Pertolongan Pertama Pada Kegawatdaruratan Tenggelam Di Wisata Pemandian Pacet Mojokerto. Jenis penelitian ini deskriptif, melibatkan  60 Petugas pariwisata. Hasil penelitian didapatkan Sebagian besar (55%) petugas pariwisata memiliki pengetahuan pertolongan pertama cukup, hamper setengahnya memiliki pengetahuan baik (18%) dan Kurang (16%). Diharapkan petugas pariwisata lebih banyak mencari informasi tentang pertolongan pertama pada tenggelam dari berbagai sumber dan mengikuti berbagai pelatihan gawat darurat terutama penanganan pertama pada kejadian tenggelam. Kata Kunci : Pengetahuan, Petugas Pariwisata, Kegawatdaruratan, Tenggelam     ABSTRACT   The high mortality rate due to drowning incidents is inseparable from the contribution of the rescue and initial care system. Many incidents of first aid victims who actually died or suffered disabilities due to the lack of understanding of officers in providing assistance. The purpose of this study was to identify the Knowledge of Tourist Officers About First Aid in Drowning Emergencies at Pacet Mojokerto Bathing Tour. This type of research is descriptive, involving 60 tour workers. The results showed that most (55%) tour workers had sufficient first aid knowledge, almost half had good knowledge (18%) and less (16%). It is expected that tourism officers seek more information about first aid in drowning from various sources and attend various emergency training, especially the first handling of drowning incidents.             Keywords: Knowledge, Tourism Officer, Emergency, Drowning
HUBUNGAN FREKUENSI SENAM AEROBIK TERHADAP TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI DI DESA JOMBOK KECAMATAN NGORO KABUPATEN JOMBANG Nella Astania Eka Putri; Dwi Adji Norontoko; Kiaonarni Ongko Waluyo
JURNAL KEPERAWATAN Vol. 16 No. 3 (2022)
Publisher : JURUSAN KEPERAWATAN POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/nersbaya.v16i2.38

Abstract

ABSTRAK Hipertensi adalah suatu keadaan peningkatan tekanan sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg karena disebabkan oleh kondisi yang kompleks tanpa disertai gejala yang jelas. Salah satu penyebab peningkatan tekanan darah yaitu kurangnya berolahraga. Kesadaran masyarakat akan pentingnya berolahraga secara teratur masih dianggap kurang, hal ini disebabkan karena kemalasan dan kesibukan akan padatnya aktivitas. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan frekuensi senam aerobik terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi di Desa Jombok Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan rancangan penelitian korelasional menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah penderita hipertensi di Desa Jombok Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang dengan besar sampel 56 orang yang dipilih dengan metode accidental sampling. Variabel dalam penelitian ini adalah frekuensi senam aerobik dan tekanan darah. Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini adalah lembar kuesioner dan lembar observasi. Setelah data terkumpul dianalisis dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi. Untuk mengetahui hubungan frekuensi senam aerobik dangan tekanan darah menggunakan uji korelasi Spearman Rank dengan nilai signifikan 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 29 penderita hipertensi (51,8%) yang sering melaksanakan senam aerobik terdapat 20 penderita hipertensi (69,0%) memiliki tekanan darah dalam kategori normal-tinggi. Hasil uji korelasi diperoleh nilai p value 0,000, maka nilai p value 0,000 < α = 0,05. Dapat diartikan bahwa terdapat hubungan frekuensi senam aerobik dengan tekanan darah. Dimana semakin sering penderita hipertensi melakukan senam aerobik, maka tekanan darah semakin terkendali. Diharapkan penderita hipertensi lebih aktif dan rutin dalam mengikuti kegiatan senam aerobik sebagai salah satu alternatif pelaksanaan terapi non-farmakologi untuk membantu mengendalikan tekanan darah. Kata Kunci : frekuensi senam aerobik, tekanan darah, hipertensi ABSTRACT Hypertension is a condition of increased systolic pressure 140 mmHg and diastolic blood pressure 90 mmHg because it is caused by a complex condition without obvious symptoms. One of the causes of increased blood pressure is a lack of exercise. Public awareness of the importance of exercising regularly is still considered lacking, this is due to laziness and busyness with busy activities. The purpose of this study was to determine the relationship between the frequency of aerobic exercise and blood pressure in patients with hypertension in Jombok Village, Ngoro District, Jombang Regency. The type of research used is quantitative with a correlational research design using a cross sectional approach. The population in this study were hypertensive patients in Jombok Village, Ngoro District, Jombang Regency with a sample size of 56 people selected by the accidental sampling method. The variables in this study were the frequency of aerobic exercise and blood pressure. The data collection instruments in this study were questionnaire sheets and observation sheets. After the data collected were analyzed using a frequency distribution table. To determine the relationship between the frequency of aerobic exercise and blood pressure, the Spearman Rank correlation test was used with a significant value of 0.05. The results showed that from 29 hypertensive patients (51.8%) who often did aerobic exercise, there were 20 hypertensive patients (69.0%) who had blood pressure in the normal-high category. Correlation test results obtained p value 0.000, then p value 0.000 < = 0.05. It can be interpreted that there is a relationship between the frequency of aerobic exercise and blood pressure. Where the more often people with hypertension do aerobic exercise, the more controlled blood pressure. It is expected that hypertension sufferers are more active and routine in participating in aerobic exercise activities as an alternative to implementing non-pharmacological therapy to help control blood pressure. Keywords : frequency of aerobic exercise, blood pressure, hypertension
PEMBERDAYAAN KELOMPOK MASYARAKAT DALAM PENINGKATAN KUALITAS HIDUP KLIEN DM Ongko Waluyo, Kiaonarni; Suwito, Joko; Mu’afiro, Adin; Christiany, Irine; Yuniarti, Siswari; Soelystiowati, Endang
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2024): Volume 5 No. 3 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i3.26567

Abstract

Penyakit Diabetes mellitus merupakan beban yang sangat berat bagi klien untuk dapat ditangani sendiri, oleh karena itu semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, seharusnya ikut serta dalam usaha penanggulangan DM. Tujuan dari kegiatan ini, meningkatkan peran serta masyarakat dengan memberdayakan Kelompok Masyarakat Dalam Program Bersahabat Dengan Diabetes Untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Klien DM. Metode pemberdayaan masyarakat berupa pelatihan menggunakan ceramah, praktikum dan skill station. Peserta merupakan kelompok masyarakat Muslimat NU Anak Ranting Darmo Cisedane Surabaya berjumlah 60 orang. Hasil yang didapat pada awal sebelum pelatihan, sebagian besar berpengetahuan kurang sekali: 35% (21 orang) dan berpengetahuan kurang sebesar 25% (15 orang), berpengetahuan baik hanya 13,3% (8 orang) dan tidak ada yang berpengetahuan sangat baik. Setelah pelatihan terjadi peningkatan pengetahuan dengan nilai baik sekali sebanyak 12 orang (20%) dan nilai baik meningkat menjadi 24 orang (40%), yang berpengetahuan kurang sekali menjadi tidak ada. Dari segi keterampilan sebelum pelatihan sebagian besar nilainya kurang sekali: 58,3% (35 orang) dan kurang: 25% (15 orang) serta tidak ada yang memiliki nilai baik dan baik sekali. Setelah pelatihan 13,3 % (8 orang) nilai sangat baik sekali dan 51,7% (31 orang) nilai baik, namun masih ada 20% (12 orang) nilai kurang sekali. Bagi Kader DM hendaknya secara berkelanjutan menyebarluaskan kemampuan mengendalikan komplikasi DM pada klien DM di lingkungannya agar angka kejadian komplikasi DM dapat diturunkan dan dapat menaikkan kualitas hidup bagi klien DM.
Kepatuhan Minum Obat Pada Klien Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Wonokusumo Surabaya Febiayuni, Nabila; Ongko Waluyo, Kiaonarni; padoli, Padoli; Minarti, Minarti
JURNAL KEPERAWATAN Vol. 17 No. 1 (2023)
Publisher : JURUSAN KEPERAWATAN POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/nersbaya.v17i1.35

Abstract

ABSTRAK  Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg. Klien hipertensi harus memahami dan menumbuhkan kesadaran diri terhadap penyakitnya, dan melakukan perawatan mandiri seperti salah satunya patuh minum obat antihipertensi. Semakin patuh klien saat mengkonsumsi obat maka tekanan darah akan terkontrol dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui tingkat kepatuhan minum obat pada klien hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Wonokusumo Surabaya. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional dan menggunakan teknik accidental sampling. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh klien hipertensi yang melakukan pemeriksaan di Puskesmas Wonokusumo Surabaya dengan jumlah sampel 85 klien. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner dari Morisky Medication Adherence Scale (MMAS). Data yang diperoleh kemudian di analisis dikode, dan ditabulasi dan disajikan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar 50,6% memiliki tekanan darah kategori tahap 1 dan sebagian kecil 14,1% memiliki tekanan darah kategori tahap 2, pada tingkat kepatuhan minum obat sebagian besar 57,6% klien hipertensi tidak patuh dan hampir setengahnya 42,4% klien patuh minum obat hipertensi. Klien dan keluarga diharapkan dapat mendukung untuk selalu melakukan pengontrolan tekanan darah dengan rutin serta patuh dalam melakukan pengobatan hipertensi. Kata Kunci : Kepatuhan, Tekanan Darah, Hipertensi ABSTRACT  Hypertension or high blood pressure is an increase in systolic blood pressure over 140 mmHg and diastolic blood pressure over 90 mmHg. Hypertension clients should understand and cultivate self-awareness of the disease, and perform self-care such as one of them obediently taking antihypertension drugs. The more obedient the client when taking the drug then the blood pressure will be well controlled. Theadvice of this study is to find out tingkat  compliance  taking  drugs  in hypertension clients at work area of Wonokusumo Public Health Center Surabaya.The type of research used is descriptive research with a cross sectional  approach  and  using  accidental sampling techniques.  The population  in  this study  was  all  hypertension  clients  who  conducted  examinations  at  Wonokusumo Health Center  Surabaya  with a sample number of  85  clients. Data  collection    using  questionnaires  from the Morisky Medication Adherence Scale  (MMAS). The result showed that most of the 50.6% had stage 1 category blood pressure and a small percentage of 14.1% had stage 2 category blood pressure, at the level of adherence to taking medications most of the 57.6% of hypertensive clients were non-compliant and almost half of 42.4% of clients were obedient to take hypertension medications. Families is hoped that can support clients to always control blood pressure regularly and be obedient in treating hypertension.  Keywords : Compliance, Blood Pressure, Hypertension
Pengetahuan Petugas Pariwisata Tentang Pertolongan Pertama Pada Kegawatdaruratan Tenggelam Di Wisata Pemandian Pacet Mojokerto budi setiawan, indra; padoli, padoli; Ongko Waluyo, Kiaonarni; Widyastuti, Dwi Utari
JURNAL KEPERAWATAN Vol. 17 No. 2 (2023)
Publisher : JURUSAN KEPERAWATAN POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/nersbaya.v17i2.94

Abstract

ABSTRAK  Angka kematian akibat insiden tenggelam yang masih tinggi disebabkan karena kontribusi dari faktor sistem pertolongan dan penanganan awal. Banyak kejadian korban pertolongan pertama yang justru meninggal dunia atau menderita kecacatan karena kurang pemahaman petugas dalam memberikan pertolongan. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi Pengetahuan Petugas Pariwisata Tentang Pertolongan Pertama Pada Kegawatdaruratan Tenggelam Di Wisata Pemandian Pacet Mojokerto. Jenis penelitian ini deskriptif, melibatkan  60 Petugas pariwisata. Hasil penelitian didapatkan Sebagian besar (55%) petugas pariwisata memiliki pengetahuan pertolongan pertama cukup, hamper setengahnya memiliki pengetahuan baik (18%) dan Kurang (16%). Diharapkan petugas pariwisata lebih banyak mencari informasi tentang pertolongan pertama pada tenggelam dari berbagai sumber dan mengikuti berbagai pelatihan gawat darurat terutama penanganan pertama pada kejadian tenggelam. Kata Kunci : Pengetahuan, Petugas Pariwisata, Kegawatdaruratan, Tenggelam ABSTRACT  The high mortality rate due to drowning incidents is inseparable from the contribution of the rescue and initial care system. Many incidents of first aid victims who actually died or suffered disabilities due to the lack of understanding of officers in providing assistance. The purpose of this study was to identify the Knowledge of Tourist Officers About First Aid in Drowning Emergencies at Pacet Mojokerto Bathing Tour. This type of research is descriptive, involving 60 tour workers. The results showed that most (55%) tour workers had sufficient first aid knowledge, almost half had good knowledge (18%) and less (16%). It is expected that tourism officers seek more information about first aid in drowning from various sources and attend various emergency training, especially the first handling of drowning incidents.             Keywords: Knowledge, Tourism Officer, Emergency, Drowning
The Effect of Role Playing Method on The Socialization Skills of School-Age Children:  Pre-Experiment Study at SDN Ngoro 3 Mojokerto, Indonesia Inna Ilma Nafi'ah; Aida Novitasari; Miadi; Kiaonarni Ongko Waluyo
International Journal of Advanced Health Science and Technology Vol. 6 No. 3 (2026): June
Publisher : Forum Ilmiah Teknologi dan Ilmu Kesehatan (FORITIKES)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35882/ijahst.v6i3.597

Abstract

Bullying among school-aged children remains a significant public health and educational concern that negatively affects psychological well-being, emotional stability, self-esteem, and socialization abilities. Inadequate social skills may hinder children’s ability to interact effectively with peers and adapt to their social environment. Interactive educational approaches, such as role-playing, are considered beneficial in promoting communication, cooperation, empathy, and self-control among children. However, empirical evidence regarding the effectiveness of role-playing methods in improving socialization skills among elementary school students in Indonesia remains limited. Therefore, this study aimed to analyze the effect of the role-playing method on the socialization skills of school-aged children at SDN Ngoro 3 Mojokerto, Indonesia. This study employed a quantitative pre-experimental design using a one-group pretest–posttest approach. The participants consisted of 30 fifth-grade students selected through a total sampling technique. The intervention involved three role-playing sessions conducted weekly. Socialization skills were measured using the teacher version of the Social Skills Rating System (SSRS) questionnaire before and after the intervention. Data were analyzed using the Wilcoxon signed-rank test with a significance level of 0.05. The findings demonstrated a significant improvement in students’ socialization skills following the intervention. Before the intervention, most students (66.67%) were categorized as having moderate socialization skills, whereas after the intervention, the majority (90%) achieved high socialization skill levels. Statistical analysis revealed a significant difference between pretest and posttest scores (Z = -4.796; p = 0.000). These results indicate that the role-playing method effectively enhances children’s social interaction, cooperation, and self-control. In conclusion, role-playing is an effective and practical educational strategy for improving socialization skills among school-aged children. Integrating role-playing activities into school learning programs may contribute to fostering positive peer relationships and reducing social difficulties among elementary school students.
PEMBERDAYAAN KADER KESEHATAN MASYARAKAT MELAKUKAN EDUKASI MANAJEMEN POLA MAKAN / DIET ( 3J ) DENGAN PERUBAHAN KADAR GULA DARAH PADA KLIEN DIABETES MELITUS Irine Christiany; Kiaonarni Ongko Waluyo; Adin Mu’afiro
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2025): Volume 6 No 3 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i3.45378

Abstract

Penatalaksanaan diet pada penderita diabetes melitus tipe II bertujuan untuk mengatur jumlah kalori dan karbohidrat yang dikonsumsi setiap hari dengan prinsip diet tepat jumlah, jadwal dan jenis. Diet tepat jumlah, jadwal dan jenis merupakan prinsip pada diet DM2  yang harus memperhatikan jumlah kalori yang diberikan harus habis, jangan dikurangi atau ditambah sesuai dengan kebutuhan, Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 tampak kecenderungan peningkatan prevalensi PTM seperti diabetes, hipertensi, stroke, dan penyakit sendi/rematik/encok. Fenomena ini diprediksi akan terus berlanjut. Prevalensi obesitas (Indeks Massa Tubuh atau IMT ≥25 – 27 dan IMT ≥27) pada penduduk usia ≥ 15 tahun sebesar 35,4%, sedangkan penduduk obese dengan IMT ≥27 saja sebesar 21,8%.  Metode: ceramah dan praktek menghitung RBW dan mengisi form food recal 24 jam  dan  tanya jawab secara luring.  Materi Materi DM, faktor resiko diabetes militus dan komplikasi,  Diet Jenis, Jadual,Jumlah  penghitungan kalori dgn Form Recall 24 jam dan penghitungan RBW atau BBI . Praktek menghitung dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) , dan menghitung kebutuhan kalori dalam sehari dan melakukan food recall 24 jam dan melakukan skrening pemeriksaan kadar gula dalam darah . Hasil dan pembahasan Indek Masa Tubuh  sebagian besar (64%) mempunyai IMT lebih atau overwight , yang mempunyai IMT  normal (33%) dan yang IMT kurang  (3%) Dari perhitungan kebutuhan kalori yang baik (80%) , kebutuhan kalori yang lebih atau over (17%) tetapi setelah di lakukan recall 24 jam pada kader kesehatan  kebutuhan kalori di dapatkan yang lebih 22 (73%) orang dan yang kebutuhan kalori dalam sehari sudah sesuai kebutuhan sebanyak  8 (27%) orang . Nilai hasil evaluasi dari pengetahuan antara 80  sampai 95. Tidak ada peserta yang mempunyai nilai ketrampilan kurang sehingga rerata peserta mempunyai pengetahuan dan ketrampilan yang baik. Apabila di banding antara hasil  Kebutuhan kalori (AMB) dengan hasil food recall 24 jam dari masing2 pada kader Kesehatan Masyarakat  ternyata banyak yang berlebihan dgn kebutuhan kalori dalam sehari asupan makanan dalam periode 24 jam tersebut terlalu tinggi, bisa saja menyebabkan hasil GDA menunjukkan angka yang lebih tinggi dari yang seharusnya. Kesimpulan pemeriksaan kadar gula darah dengan cara memeriksa Gula darah sewaktu banyak peserta yang hasil nya lebih tinggi , asupan sehari-hari dengan Food recall 24 jam hanya memberikan gambaran tentang pola makan dalam satu hari tertentu, yang bisa bervariasi dari hari ke hari. Jadi, hasilnya mungkin tidak sepenuhnya representatif untuk pola makan harian seseorang